
***Song of the day: Imagine Dragons - Sharks***
Kediaman keluarga Alessandro Berlusconi, kota NY. Amerika. Masa sekarang.
Terlihat pasangan suami-isteri yang saling duduk berhadapan saat ini. Raut keduanya tampak masam dan sama sekali tidak bersahabat. Tampak berkas-berkas di depan mereka dan salah satu map yang ada di sana, akhirnya dilemparkan kasar oleh sang wanita yang masih duduk itu ke arah suaminya.
Mendapatkan perlakuan tidak sopan itu, raut sang suami tidak berubah. Tetap diam dan dingin, seperti patung. Hanya kedua tangannya saja yang ada di atas meja tampak mengepal kuat.
"Tandatangani surat itu, Alessandro! Kau telah menundanya terlalu lama!"
"Aku tidak akan menandatanganinya. Sudah kubilang Isabelle, kau boleh pergi dariku tapi aku tidak akan pernah menceraikanmu. Kalau kau masih ingin bercerai dariku, maka sebaiknya kau memb*nuhku dulu."
Setelah mengatakan kata-kata itu dengan suara yang kasar, Alessandro berdiri dari duduknya dan pergi ke ruang kerjanya. Terdengar suara bantingan pintu, menandakan emosi pria itu yang sedang tinggi sekarang.
Melihatnya, Isabelle menengadahkan kepalanya tinggi dan memandang langit-langit. Tidak lama, tampak kedua matanya yang gelap mengeluarkan cairan bening. Wanita itu akhirnya menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya sedikit berguncang pelan.
Dulu, wanita itu merasa sangat bahagia telah menikahi pria yang dicintainya. Tapi kebahagiaannya hanya bertahan beberapa sesaat, ketika ia semakin lama semakin menyadari posisinya yang memang lemah.
Alessandro berasal dari keluarga Berlusconi yang ternama sedangkan dirinya, hanyalah anak seorang petani miskin di Italia. Isabelle cukup beruntung memiliki otak yang encer, membuatnya dapat meraih beberapa beasiswa dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia juga dikarunai cara berfikir yang taktis dan strategis, sehingga tidak lama setelah kelulusannya ia dapat menduduki posisi sebagai seorang manager termuda di perusahaan CBG cabang Amerika.
Pertemuannya dengan Alessandro adalah tidak sengaja. Pria itu sedang mengendarai mobilnya ketika bannya kempes secara mendadak. Pria itu kebingungan karena ia berada di lokasi yang cukup terpencil, setelah melakukan survey untuk sebuah lahan yang akan dijadikan pabrik. Ia juga pria yang selama ini percaya diri dengan kondisi mobilnya, sehingga sama sekali tidak mempersiapkan ban serep apalagi alat dongkrak untuk mengganti bannya itu.
Panasnya terik matahari, membuat pria itu melepas jasnya dan keringat mulai bercucuran di kemejanya. Dengan malas, ia juga membuka kemejanya dan membuatnya bert*lanjang d*da. Seluruh tubuhnya yang bugar tampak dilapisi cairan lengket yang semakin lama, semakin banyak.
Ia sudah menghubungi salah satu tempat bengkel yang dekat, namun mereka baru akan sampai sekitar satu jam lagi, karena jumlah pelanggan yang cukup membludak di hari itu sehingga membuat Alessandro harus menunggu gilirannya. Dan s*alnya, ponselnya langsung mati karena kehabisan batere. Dalam sekejap, pria itu mulai merasa haus, dan dehidrasi. Dan kebingungan. Dan merasa t*lol.
Kejadian ini benar-benar memberi pelajaran bagi seorang Alessandro Berlusconi untuk tidak menyepelekan yang namanya persiapan sebelum berperang. Pria itu seorang perencana unggul, tapi memang hanya untuk hal-hal yang terkait dengan bisnis dan perusahaan. Untuk urusan-urusan yang sifatnya rumah tangga dan operasional, ia cukup b*doh karena merasa sudah ada yang mengurusnya.
Alessandro Berlusconi telah kena batunya sekarang.
Semakin lama, teriknya matahari semakin mentereng dan membuat Alessandro akhirnya memilih duduk bersender pada mobilnya dibanding berada di dalam karena meski ber-AC, tapi teriknya matahari telah mengalahkan alat pendingin itu.
Kepala pria itu menyender ke badan mobilnya dan keringatnya semakin lama semakin deras, membuat tubuhnya pun semakin kekurangan cairan. Alessandro mulai merasa lemas dan matanya sedikit berkunang-kunang. Selama hampir 2 jam ia menunggu, sama sekali tidak ada mobil yang lewat di jalan. Benaknya mulai berfikir, apakah ia akan mati di tempat antah-berantah ini?
Baru saja ia menutup matanya, Alessandro merasakan badannya diguncang. Ia ingin membuka matanya tapi tidak bisa. Kedua matanya terasa lengket dan berat untuk terbuka. Dan samar-samar ia bisa mendengar suara seseorang di atasnya.
"Hei! Hei! Tuan Berlusconi. Alessandro! Bangunlah!"
Pipinya ditepuk-tepuk keras, tapi Alessandro masih belum tersadar dari pingsannya.
Tiba-tiba, ia merasakan bibirnya bersentuhan dengan sesuatu yang basah dan kenyal. Tidak lama, pria itu merasakan ada cairan yang menyegarkan memasuki tenggorokannya yang sangat kering. Berkali-kali hal itu terjadi, sampai akhirnya Alessandro membuka matanya dan ia langsung berhadapan dengan sepasang mata yang berwarna gelap. Dan saat itulah, pria itu merasakan yang namanya jatuh cinta.
Sejak bertemu pertama kali dengan penyelamatnya, ia telah terpesona pada sosoknya yang cantik dan unik. Isabelle Brambilla memiliki perawakan yang sedang dengan badan yang sintal. Rambutnya hitam dan berpotongan pendek. HIdungnya mancung dengan bibir yang berwarna merah alami. Penampilannya secara umum terlihat tomboy, dan ia pun selalu mengenakan baju yang longgar dan celana jins.
Alessandro mengetahui kalau Isabelle Brambilla adalah salah satu manager di departemen Engineering. Ia bertugas untuk melakukan monitoring dan juga perbaikan untuk peralatan khusus HSE dalam beberapa unit kerja yang ada di perusahaan. Dan untungnya saat peristiwa Alessandro, Isabelle saat itu baru pulang dari salah satu unit usaha yang ada di sekitar sana dan dalam perjalanannya, ia menemukan bos besarnya sedang terbaring lemas di tengah jalan.
Tanpa diketahui Alessandro, Isabelle sudah lama mencintai pria itu. Rasa kagumnya saat pertama bertemu pria itu akhirnya semakin mekar menjadi rasa cinta. Tapi Isabelle sadar dengan posisinya dan tidak pernah bermimpi untuk menjadi isteri dari pria pujaannya itu. Ia juga sadar dengan penampilannya yang sangat jauh berbeda dengan lingkaran pergaulan Alessandro yang kelas atas. Selama ini, Isabelle sudah puas dapat melihat pria itu hanya dari jauh dan tidak mengharapkan apapun.
Sampai pria itu tiba-tiba melamarnya dan tanpa bisa ditahannya, Isabelle pun menerimanya.
Serasa mimpi, keduanya menikah dan kemudian menjalani kehidupan rumah tangga selama hampir 8 tahun ini. Kehidupan rumah tangga yang kosong dan tanpa jiwa.
Selama hampir 8 tahun ini, mereka tidak pernah tidur sekamar. Alessandro tidak pernah menyentuhnya. Mereka hanya bertemu saat pergi dan pulang dari kantor. Komunikasi pun terbatas untuk urusan pekerjaan dan baru ketika inilah, mereka bisa terlihat dinamis dalam bertukar pikiran. Tapi di luar urusan kantor, hubungan keduanya tampak kaku dan tidak wajar untuk sepasang suami-isteri.
Menyadari hal yang tidak normal ini, Isabelle merasa bahwa pernikahannya adalah sebuah kesalahan. Ia pernah mencoba membicarakan hal ini dengan Alessandro pada tahun kedua pernikahan mereka, tapi pria itu hanya menanggapinya dengan dingin. Suaminya hanya mengatakan bahwa semuanya akan membaik dan bahwa ini adalah hal yang biasa. Tapi Isabelle tidak merasa seperti itu.
Semakin lama, Isabelle semakin tertekan. Ia tidak tahu apa gunanya kehadirannya dalam kehidupan seorang Alessandro Berlusconi. Yang ada di otak pria itu hanya kerja dan kerja. Isabelle bahkan yakin, kalau pria itu sama sekali tidak membutuhkan seorang wanita. Karena selama 8 tahun pernikahan mereka, ia tidak melihat Alessandro berkencan di belakangnya. Pria itu suami yang setia, tapi bagaimana dia memenuhi kebutuhan lahiriahnya? Isabelle tidak pernah tahu.
Wanita itu menderita dalam pernikahannya, dan dia tidak mau membuat suaminya juga menderita. Sebagai wanita, Isabelle mungkin masih bisa menahan kebutuhannya tapi bagaimana dengan suaminya? Jika karena dirinya Alessandro sampai menahan diri, lama-lama pria itu bisa sakit. Dan Isabelle juga tidak pernah berani untuk mencoba merayu suaminya. Ia tidak percaya diri dengan fisiknya yang menurutnya biasa saja.
Di saat Isabelle ingin melepaskan suaminya, Alessandro justru semakin erat mempertahankan isterinya.
Kedua orang yang masih b*doh dengan yang namanya percintaan itu tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki hubungan ini. Dua orang itu saling mencintai, tapi tidak tahu bagaimana menunjukkan rasa cinta mereka pada pasangannya.