
Kaki-kaki panjang Tim melangkah mendekati meja dan ia berhenti di tengah-tengah. Mata gelapnya menatap Nicolette yang masih berdiri gemetar dan suaranya dingin saat bertanya. "Kau isterinya?"
Kepala Nicolette mengangguk histeris dan mata indahnya tampak mengalirkan air.
Pandangan Tim beralih pada Amadeo yang masih berdiri di tempatnya tadi dan pria dingin itu mulai mengeluarkan pistol berperedam dari pinggangnya. Sambil memeriksa senjatanya santai, Tim berkata pelan namun dengan nada mengancam.
"Amadeo Berlusconi. Berdasarkan keputusan keluarga, maka aku akan mengeksekusimu hari ini. Berlututlah sekarang jika kau tidak mau terjadi pertumpahan darah untuk mereka yang tidak berkepentingan. Setidaknya aku berharap, kau masih memiliki hati nurani untuk isterimu ini."
Dengan langkah gemetar, Amadeo akhirnya mendekati Tim dan perlahan berlutut di depannya. Pandangan pria itu terlihat nanar dan tubuhnya bergetar halus. "Apa papa sudah tahu mengenai ini...?"
Perlahan Tim mengarahkan moncong senjatanya yang cukup panjang ke kening Amadeo yang menengadah. Tampak sedikit senyum tipis di bibir sang algojo. "Keluarga besar selalu menghormati ayahmu, Giuseppe Berlusconi. Yang sayangnya, ia tidak bisa menurunkan perilaku terhormatnya itu pada salah satu anaknya."
Dan dengan berhentinya Tim berbicara, sebutir peluru pun langsung ditembakkan dan bersarang di tengah dahi Amadeo dengan sempurna. Kedua mata Amadeo membelalak lebar, dan warna terang di mata ungunya pun meredup sebelum akhirnya tubuhnya merosot, dan jatuh ke bawah. Terlihat aliran cairan berwarna merah gelap mengalir menuruni hidungnya yang bangir.
Nicolette yang melihat suaminya sudah tidak bernyawa hanya bisa menjerit histeris sebelum akhirnya tubuhnya merosot ke bawah. Wanita itu pingsan masih sambil memegang dokumen dari Amadeo. Ia masih menjadi isteri dari pria yang telah terbujur itu saat ini.
Seperti motto Berlusconi, Amadeo Berlusconi juga akhirnya baru melepaskan isterinya setelah ia m*ti.
Setelah melihat pekerjaannya selesai, Tim akhirnya menyerahkan senjata itu pada Theodore. Tampak bibirnya tersenyum, dan kali ini senyuman tulus penuh rasa terima kasih. "Theo. Terima kasih kau sudah mau mengambil-alih tanggung jawab ini. Kau tidak tahu, seberapa berhutangnya diriku karena ini."
Sambil menerima senjata dari Tim, Theodore menyimpan benda itu hati-hati di pinggangnya. Itu adalah senjata khusus untuk ketua klan, dan Tim telah menyerahkannya secara langsung pada kakaknya.
"Tidak usah basa-basi, Tim. Aku tahu, dari awal kau memang tidak menginginkan untuk terlibat dalam bisnis keluarga Bianchi. Kau hanya menerimanya saat itu untuk kepentinganmu sendiri kan? Agar papa dan oka-san mau menerima isterimu itu?"
Mendengar hal itu, Tim terkekeh. "Kau memang kakakku."
Tampak Theodore menelepon seseorang dan berbicara sebentar. Setelah itu, ia menatap adiknya lagi. "Tim pembersih segera datang dan akan menyerahkan tubuh Amadeo Berlusconi langsung pada keluarganya nanti. Dan keluarga Russo pun sudah selesai dieksekusi di kediamannya. Semuanya sudah beres hari ini. Kau mau langsung pergi sekarang?"
Kepala gelap Tim mengangguk. "Ya. Sore ini aku akan langsung terbang ke Inggris. Sekali lagi terima kasih, Theo. Dan maaf, aku tidak bisa menghadiri acara besarmu nanti."
Kedua kakak adik itu pun akhirnya berpelukan erat dan Tim langsung pamit pergi. Sesampainya di mobilnya, pria itu langsung menghubungi isterinya.
"Mia bella. Ya. Semuanya sudah beres, sayang. Aku juga akan segera mengurus kepindahanku dan dirimu ke Inggris bulan ini, agar lebih dekat dengan perusahaan Tuan Bale dan juga bisnisku di sana. Sore ini aku akan pulang. Kamu bersiaplah Mia bella, karena aku sangat haus sekarang."
Sambil tersenyum, Tim mematikan ponselnya. Pria itu menarik nafas dalam. Akhirnya setelah sekian lama, ia dapat melepaskan diri dari bisnis keluarga Bianchi. Saat ini, ia dapat lebih fokus pada isterinya dan juga bisnisnya sendiri. Ia juga dapat mencurahkan perhatian pada perusahaan Damian Bale di Inggris dan tidak harus dipusingkan dengan urusan keluarga mafia yang tidak ada habisnya.
Dan yang paling penting, ia ingin menafkahi keluarganya dengan sesuatu yang halal nantinya. Ia tidak ingin mereka mengikuti jejaknya, yang telah berlumur darah di kedua tangannya.
Mendongak memandang ke depan, pria itu berkata. "Lukas. Kita ke bandara sekarang. Saatnya aku pulang."
Dan di saat yang sama, di sebuah area pemakaman yang luas, telah diadakan sebuah prosesi penguburan secara sederhana. Tampak acara itu hanya dihadiri oleh beberapa orang saja, termasuk NIcolette dan kedua orang tuanya. Terlihat pula Alessandro dan Maximus yang berdiri kaku di sana.
Tidak ada yang tahu mengenai kematian Amadeo, dan semua orang menginginkan demikian.
Tampak Maximus dan Alessandro yang hanya berdiri diam dan menyaksikan peti berisi tubuh Amadeo yang perlahan diturunkan ke liang lahat. Setelah itu, benda itu pun langsung terkubur dalam kedalaman 2 meter di bawah permukaan tanah. Setelah doa yang singkat, kerumunan itu pun perlahan bubar dan meninggalkan dua bersaudara Berlusconi yang masih setia berdiri di sana.
Kepala Alessandro berpaling pada adiknya. "Kau tahu mengenai ini, Maximus?"
Maximus mengangguk pelan. "Sebelum mengeksekusinya kemarin, Timothy Bianchi menemuiku dan juga papa. Setelah itu, dia langsung menuju kantor CBG."
Mendengar itu, Alessandro menengadahkan kepalanya ke atas dan menutup mata ungunya erat. Kedua tangannya ada di kantong celananya. Suaranya yang kasar terdengar lirih saat ini. "Sudah berkali-kali aku memperingatkannya untuk tidak mengusik keluarga mafia, tapi dia tidak mau dengar. Entah mengapa, dia sangat berambisi untuk mengembangkan sayap CBG. Jika itu dunia property, aku masih mendukungnya. Tapi untuk satu lainnya, aku sama sekali menentangnya."
"Apa papa tahu mengenai bisnis tersembunyi yang dilakukannya, Alessandro?"
Kembali Alessandro mengangguk. "Papa tahu dan sudah menasihatinya. Papa juga sangat tahu hal yang dilakukannya pada keluarga Liebel dulu, makanya dia pernah bilang kalau bisnis dengan keluarga Liebel masih mengandung resiko meski hal itu sudah lama berlalu. Dan ternyata, ini sebabnya."
Tatapan Maximus yang masih tertunduk menatap kuburan di depannya terangkat ketika suara Alessandro terdengar lagi. "Maximus. Kini, hanya kaulah yang tersisa. Kau sekarang hanyalah saudaraku satu-satunya."
Tanpa diduga, kedua mata ungu Alessandro berkaca-kaca dan pria itu menarik adiknya dalam pelukannya. "Max, berjanjilah kalau kau tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan seperti Amadeo. Kalau aku kehilanganmu lagi, keluarga Berlusconi dipastikan akan hancur. Aku tidak dapat melakukan semuanya sendiri, Max. Aku masih membutuhkan bantuanmu."
Penuh perasaan, Maximus membalas pelukan kakaknya erat. Kedua matanya pun menutup erat. Bagaimana pun Amadeo tetap saudaranya, meski ia tidak akrab dengan pria yang telah meninggal itu. "Aku berjanji, Alessandro. Aku berjanji akan menjaga diriku. Kau jangan khawatir. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan keluarga."
Akhirnya, Alessandro melepaskan pelukannya dan menepuk pipi Maximus. "Aku memegang janjimu itu."
Setelah itu keduanya pun menarik nafasnya dalam dan Maximus bertanya pada kakaknya. "Kau akan pulang ke NY sekarang?"
Dengan penuh penyesalan Alessandro mengangguk. "Ya. Isabelle masih dalam perawatan di sana dan aku ingin menemaninya. Kehamilannya cukup riskan, karena ia baru mengandung di usia 40 tahun. Aku terpaksa menyerahkan papa padamu dulu, Maximus."
Pria berambut tembaga itu mengangguk dan keduanya kembali berpelukan erat. Sebelum melepaskan dirinya, salah satu tangan Alessandro memegang leher Maximus dan menekannya kuat. Tatapan ungunya tajam dan rautnya serius. "Aku menyayangimu, brother. Kau ingatlah itu. Aku pergi dulu."
Mendengar hal luar biasa yang baru pertama kali ini keluar dari mulut pria yang terkenal seperti patung itu, hati Maximus langsung menghangat. "Terima kasih, Alessandro. Aku juga menyayangimu."
Keduanya pun berpamitan, dan kedua mata ungu Maximus mengikuti sosok Alessandro sampai pria itu pergi bersama mobilnya. Setelah itu, ia pun kembali mengarahkan tatapannya ke bawah dan berjongkok. Salah satu tangannya mengusap tanah yang masih basah itu.
"Aku juga menyayangimu, Amadeo. Meski kau mungkin tidak tahu dan tidak pernah mau tahu..."