The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 24 - You're beautiful, but...



Kejadian malam sebelumnya yang memalukan, akhirnya membuat Maximus membuat janji temu dengan Nicolette. Kali ini, ia melakukannya di salah satu restoran kelas atas. Ia sudah tidak mau 'menggunakan' wanita itu lagi. Melihatnya secara langsung sedang melayani orang lain, membuat perutnya langsung mual saat membayangkan kalau wanita itu telah disentuh oleh pria lain.


Tatapannya terlihat santai ketika melihat wanita cantik itu datang dan menghampiri mejanya. Ia meletakkan kembali buku menu yang tadi dipegangnya ke atas meja. "Nicolette. Silahkan duduk."


Tampak wanita itu menelan ludahnya sebelum akhirnya ia duduk di hadapan pria itu. Keduanya pun langsung menunjukkan etiket pergaulan kelas atas dan mereka pun makan dengan tenang. Beberapa kali Nicolette melirik pria di depannya, tapi pria itu tampak sangat santai. Sama sekali tidak terlihat rasa marah atau pun permusuhan. Maximus terlihat sangat menikmati makan siangnya.


Selesai makan siang, tampak keduanya menikmati anggur berharga mahal di gelas masing-masing. Maximus menyorongkan gelas tingginya dan Nicolette pun menyambutnya. Terdengar dentingan pelan di meja mereka, dan keduanya pun menyesap pelan cairan merah itu.


Meletakkan gelasnya pelan di meja, jari-jemari Maximus memainkan tatakannya yang berbentuk bulat di bawah dan mendorongnya maju-mundur. "Jadi, bagaimana menurutmu santapan siangnya?"


Leher Nicolette terasa tegang saat ini. Ia sama sekali tidak paham dengan karakter orang di depannya ini, padahal ia mengklaim kalau dirinya adalah wanita yang sangat lihai memahami para lelaki, dan tahu bagaimana cara memuaskan mereka. Tapi selama tiga bulan menjadi tunangan Maximus, ia sama sekali tidak mengerti cara berfikir pria berambut tembaga ini.


"Sangat lezat. Terima kasih telah mengajakku ke sini."


Tampak kepala Maximus mengangguk-angguk setuju. Pria itu menggumam pelan. "Menurutku dagingnya terlalu keras dan sayurnya terlalu matang... Tapi ayamnya cukup enak. Masih berair dan lembut."


Kata-kata Maximus membuat kening Nicolette berkerut. "Hmm? Maaf, kau mengatakan apa tadi?"


Sadar dengan lamunannya, kedua mata ungu Maximus mengerjap cepat. Sepertinya pertemuannya dengan adik perempuan Giovanni sedikit-banyak mempengaruhinya. Ia menjadi lebih sering bergumam dengan menggunakan berbagai bahasa. Dan Maximus tahu pasti, kalau Nicolette hanya memahami bahasa Italia saja selama hidupnya. Otak wanita itu cukup terbatas untuk mempelajari hal-hal yang baru dan kompleks.


Tersenyum samar, pria itu berkata pelan. "Aku sangat setuju denganmu. Masakannya enak."


Bibir wanita itu yang berlapis lipstik merah terang yang mahal tampak tersenyum sempurna. Nicolette terlihat seperti model papan atas saat ini. Hal yang dikenakannya selalu terlihat modis dan anggun, membuat setiap wanita ingin menjadi seperti dirinya. Dan Nicolette sangat tahu hal itu dan memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk keuntungannya, dan juga keluarganya.


Wanita itu sedikit bernafas lega dan berfikir kalau Maximus telah memaafkannya. Terkadang ada beberapa jenis pria yang harus dibuat cemburu lebih dulu, sebelum akhirnya mereka akan menunjukkan kepemilikan. Para lelaki pada dasarnya adalah hewan yang senang untuk memperebutkan betinanya. Dan Nicolette beranggapan kalau pria di depannya ini, adalah termasuk salah satunya.


Dalam hatinya, Nicolette tersenyum. Ternyata sangat mudah untuk mengendalikan Maximus Berlusconi. Ia hanya tinggal menemukan cara untuk menyeretnya ke tempat tidur, dan menjeratnya dalam cintanya.


"Max..." Baru saja Nicolette berbicara, ketika Maximus memotongnya pelan dan kata-katanya terdengar seperti sambaran petir yang memekakkan di telinga wanita itu.


"Putuskan pertunangan ini. Dan menikahlah dengan Amadeo Berlusconi."


Ultimatum itu membuat Nicolette membeku dalam duduknya. Bibirnya bergetar saat ia bisa mengeluarkan suaranya kembali. "Max... Apa maksudmu aku harus-"


"Kau telah tidur dengan Capriati, bukan? Seminggu setelah pengumuman pertunangan kita?"


Raut Maximus yang sangat tenang membuat Nicolette semakin bergetar takut. Tapi ia tidak mau mengalah lebih dulu. Ia telah berhasil mengikat pria ini dalam pertunangan yang menguntungkan keluarga, tidak akan ia melepasnya semudah itu. "Max. Darimana kau mendapatkan berita-"


"Kau juga telah tidur dengan Matteo. Aku juga mendengar bahwa beberapa perwakilan dari perusahaan Lilomatch juga telah menikmati tubuhmu, sebagai 'pelicin' transaksi dengan Cesare. Jika kau mau, aku bisa membacakan semua daftar klienmu dan semuanya berdasarkan persetujuan dari keluarga Cesare. Apakah kau mau aku untuk meneruskannya?"


Kepala Maximus meneleng menatap Nicolette yang terlihat sangat pucat di depannya ini.


Bukan masalah tunangannya ini telah tidur dengan siapa, tapi yang menjadi masalah adalah KAPAN wanita ini tidur dengan mereka. Hal yang menjadi bumerang bagi Nicolette adalah bahwa ia melakukan semua yang dikatakan oleh Maximus, segera setelah mereka bertunangan. Yang tentunya menunjukkan kalau ia telah berselingkuh selama ini. Dan keluarga calon isterinya juga mengetahui. Keluarga yang serakah!


Maximus meminum kembali anggurnya dengan pelan. "Aku sangat paham dengan kewajibanmu sebagai seorang Cesare, Nicolette..."


Perkataan itu sedikit melegakan Nicolette, tapi tidak dengan lanjutannya.


"Tapi aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah berselingkuh, segera setelah dia menjadi milikku. Dan kau telah melakukan itu berkali-kali, Nicolette. Aku diam selama ini, bukan berarti aku menerimanya. Apapun alasannya, aku tetap tidak akan bisa menerimanya. Kau dan keluargamu, telah mempermalukanku sebagai seorang Berlusconi."


Pandangan Maximus terlihat tajam dan menusuk pada Nicolette, membuat wanita itu pucat dan diam seribu bahasa. "Lakukan apapun untuk memutuskan pertunangan kita dan menikahlah dengan Amadeo. Karena kalau kau tidak melakukannya, maka semua skandalmu akan menjadi makanan publik. Kau tidak mau membuat malu keluarga besar Cesare dan Berlusconi kan?"


"Tapi kenapa mesti Amadeo...?"


Terlihat senyuman dari Maximus yang sangat manis. "Karena dia harus menuai, apa yang telah dia semai. Aku hanya mengembalikan bola yang memang telah dilemparnya pertama kali."


Pandangan wanita ini berubah menjadi sangat takut saat menatap Maximus. Pria di depannya ini benar-benar tidak seperti perkiraannya. Ia telah meremehkannya selama ini.


Tangan Maximus terangkat untuk memanggil pelayan. Dan sambil mengurus proses pembayaran dengan menggunakan kartu hitamnya, pria itu kembali bertanya santai pada teman kencannya malam ini.


"Jadi, kapan kau akan melakukannya?"


Bahu Nicolette tampak naik-turun menahan tangisnya, kepalanya menunduk dalam. "Secepatnya..."


Pria itu tampak mengeluarkan beberapa lembar dolar Amerika dari dompetnya dan meletakkan di meja. Ia memberikan uang tips yang sangat besar bagi pelayan restoran ini.


Sambil merapihkan jasnya, Maximus langsung bangkit dari duduknya dan mengancingkan jas mahalnya. Ia berjalan mendekati Nicolette dan berhenti di samping wanita yang masih duduk itu. "Aku memberimu waktu sampai akhir bulan. Putuskan pertunangan kita dan langsung menikahlah dengan Amadeo."


Tangan besar Maximus terangkat dan mengelus pipi wanita itu yang sangat mulus, tanpa cela sedikit pun. "Aku sangat menyayangkan hal ini, Nicolette... Karena kau adalah wanita yang luar biasa cantik. Tapi sayangnya, aku adalah pria yang posesif. Aku sangat tidak suka milikku disentuh oleh orang lain."


Dan setelah itu, barulah Maximus meninggalkan Nicolette sendirian di meja makan. Wanita itu masih tertegun dalam duduknya dan belum bisa beranjak dari sana selama beberapa lama.


Nicolette baru sadar, kalau perkataan pria itu dulu yang membebaskannya untuk mencari kepuasan di luar adalah sebuah ujian kesetiaan. Dan ia telah gagal total. Ia telah gagal, dari sejak ia memutuskan untuk menjadi milik pria itu dan sekarang, ia telah menerima konsekuensinya.


Kedua mata indah Nicolette mulai berair ketika ia menyadari, kalau ia ternyata mulai menyukai pria itu.


Dan tidak sampai 6 bulan kemudian, pesta pernikahan antara Nicolette Cesare dan Amadeo Berlusconi pun diadakan dengan sangat meriah.


Semua orang menyangka kalau Maximus Berlusconi adalah orang yang sangat menderita saat ini, karena telah ditinggalkan oleh tunangannya. Padahal saat ini, pria itu sedang menikmati whiskey-nya sambil membaca laporan dari asistennya yang terpercaya.


Laporan yang menarik minat pria itu sampai membuatnya lupa makan adalah laporan mengenai seseorang yang bernama Giovanna Donatella Liebel.