
Masa sekarang.
Michele dan Dona akhirnya makan siang di kapal mewah itu. Tampak keduanya menikmati makanan mereka dalam diam. Benak keduanya melayang dengan pikiran masing-masing.
Keheningan itu pun dipecahkan oleh Michele. "Jadi, kapan rencanamu akan melakukannya?"
Meletakkan garpu di piringnya, Dona menatap nanar piringnya. "Secepatnya. Setelah kau selesai mengurus semuanya, aku akan segera pergi. Lebih cepat, lebih baik. Kalau bisa bulan ini, Michele."
Kepala Michele mengangguk tanda pria itu mengerti. Ia menggenggam tangan Dona yang tertangkup di meja makan. "Aku akan segera mengurusnya, sayang. Kau tenanglah."
Kata-kata MIchele yang menenangkan membuat Dona menutup kedua matanya. Ketika membukanya kembali, mata bening itu terlihat berkaca-kaca. "Kenapa kau selalu baik padaku, Miki? Padahal paman dan bibi Morrone tidak terlalu menyukai keluargaku."
Kali ini, Michele tersenyum lebar. "Dona, kau itu adik kecilku. Aku selalu menganggap kau dan Giovanni adalah saudara kandungku. Bahkan aku menganggap paman dan bibi Liebel adalah orang tuaku sendiri, melebihi papa dan mamaku di rumah. Jadi, jangan pernah kau sungkan padaku. Meski bantuanku tidak banyak, tapi aku akan berusaha agar dapat membantumu, sekuat tenagaku."
Dona mer*mas tangan Michele yang hangat. Wanita itu menggertakan giginya, berusaha untuk tidak menangis. "Terima kasih banyak, Michele. Aku sangat berhutang budi padamu."
"Jangan pernah mengatakan itu lagi, Dona. Kita adalah keluarga dan sudah kewajiban keluarga, untuk saling membantu saat ada kesusahan. Dan aku tahu, kalau kau memang sangat membutuhkan bantuan saat ini."
Dengan penuh perasaan, Dona memeluk tubuh gempal Michele. Ia sangat menyayangkan, kenapa tidak dari awal menganggap pria ini saja sebagai kakaknya. Jika dari awal Dona tidak berhubungan lebih akrab dengan Anthony, maka semua tidak akan serunyam ini.
Perasaan Anthony tidak akan sedalam itu padanya dan dia pun tidak perlu pergi dari kota itu.
Semua runyam gara-gara dirinya sendiri. Karena keegoisannya yang terlalu nyaman berada di dekat pria itu.
***
Seminggu kemudian. Di kantor MBC, jam 09.00.
"Dona! Akhirnya aku bertemu lagi denganmu. Ke mana saja kau selama ini?"
Kate tampak sumringah bertemu dengan Dona lagi. Selama seminggu, akhirnya Dona mengambil cuti yang selama 4 tahun ini tidak pernah diambilnya. Ia ingin menenangkan diri dulu. Menjauhi semuanya, saat ia harus mengambil keputusan krusial dalam hidupnya.
"Kate! Ini oleh-oleh untukmu."
Dengan gembira, Dona mengeluarkan beberapa oleh-oleh makanan untuk Kate dan juga rekan-rekannya dalam departemen accounting serta HR. Saat ia sedang membagi-bagikan barang-barang itu, terlihat Michelle Green yang baru keluar dari ruangannya.
Tahu kalau Dona tidak akan pernah bertemu lagi dengan wanita itu dalam waktu dekat ini, ia akhirnya memanggil atasannya itu yang menimbulkan pandangan horor dari teman-temannya.
"Michelle? Apakah kau mau mencoba oleh-oleh yang aku bawa?"
Pandangan wanita itu tampak mencemooh. "Memangnya kau baru liburan kemana?"
"Maldives."
Menatap punggung Michelle yang menjauh, Dona mend*sah dalam hati. Meski menyebalkan, tapi mungkin ia akan merindukan wanita itu nanti. Bagaimana pun selama 4 tahun ini, Dona sudah bekerja sama dengan wanita itu. Dan walaupun sering menyulitkannya, tapi sejauh ini urusan pekerjaannya selalu berjalan lancar dan tidak terlalu banyak masalah.
Ketika orang yang dibenci itu sudah tidak ada, barulah Kate memukul lengannya. "Untuk apa kau memanggilnya tadi? Merusak suasana saja!"
Mendengar hal itu, Dona hanya terkekeh pelan. Dan mereka semua pun dengan gembira mencicipi oleh-oleh yang dibawa oleh Dona dari salah satu destinasi liburan yang luar biasa itu.
Ia pun berusaha menjalankan tugasnya dengan normal seperti biasanya. Ia juga bercanda dengan teman-temannya dan juga makan siang dengan Kate. Semuanya berusaha ia lakukan seperti biasa. Dalam aktivitasnya hari itu, ia berusaha untuk mengenang teman-temannya karena kurang dari dua hari lagi, dirinya akan segera pergi dari kehidupan mereka.
Malam itu, Dona masih berada di meja kerjanya dan sedikit mengusap layar monitornya pelan ketika Kate tiba-tiba menegurnya. "Dona? Kamu masih mau lembur malam ini?"
Mendongak menatap Kate, Dona tersenyum samar. "Ya. Selama liburan, cukup banyak tugasku yang harus diselesaikan, meski sudah dibantu oleh Jack. Lebih baik aku di sini dulu, sekalian mengecek barangkali masih ada pekerjaan yang tertinggal."
Kepala Kate mengangguk-angguk mengerti. Akhirnya wanita itu pun mundur dan melambaikan tangannya. "Baiklah. Kalau begitu aku duluan ya. Dan terima kasih oleh-olehnya."
Masih tersenyum, Dona juga melambaikan tangannya.
Setelah sendirian di ruangan yang hampir gelap itu, Dona menunduk menatap meja. Sebenarnya, ia telah menyelesaikan pekerjaannya dari tadi. Tapi, ia tidak mau pulang terlalu cepat malam ini. Ia tidak mau bertemu dengan Anthony. Sedapat mungkin, Dona ingin menghindar dari pria itu.
Telah berinteraksi dengan Anthony hampir 5 bulan ini, Dona cukup mengenal tetangganya itu. Pria itu adalah orang yang pantang menyerah. Dona tahu pasti kalau dia tidak akan mundur dari sesuatu kalau tidak dipaksa.
Menimbang-nimbang pikirannya, akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan hampir menghubungi seseorang. Tiba-tiba, ia tersadar sedang ada di mana dirinya saat ini. Menoleh ke sekelilingnya, ia dapat melihat beberapa kamera CCTV yang mengawasi dirinya saat ini. Tidak mau gegabah, wanita itu pun menyimpan kembali ponselnya dalam tas dan akhirnya membereskan semua berkas dari mejanya.
Tidak lama, ia pun pergi meninggalkan mejanya dan langsung menuju parkiran basement. Suasana yang sepi dan remang-remang membuat bulu kuduknya seketika berdiri. Ia merasa seseorang sedang mengawasinya.
Sedikit gemetar, wanita itu berbalik dan matanya nyalang menyapu sekelilingnya. Situasi di sekitarnya tampak sangat sepi dan tidak ada satu pun mobil yang terparkir di sana. Ia bahkan bisa mendengar derik binatang kecil yang sedang merayap di dinding beton yang kotor itu. Penerangan yang seadanya membuat terdapat beberapa pojokan yang terlihat lebih gelap dan menimbulkan prasangka di hatinya.
Nafasnya mulai berat sekarang. Jantungnya terasa berdentum-dentum kencang di rongga d*danya. Suasana ini sangat mengingatkannya pada peristiwa masa lalunya, membuat Dona mengeluarkan keringat dingin. Ia merasakan serangan panik mulai merayap naik dari tulang belakangnya, langsung menuju otaknya yang sedang rentan sekarang.
Dona merasakan gumpalan di tenggorokannya, membuatnya sulit untuk menelan dan bernafas. Bayang-bayang kakaknya yang sedang berlutut di tengah-tengah lantai yang dingin semakin menerpa benaknya. Ingatan kedua orang tuanya yang terbujur kaku di depannya pun perlahan muncul dan tidak bisa dikendalikannya lagi. Ia sudah tidak bisa mengatur emosinya lagi sekarang ini.
Kedua kakinya mulai bergetar dan posisi berdirinya sudah tidak stabil, membuatnya mulai maju dan mundur dengan tidak terkontrol. Beberapa kali, kedua matanya berkedip cepat sebagai upaya untuk membuatnya tetap sadar dan fokus pada lingkungan sekitarnya.
Samar-samar, ia dapat mendengar seseorang memanggilnya sebelum akhirnya ia menyerah dan tubuhnya merosot jatuh ke bawah. Kepala Dona hampir saja menghantam lantai beton yang sangat keras di bawahnya, jika seseorang tidak menangkapnya dengan cepat.
Ia masih dapat melihat sosok seseorang di depannya yang terlihat panik. Mulut orang itu tampak komat-kamit di atasnya, tapi Dona sudah tidak bisa mendengarnya sama sekali. Sebelum akhirnya tidak sadarkan diri, ia masih dapat menangkap kilau warna ungu dari mata orang yang sedang berbicara itu.
Berlusconi...
Pemandangan ini membuatnya semakin merasa sesak dan akhirnya kegelapan pun melingkupinya.