
Gedung MB Company. Lantai 53, jam 19.00.
Dari pintu kamar mandi, Maximus yang bert*lanjang d*da keluar. Ia sedang mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk besar. Tatapan ungunya menangkap sosok Brasco yang dari tadi masih menunggunya di ruangan. Ketika melihat penampilannya, pria bermata hijau itu menarik nafas dalam.
"Tuan Bass... Apakah Anda tidak lelah?"
Melemparkan handuknya asal ke sofa, pria itu akhirnya mengenakan kaos lengan panjangnya. Dengan santai, ia mengusap dan menyisir rambutnya yang berwarna cokelat gelap dengan jari-jarinya. "Hem? Memangnya aku harus lelah karena apa?"
Tampak tatapan Brasco skeptis.
"Anda harus bolak balik bekerja dari kantor MBC dan juga ke Italia selama sebulan sekali. Belum lagi bolak-balik ke tempat tinggal Anda yang sebenarnya dan apartemen Anda yang satunya itu. Apalagi toko roti Anda juga sedang sangat berkembang sekarang. Apa Anda tidak bingung, Tuan? Saya sendiri pusing tiap melihat Anda harus mencat rambut dan memasang lensa kontak ketika harus bertemu dengan wanita itu. Kapan Anda mau mengatakan kebenarannya pada dirinya, Tuan Bass?"
Maximus malah terkekeh dan masih santai menilai penampilannya dari pantulan kaca lemarinya.
"Kenapa aku harus pusing, Brasco? Di MBC aku memiliki dirimu dan di Italia, aku hanyalah kacung k*mpret di sana. Sudah ada Amadeo yang mengurus semuanya dan approval-ku pun tidak banyak dibutuhkan. Aku bisa mengerjakan semuanya lewat online dan juga email yang tiap hari dikirimkan. Untuk toko roti, sudah ada Thomas dan Ben yang bertanggungjawab di sana. Aku hanya tinggal mereview laporan bulanannya saja."
Pria itu berbalik dan tersenyum manis. "Waktuku sangat-sangat luang, Brasco. Aku bahkan bisa berolahraga teratur di apartemen dan bermain rumah-rumahan dengan Dona, yang sebentar lagi akan menjadi kekasihku sebenarnya. Tidakkah hidupku sempurna?"
Kepala Brasco menggeleng-geleng, tahu kalau semua yang dikatakan oleh Maximus adalah omong kosong. Pria itu sangat g*la kerja! Ia bahkan sempat tidak tidur, karena harus mengerjakan project kerjasama dengan vendor baru saat baru pulang dari Cina kemarin. Entah bagaimana bisa dia tetap menjaga stamina dirinya.
"Tapi Tuan Bass, kapan Anda akan memberitahu Nona Liebel mengenai diri Anda sesungguhnya?"
Kali ini, Maximus memainkan kedua bola besinya di tangan kiri dengan pandangan yang terlihat melamun. Kedua mata ungunya menunduk. "Terus terang, aku sendiri tidak tahu Brasco. Aku belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya."
Dan Maximus terlalu takut dengan reaksi Dona, mengingat wanita itu sangat membenci keluarga Berlusconi baik sebelum, apalagi setelah kejadian mengerikan itu.
Menghela nafas dalam, akhirnya Maximus menghentikan permainan tangannya dan menghentakan kedua bolanya dengan keras di tangannya. Ia mengangkat pandangannya dan menatap Brasco tajam. "Terutama karena aku sendiri belum bisa membantunya dalam menemukan keadilan untuk keluarga Liebel. Mengenai hal itu, apakah kau yakin Michele Morrone tidak mau membantumu?"
Kepala Brasco menggeleng pelan. "Bukannya ia tidak mau, Tuan Bass. Tapi Tuan Morrone memang tidak bisa membantu untuk urusan ini, karena ternyata keluarga Morrone dan keluarga Berlusconi telah terikat dalam perjanjian bisnis yang menguntungkan kedua keluarga. Ia tidak mau mengambil resiko membahayakan urusan keluarga jika sampai ada yang mengetahui sepak terjangnya nanti."
Menghempaskan tubuhnya di sofa, Maximus menengadahkan kepalanya ke kepala sofa. Kedua mata ungunya memandang langit-langit tinggi di atasnya. "Selain keluarga Morrone... Siapakah yang lebih berkuasa untuk dapat mengatasi Berlusconi..."
Perkataan pria itu terhenti tiba-tiba ketika ia mengingat nama seseorang. "Bianchi..."
Kedua alis Brasco berkerut dalam. "Bianchi? Dari klan Bianchi maksud Anda?"
Tampak bibir merah Maximus tersenyum riang dan matanya menatap Brasco dengan sinar pengharapan. "Ya, Brasco. Keluarga Bianchi adalah salah satu keluarga mafia yang sedang berkuasa di Italia saat ini. Jika kita meminta bantuannya, mungkin saja mereka mau melakukannya."
Pandangan Brasco kembali terlihat skeptis. "Tapi Tuan Bass, setahu saya keluarga Bianchi cukup tertutup. Apalagi untuk turut campur urusan eksternal keluarga. Apakah Anda yakin mereka akan mau membantu?"
Sambil mengelus dagunya yang berjambang, Maximus menyerahkan kedua bola besinya pada Brasco yang menerimanya dengan otomatis. Bibirnya masih tersenyum. "Aku mengenal seseorang di keluarga Bianchi. Yah, memang tidak terlalu dekat. Tapi aku cukup akrab dengan seseorang yang sudah pasti akan mau membantuku nanti, karena pria Bianchi itu pun selalu menuruti perkataannya. Tapi tentunya, aku harus memberikan imbalan yang cukup besar padanya."
Telapak tangan Maximus saling bertemu dan menimbulkan suara kencang. Pria itu sudah mengambil keputusan. "Tidak, Brasco. Nanti biar aku yang langsung menghubunginya. Orang itu adalah orang yang cukup sulit untuk dihadapi. Dan kalau kau mau tahu, orang-orang yang ada di sekitarnya adalah orang-orang yang cukup licik dalam melakukan negosiasi. Kau harus bisa menjadi ular kalau di depan orang itu."
Sangat terlihat kalau Brasco cukup bingung dengan deskripsi Maximus mengenai orang yang sedang mereka bicarakan ini. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, memangnya ada orang yang lebih licik dari bosnya ini?
"Memangnya siapa dia, Tuan? Apakah saya pernah bertemu dengannya?"
Atasannya menggeleng pelan. "Tidak Brasco. Aku tidak yakin kau pernah bertemu dengan dirinya, karena bisnisnya ada di Inggris dan juga Indonesia. Selain itu, bisnis kita pun hampir tidak sejalan dengan bisnis yang saat ini digelutinya."
"Tapi Tuan, kalau begitu bagaimana Anda bisa tahu kalau dia akan mau bernegosiasi dengan Anda?"
Mulut Maximus menyeringai dan seringainya itu sangat licik. "Karena aku sangat tahu apa yang sedang dilakukannya saat ini, Brasco. Dan aku yakin, keahlian kita di bidang IT akan sangat membantu rencananya nanti. Kau akan mengerti apa yang sedang kubicarakan ini kalau kau sudah bertemu dengan Damian Bale."
"Damian Bale? Maksud Anda, orang yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai pengusaha termuda di Eropa beberapa tahun yang lalu?"
"Benar. Damian Bale yang itu. Aku beruntung dapat mengenalnya saat menghadiri beberapa pertemuan bisnis di Italia, dan bisa cukup dekat dengan dirinya. Aku akan menghubunginya secepat mungkin."
Sekali lagi, Brasco mengangguk. Baru saja ia akan mengatakan sesuatu ketika terdengar ketukan pelan di pintu. Mendengar hal itu, Maximus langsung berdiri dari duduknya dan masuk ke kamar mandi untuk bersembunyi. Tidak lupa, ia membawa handuknya yang telah dilemparnya asal tadi.
Memastikan atasannya telah aman di kamar mandi, barulah Brasco membuka pintunya. Di luar, tampak sosok Michelle Green yang sedang berdiri. Wanita itu terlihat kaku dan memegang amplop putih di tangannya yang berkutek merah.
"Selamat malam, Pak Aiden. Tadi saya mencari Anda di ruangan, tapi Anda tidak ada. Maaf mengganggu malam-malam begini, tapi ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."
Melihat sosok kaku wanita itu, Brasco merasa kalau hal ini memang penting. Ia akhirnya sedikit menyingkir untuk mempersilahkan Michelle masuk. "Masuklah."
Di dalam ruangan, kedua mata Michelle mengamati ruangan yang ada di hadapannya. Baru kali ini ia memasuki ruangan kerja Maximus Bass. Dan ruangan itu sangat mengesankan. Semua furniture-nya terlihat sangat mahal dan berkelas, meski simple. Maximus Bass terkenal sebagai pria yang menyukai sesuatu yang simple dan minimalis, yang berbanding terbalik dengan harganya yang bisa membuat kantong jebol.
"Ada apa kau ke sini? Apa hal penting yang ingin kau sampaikan?"
Tersadar dengan lamunannya saat menatap ruangan yang indah dan bermimpi untuk dapat menikahi pria yang sama sekali belum pernah ditemuinya itu, Michelle berbalik dan dengan salah tingkah menyodorkan amplop yang tadi dipegangnya. "Salah satu bawahan saya resign, Pak Aiden. Saya ingin meminta izin pada Anda untuk mencari penggantinya."
Menerima amplop itu, sambil lalu Brasco bertanya. "Oh? Memangnya siapa kali ini yang resign?"
Menghela nafasnya dalam, Michelle menjawab dengan nada berat. "Donatella Amari."
Dan informasi itu membuat tubuh Brasco menjadi kaku seperti papan dan matanya melotot, hampir keluar dari rongga kepalanya. Dengan sangat khawatir, kedua mata hijaunya melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat itu. Suaranya sedikit rendah saat bertanya. "Siapa tadi katamu, Green?"
"Donatella Amari, Pak Aiden. Dan hari ini adalah hari terakhirnya dia."