
Saat memasuki kembali kantor suaminya, ternyata para tamu sudah pulang dan tampak beberapa petugas cleaning service sedang membersihkan bekas-bekas santapan para tamu. Giovanna mengucapkan terima kasih pada petugas ketika mereka akhirnya selesai mengemas alat-alat kebersihan mereka dan berpamitan.
Setelah memastikan ruangan tunggu itu telah rapih, barulah Giovanna memasuki ruangan kantor suaminya. Ia baru saja menutup pintunya saat ruangan pribadi Maximus terbuka. Terlihat suaminya yang masih mengenakan kemeja pestanya, meski ia sudah melepas jas dan juga dasinya. Melihat isterinya, pria itu tersenyum dan mendekati Giovanna.
Kedua tangannya yang besar terulur dan memeluk pinggang isterinya. Mereka berpelukan erat. Terdengar suara serak Maximus yang berat dari arah lehernya. "Halo, baby. Kamu lama sekali tadi."
"Hem... Tadi setelah berbicara, aku mengantarkan dulu papamu ke bawah."
Terasa elusan lembut yang hangat di punggung Giovanna. "Terima kasih, Dona baby..."
Mereka pun mengurai pelukan dan saling tersenyum. "Mana Gabe?"
Salah satu tangan Maximus menunjuk pintu tertutup di belakangnya. "Dia ketiduran. Sepertinya kecapekan. Apa kamu mau pulang sekarang?"
Menganyun-ayunkan kedua tangan suaminya, kepala Giovanna menggeleng pelan. "Mungkin sebentar lagi saja. Boleh kita ngobrol-ngobrol dulu di sini?"
"Tentu saja, Gia. Lebih baik kita duduk di sana."
Setelah merasa nyaman di sofa, Giovanna yang sedang meluruskan kakinya berpaling pada Maximus. Tampak pria itu membuka beberapa kancing kemejanya dan menggulung lengan bajunya hingga siku. "Max. Sebenarnya, ada yang ingin aku diskusikan denganmu."
Masih sibuk dengan gulungan bajunya, Maximus menjawab tanpa menoleh. "Hem? Diskusi tentang apa?"
"Hem... Sebenarnya, aku sudah memikirkan ini sebelum kita menikah. Dan aku juga sudah membicarakannya dengan Michele, tapi dia menyerahkan semua keputusannya padaku."
Kata-kata itu akhirnya membuat kepala Maximus berpaling dan kali ini, tatapannya terlihat serius. "Kamu membicarakannya dengan Michele? Memangnya ini mengenai apa, Gia? Kamu tidak akan pergi-"
Mendengar suara suaminya yang sedikit panik, kepala Giovanna menggeleng cepat. "Tidak. Tidak. Ini bukan sesuatu yang kamu bayangkan. Sekarang aku telah menikah denganmu, mana mungkin aku pergi lagi, kan?"
Sedikit cemas, Maximus akhirnya memeluk isterinya erat dan memangkunya di atas pahanya. Giovanna dapat mendengar debar jantung suaminya yang bertalu-talu dan suara nafasnya yang kasar. "Kamu janji tidak akan pergi lagi kan? Kamu janji, Dona?"
Cukup kaget dengan reaksi suaminya, Giovanna balas memeluknya. Ia juga mencium pipi mulus Maximus. "Aku janji, Tony. Aku kan sudah bilang, tidak akan pernah pergi lagi. Kamu jangan khawatir, oke?"
Beberapa saat, keduanya hanya saling berpelukan dan akhirnya Maximus melepaskan isterinya tapi tetap memangkunya. Ia juga mengelus-elus lengan Giovanna dan memegang kedua kakinya erat. "Baiklah... Kalau begitu, apa yang mau kamu diskusikan denganku?"
Takut suaminya merasa berat dengan tubuhnya, Giovanna sedikit mendorong d*da suaminya untuk turun yang malah ditahan oleh pria itu. "Tetap begini saja. Aku suka."
Rona Giovanna sedikit memerah malu. Meski dulu akrab dengan kakak lelakinya, tapi baru pertama kali ini ia berada dalam pangkuan seorang laki-laki. "Hem... Tapi aku berat..."
"Kamu berat?" Tangan-tangan suaminya dengan nakal mulai menjamah dan mer*mas bagian-bagian tubuh isterinya yang sedikit berisi. Telapak tangannya berhenti di d*da isterinya dan mengelusnya lembut. "Hem... kamu memang sepertinya lebih berat di bagian ini, Dona baby..."
"Ihhh...!" Sebal dengan kelakuan suaminya, Giovanna menepis tangan pria itu yang mulai memberikan r*ngsangan yang memang disukai oleh wanita itu. Untuk saat ini, ia ingin berbicara cukup serius dengan Maximus dan tidak ingin kelakuan nakal suaminya membuat konsentrasinya buyar.
Baru saja Giovanna akan beranjak dari pangkuan suaminya, kembali Maximus memeluknya erat. "Baby, jangan marah... Aku janji tidak akan nakal lagi. Di sini dulu ya... Aku masih ingin memelukmu dulu, hem...?"
Menengadah karena kepala Maximus yang sedang berada di lehernya, akhirnya Giovanna pun mengalah. "Baiklah. Tapi tahan dulu kelakuanmu ya, Max. Aku benar-benar ingin bicara serius dulu denganmu."
Sebagai jawaban, pria itu hanya mengangguk-angguk di lehernya dan membuat Giovanna geli karena rambutnya menggesek kulit lehernya. Wanita itu mengusap kepala suaminya dan sedikit menelan ludah saat merasakan mulut Maximus yang sengaja menempel di lehernya. "Aku sudah memikirkannya matang-matang, tapi aku tidak tahu apakah kamu setuju atau tidak..."
"Mengenai apa memangnya?"
"Aku sebenarnya ingin mengundurkan diri sebagai CEO di Liebel Corp. dan juga RS Liebel. Bagaimana menurutmu, Max?"
Kali ini Maximus mengangkat kepalanya, dan tangannya mengusap lembut kalung di leher Giovanna. "Apa alasanmu mau mengundurkan diri, Gia? Bukannya itu adalah warisan keluargamu? Dan kamu juga akhirnya memperolehnya lagi setelah sekian lama direbut oleh Amadeo?"
Memainkan rambut di leher Maximus, Giovanna menjawab sambil sedikit melamun. "Entahlah... Sepertinya kedudukan yang terlalu tinggi tidak cocok untukku. Aku masih ingin bekerja, tapi sepertinya lebih nyaman kalau masih memiliki waktu untuk diriku sendiri. Menjadi seorang CEO, membuatku tidak memiliki banyak waktu luang lagi. Apalagi dengan adanya Gabriele sekarang..."
Tatapan Maximus naik dan menatap ke isterinya lembut. "Kamu mau resign dari sana? Kapan rencananya?"
Tampak kedua alis Giovanna berkerut dan ia menunduk, baru akhirnya mengangguk. "Ya. Kalau kamu setuju, aku berencana untuk memberitahukan ini dalam RUPS Senin nanti. Lagipula kamu kan harus hadir juga. Aku dan Michele juga sudah mendiskusikan mengenai calon penggantiku sejak 6 bulan yang lalu. Dan aku sudah mempertimbangkan tawarannya untuk bekerja di perusahaannya, sebagai Accounting Specialist. "
Kedua mata ungu Maximus mengerjap cepat. Sorotnya perlahan berubah menjadi tidak suka, yang belum disadari Giovanna saat ini. "Kamu akan bekerja di perusahaannya?"
"Sepertinya aku akan menerima tawarannya. Lagipula kantor Michele dan rumah, lokasinya tidak-"
"Tidak."
Jawaban tegas dari Maximus barulah membuat Giovanna memandang suaminya. Wanita itu cukup terkejut dengan nada suara pria itu yang tidak seperti biasanya. "Max? Kamu marah? Kamu tidak setuju?"
"Aku sangat setuju kalau kamu resign dari perusahaanmu. Bukannya aku tidak mau kamu untuk bekerja, tapi tanggungjawab sebagai CEO memang tidak semudah bayangan orang. Sangat sulit untuk membagi waktu antara keluarga dan kantor, apalagi untuk diri sendiri. Aku juga ingin kamu tetap bisa menemani Gabriele terutama karena kamu tahu sendiri, kalau untuk saat ini tanggungjawabku di CBG cukup besar karena banyak masalah yang harus dibereskan setelah Amadeo meninggal. Aku mungkin harus sering lembur nanti."
Mengelus pipi Giovanna, Maximus meneruskan perkataannya. "Aku tidak mau Gabriele berkembang tanpa kehadiran orang tuanya. Paling tidak, salah satu dari kita tetap memiliki waktu luang yang lebih banyak untuk menemaninya. Aku juga ingin agar kamu bisa di rumah saat aku pulang dari kantor. Kamu bisa bilang kalau aku egois Gia, tapi aku adalah pria yang seperti ini. Kalau aku bisa, aku ingin tetap bekerja di MBC karena bisa memiliki waktu lebih bebas. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa. Paling tidak selama 1 tahun kedepan."
Penjelasan Maximus membuat Giovanna semakin bingung. "Kalau kamu setuju, lalu apa yang membuatmu marah tadi, Max?"
"Aku marah karena aku tidak mau kamu bekerja untuk Michele, Dona. Sudah terlalu lama dia berada di dekatmu, dan kali ini adalah giliranku...!"
Tampak Maximus menggertakan giginya dan ia mer*mas pinggul isterinya yang bulat. "Kalau kamu masih tetap ingin bekerja maka hanya ada satu syarat untukmu, Dona baby... Kamu hanya boleh bekerja di tempatku. Dalam perusahaanku. Jabatanmu juga tidak lebih dari seorang Supervisor, karena aku tidak mau kamu bekerja bagai kuda seperti dulu. Dan namamu saat bekerja di CBG adalah Donatella Amari, karena aku ingin menjadi bosmu selama di kantor dan bukan suamimu."
Perlahan, tangan besar pria itu menyusup ke dalam rok isterinya dan mengusap pahanya. Dengan nakal, jari-jarinya mulai mengelus inti Giovanna di luar pakaian dalamnya. Suara pria itu yang serak, semakin serak saat h*sratnya mulai merangkak naik. "Aku ingin menjadi bos yang m*sum pada karyawannya nanti. Itu adalah syaratku. Sekarang tergantung kamu. Take it or leave it, Dona baby... That's your choice...!"