The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 41 - I won't let you go again...!?



Dalam kamar mandi yang tertutup, Maximus tampak membeku ketika mendengar berita itu. Kedua tangannya yang memegang handuk hampir merobek benda berbulu itu. Ia sangat marah sekarang.


Berusaha untuk bersikap tenang, ia menyimpan handuknya di gantungan yang ada di sana dan langsung meraih ponselnya. Dengan tidak sabar, ia mencari nomor kontak seseorang dan langsung menghubunginya. Dan apa yang didengarnya melalui ponselnya, perlahan membuat raut Maximus memucat.


Beberapa kali ia mencobanya kembali, dan terdengar jawaban yang sama. Tanpa diinginkannya, jantungnya mulai berdebar kencang dan nafasnya terasa lebih menderu. Dengan cepat, rasa marah yang dirasakannya tadi berubah menjadi perasaan panik sekarang.


Tidak. Tidak, Tuhan. Tidak. Jangan sekarang! Tidak di saat aku baru saja menemukannya dan akhirnya bisa menyentuhnya, setelah sekian lama!


Aku tidak mau kehilangan dirinya lagi. Ya Tuhan!


Tolonglah, jangan pergi lagi, Dona! Dona!?


Pria itu mulai menjerit dalam hati dan menjadi tidak sabar ketika mendengarkan pembicaraan di luar. Dengan kesal, ia menghubungi Brasco. Kata-katanya diucapkan dengan mendesis karena sambil berbisik.


"Brasco! Apa yang kau lakukan! Segera usir wanita itu dari ruangan!?"


Brasco yang sedang menerima teleponnya ini segera melirik pada Michelle. "Sudah berapa lama sejak Amari menyerahkan amplop ini padamu?"


Tampak tatapan Michelle sedikit aneh pada Brasco. "Sekitar 15 menit lalu. Tapi apa hubungannya-"


Pria di depannya terlihat marah. Ia berteriak sambil mematikan ponselnya. "Dan kau baru menyerahkannya padaku, sekarang? Seharusnya kau segera menemuiku, segera setelah dia memberikan surat ini padamu, Green! Dan keluarlah sekarang! Kau membuatku marah saja!?"


Michelle pun akhirnya terbirit-birit keluar dari ruangan. Benaknya masih bertanya-tanya apa kesalahan yang telah dilakukannya sampai membuat bosnya sangat marah seperti itu. Toh Donatella Amari tetap resign, meski ia menyerahkan surat itu lebih cepat pada Brasco tadi.


Mendengus marah sambil mendelik ruangan tertutup di belakangnya, Michelle akhirnya masuk kembali ke dalam lift. Ia menendang pintu lift yang tertutup dengan sepatu hak-nya dan sedikit menjerit. "Br*ngsek!"


Segera setelah wanita itu keluar, Maximus pun langsung keluar dari kamar mandi. Tampak pria itu yang lari tunggang-langgang memasuki lift pribadi di dalam ruangannya untuk membawanya ke lantai paling atas.


"Tuan Bass!?" Brasco terlihat menyusulnya dari belakang.


Memasuki lift, Maximus segera menekan tombolnya dengan tidak sabar. "Aku tidak punya waktu, Brasco! Aku harus mengejarnya sebelum dia menghilang lagi!?"


"Tapi Tuan Bass, lensa kontak Anda!" Dengan tergesa, Brasco melemparkan benda kecil itu yang untungnya masih sempat ditangkap Maximus sebelum pintu lift menutup.


Sesampainya di lantai paling atas gedung itu, Maximus langsung menyerbu pilot helikopter yang tampak sudah siap sedia di tempatnya. "Sisco! Segera bawa aku ke apartemen, sekarang juga!?"


"Siap, Tuan Bass." Pria yang dipanggil Sisco segera menghidupkan mesinnya. Ia merasakan tangan bos besar yang berada di bahunya, mer*masnya kencang saat ini.


"Sisco! Lakukan apapun yang kau bisa! Karena aku ingin agar kita sampai kurang dari 8 menit!?"


Tantangan itu membuat mulut Sisco tersenyum miring. Akhirnya. Ia dapat menunjukkan keahliannya sebagai pilot veteran yang terbiasa di medan perang. "Anda bisa mengandalkan saya, Tuan Bass."


***


Di basement parkiran apartemen, jam 19.17.


Sambil keluar dari mobilnya, Dona mengangguk dan mulai melangkah ke lift. "Baik. Sampai ketemu nanti."


Sampai di lantainya, dengan tergesa Dona segera menuju ke unitnya. Tadinya, ia memang bermaksud untuk langsung pergi ke dermaga dari kantor karena ia ingin menghindari kalau Maximus Bass memberitahu Anthony mengenai pengunduran dirinya. Meski tidak mau menilai terlalu tinggi posisi dirinya di mata pria itu, tapi Dona berusaha untuk menghindari resiko apapun saat ini.


Tapi b*dohnya dia! Dona meninggalkan meninggalkan hadiah untuk Kate yang seharusnya ia titipkan ke resepsionis untuk dikirimkan. Dona sama sekali tidak berpamitan pada Kate dan juga rekan-rekannya yang lain. Ia tidak tahan dengan perpisahan, dan akan memberikan kenang-kenangan kecil saja untuk temannya itu dengan cara mengirimkannya langsung ke rumahnya.


Baru saja Dona membuka pintunya, ia mendengar suara serak dari arah belakangnya yang terdengar sangat marah. "Dona! Mau ke mana kamu sekarang, hah!?"


Saat berbalik, Dona melihat sosok Anthony yang sedang terengah-engah. Pria itu terlihat habis berlari kencang dan membuat badannya dibanjiri keringat. Mukanya tampak memerah dan berkerut.


Menelan ludahnya, Dona merutuki kes*alannya. "An- Anthony? Si- Siapa yang mengatakan kalau aku akan pergi? Bicara apa kamu?"


Dengan sedikit kasar, tangan Anthony mendorong bahu Dona untuk mundur dan memaksanya untuk memasuki apartemen wanita itu. Sampai di dalam, pria itu langsung menutup pintunya kencang dan menguncinya. Hal ini membuat Dona mulai mundur ketakutan.


"Anthony! Apa yang kamu lakukan?"


Sambil bergerak mendekati wanita itu, Anthony menggeram marah dan nadanya semakin lama, semakin meninggi. "Apa yang kulakukan? Apa yang kulakukan? Kamu bertanya apa yang kulakukan? Bagaimana dengan dirimu sendiri! Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, Dona!?"


Perkataan Anthony mulai membuat Dona merasa marah pula. Memangnya siapa pria ini yang mengatur-ngatur dirinya? Orang ini bukan siapa-siapa!?


"Bukan urusanmu mengenai apa yang aku lakukan, Anthony!? Kenapa kamu selalu ikut campur urusanku!"


Dengan kasar, Dona menabrakkan bahunya di bahu pria itu dan akan membuka pintu apartemen ketika ia merasakan tubuhnya diangkat untuk menjauhi pintu itu. Tangan dan kaki Dona bergerak untuk meronta dari pegangan pria itu dan menendangnya membabi-buta. "Kurang ajar!? Lepaskan aku s*alan! Lepaskan!?"


Ia hampir saja terjatuh ketika Anthony melepaskannya dengan kasar dan sedikit mendorong tubuhnya ke belakang. Tampak posisi pria itu yang sangat mengancam ketika ia mengangkat tangannya dan jari telunjuknya terarah pada muka Dona. Suaranya terdengar mendesis di antara gigi-giginya yang merapat. "Jangan memancingku, Dona. Jangan pernah kamu memancingku! Kamu belum pernah melihatku marah sebelumnya, dan aku sangat marah sekarang ini!?"


Ancaman itu semakin membuat Dona naik pitam. Pria ini sendiri sangat pintar memancing kemarahannya. "Seharusnya kamulah yang jangan memancingku, Anthony! Minggirlah sekarang, sebelum aku benar-benar kasar pada dirimu!?"


Kata-kata itu malah membuat kepala Anthony mendongak, dan pria itu melepaskan kaos lengan panjangnya. Ia melemparkan baju itu asal ke lantai dan membuat kedua mata Dona melotot. Wanita itu semakin mundur ke belakang. "Ka- Kamu- Apa yang kamu lakukan!?"


Bert*lanjang d*da, Anthony semakin mendekati Dona yang semakin bergerak ke belakang. Sama sekali tidak sadar kalau ia mulai memasuki kamar tidurnya. "Kamu mau bersikap kasar padaku? Ayo! Silahkan!"


Setelah berkata itu, dengan bengis pria itu mendorong wanita di depannya dan menjatuhkan diri mereka ke tempat tidur yang ada di belakangnya. Ia menahan kedua bahu Dona di bawahnya dan menantangnya keras. "Ayo Dona! Aku menantangmu, sekarang! Ayo! Bersikaplah kasar padaku!?"


Pria yang sedang menduduki perutnya ini sekarang membuka tali ikat pinggangnya dan mulai menurunkan resliting celananya sendiri. "Ayo Dona! Lakukan apapun padaku, sampai kamu puas!?"


Ketakutan, Dona mendorong d*da t*lanjang pria itu tapi sia-sia saja. Tangan Anthony malah mencekal kedua pergelangan tangannya dan menahannya di atas kepalanya. Dan dengan kasar, tangan kiri pria itu mulai merobek kemeja Dona yang berbahan sifon di bawahnya. Dalam waktu singkat, tubuh atasnya sudah terbuka dan menampilkan kedua asetnya yang polos.


Perlakuan Anthony yang kasar di atasnya membuat kedua mata Dona nanar menatap pria itu.


"Kamu tidak mau melakukannya? Baik. Kalau begitu, aku saja yang akan melakukannya untukmu! Aku akan melakukan yang kamu mau, sampai kamu tidak akan pernah lepas dariku! Kamu tidak akan pernah bisa lari lagi dariku, s*alan!?"


Dan mulut pria itu pun langsung menyerbu bibir Dona yang masih tergugu di bawahnya.