The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 34 - (Bad) destiny



Berada di meja yang telah dipesannya, kedua mata ungu Maximus memperhatikan pasangan lain yang ada di seberangnya, sedikit jauh dari lokasinya. Bibirnya tersenyum ketika ia mengamati penampilan gadis itu tadi dari atas ke bawah. Tampaknya keluarga Liebel sangat tahu bagaimana cara untuk membuat seorang Berlusconi sama sekali tidak tertarik pada wanita. Sungguh langkah yang cerdik.


Mengusap-usap dagunya yang tercukur bersih, kepala Maximus sedikit mendongak ketika ia menyadari ada seseorang yang berjalan mendekati mejanya. Terlihat wanita yang sangat cantik dan berkelas sedang datang menghampiri dirinya. Bibir merah sempurna wanita itu tersenyum dengan anggunnya, membuat banyak pasang mata pria di restoran ini mengalihkan tatapan padanya.


Kau bukanlah seorang Berlusconi, kalau kau tidak bisa membalas dengan cara mereka sendiri, Maximus.


Meletakkan buku menu yang tadi di pegangnya, bibir Maximus kembali menyunggingkan senyum samar. Sebuah rencana mulai terbentuk di otaknya. Rencana menyenangkan untuk membalas orang-orang yang ingin memb*dohinya selama ini. Tampaknya Tuhan masih berpihak padanya.


"Nicolette. Silahkan duduk."


Kedua insan yang dianugerahi dengan fisik yang luar biasa itu pun makan siang dengan sangat beradab dan menjalankan tata krama pergaulan kelas tinggi.


Ketika mulutnya melontarkan idenya pada Nicolette, sama sekali tidak pernah terfikirkan oleh Maximus bahwa taktik licik yang digunakannya hari itu justru akan membawa kemalangan pada orang lain. Dan kemalangan itu pun akan berimbas cukup fatal bagi kebahagiaannya sendiri nantinya.


Bila Maximus dapat memutar waktunya lagi, ia tidak akan pernah mendorong Nicolette Cesare untuk menikah dengan Amadeo Berlusconi. Sampai m*ti pun, pria itu akan selalu menyesali keputusannya hari itu.


***


Kembali ke masa sekarang.


"Apakah kau yakin akan melakukan ini?"


Tampak Dona menganggukkan kepalanya pelan. Michele yang sedang duduk di depannya mend*sah.


"Tapi kenapa, Dona? Bukannya kau sudah merasa bahagia? Sudah hampir 4 tahun kau tinggal di kota itu, dan tampaknya semua masih aman-aman saja. Kenapa baru sekarang kau memutuskan untuk pergi?"


Michele dan Dona saat ini berada di yacht milik pria itu. Keduanya sedang di tengah lautan dan baru kembali dari kegiatan menyelam mereka. Tampak Dona melemparkan fin-nya ke lantai kapal dengan asal.


"Sudah terlalu lama aku di sana, Miki. Sudah saatnya aku pergi."


Kedua alis Michele berkerut dan bibirnya menipis. Rautnya tampak jengkel saat ini. "Berdasarkan standar apa kau menganggap sudah terlalu lama di sana, Dona? Aku tidak mengerti jalan pikiranmu saat ini."


Kepala Dona menunduk dan ia sibuk membereskan peralatan selamnya. "Kau tidak mengerti jalan pikiranku? Kalau begitu, kenapa menurutmu aku justru menerima perlindungan darimu, Miki? Dan bukannya dari pihak kepolisan Italia saat itu?"


Kali ini Dona menatap tajam wajah Michele di depannya. Rautnya tampak sangat marah saat ini, sekaligus sedih dan penuh dengan kekalahan. "Menurutmu kenapa akhirnya aku memilih untuk menghindar, Michele? Kau tahu sendiri betapa inginnya aku mendapatkan keadilan!"


Pria itu sejenak terdiam, sebelum akhirnya ia berkata pelan. "Dona... Kau tahu kalau aku bersedia untuk membantumu. Apapun. Kenapa kau tidak membiarkan aku-"


Tubuh Dona terlihat terguncang dengan keras saat ini. "Aku ini pembawa kem*tian, Miki! Setiap orang yang dekat denganku selalu m*ti dengan mengenaskan! Keluargaku, Herr Becker, dr. Weber, Elena bahkan kepala rumah tanggaku pun terkena imbasnya, hanya karena aku memintanya untuk menghubungi tim pengacara Liebel untuk meminta salinan berkas-berkas perjanjian dengan Berlusconi!"


Dengan nanar, Michele berusaha memegang bahu Dona tapi wanita itu menepisnya kasar. "Bahkan Monet... Monet-ku sayang... Tanpa dia harus mengalami itu, Monet sudah akan m*ti beberapa bulan lagi..."


Monet adalah anjing kecil kesayangan Dona yang telah berumur 12 tahun. Anjing tua itu telah menemaninya sejak ia masih remaja. Selalu menemaninya bermain, ke mana pun dan di mana pun. Dan pada suatu hari, ia menemukan anjing malang itu telah disakiti dengan brutal dan akhirnya t*was di tangannya sendiri.


Kejadian itu adalah terakhir kalinya akhirnya ia memutuskan berhenti untuk menyelidiki perjanjian bisnis antara Liebel dengan Berlusconi.


Berbagai rentetan kem*tian yang ada di sekitarnya, membuat banyak karyawan di rumahnya akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Demikian pula dengan para petugas inti di rumah sakit serta Liebel Corp., dan semuanya akhirnya digantikan dengan mereka yang telah direkrut langsung oleh Berlusconi.


Meski nama keluarganya masih tercatat sebagai pemegang saham terbesar, tapi ia sama sekali tidak memiliki kekuatan saat itu. Lama kelamaan, suaranya akhirnya sama sekali tidak terdengar dalam memberikan kontribusi terhadap kelangsungan bisnis perusahaan.


Tekanan demi tekanan membuat Dona hampir menjadi g*la. Dan hanya dalam waktu 1 bulan sejak kematian keluarganya, ia pun terpaksa melepaskan bagian sahamnya dari Liebel Corp. dan menjual asetnya. Satu-satunya yang masih ia pertahankan sampai sekarang adalah peninggalan rumah keluarganya. Terlalu banyak kenangan di sana hanya untuk diabaikan. Dona masih ingin menjaganya. Setidaknya selama ia masih bisa.


Kedua bahu Dona yang terguncang karena tangisannya, membuat mata Michele berkaca-kaca. Pria itu merasa sangat bersalah, tidak mampu untuk melindungi sepupu jauhnya ini sebelumnya.


Michele baru mengetahui kejadian yang menimpa keluarga Liebel hampir dua bulan setelahnya. Tampaknya banyak pihak yang menutup-nutupi hal ini karena tidak mau mengambil resiko apapun, termasuk keluarganya sendiri. Dan ia pun hanya bisa menyaksikan dari jauh kejatuhan kerajaan keluarga Jerman itu di Italia. Tidak ada yang bisa dilakukannya, selain melindungi nyawa dari sepupunya ini.


Meski keluarga Morrone cukup kuat untuk dapat melawan keluarga Berlusconi, namun mereka masih terikat perjanjian bisnis yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Tidak mungkin Michele mengabaikan kepentingan keluarganya di atas kepentingannya sendiri. Apalagi sepupunya ini hanyalah sepupu jauh dan keturunan Jerman pula. Pernikahan orang tua Dona pun cukup banyak ditentang oleh keluarga besar. Hal ini membuat posisi keluarga Liebel menjadi cukup lemah di mata keluarga Morrone.


Setelah Michele mengetahui kejadian yang menimpa keluarga Liebel, ia pun langsung ke rumah keluarga mereka dan harus mendapati kalau rumah itu tidak terurus. Hanya dalam waktu singkat, rumah megah yang tadinya dipenuhi oleh suara tawa dan canda itu, telah berubah menjadi rumah terbengkalai.


Ilalang sudah mulai meninggi. Pagar yang tadinya bersih tampak ditumbuhi berbagai tanaman liar yang mulai merambatinya. Dan saat membuka pintu depannya, ketika itulah hati Michele benar-benar mencelos.


Ruangan keluarga yang besar itu telah sangat berdebu, dan hampir semua barangnya tertutupi dengan selembar kain putih. Pria itu masih teringat terakhir kalinya ke sana, ia berusia 12 tahun. Michele hanya sempat bermain dengan Giovanni kecil dan bahkan Dona saat itu pun masih bayi, tidak akan mengingat sama sekali tentang dirinya. Mereka baru bertemu kembali dan akhirnya berhubungan cukup akrab ketika Dona berusia 21 tahun dan baru diwisuda dari universitasnya.


Hal yang membuat Michele merasa dekat dengan keluarga Liebel adalah orang tua mereka yang baik hati. Sosok keduanya merupakan gambaran ideal bagi Michele kalau pria itu memutuskan untuk berkeluarga. Dan kini, keduanya telah tiada. Kedua orang yang dirasakan pria itu sebagai pengganti orang tuanya yang dingin, sudah meninggalkan dunia. Dan dengan cara yang tidak adil pula.


Pandangan pria itu menelusuri sekelilingnya dan langkah-langkah kakinya terdengar menggema di ruangan yang luas dan terasa kosong itu. Ia terus melangkah sampai akhirnya berhenti di ruangan perpustakaan. Membuka pintunya, kedua mata cokelatnya menangkap tubuh seseorang yang membuatnya terkesiap.


Dona tampak tergeletak di tengah ruangan. Rambut cokelat terangnya yang berantakan terlihat tersebar di punggungnya. Gadis itu sama sekali tidak bergerak di tempatnya.


"Giovanna!?"