The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 27 - Guilt



Flashback kejadian 5 tahun yang lalu. Di area parkiran basement gedung Liebel Corp. Italia. Jam 01.30.


Tampak sirene dan raungan bunyi dari mobil polisi serta ambulan membuat suasana yang tadinya sepi di area parkiran itu menjadi sangat bising. Terlihat beberapa petugas ambulan mengangkut kantong yang berisi mayat dan memasukkannya ke mobil yang telah menunggu. Banyak petugas polisi berseragam dan para detektif menyisir lokasi dan membuat area itu menjadi tertutup dengan memberikan garis pembatas.


Beberapa meter dari lokasi, tampak sebuah mobil mewah terparkir sembarangan. Salah satu petugas yang ada di sana langsung menghentikannya. Tampaknya ia supervisor dari para petugas yang sedang menyelidiki lokasi, karena pria itu mengenakan baju preman. "Berhenti! Ini area yang terlarang. Silahkan Anda pergi-"


Baru saja ia ingin mengusir orang yang baru datang, tapi petugas itu langsung berhenti dengan gugup ketika orang di depannya ini keluar dari mobil dan membuka kacamata hitamnya.


Kedua mata ungunya tampak menelusuri area di depannya dan terpaku pada sosok seorang gadis di sana. Dengan perlahan, kedua mata tajam itu menatap petugas tadi dan bertanya dingin. "Korban. Siapa saja?"


Menelan ludahnya, petugas itu akhirnya mejelaskan. Meski informasi ini masih confidential, tapi tidak mungkin ia menolak permintaan dari salah satu orang yang berkuasa di Italia ini. Tidak hanya karirnya yang tamat, tapi mungkin masa depan keluarga dan nyawanya pun akan musnah bila ia berani macam-macam.


"Keluarga Liebel. Suami-isteri dan anak lelakinya."


Kembali mata ungu itu menatap sosok yang masih terduduk di salah satu mobil ambulan. "Anak gadisnya?"


Petugas itu menunjuk tepat ke arah pandangan mata pria itu. Tampak sorotnya memancar kasihan dan prihatin pada nasib gadis itu. "Dia satu-satunya yang selamat."


Mata tajam itu menatap titik-titik lokasi yang ada di sana. "CCTV?"


"Sedang diamankan saat ini."


Merogoh saku jasnya, pria bersarung tangan kulit itu menyerahkan satu kartu nama. "Berikan salinannya padaku. Jangan beritahukan yang aku minta ini pada siapapun."


Menerima kartu itu, petugas itu sedikit berkerut keningnya. "Tapi..."


Keinginannya untuk protes tiba-tiba terputus karena dering ponsel yang ada di sakunya. Masih sambil mengamati pria di depannya yang belum beranjak, ia menjawab telepon itu yang ternyata dari atasannya.


"Halo."


Terlihat kepala petugas itu bergerak mengangguk. "Benar, Pak. Korbannya keluarga Liebel. Semua CCTV sedang diamankan saat ini-"


Hal yang dikatakan oleh orang di seberangnya membuat sang petugas perlahan memandang pria di depannya, yang ternyata sedang balas menatapnya juga. "Pak... Anda yakin mengenai hal ini? Bisa saja di dalam CCTV kita bisa menemukan-"


Tampaknya petugas itu mendapatkan omelan yang cukup keras, karena raut mukanya menjadi tegang dan tidak suka. Tapi akhirnya ia hanya mengangguk kaku. "Baik, Pak. Saya mengerti dan akan menjalankannya sesuai dengan perintah."


Menutup ponselnya, sang petugas menghela nafasnya dalam. Ia terlihat sangat kesal saat ini. Rautnya yang sangat mudah dibaca, membuat pria di depannya tersenyum maklum.


"Bagaimana? Apakah kau mau memberikan salinannya padaku, atau justru bersikap pasrah kalau bukti itu akan menghilang ditelan bumi? Terserah padamu."


Setelah berfikir sejenak, kepala petugas itu mengangguk pelan. "Saya akan segera memberikan salinannya pada Anda. Tapi apakah Anda akan menjamin keselamatan keluarga saya?"


Tangan pria bersarung kulit itu menepuk bahu si petugas dan sedikit mer*masnya. "Aku berjanji akan menjaga keluargamu, karena kau adalah petugas yang baik, Rossi. Kau bisa memegang omonganku ini."


Selesai mengatakan itu, pria bermantel itu langsung menuju ke lokasi ambulan dan meninggalkan Rossi yang masih tercenung. Darimana orang itu tahu namanya?


Baru saja pria bermantel itu akan mendekati sosok gadis yang sedang duduk itu, langkahnya berhenti begitu saja ketika mendengar gumaman pelan yang keluar dari mulutnya. "Berlusconi."


Petugas yang sedang mencatat kesaksiannya sejenak membeku. Ia bertanya lagi untuk memastikan. "Nona Liebel? Apakah Anda yakin?"


"Berlusconi pelakunya. Saya masih sempat melihat sorot mata ungunya sebelum ia menghabisi kakak saya tadi. Saya bersumpah dengan nyawa saya, akan membalas mereka." Perkataan yang diucapkan dengan dingin itu membuat si pria bersarung tangan tertegun dan menelan ludahnya keras.


"Nona Liebel. Sebaiknya Anda tidak sembarangan berbicara." Bukannya rasa simpati yang diterimanya, gadis itu malah mendapatkan teguran yang cukup keras dari petugas itu.


Hal ini membuat gadis itu segera tersadar dengan posisinya dan ia menunduk. "Maaf."


Dengan canggung, si petugas menyimpan buku catatannya. "Sepertinya saya sudah cukup mencatat pernyataan Anda. Sebaiknya Anda ke rumah sakit sekarang dan dari kami nanti akan mengunjungi Anda kembali untuk kelanjutan prosesnya."


Tampak pandangan gadis itu nanar ketika menatap lantai di bawahnya. Ia merasa sangat kecewa dan terpukul saat ini. Begitu saja? Tidak ada tindak lanjut lainnya?


Tahu tidak ada gunanya berdebat, gadis itu hanya kembali menganggukkan kepalanya pelan.


Kata-kata sumpah itu membuat si pria bermantel urung melanjutkan langkahnya. Ia malah membalikkan badan dan langsung meninggalkan lokasi dengan mobilnya.


Rasa bersalah yang besar terasa bergumpal di hatinya saat ini.


***


Kembali ke masa sekarang.


"Tuan Bass... Bagaimana kunjungan Anda kemarin?"


Kepala Maximus tampak mengangguk pelan. "Cukup lancar..."


Seperti biasa, pria itu memainkan bola-bola besinya sambil memandang ke luar jendela. Tampak pemandangan mentari sore mulai menyinari gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya.


"Apakah Anda menemukan yang Anda cari di sana?"


Pria berambut tembaga itu mengangguk tapi kemudian menggeleng, membuat Brasco bingung.


"Aku sudah mengirimkan beberapa file ke emailmu, Brasco. Tolong dicek beberapa hal terkait dengan perjanjian antara Liebel dengan Berlusconi. Kalau bisa, kau temui langsung pengacara dari pihak mereka, karena aku ingin mendapatkan informasi dari sisi mereka."


Kedua mata Brasco tampak bersinar cerah saat ini. "Anda berhasil mempelajari berkas-berkas perjanjian dengan keluarga Liebel secara langsung kemarin?"


"Ya. Tapi ada beberapa kejanggalan. Tolong follow up data dariku nanti, Brasco."


Asistennya mengangguk antusias. "Baik, Tuan. Akan segera saya selidiki sesuai instruksi Anda."


Ia sangat kagum Maximus berhasil mendapatkan akses ke perpustakaan keluarga Berlusconi, mengingat pria itu telah ditendang dari silsilah keluarga. Tentu bukan perkara mudah untuk dapat mempersuasi seorang Giuseppe Berlusconi untuk mau memberikan aksesnya, terutama karena perjanjian dengan keluarga Liebel adalah perjanjian yang besar dan masih berpotensi risiko. Sampai dengan saat ini.


Keduanya sejenak terdiam, sebelum akhirnya Brasco bertanya hati-hati. "Tuan Bass. Apakah akhirnya Anda menggunakan cetakan foto-foto itu?"


Kali ini, Maximus terkekeh pelan. Ia menghentakkan bola-bola besi di tangan kirinya dan menyimpannya kembali ke saku celananya. Tubuhnya berbalik memandang ajudannya.


"Tentu saja aku menggunakannya, Brasco. Untuk apa aku mengambilnya susah payah saat itu, kalau tidak dimanfaatkan untuk situasi seperti sekarang ini?"


Sinar penasaran tampak terpancar dari kedua mata hijau Brasco. "Anda memeras ayah Anda sendiri?"


Senyum miring terlihat di bibir Maximus. "Menurutmu? Seperti yang aku bilang sebelumnya, Brasco. Aku akan melakukannya sesuai dengan tradisi Berlusconi."


Kedua bahu Brasco naik ketika ia menarik nafasnya dalam. "Dan Anda berhasil, Tuan..."


Pria itu menipiskan bibirnya, namun masih tersenyum samar. "Tidak semudah itu. Perlu bumbu-bumbu lain sebagai penyedap bagi pria tua itu. Tapi yang terpenting..."


Ucapan Maximus yang terputus membuat Brasco semakin penasaran. "Apa yang terpenting, Tuan Bass?"


Perlahan, Maximus menghampiri ajudannya dan meletakkan tangan kanannya di bahu pria itu. Bibirnya kali ini menampilkan senyum yang tulus. "Yang terpenting sekarang, hutang dari Lodovico Brasco yang telah membebanimu selama ini telah terlunasi. Saat ini kau telah bebas, Brasco. Kau boleh pergi dari sisiku sekarang juga bila kau mau."


Kata-kata Maximus membuat Brasco tertegun. Tangannya tampak gemetar ketika menerima amplop cokelat dari atasannya itu. Dengan penuh antisipasi, ia membukanya dan kedua mata hijaunya berkaca-kaca. Apa yang tertulis di sana sangat berarti untuk dirinya dan juga keturunan Brasco lainnya. Mereka semua telah terbebas dari ketakutan sekarang.


Perlahan, pandangan Brasco naik dan menatap pria berambut tembaga di depannya yang tampak melamun memandang ke luar jendela. Setetes air mata mengalir di pipi Barsco dan pria itu menutup matanya erat. Lelaki itu mengucapkan ikrar dalam hatinya dengan sepenuh jiwanya.


Tuan Bass. Saya berjanji sampai saya m*ti nanti, saya akan tetap melayani Anda. Hanya Andalah satu-satunya orang yang akan saya berikan kesetiaan abadi ini. Dan saya tidak akan pernah menyesal bila harus memberikan nyawa saya, untuk Anda dan keluarga Anda nantinya...


"Tidak, Tuan Bass. Saya memutuskan untuk tetap di samping Anda."


Perkataan Brasco membuat Maximus tersenyum. "Kau yakin? Tidak akan mudah untuk tetap di sampingku."


Kedua sudut mulut Brasco terangkat naik. Pria itu tersenyum dengan raut yang dipenuhi dengan kelegaan dan juga rasa terima kasih. "Tuan Bass... Saya telah berada di samping Anda selama lebih dari 10 tahun. Apakah Anda masih akan tetap mengingatkan saya mengenai hal tersebut?"


Jawaban asistennya membuat Maximus terbahak-bahak dan pria itu menengadahkan kepalanya tinggi. Ia terdengar mend*sah lega saat ini. "Terima kasih banyak, Brasco. Karena aku memang sangat membutuhkan dirimu saat ini. Dan mungkin seterusnya."