The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 76 - Jealousy



"Jadi, dia sekarang ada bersama Michele?"


"Ya. Gabriele biasanya selalu aku bawa ke kantor. Tapi karena hari ini aku akan pergi ke tempatmu, jadi aku menitipkannya sebentar pada Michele."


"Berapa usianya?"


"Bulan depan jalan 11 bulan. Dia sangat mirip denganmu tahu!"


"Oh ya? Benarkah?" Suara pria itu sangat ceria dan bahagia. "Miripnya seperti apa?"


"Rambutnya seperti rambutmu. Dan matanya seperti matamu..." Telihat Giovanna yang membuka jubahnya terdiam sebentar dan keningnya berkerut. Entah apa yang menyebabkannya, tapi rautnya berubah sebal. "Kalau dipikir-pikir, semua bagian yang ada di Gabe benar-benar versi kecil dari dirimu. Kamu benar-benar mengambil semua jatahku, Maximus! Tidak ada sama sekali kemiripanku dengan anakku sendiri!"


Mendengar itu, Maximus terkekeh. "Berarti benihku adalah benih super, sayang... Mungkin kalau aku cukup baik, aku akan membiarkanmu memberikan sedikit bagianmu untuk anak kedua kita nanti."


"Sesukamulah!"


"Kamu ada fotonya?"


"Ada di ponsel. Tapi aku meninggalkan ponselku di mobil tadi."


"Ah... Aku ingin melihatnya...!"


"Sabar... Sehabis makan, kita langsung menemuinya di rumah nanti. Kalau kamu masih penasaran, lihat saja di cermin wajahmu. Gabriele benar-benar versi miniatur dirimu, Tony."


Kedua orang itu saat ini sedang bersiap dalam ruangan pribadi Maximus. Tampak Maximus mengenakan kemeja barunya karena kemeja yang tadi dikenakannya, sudah compang-camping. Giovanna yang di sebelahnya pun memakai baju yang dimintanya tadi pada Luther, asistennya. Untungnya ia kerap menyimpan baju cadangan di mobilnya, membuatnya tidak akan terlalu malu nanti.


Setelah rapih, keduanya pun langsung keluar dan menuju ruang depan, yang merupakan ruang tunggu tamu serta ruang meeting kecil. Tampak telah ada makan siang yang disajikan dengan apik di ruangan itu. Menatap Giovanna, Maximus terlihat menyesal. "Maafkan aku, Gia. Porsinya memang tidak banyak, karena aku hanya memesan untuk diriku sendiri tadi. Kalau kamu masih lapar, kamu boleh memakan bagianku kok. Aku rela."


Cukup tersinggung dengan kata-kata pria itu, Giovanna memukul punggung Maximus keras dan membuat pria itu sedikit menjerit. Sambil meringis dan mengusap-usap punggungnya, ia bertanya sebal. "Kenapa kamu suka sekali memukulku, Dona?"


"Aku tidak akan memukulmu, kalau kelakuanmu tidak 11-12 seperti Giovanni, Maximus! Kalian memang sahabat sejati! Sama-sama menyebalkannya!"


Komentar itu membuat Maximus terkekeh dan setelah mencium kening wanitanya cepat, ia menyuruh Giovanna duduk dan keduanya pun langsung makan.


Baru saja keduanya bersiap untuk keluar ruangan, tiba-tiba muncul Raffaele yang datang entah dari mana. Pria itu menghadang atasannya yang terlihat bersiap untuk pergi. "Anda mau kemana, Tuan Berlusconi?"


"Aku mau pergi sebentar, Raffaele. Urusan keluarga yang penting. Kau jangan menghalangiku."


"No. No. No. Tidak bisa, Tuan Berlusconi! Kalau Anda lupa, sebentar lagi Anda ada meeting jam 16.00. Dan meeting ini cukup penting karena menyangkut performance salah satu pabrik kita. Saya tidak bisa membiarkan Anda kabur dari kewajiban mengambil keputusan!"


"Apa maksudmu, Raffaele? Masih ada beberapa jam lagi sebelum..." Maximus langsung terdiam saat menatap jam di tangan kanannya. Ternyata waktu sudah menunjukkan angka 15.40. Tanpa terasa, keduanya telah menghabiskan beberapa jam tadi di dalam ruangan. Entah melakukan apa saja.


Menoleh putus asa ke sampingnya, Maximus menunjukkan tatapan memelas memohon ampunan. "Dona. Maafkan aku, baby... Aku-"


Tampak tampang Maximus memucat. Dengan panik, pria itu berusaha meraih tangan Giovanna yang langsung ditepis wanita itu santai. "Kamu fokuslah kerja hari ini, Maximus. Aku akan menunggumu nanti di rumah. Selamat sore...!"


"Dona baby...! Tunggu dulu, jangan begini! Kamu tidak serius kan? Dona...! Dona baby, jangan pergi dulu...!"


Sigap, Raffaele langsung menangkap tubuh Maximus yang ingin mengejar wanita yang sedang memasuki lift itu. Tampang asistennya benar-benar sebal saat ini. Sudah cukup ia menghadapi kelakuan atasannya yang seringkali absurd ini. Sangat berbeda jauh dengan kakaknya Amadeo, yang terlihat lebih serius. "Tuan Berlusconi! Tolonglah! Jangan menyusahkan saya! Sekarang, tolong Anda tunggu di ruangan dan jangan keluar lagi, sampai saya memanggil Anda untuk meeting!"


Menggeram rendah, akhirnya Maximus menuruti perintah asistennya. Pria itu dengan marah masuk ke ruangan kerjanya dan membanting pintunya sangat kencang. Entah siapa yang menjadi bos di perusahaan ini, dirinya atau asistennya itu!


Sementara itu di dalam lift, Giovanna terkekeh pelan. Setelah sampai lantai dasar, ia baru saja melangkah ketika tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang. "Oh! Maafkan saya."


Mendongakkan kepalanya, Giovanna berhadapan dengan wanita paling cantik yang pernah ditemuinya. Wanita itu berambut pirang dan bermata biru. Bibirnya yang sempurna tampak dipulas dengan lipstik berwarna merah. Ia juga memiliki tubuh yang tinggi dan indah. Gaya berpakaiannya pun elegan dan luar biasa. Tampak jelas, kalau wanita ini berasal dari kalangan atas.


Tanpa mengucapkan apapun sebagai balasan, wanita itu langsung ngeloyor pergi dan memasuki lift yang masih terbuka. Perilakunya yang bertentangan dengan etika pergaulan kelas atas, membuat Giovanna sedikit mengerutkan keningnya.


"Jangan terlalu dipikirkan. Dia begitu karena tidak mengerti bahasa Inggris." Perkataan itu membuat Giovanna menoleh dan tampaklah wanita lain yang tampaknya juga sedang menunggu lift. Tapi jelas, wanita ini sama sekali tidak mau satu lift dengan wanita yang baru masuk tadi.


Alarm gosip tampak berdering di otak Giovanni, membuatnya langsung memasang mode sebagai seorang karyawan biang gosip. Ia sangat ingin tahu hal-hal yang terjadi di kantor CBG Italia, terutama karena Maximus adalah CEO di sini. Dan pria itu adalah kandidat sangat potensial untuk para wanita predator yang sangat materialistis. Tidak ada salahnya untuk mencari tahu calon saingannya yang berasal dari circle pria itu.


"Oh, begitukah? Aku kira semua orang di CBG ini mengerti dengan bahasa Inggris."


Tampak wanita baru itu menatapnya intens. Wanita ini juga sangat cantik, meski tidak secantik wanita berambut pirang tadi. Dan sangat jelas kalau dia adalah orang Italia. "Kau dari CBG Amerika?"


Tidak mau ketahuan berbohong, Giovanna memberikan informasi sekedarnya. "Bukan. Aku perwakilan dari RS Liebel di Italia ini. Tadi ada sedikit keperluan dengan Tuan Berlusconi."


"Ah... Orang rumah sakit? Jadi, kau telah bertemu langsung dengan CEO CBG ini? Bagaimana menurutmu?"


Berpura-pura bingung dengan pertanyaan itu, Giovanna malah balik bertanya. "Menurutku? Maksudnya menurutku itu, bagaimana? Maaf, aku kurang mengerti arah pertanyaanmu."


Wanita itu malah terkekeh. Ia membalik badannya dan malah melewatkan lift yang telah kosong di depannya, hanya untuk bercakap-cakap dengannya. "Jangan menipuku! Aku tahu kalau semua wanita menyukai Maximus Berlusconi. Sejak Tuan Maximus mengambil alih tugas Tuan Amadeo, sangat banyak wanita yang berusaha untuk menemuinya di kantornya. Dia adalah pria yang sangat tampan dan orangnya menyenangkan, berbeda jauh dengan duo-mafioso yang sangat serius dan menyeramkan."


Entah kenapa, tapi kata-kata wanita itu mulai membuat api kecemburuan meletup-letup di hati Giovanna. "Oh ya? Aku tidak terlalu tahu, karena aku juga anak baru di RS Liebel. Apakah sudah banyak wanita yang dikencaninya selama ini?"


Kepala wanita di depannya menggeleng pelan. "Terus terang, aku belum pernah mendengar Tuan Berlusconi mengencani karyawannya. Tapi dulu, aku sering mendengar selentingan berita miring tentang bos kita itu."


"Berita miring? Tentang apa?"


"Dia tidak pernah berhubungan s**s dengan seorang wanita pun tapi, dia sangat suka untuk mengumbar asetnya pada para wanita yang menjadi pacarnya. Dari yang aku dengar, bos kita itu adalah orang yang sangat br*ngsek. Ia sangat suka memperoleh kepuasan dari mulut para wanita yang dikencaninya, tapi tidak pernah memberikan balasan kepuasan pada mereka. Dan kau masih ingat tadi wanita yang menabrakmu?"


Kedua alis Giovanna terangkat tinggi. Tampangnya biasa saja tapi hati wanita itu sudah kebakaran saat ini. "Ya. Dia wanita yang sangat cantik. Memangnya siapa wanita itu?"


"Dia bernama Nicolette Cesare. Anak dari keluarga Cesare, yang merupakan partner dari Berlusconi. Awalnya wanita itu adalah tunangan Tuan Maximus tapi tiba-tiba ia menikahi saudaranya, Amadeo. Dan sejak Tuan Amadeo tidak ada, tampaknya Nicolette ingin kembali mengejar-kejar Tuan Maximus. Ini adalah kesekian kalinya wanita itu datang ke CBG ini tanpa ada pemberitahuan apapun."