The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 73 - D*rty mind



Sementara itu, Maximus yang berada di dalam mobilnya terdiam seribu bahasa. Pria itu hanya memandang ke arah jendela dengan pandangan yang menerawang ketika mengingat pengalamannya tadi. Baru kali itu, tubuhnya disentuh oleh seorang wanita dengan sembarangan dan ia merasa lumpuh, tidak bisa melakukan apapun. Kedua tangannya terasa lunglai, saat merasakan sentuhan wanita itu yang menjalar di badannya. Ingatan peristiwa tadi membuat suhu pria itu mulai memanas dan mukanya memerah lagi.


"Tuan Berlusconi? Anda tidak apa-apa?"


Pertanyaan itu membuat Maximus mengerjapkan kedua mata ungunya. Ia berusaha untuk mengontrol dirinya yang semakin lama, menjadi semakin gila. Terutama karena ia menjadi lebih dekat dengan wanita itu. "Tidak. Aku tidak apa-apa, Roberto. Memangnya kenapa kau bertanya?"


"Saya melihat muka Anda memerah, Tuan. Saya takut sakit Anda kambuh lagi. Apakah kita perlu kembali ke rumah sakit Liebel lagi?"


"Tidak perlu, Roberto. Aku hanya sedikit kepanasan saja. Kau teruslah menyetir. Jangan pedulikan aku."


Mengangguk patuh, Roberto kembali mengarahkan konsentrasinya ke jalanan dan keduanya pun terdiam selama dalam perjalanan itu. Baru saja Maximus berhasil bernafas lega, ketika ponselnya tiba-tiba berdering lagi. Tampak kedua alisnya berkerut dalam.


"Raffaele? Kenapa kau meneleponku? Bukannya aku sudah mengajukan cuti sampai dengan hari ini?"


Meski gila kerja, tapi Maximus sangat tidak suka diganggu saat waktu istirahatnya. Ia dapat mencurahkan waktunya untuk pekerjaannya sampai ia tidak tidur, tapi ia juga membutuhkan waktu personal untuk dapat mengisi energinya kembali sebelum mulai bekerja lagi.


Terdengar suara Raffaele yang gugup di seberang. Ia tidak mau mengganggu atasannya, tapi masalahnya ia juga didesak oleh seseorang dan orang itu sangat penting. Posisinya tergencet di tengah-tengah saat ini. "Maafkan saya, Tuan Berlusconi. Saya tidak mau mengganggu waktu istirahat Anda, tapi posisi saya cukup terdesak saat ini. Tadi saya baru menerima telepon dari sekretaris Nona Liebel. Beliau menginginkan janji temu dengan Anda. Secepatnya. Dan kalau bisa besok. Apa yang harus saya katakan, Tuan Berlusconi?"


Hampir saja ponsel itu melorot dari genggaman Maximus dan pria itu langsung menangkapnya cepat, sebelum jatuh ke lantai mobil. Kelakuan atasannya ini tidak luput ditangkap oleh Roberto, yang sedikit mengangkat alisnya yang tebal. Ada apa dengan orang ini dari tadi?


"A- Aku sibuk bukan, Raffaele? Baik minggu ini maupun minggu depan, schedule-ku padat kan? Jadi aku tidak punya waktu untuk bertemu dengan dia. Kau jelaskan saja itu padanya."


"Tapi Tuan Berlusconi, Anda cukup kosong besok. Dan sepertinya Nona Liebel telah memberikan instruksi pada sekretarisnya untuk mengatakan kalau Anda tidak bisa menghindari pertemuan dengannya. Karena kalau Anda menghindarinya, maka Nona Liebel akan melakukan tindakan yang ekstrim."


Kedua alis Maximus berkerut dan tampak tidak suka. Ia sangat tidak suka diancam seperti itu, apalagi oleh seorang wanita yang lemah. "Katakan aku tidak takut dengan ancamannya. Kalau dia memang mau melakukan sesuatu yang ekstrim, lakukan saja! Intinya, aku terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk menemuinya. Katakan saja itu!"


Setelah itu, ia pun langsung menutup ponselnya dengan kesal. Memangnya siapa wanita itu, sampai berani mengancam-ancamnya segala. Meski sangat memujanya, tapi bukan berarti Maximus akan menurut begitu saja pada semua keinginannya. Apalagi, ia juga tidak tahu tujuan wanita itu untuk menemuinya. Ia sudah memberikan keadilan pada wanita itu. Sudah mengembalikan semua asetnya. Ia juga bahkan sudah membiarkan dirinya sakit dan terluka seperti ini. Apalagi yang diinginkannya sekarang!


Menghembuskan nafasnya lelah, ia kembali berfikir. Mungkin memang hanya kematiannya yang dapat memuaskan wanita itu. Apakah ia harus mati dulu?


Sepanjang perjalanan, pikiran Maximus berkelana. Dan malam itu di rumahnya, ia juga tidak dapat tidur. Matanya nyalang menatap langit-langit kamarnya dan asetnya saat ini berdiri dengan sangat tegak. Peristiwa tadi siang sangat membekas di tubuhnya dan membuatnya tidak bisa beristirahat karena belum mendapatkan pelepasan. Sentuhan yang pertama kali dirasakannya kembali setelah bertahun-tahun berpuasa, membuat tubuhnya panas-dingin tidak karuan. S*alan!?


Menyebutkan sumpah-serapah yang diketahui dari mulutnya, dengan sangat marah pria itu beranjak ke kamar mandi dan langsung melakukan aktivitas yang memang seharusnya ia lakukan sejak sore tadi. Dan barulah setelah puas, pria itu dapat tertidur dengan pulas. Tanpa sadar, tangannya memeluk erat bantal di sampingnya dan ada iler mengalir di sudut mulutnya yang terbuka. Ia mengigau pelan sambil mengeluarkan suara seperti kecapan dan c*mbuan dari bibirnya. "Egh... Dona baby... Hem..."


Entah apa yang diimpikannya, tapi yang jelas aset yang tadinya telah tertidur tenang mulai bangkit kembali. Dan ketika terbangun keesokan harinya, pria itu merasakan basah di celana tidurnya dan ia kembali mengumpat. Pertemuannya dengan wanita itu kemarin memang telah membuatnya menjadi gila.


Kantor CBG Pusat. Italia. Jam 12.30.


"Tuan Berlusconi, apakah Anda mau makan siang sekarang?"


Maximus baru saja selesai meeting dengan para direksi, mengenai kemungkinan mengembangkan bisnis ke dunia property. Ia ingin melanjutkan warisan Amadeo, karena pria itu telah mengumpulkan berbagai data pendukung sebelum akhirnya hidupnya harus berakhir di tangan keluarga mafia. Paling tidak, Maximus mengakui kalau Amadeo adalah orang yang berambisi dan untuk kali ini, Maximus menyetujuinya. Mungkin ia akan menghubungi Damian Bale di Indonesia, untuk membahas kemungkinan kerja sama antara mereka.


"Aku akan makan siang di sini saja, Raffaele. Tolong kau belikan menu seperti biasa. Dan terkait dengan hasil meeting tadi, aku mempertimbangkan untuk menjalin bisnis dengan Damian Bale. Tolong kau hubungi sekretarisnya Paul James Anderson, untuk membahas mengenai kemungkinan ini dan juga membuat janji temu dengan Tuan Bale."


Tampak Raffaele mencatat sesuatu di tab-nya dan ia mengangguk. "Baik, Tuan Berlusconi. Saya akan segera menghubungi PJA mengenai hal ini. Ada lagi yang ingin Anda instruksikan?"


"Hem. Untuk sementara tidak ada. Setelah ini, apakah aku ada schedule lain?"


"Meeting selanjutnya dijadwalkan jam 16.00. Dengan para engineering salah satu pabrik kita di daerah utara. Tampaknya mereka ingin mengajukan proposal mengenai pergantian mesin yang ada disana, untuk merubahnya menjadi otomatis serta lebih canggih. Mereka ingin mempresentasikannya langsung pada Anda karena hal ini terkait dengan budget tahunan di unit mereka yang menjadi sedikit membengkak."


"Baiklah. Kau atur saja. Aku juga ingin tahu pertimbangan mereka, meski sebenarnya tidak masalah kalau memang mesin baru itu bisa membuat kerja mereka menjadi lebih cepat, lebih banyak dan juga lebih berkualitas. Efisiensi dari SDM tentu akan sangat menguntungkan nantinya."


Raffaele mengangguk. "Saya telah mengatur pertemuan ini di ruang meeting A. Di lantai ini."


Akhirnya Maximus menutup map di depannya. "Ada lagi?"


"Sementara jadwal Anda seperti itu saja, Tuan Berlusconi. Karena seperti pesan Anda, saya hanya mengatur beberapa meeting yang urgent saja untuk hari ini. Karena hari ini adalah hari pertama Anda masuk kembali setelah sakit cukup lama kemarin."


Kepala Maximus mengangguk dan ia tersenyum ceria. "Baiklah kalau begitu. Sekarang tolong kau belikan makan siang dan taruh saja di ruang depan seperti biasa. Aku tidak suka ada bau makanan di ruanganku. Dan tolong jangan ganggu aku sampai dengan jadwal meeting nanti. Ok, Raff?"


"Baik, Tuan Berlusconi. Kalau begitu, saya permisi dulu."


Setelah asistennya keluar dari ruangan, Maximus kembali mengenakan kacamata bacanya dan melanjutkan mempelajari dokumen-dokumen di depannya. Baru saja lima menit pria itu berkonsentrasi membaca, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dengan suara keras dan membuatnya mendongak terkejut.


Pemandangan yang ada di depannya membuat mulut Maximus terasa sangat kering.


Tampak Giovanna melenggang masuk ke ruangannya. Penampilan wanita itu sangat sopan, tapi pikiran Maximus yang sudah sangat kotor menangkapnya lain. Rambut wanita itu yang diikat tinggi ke belakang, membuat benak liar pria itu ingin menjilat lehernya yang jenjang dan halus. Tubuh sintalnya yang terbalut kemeja dan rok kantor, membuat Maximus ingin merobeknya dan membuat kedua kaki wanita itu terbuka lebar di depan mukanya. Pemikiran-pemikiran m*sum ini terpecah saat Giovanna mendesis.


"Ah... Tuan Berlusconi... Ternyata, Anda tidak sesibuk seperti kata sekretaris Anda kemarin. Dan karena sepertinya Anda sedang luang saat ini, maka saya meminta waktu untuk bertemu Anda sekarang saja."