
Sepeninggal Maximus, Giovanna langsung mendatangi dokter yang menangani pria itu. Dokter Otto.
"Selamat siang, Herr dokter. Apakah Anda ada waktu sebentar?"
"Fraulein Liebel! Akhirnya Anda datang lagi. Silahkan duduk."
Tampak senyum Giovanna muncul di bibir mungilnya. Dan ia pun mengambil tempat di depan sang dokter. "Terima kasih, Herr dokter. Sudah mau menemui saya di sela-sela kesibukan Anda."
"Tidak-tidak, Fraulein. Terakhir kali kita bertemu adalah beberapa bulan lalu, dan terus terang saya cukup senang Anda mau berkunjung kembali ke sini. Karena saya tahu kesibukan Anda di Liebel Corp."
Kepala Giovanna menggeleng pelan dan masih tersenyum. Dokter Otto adalah dokter spesialis syaraf yang baru bergabung sekitar satu tahun lalu dengan rumah sakit Liebel. Hampir sebagian besar personil yang ada di sini sudah berganti orang. Tampaknya Maximus berusaha untuk membuat rumah sakit ini bersih dari sisa-sisa oknum yang pernah membuatnya hampir bangkrut dulu. Memikirkan hal ini, membuat Giovanna semakin berterima kasih pada pria itu dan lebih terdorong kuat untuk memilikinya kembali.
"Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada Anda, Herr dr. Otto. Mengenai salah satu pasien. Apakah Anda bisa membantu saya?"
"Oh? Memangnya siapa yang ingin Anda ketahui kondisinya?"
"Maximus Antonio Berlusconi. Apakah Anda bisa sedikit menceritakannya pada saya?"
Nama itu membuat dr. Otto terkejut. Terlihat jelas, kalau ia sedang dalam keadaan dilematis saat ini. Kondisi pasien adalah data yang confidential. Tidak semua orang bisa dan boleh untuk mengaksesnya. Bahkan memberitahukannya pada orang yang tidak berkepentingan dapat dianggap melanggar kode etik profesi. Saat ini, ia sedang berhadapan dengan pemilik RS Liebel. Seorang CEO. Dan wanita ini meminta data pasien, yang merupakan salah satu pemegang saham di rumah sakit ini. Keduanya sama-sama orang penting.
Kening sang dokter mulai berkeringat, dia tidak tahu harus mengambil keputusan apa. Tubuhnya gemetar karena dia sangat sadar, kalau keputusan yang diambilnya tidak menyenangkan salah satu pihak maka karir dokternya akan tamat begitu saja. Apa yang harus dilakukannya sekarang!?
Menyadari hal yang dimintanya memang cukup krusial, Giovanna tersenyum menenangkan pada sang dokter. "Herr dr. Otto. Anda tidak perlu khawatir. Informasi ini hanya untuk saya sendiri, dan saya pun hanya ingin mengetahui secara garis besar mengenai kondisi Tuan Berlusconi. Anda tidak perlu menjelaskan secara detail, karena saya juga tidak tertarik untuk mengetahui hal-hal yang sifatnya terlalu teknis. Bagaimana?"
Sedikit lega dengan permintaan itu, dr. Otto mengangguk. Ia tidah harus membuka data pasien berarti, dan hal ini membuatnya hanya sekedar memberikan informasi secara lisan saja.
"Ya. Fraulein. Kalau hanya sebatas itu, saya masih bersedia untuk menceritakannya. Apa yang ingin Anda ketahui sebenarnya?"
"Keadaan Tuan Berlusconi. Bagaimana luka-lukanya selama dia dirawat di sini?"
Muka sang dokter cerah. "Tuan Berlusconi sudah sehat. Fisiknya yang prima mempercepat kesembuhannya. Ketika dibawa ke sini, ia banyak mengalami luka tapi semuanya luka luar, dan dapat cepat disembuhkan. Lehernya memang sedikit cedera ketika itu, tapi untungnya tidak ada syaraf yang terkena. Tuan Berlusconi sempat tidak bisa menelan dan berbicara, namun kondisinya semakin membaik dua hari setelah dia dirawat. Secara umum, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya mungkin satu hal saja."
"Bahu kirinya mungkin tidak akan pernah normal lagi. Tampaknya, beberapa tahun lalu Tuan Berlusconi pernah mengalami cedera cukup parah dan membuat bahunya retak. Dari rekam medisnya beberapa tahun lalu, ia sempat diterapi tapi kondisinya belum membaik. Kalau dari data yang saya baca, Tuan Berlusconi akhirnya melanjutkan terapinya ke salah satu klinik di Cina sana."
"Cina?" Giovanna teringat dulu Maximus pernah mengatakan akan pergi ke Cina, tapi tidak pernah menceritakan secara jelas apa yang dilakukannya di sana. Apakah mungkin untuk mendapatkan terapi ini?
"Ya. Tampaknya Tuan Berlusconi rutin untuk datang ke sana sejak beberapa tahun yang lalu. Ia juga tampaknya melakukan terapi dengan menggunakan baoding balls. Oh kalau Anda tidak tahu, itu semacam dua bola besi yang bisa Anda mainkan di jari-jari. Gunanya untuk melatih otot-otot tangan dan juga bahu yang cedera. Jenis terapi lain yang saya tahu adalah dengan menguleni adonan roti. Kegiatan alami itu tidak terlalu memberikan beban pada bagian lengan yang terluka."
Penjelasan panjang sang dokter membuat Giovanna menatap nanar pada kedua benda yang saat ini ada dalam genggamannya. Ternyata ini bukanlah bola mainan seperti yang dikiranya selama ini. Maximus menggunakan bola-bola ini untuk melatih lengannya yang terluka. Dan ia juga membuat roti bukan hanya karena ingin mendekatinya. Tapi pria itu memang melakukannya sebagai bagian untuk menyembuhkan cedera bahunya bertahun-tahun lalu.
Kepala Giovanna masih menunduk ketika ia kembali bertanya. "Apa maksud dokter dengan bahunya tidak akan bisa normal lagi?"
"Kalau dari hasil pemeriksaan kemarin, sebenarnya bahu Tuan Berlusconi sudah dalam masa penyembuhan karena cedera lamanya. Dan ia pun tampaknya sudah cukup jarang menggunakan bola-bola itu untuk terapinya lagi. Nyeri tusukan yang biasanya terjadi secara berkala pun sangat jauh berkurang. Tapi sepertinya tekanan besar yang baru diterimanya beberapa minggu lalu membuat cederanya terbuka lagi. Dan akan butuh waktu yang lama untuk mengembalikan kondisinya."
"Dia masih bisa menggunakan tangan kirinya kan?" Jantung wanita itu mulai berdebar liar sekarang.
"Tuan Berlusconi masih bisa menggunakannya. Dia juga bahkan bisa berolah raga dan mengangkat beban selama tidak memforsirnya. Namun kondisinya saat ini membuatnya harus sangat berhati-hati. Karena cederanya yang kambuh, tidak menutup kemungkinan ia dapat merasakan tusukan rasa sakit yang tiba-tiba di bahunya. Dan setahu saya, dulu Tuan Berlusconi sampai harus mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit selama beberapa waktu. Itulah yang saya khawatirkan terus terang."
"Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah rasa sakitnya muncul lagi?"
Tampak sang dokter berfikir. "Hanya waktu yang dapat melakukannya. Karena sel-sel yang ada di sana akan mencoba menyembuhkan diri, tapi manusia akan semakin tua. Dan sel yang tadinya memiliki kemampuan memperbaiki diri cepat, lama-lama menurun kemampuannya. Yang bisa dilakukan adalah mencegahnya untuk memforsir tangannya dan bila pun rasa sakitnya kambuh, lebih baik ia mengkompresnya dengan air hangat dibanding meminum obat karena dapat membuat ketergantungan nantinya."
Kembali penjelasan panjang lebar sang dokter membuat Giovanna tertegun dalam duduknya.
Lama setelah ia kembali ke ruangannya sendiri, wanita itu menatap dua benda yang masih ada di tangannya. Jempolnya mengusap salah satu grafir yang tertera di sana. Ia baru tahu kalau nama benda ini baoding balls dan ternyata digunakan sebagai salah satu terapi. Giovanna teringat ketika dulu mengalami hal yang hampir serupa saat ia mengunjungi ruangan Aiden Brasco di MBC Amerika, beberapa tahun lalu.
Selama beberapa lama, wanita itu memainkan kedua benda itu ditangannya dan menikmatinya. Ternyata kegiatan ini cukup menyenangkan dan dapat melepaskan stress dari pikirannya sejenak. Pantas saja Maximus masih menggunakannya sampai sekarang, meski sebenarnya dulu ia tidak terlalu memerlukannya lagi. Sebelum kejadian tendangan itu.
Meletakkan kedua benda itu ke atas meja, Giovanna langsung meraih teleponnya di atas meja. Sebaiknya ia melakukan segala sesuatunya dengan cepat. Sudah terlalu lama hal ini dibiarkan dan ia sudah tidak sabar. Masalah ini sebaiknya segera untuk cepat diselesaikan.
"Luther? Tolong kau atur pertemuan dengan Tuan Berlusconi dari CBG pusat Italia sini. Ya. Maximus Antonio Berlusconi. Lebih cepat lebih baik. Kau paham?"