The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 30 - Death, and more death



Flashback 5 tahun lalu. Seminggu setelah kejadian penembakan di basement gedung Liebel Corp.


"Apa maksudnya ini, Schmidt? Kenapa laporan keuangannya seperti ini? Bukannya pembagian yang disepakati adalah 50-50? Mereka memasok alat-alat kesehatan pada kita dan untuk masalah operasional masih tetap kita yang menjalankan? Keluarga Liebel masih sebagai pemegang saham terbesar kan!?"


Giovanna tampak menggebrak meja besar yang ada di depannya. Ia sangat marah saat ini, ketika mengetahui ada penurunan yang sangat signifikan terhadap laba bersih perusahaan Liebel sejak mereka menjalin merger dengan keluarga Berlusconi.


"Fraulein... Saya juga tidak bisa berbuat apa-apa... Semuanya sudah tertera dalam semua kontrak kerja sama yang baru itu..."


Gadis itu semakin berang saat ini. "Kau adalah direktur keuangan di rumah sakit ini, Schmidt!? Bagaimana kau bisa membiarkan papa dan juga Gio untuk melakukan hal ini!"


"Fraulein... Apakah Anda lupa... Kita berhubungan dengan keluarga Berlusconi... Tidak ada yang akan berani untuk melawan mereka..."


Menggertakan giginya, mata cokelat bening milik Giovanna mendelik pada Schmidt yang saat ini sedang berdiri serba salah. Pria baya itu juga tidak menyukai hal ini, tapi semua surat-suratnya legit dan sah. Tidak ada yang bisa menggoyangkan surat kontrak yang memang sudah disepakati oleh kedua belah pihak.


"Hubungi Herr Becker! Aku yang akan bicara dengannya!"


Becker adalah kepala tim dari pengacara perusahaan. Sama seperti Schmidt, pria itu juga telah mengabdikan hidupnya untuk bekerja pada Liebel Corp. semenjak mereka belum berkeluarga. Keduanya sudah dianggap sebagai anggota keluarga oleh Liebel. Karenanya, permasalahan ini membuat Giovanna sangat kecewa.


"Ba- Baik." Tahu Nona mudanya sangat marah saat ini, Schmidt segera mengangkat telepon di mejanya dan menghubungi seseorang. Tampak pria baya itu berbicara beberapa saat sebelum akhirnya ia menutup teleponnya kembali.


"Apa katanya?"


"Herr Becker saat ini sedang liburan. Sudah seminggu ini, ia ke pengunungan Alpen bersama keluarganya. Seharusnya ia sudah akan kembali malam ini, Fraulein. Saya akan menghubunginya segera setelah dia sampai di Jerman."


Menganggap ini adalah hal yang urgent dan pria itu sudah cukup liburan saat ini, kepala Giovanna menggeleng keras. Ia menolak keputusan itu.


"Tidak! Hubungi dia sekarang di ponselnya, Schmidt! Aku tidak mau terlalu lama menunda hal ini, sebelum masalah terlalu berlarut dan kem*tian papa serta Gio semakin mendingin!"


Menurut, Schmidt mengambil ponselnya dan segera melakukan panggilan pada orang yang dimaksud. Setelah menunggu beberapa saat, kedua alisnya yang beruban terlihat berkerut dalam. Tampak ia beberapa kali mencoba, dan ekspresinya tetap sama. Kali ini, tampangnya serius saat menatap nona mudanya.


"Ponselnya tidak aktif, Fraulein. Ini aneh sekali. Biasanya Herr Becker selalu-"


Schmidt tidak selesai mengucapkan kata-katanya ketika pintu ruangan direktur itu terbuka lebar. Tampak kepala dokter di RS Liebel yang sedang menatap nanar pada keduanya. Ia juga langsung menutup pintunya erat dan segera menyetel TV yang sedang menayangkan berita penting saat ini.


"Dokter Weber! Kenapa Anda masuk begitu saja-"


"Diam Schmidt! Dan lihat berita ini!"


Mendengar kata-kata sang dokter yang tajam, kedua orang yang tadinya marah itu menjadi terdiam. Tampak ketiga pasang mata yang fokus menatap tayangan berita yang ada di TV.


"Sungguh sangat mengejutkan, pesawat pribadi yang sedang menerbangkan keluarga Herr Becker akhirnya harus ditembak jatuh karena dianggap melewati batas wilayah terbang yang diperbolehkan. Meski setelah ditelusuri lebih jauh ternyata merupakan kesalahan teknis, namun peristiwa ini menjadikan Herr Becker beserta isteri dan juga ketiga putera-puteri mereka harus menemui ajal..."


"Belum ada pemberitaan yang pasti mengapa peristiwa mengerikan ini bisa terjadi. Adanya kesalahan teknis yang menyebabkan peristiwa seperti ini, tentunya menjadikan kompetensi para petugas engineering dari bandara Internasional A menjadi dipertanyakan. Belum lagi ada isu konspirasi seputar kecelakaan ini, terkait dengan perjanjian bisnis yang sedang dilakukan oleh keluarga Liebel dengan salah satu keluarga berpengaruh di Italia. Investigasi lebih lanjut masih dilakukan..."


Berita itu membuat Giovanna terdiam kaku. Baru seminggu yang lalu ia kehilangan seluruh keluarganya dan kini, ia juga harus kehilangan salah satu orang kepercayaannya. Orang yang telah dianggapnya sebagai pamannya sendiri, akhirnya harus t*was menyusul keluarganya.


Benaknya semakin lama berputar semakin cepat. Sisi logisnya sebagai keluarga Liebel membuat Giovanna lebih terdorong untuk mencari tahu lebih jauh, dibanding memberikan reaksi emosional terhadap kem*tian orang-orang yang disayanginya. Air matanya telah habis saat pemakaman seluruh keluarganya kemarin.


Setelah berita itu berganti menjadi informasi lainnya, dr. Weber segera menghampiri Giovanna dan memegang lengan atasnya. Mata pria itu tampak nanar dan ketakutan saat ini. "Fraulein Liebel! Apapun yang sedang Anda pikirkan saat ini, lupakanlah! Tidak ada gunanya mencari tahu lebih jauh. Tolong. Hiduplah dengan tenang saja saat ini, bila Anda masih ingin kami semua bekerja di sini!"


Kata-kata yang menyiratkan ancaman itu membuat Giovanna merasa marah dan terhina. Gadis itu memberontak dari cengkeraman dr. Weber dan mundur ke belakang. Tatapannya menyala saat ini.


"Apa maksudmu, dokter!? Jadi saya harus diam dan menerima begitu saja kem*tian keluarga saya, yang sampai sekarang masih belum mendapatkan keadilan!? Di mana hati nuranimu, dokter!?"


Saking marah dan kecewanya, Giovanna sedikit menjerit guna mengeluarkan rasa frustasinya.


Tampak dr. Weber menggelengkan kepalanya. Gerakan pria itu tampak kacau saat ini, menandakan ia juga sedang gelisah dan merasa sedih.


"Dokter Weber. Apa maksud Anda tadi dengan mengatakan kalau kita tidak boleh mencari tahu lebih jauh?" Kali ini, Schmidt tidak bisa menahan lidahnya. Ia tidak mau berasumsi, tapi perilaku sang dokter yang tidak seperti biasanya tentu membuat dirinya menjadi bertanya-tanya.


Kedua mata dr. Weber nyalang memandang Schmidt. "Schmidt! Kau tahu sendiri siapa yang sedang kita hadapi ini. Kita bukan menghadapi orang biasa. Keluarga Liebel telah terb*nuh, dan kita semua tahu siapa pelakunya. Dan apa kau tahu? Herr Becker sebenarnya sedang menyelidiki mengenai permintaan revisi pembagian presentase keuntungan antara Liebel-Berlusconi. Karena kau tahu? Dia bukanlah tim pengacara yang bertanggungjawab saat itu!"


Informasi baru ini membuat kening Giovanna berkerut. "Apa maksudmu, dokter? Herr Becker sedang menyelidiki apa saat ini? Aku baru dengar kalau Herr Becker sama sekali tidak terlibat saat perjanjian dengan Berlusconi. Bagaimana bisa? Kenapa aku sama sekali tidak tahu mengenai hal ini. Elena bahkan belum mengatakan apapun kemarin ketika-"


Belum selesai Giovanna berkata, dr. Weber sudah memotong ucapannya dengan sangat keras. "Hentikan!? Kau itu masih sangat hijau, Fraulein Liebel! Kau sama sekali belum mengetahui apapun tentang kehidupan! Aku sarankan agar kau menjauh dari masalah ini jika kau masih ingin hidup dengan tenang. Dan jangan libatkan Elena dalam masalah ini!?"


Perkataan dr. Weber benar-benar membuat Giovanna naik pitam. Ia mungkin masih hijau, tapi ia bukanlah orang yang b*doh. Siapapun dapat melihat adanya kejanggalan pada pembagian keuntungan antara Liebel-Berlusconi dan ia sangat yakin, kalau ayah ataupun kakaknya tidak akan pernah menyetujui perjanjian bisnis yang sangat berat sebelah seperti ini.


"Dokter Weber..." Schmidt baru saja berusaha menenangkan dr. Weber ketika perkataannya terpotong oleh ucapan Giovanna yang sangat tajam di sampingnya.


"Dokter Weber. Saya masih menghargai Anda sebagai orang yang lebih tua dan juga calon besan dari orang tua saya. Tapi saya tidak terima kalau Anda menganggap saya gadis yang b*doh! Justru saya sangat tahu mengenai hal yang sedang terjadi di sini, dan saya akan membongkarnya. Keluarga saya berhak mendapat keadilan! Dan demikian pula Elena, sebagai tunangan dari Giovanni!?"


Muka dr. Weber sangat memerah dan semua urat-uratnya tampak menonjol. Suaranya mendesis dan penuh dengan penekanan ketika kembali berbicara. "Jangan. Pernah. Libatkan. Elena."


Dan setelah itu dr. Weber meninggalkan Giovanna dan juga Schmidt yang tampak masih membeku di tempatnya. Hal yang dipikirkan keduanya saat ini berbeda jauh.


Giovanna semakin terdorong untuk menemukan kebenaran sedangkan Schmidt, pria itu mulai mempertimbangkan langkah terbaik yang harus diambilnya saat ini. Meski ia dekat dengan keluarga Liebel, tapi dia dan keluarganya masih ingin hidup dengan tenang serta berkecukupan saat ini. Menelan ludahnya, Schmidt melirik Giovanna yang tampak masih marah. Pria baya itu sudah mengambil keputusan saat ini.


Dan malam itu, pria baya itu merasa sudah mengambil keputusan yang sangat benar.


Keesokan paginya, tubuh dr. Weber dan juga puterinya ditemukan tergantung di rumah mereka. Tidak ada tanda masuk secara paksa maupun bekas-bekas pencurian di sana. Dan meski sama sekali tidak ditemukan catatan yang ditinggalkan maupun alasan yang logis dari peristiwa ini, kem*tian keduanya akhirnya dinyatakan sebagai kasus b*nuh diri oleh pihak kepolisan, hanya 2 jam setelah tubuh mereka ditemukan.