
Barulah saat merasakan tangan Anthony lebih menekannya pada benda yang terasa sangat panas dan mulai mengeras itu, Dona sadar dengan yang dari tadi telah disentuhnya.
"Apa yang kau lakukan!?"
Dengan marah, wanita itu berusaha membalikkan tubuh Anthony yang berat dari pangkuannya. Malang, bukannya berhasil mendorong pria itu, ia sendiri malah ikut jatuh menimpa pria di bawahnya. Dan yang lebih memalukan, d*danya berada di wajah pria itu dengan tangan besar Anthony yang berada di b*kongnya.
Situasi ini sejenak membuatnya keduanya membeku dalam posisi itu beberapa saat, dan barulah Dona bergerak saat mendengar erangan teredam pria yang berada di bawahnya.
"Ergh..."
Keduanya mulai bangkit dengan canggung dari posisinya. Tampak jelas, muka Anthony memerah karena tindihan tadi dan kepalanya pun mulai terasa pusing karena kejadian yang tiba-tiba. Hal ini membuat pria itu terlihat sedikit sempoyongan ketika berdiri dari posisinya.
"Uhm..."
Tampak pria itu meringis nyeri dan memegang kepalanya kuat. Salah satu tangannya mencengkeram lengan sofa dengan kencang.
Khawatir, Dona memegang bahu Anthony. "Kau tidak apa-apa?"
Berusaha untuk bergerak duduk dengan pelan-pelan, kepala pria itu menggeleng.
"Ya... Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing. Mungkin karena bangun tiba-tiba..."
Sadar dengan kejadian ini, Dona pun langsung mundur menjauhi pria itu. Mungkin ia sebaiknya menjaga jarak dulu dari Anthony, sampai ia yakin kalau pria ini tidak berbahaya. Bayangan kelam masa lalunya, membuatnya cukup takut untuk menjalin hubungan dengan orang baru.
Mengerjapkan matanya cepat, Dona langsung membalikkan badannya dan mengarah ke pintu keluar. Hal ini membuat Anthony panik dan langsung memanggilnya. "Kamu mau ke mana?"
"Sebaiknya aku pulang. Kau istirahatlah dulu." Wanita itu menjawab tanpa menoleh pada pria itu.
Ia baru saja memutar gagang pintu saat terdengar suara pria itu lagi. "Dona? Kamu tidak marah kan?"
Melihat kalau wanita yang berdiri membelakanginya masih diam dan tidak menjawab, Anthony menelan ludahnya keras. "Kejadian tadi tidak disengaja. Aku minta maaf dan janji, kalau itu tidak akan terulang lagi."
Tampak Dona sedikit menoleh padanya dan kepalanya menggeleng pelan. "Tidak. Akulah yang harus minta maaf soal tadi. Aku yang tidak sengaja menyentuhmu."
Setelah terdiam sebentar, wanita itu semakin menoleh padanya dan pandangannya menajam. "Mungkin sebaiknya kita tidak bertemu dulu, Tony."
"Kenapa tiba-tiba..."
Tubuh Dona semakin menempel erat ke pintu. Terlihat jelas kalau wanita itu bersikap lebih waspada padanya. Hal ini membuat Anthony sadar, kalau ia telah melakukan kesalahan tanpa diketahuinya.
Pria itu akhirnya berusaha untuk berdiri dari duduknya. "Dona? Kita tetap berteman kan?"
Pertanyaan itu membuat Dona menyunggingkan senyum miring. Tatapannya terlihat skeptis dan menantang pria di depannya. "Entahlah, Tony. Aku tidak yakin kalau kita berteman. Karena aku yakin, seorang teman tidak akan tega untuk berbohong pada orang yang dianggap temannya."
Kedua alis Anthony mengernyit dalam. "Apa maksudmu dengan aku berbohong padamu?"
Kedua mata Dona yang berputar dan menatap ke seluruh ruangan apartemen itu, tampaknya sudah sedikit menjawab pertanyaannya. "Kau pikirkanlah sendiri, kenapa aku menuduhmu seperti itu."
Selesai mengatakan kalimat pamungkas itu, Dona langsung keluar dari ruangan dan menutup pintunya. Wanita itu meninggalkan Anthony yang masih berdiri terpaku, yang kemudian langsung menghempaskan tubuh besarnya di atas sofa. Tampak pria itu menekan kembali pelipisnya dan mend*sah pelan.
Pria itu mulai sadar dengan kesalahan yang dilakukannya. Terlalu banyak yang disembunyikannya dari wanita itu dan kejadian hari ini, membuat penyamarannya menjadi terbongkar sedikit. Dasar alergi s*alan!?
Berusaha untuk meraih ponselnya, ia baru saja akan menghubungi seseorang saat benda itu berbunyi.
"Halo?"
Setelah mendengarkan perkataan orang di seberangnya beberapa saat, kedua mata lelaki itu terbuka lebar. Ia langsung berdiri dan mulai melangkah ke kamarnya.
"Kau yakin dengan hal ini?"
Tampak Anthony menggertakan giginya dan bibirnya tersenyum dingin.
"Tidak masalah. Aku akan segera menyusul. Kau tunggulah di sana."
Mematikan ponselnya, pria itu menghela nafas pelan. Sepertinya masalahnya dengan Dona harus ditunda dulu selama beberapa waktu.
Sementara itu di kamar apartemennya, tampak Dona sedang menghubungi seseorang.
"Kau yakin Michele?"
Wanita itu menempelkan ponselnya di bahu dan meraih laptop-nya. Dengan cekatan, jari-jarinya cepat menemukan aplikasi yang ditujunya dan mulai membacanya.
"Cuma ini saja yang kau temukan? Tidak ada yang lainnya lagi?"
Tampak raut wanita itu sedikit lega. Ia menghela nafasnya pelan.
"Tidak. Untuk saat ini sudah cukup. Terima kasih banyak Miki. Kau dapat menagihnya seperti biasa."
Setelah mengucapkan salam, ia pun meletakkan ponselnya di tempat tidur. Dan sambil menyender di kepala tempat tidurnya, Dona mulai membaca file yang dikirimkan Michele tadi dengan lebih seksama.
Sejak bertemu dengan Anthony beberapa hari lalu, ia telah meminta Michele untuk menyelidiki latar belakang pria itu. Rasa paranoid-nya membuatnya menjadi lebih hati-hati. Lebih baik ia mengeluarkan sedikit uang berlebih, dibanding menyesal kemudian.
Nama tetangganya ternyata Anthony Bass. Tadinya ia curiga pria itu ada hubungannya dengan Maximus Bass, tapi ternyata nama itu cukup umum di Amerika dan juga Eropa. Hampir dapat dikatakan bahwa 2 orang dengan nama belakang Bass, ternyata tidak memiliki hubungan kerabat apapun.
Pria itu memiliki latar belakang kulinari. Meski tidak menempuh pendidikan secara formal, tapi ia tercatat pernah menjadi murid dari beberapa Chef yang cukup terkenal meski tidak lama. Ia juga pernah bekerja di beberapa restoran dan terakhir, tampaknya ketertarikannya jatuh pada pembuatan roti.
AM Bakery atau Amari Bakery adalah toko roti yang didirikannya bersama rekannya saat di Italia dulu, yang bernama Benicio De Luca. Latar belakang Benicio cukup aneh. Ia tidak jelas berasal dari mana, tapi pria itu pernah bekerja sebagai bodyguard para konglomerat dan selebritas terkenal, sebelum baru beberapa tahun ini menunjukkan minat untuk bekerja di area makanan.
Informasi yang diterimanya ini membuat Dona perlahan sedikit merasa lega. Ia akhirnya menjadi lebih paham dengan latar belakang Anthony. Tapi yang membuatnya heran, kenapa pria itu harus menyembunyikannya dan berpura-pura seperti ini?
Memikirkan hal tersebut, Dona kembali mengernyitkan alisnya. Ia mengingat kembali bayangan wajah pria itu yang tadi diamatinya dengan lebih intens. Sesuatu di ujung otaknya mengatakan ada yang aneh. Tapi beberapa saat kemudian, wanita itu pun menutup laptop-nya. Ia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Mungkin hanya hal kecil yang tidak penting.
Menggigit bibir bawahnya, Dona tampak memutuskan sesuatu. Mungkin ia bisa mempercayai pria itu. Mungkin sudah saatnya ia meninggalkan masa lalunya, dan membuka lembaran yang baru. Sudah hampir 5 tahun ini, ia tinggal berpindah-pindah dan tidak mau dekat dengan seseorang. Baru kali ini, ia merasakan ketertarikan untuk membina hubungan pertemanan dengan orang lain. Apakah ia harus melakukannya?
Dona tertidur sambil masih memikirkan mengenai Anthony Bass. Dan pikiran itu, membuat otaknya tenang dan ia sama sekali tidak bermimpi buruk malam itu.
Sayangnya, Dona tidak bisa menemukan pria itu keesokan harinya. Anthony Bass tiba-tiba mengajukan cuti selama seminggu, dan tidak ada seorang pun di tokonya yang mengetahui keberadaannya.