
Kepala Dominic masih meneleng ke samping dan memandang Maximus intens. "Alasannya? Kenapa kau sangat ingin membeli tokoku ini, Maximus?"
Cara berbicara Dominic seperti orang yang jauh lebih tua darinya. Ia seolah sedang berbicara dengan ayahnya saja sekarang. "Alasan pribadi."
Kedua mata Dominic menyipit dan kepalanya mendongak sombong. Bibirnya tersenyum miring. "Kita memang satu keturunan, karena aku yakin kalau alasanmu ingin membeli tokoku ini adalah karena ingin mendekati seorang wanita. Aku benar bukan?"
Tebakan yang sangat tepat dari orang yang sama sekali asing, membuat muka Maximus memerah malu. Orang ini sangat jitu menebak intensinya.
Semakin tersenyum miring, Dominic melanjutkan. "Dan aku yakin, kalau kau telah membeli apartemen yang tepat berada di sebelah apartemen wanita itu. Dia tinggal di apartemen seberang toko ini kan?"
Mata ungu Maximus melotot kaget. Siapa orang ini?
"Kau ini... Sebenarnya siapa...?" Kali ini Maximus sangat waspada. Terlalu tepat untuk disebut hanya tebakan, karena pria itu bisa membaca motifnya dengan sangat tepat.
Terkekeh, Dominic kembali berkata. "Kau jangan terlihat khawatir begitu. Itu murni tebakanku, berdasarkan pengalaman pribadi yang sudah terlalu lama tidak aku gunakan lagi. Jadi, apa tawaranmu sehingga membuatku mau menjual toko ini?"
Maximus menegakkan badannya. Ia tahu kalau Dominic sudah hampir 7 tahun ini membuka tokonya dan entah mengapa, kabar selentingan kalau ia ingin pindah beredar di antara para karyawannya. Beberapa dari mereka sempat khawatir karena sepertinya Dominic memang berencana untuk meninggalkan toko rotinya ini begitu saja, di bawah kepemilikan manajemen baru.
"Aku mendengar kau ingin pindah? Ke kota yang lebih kecil?"
Dominic menganggukkan kepalanya. "Aku salut kau mengetahuinya dan memang benar, aku ingin pindah ke kota yang lebih kecil. Dan sepertinya dalam waktu dekat, toko ini terpaksa akan aku jual."
"Kalau begitu, tidak ada ruginya kan kalau aku yang membelinya?"
Setelah berfikir sejenak, akhirnya Dominic kembali ke meja kerjanya dan ia mengarahkan Maximus untuk duduk di depannya. "Baiklah, Maximus. Aku mau mendengarkan penawaranmu. Karena aku juga memiliki syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh calon pembeli, sebelum memutuskan melepaskan toko ini."
Ketika duduk di hadapan Dominic, Maximus merasakan situasi yang sangat familiar. Ia serasa memandang bayangannya sendiri saat ini. "Apa syaratmu, agar mau melepaskan toko ini?"
"Aku ingin agar semua karyawan yang ada di sini tetap dipekerjakan, sesuai dengan posisi dan keahlian mereka saat ini. Aku hanya ingin agar kehidupan mereka tetap terjamin, setelah aku pergi nanti."
Syarat yang tentunya akan dipenuhinya, karena Maximus pun berencana untuk tetap mempertahankan bisnis roti ini meski untuk resepnya mungkin akan sedikit berubah.
"Aku bisa melakukannya, karena aku juga seorang pembuat roti. Aku tetap ingin membuka bisnis yang sama, dan aku tidak ingin kehilangan pelanggan yang sudah ada."
Wajah Dominic terlihat sumringah. "Kau juga pembuat roti? Oh, syukurlah kalau begitu!"
Tiba-tiba, Dominic membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan setumpuk berkas. Dengan ringan, ia meletakkannya di mejanya dan menyodorkannya pada Maximus. "Ini adalah resep-resepku selama ini. Kau bebas untuk menggunakannya selama aku pergi nanti."
Kejutan itu membuat Maximus tertegun. Pria di depannya ini dengan gampangnya menyerahkan resep-resep rahasia padanya, yang telah dikembangkannya bertahun-tahun lamanya. Tidak ada seorang pembuat roti atau Chef mana pun yang mau begitu saja menyerahkan resep mereka pada sembarang orang asing.
"Tapi... Ini resepmu... Bagaimana kau bisa begitu saja..."
Tangan Dominic hampir saja membuka pintunya ketika terdengar pertanyaan dari Maximus. "Kenapa kau melakukannya? Menyerahkan begitu saja toko ini ke tangan orang asing?"
Sambil tersenyum, Dominic menjawab pertanyaan yang penuh keraguan itu. "Karena kau adalah keturunan dari klanku, Maximus. Aku tidak pernah perhitungan pada yang namanya keluarga. Dan kau juga harus tahu, kalau aku sama sekali tidak membutuhkan uangmu. Kembalilah saat kau sudah siap."
Dan setelah itu, Dominic pun keluar dan meninggalkan Maximus yang masih membeku di tempatnya.
Barulah beberapa menit kemudian, Maximus keluar dari ruangan Dominic. Ia mengenakan topi baseball-nya dan juga kacamata hitam yang menutupi bola matanya. Tampangnya yang unik, membuatnya cukup mudah menarik perhatian orang-orang dan ia tidak mau hal itu terjadi.
Karena masih cukup shock dengan kejadian tadi, Maximus akhirnya duduk di salah satu meja dan meletakkan resep-resep berharga itu di depannya. Apa Dominic Allard memang gila? Semudah itu dia menyerahkan aset yang diciptakannya bertahun-tahun! Dan pada orang asing pula!
Ia masih mengamati resep-resep itu sambil melamun, ketika terdengar suara seorang wanita. "Halo, Lily. Aku mau pesan roti seperti biasanya."
"Hai, Dona. Untuk dibawa atau dimakan di sini?"
"Hem. Sepertinya dimakan di sini saja, Lily. Oh, dengan kopi yang biasanya ya."
"Baiklah, Dona. Aku akan mengantarkan pesananmu nanti."
"Thanks, Lily. Aku akan duduk di sana ya." Setelah itu, wanita berambut hitam itu pun duduk di meja yang tepat ada di seberang meja Maximus. Tampak wanita itu mengeluarkan ponselnya dan memainkannya selama beberapa saat. Ia sama sekali tidak sadar kalau ada yang sedang memperhatikannya.
Giovanna Donatella Liebel sama sekali tidak sadar kalau ia telah berhadapan kembali dengan Maximus Antonio Berlusconi, pria yang pertama kali dijumpainya saat perayaan tahun baru beberapa tahun yang lalu.
Wanita itu tidak tahu, kalau Maximus saat ini sedang gemetaran seperti seorang remaja kasmaran, yang baru saja bertemu dengan gadis pujaannya. Mata ungu pria itu nanar dan melotot, yang untungnya tersembunyi di balik kacamata hitamnya. Karena kalau tidak, mungkin ia akan langsung ditangkap karena tuduhan sebagai seorang predator wanita atau pun pria m*sum di siang bolong.
Selama beberapa saat, mata ungunya dengan rakus menyerap sosok wanita di depannya.
Perlahan, Maximus akhirnya menundukkan pandangannya dan ia pun meraup resep-resep dari Dominic tadi. Tanpa memandang lagi wanita yang masih terduduk itu, Maximus keluar dari toko roti dan langsung menuju sedan mewahnya. Tampak Benicio yang sedang menunggunya dan Roberto langsung membukakan pintu untuknya. "Tuan Bass. Silahkan."
Di dalam mobil, Maximus membuka kacamata hitamnya dan berkata pelan. "Ben. Langsung ke apartemen. Aku dan kau ada misi penting yang harus dilakukan, sekarang juga!"
Tiga hari kemudian, tampak sosok Maximus yang kembali lagi menemui Dominic. Terlihat pria berambut merah itu sedang menunggunya di pantry dapur toko roti itu. Ia menyerahkan sebuah celemek dari kulit pada pria yang baru datang itu.
"Aku sudah menunggumu, Maximus. Masuklah."
Dan dalam waktu kurang dari seminggu, toko itu langsung berganti kepemilikan secara resmi. Namanya pun diubah dari Allard Bakery, menjadi AM Bakery. Nama yang memang sengaja diambil oleh Maximus dari nama pujaan hatinya saat ini. Donatella Amari.
Barulah 3 bulan setelah operasional toko berjalan lancar dan puas mengamati rutinitas gadisnya, Maximus akhirnya berani untuk melakukan pendekatan dengan menggunakan identitas sebagai Anthony Bass.