
Kedua pria itu masih mengobrol dengan santai ketika mereka melihat sang pengantin wanita melemparkan buket bunganya. Terlihat para tamu wanita yang masih lajang (atau pun tidak) berebut ingin memiliki buket tersebut. Terjadi sedikit kericuhan, yang kemudian langsung ditinggalkan oleh pasangan pengantin yang menaiki mobil limousine untuk berbulan madu.
Pemandangan itu membuat Damian terkekeh pelan dan membuat Maximus heran. "Apa ada yang lucu?"
Pria bermata biru itu tampak tersenyum ketika mengingat sesuatu. "Tidak. Tapi akhirnya aku paham, kenapa Rosy sama sekali tidak mau mengadakan prosesi yang besar-besaran seperti ini. Ternyata melihat para wanita berkumpul untuk memperebutkan sebuket bunga, cukup mengerikan juga."
Mata ungu Maximus mengerjap sangat cepat. "Kau... sudah menikah...?"
Kepala Damian berpaling pada temannya dan ia kembali tersenyum samar. "Sudah satu tahunan ini. Dan Rosy sedang hamil muda, makanya aku tidak bisa membawanya ke Italia."
Berita itu sangat mengejutkan, karena setahunya Damian sama sekali tidak pernah berkencan. Ia bahkan mendengar seletingan kalau ia penyuka sesama jenis, apalagi Maximus sangat tahu kalau asistennya, Paul James Anderson adalah penyuka sesamanya juga.
"Bagaimana... bisa...?"
Kata-kata Maximus yang aneh itu membuat Damian terbahak-bahak. "Kau ini bagaimana? Tentu saja bisa. Aku ini masih pria normal, Maximus. Saat aku berhubungan s**s dengan seorang wanita, tentu saja dia dapat hamil. Seperti isteriku saat ini!"
Menyadari ket*lolannya, Maximus mengusap rambut tembaganya kasar. "Bukan. Bukan itu. Maksudku, aku sama sekali tidak pernah mendengar kalau kau pernah berkencan, Damian. Dan seingatku, kau itu pria yang cukup kasar pada perempuan apalagi kalau mereka berani menyentuhmu."
Mendengar hal itu, Damian hanya mengerling pada temannya. "Aku yakin, kalau aku tidak akan lebih kasar darimu, Maximus. Karena seingatku pun, kau sangat benci disentuh oleh wanita, bukan? Kau pun akan memuntahi mereka jika terlalu dekat."
Tampak bibir Maximus berkerut dan berkedut. Ia terlihat sedang menahan tawanya. "Ya. Memang. Tapi bukan berarti aku tidak mendapatkan kenikmatan melalui mulut mereka, Damian. Aku masih suka disentuh, tapi memang hanya bagian-bagian tertentu saja."
"Yang jelas kau itu lelaki yang lebih br*ngsek dariku, Max. Setidaknya, aku tidak pernah menodai mulut seorang perempuan pun. Yah, terkecuali mulut isteriku sendiri."
Maximus terkekeh. "Aku benar-benar ingin bertemu dengan isterimu, Damian. Aku cukup penasaran dengan perempuan yang bisa menaklukanmu. Seorang Damian Bale yang terkenal dingin dan juga kasar."
Pandangan Damian tampak menerawang dan senyumnya melembut. "Dia memang malaikatku, Maximus. Mungkin, sudah saatnya kau juga mencari seseorang untuk menemani masa tuamu nanti."
Perkataan Damian mengena di hati Maximus, dan pria bermata biru itu dapat melihat wajah temannya kembali murung. "Aku sudah menemukannya. Hanya saja, dia saat ini sedang pergi dariku..."
Insting Damian mengatakan kalau ini ada hubungannya dengan keluarga Liebel. Sangat jarang Maximus meminta tolong untuk sesuatu yang sama sekali tidak penting. Dan kasus Liebel bisa dikatakan tidak ada hubungannya sama sekali dengan pria itu. "Maximus, jangan katakan kalau kau menyukai..."
"Aku mencintai Giovanna Donatella Liebel, Damian. Dan saat ini, aku juga sedang mencarinya..."
Damian menelan ludahnya dan pandangan mata birunya sedikit nanar. "Jadi kau sakit sekarang, memang karena wanita itu..."
Pria berambut tembaga itu membuang pandangannya ke samping, mata ungunya tampak sedikit berkaca-kaca. "Dia hanya sedang bingung. Dia sedang galau, tapi dia akan kembali lagi padaku. Aku yakin dia akan kembali padaku, Damian. Dan kalau pun tidak..."
Perlahan Maximus kembali menatap Damian tapi kali ini, mata ungunya terlihat menyala terang. Tidak ada lagi kesedihan di dalamnya. "Kalau dia tidak mau kembali padaku. Maka aku yang akan memaksanya. Aku akan memaksanya untuk kembali padaku dan dia harus memb*nuhku dulu, baru aku akan melepaskannya."
Mereka tidak akan melepaskan sesuatu, kecuali mereka m*ti.
***
Di suatu kota kecil, masih di daratan Amerika.
"Kandungan Anda cukup aman, Nona Brown. Tampak tidak ada masalah. Anda bisa melakukan kontrol lagi di bulan depan." Terlihat sang dokter membereskan peralatannya dan memberikan kesempatan pada pasiennya untuk membenahi pakaiannya yang sedikit terbuka tadi.
Sambil merapihkan pakaiannya, wanita yang dipanggil Brown kemudian duduk di hadapan sang dokter.
"Saya akan memberikan beberapa vitamin bagi Anda. Oh ya, apa ada yang Anda rasakan selama beberapa bulan ini. Mual? Pusing? Nafsu makan?"
Kepala mungil wanita itu menggeleng pelan dan bibirnya tersenyum. "Tidak ada, dokter. Semua lancar saja. Sepertinya calon bayi saya, memang anak yang baik."
Mendengar itu, sang dokter terkekeh pelan. "Anda benar. Cukup jarang pasien saya yang kehamilannya selancar Anda seperti ini. Biasanya mereka akan mengalami mual atau pun pusing. Sepertinya Anda harus berterima kasih pada calon ayah anak Anda. Suami Anda sepertinya orang yang sangat baik juga."
Kata-kata dokter itu membuat wanita tersebut kembali terkekeh. "Kenapa dokter menyangka kalau suami saya yang baik? Bisa jadi sifat anak saya, menurun dari saya sendiri, dok."
Dokter itu tersenyum lembut. "Yah. Karena biasanya sifat anak pertama menurun dari ayahnya. Tapi hal itu memang cuma asumsi saya saja, karena kebetulan anak pertama saya sifatnya menurun dari ayahnya yang manja dan cukup merepotkan."
Pembicaraan ringan ini dilanjutkan selama beberapa saat. Dan ketika wanita Brown baru akan bangkit dari duduknya, sang dokter tiba-tiba bertanya. "Apakah suami Anda tidak mau menemani Anda saat kontrol berikutnya? Semakin lama, kehamilan Anda akan semakin besar. Tentu akan butuh bantuan dari suami Anda untuk menjaga Anda nantinya, Nona Brown."
Wanita mungil itu hanya tersenyum dan mengambil tas tangannya. "Suami saya saat ini sedang tugas ke luar negeri, dokter. Saya tidak tahu sampai kapan. Jadi sepertinya, saya sendiri yang mengurus persalinannya. Kalau begitu, saya permisi sekarang dokter. Sampai jumpa bulan depan."
Sedikit tertegun, sang dokter mengangguk. "Sampai jumpa."
Dalam hatinya, sang dokter merasa kasihan dengan pasiennya. Ia hamil. Ia juga sedang bekerja saat ini. Tanpa kehadiran suaminya, akan cukup berat bagi wanita itu untuk mengurus segala sesuatunya sendiri. Tapi ada sesuatu di wanita Brown itu yang membuatnya dapat tampil tegar dan kuat. Dan hal ini membuat sang dokter yakin, kalau wanita Brown itu tidaklah selemah seperti penampilannya.
Sesampainya di tempat parkir, Brown membuka pintu mobil kecilnya dan masuk ke dalam. Ia tidak langsung tancap gas dari sana melainkan menyenderkan tubuhnya, dan tangannya mengusap-usap perutnya yang masih rata. Tampak seulas senyuman mulai muncul di bibir mungilnya yang merah muda.
Kedua mata cokelatnya terlihat berkaca-kaca, tapi rautnya tidak sedih melainkan bahagia. Tatapannya menerawang ke depan dan ia bergumam sangat pelan dengan bahasa Jerman.
"Anthony Bass... Mungkin aku telah kehilangan dirimu, tapi aku tidak kehilangan bagian darimu. Kamu telah meninggalkan sesuatu yang sangat berharga bagiku... Terima kasih, Tony... Aku sangat mencintaimu... Sekarang dan sampai nanti... Semoga kamu bisa menemukan wanita lain yang bisa membuatmu lebih bahagia, karena aku hanyalah wanita s*al yang akan membawa kem*tian untukmu..."
Mata cokelat terang itu menutup erat dan tampak aliran air di kedua pipinya.
Saat ini, ia sangat bersyukur. Giovanna Donatella Liebel bersyukur masih dapat memiliki bagian dari pria yang sangat dicintainya, meski mungkin ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan pria itu.