
Rumah utama keluarga Liebel. Italia.
"Aku senang kau akhirnya mau menempati rumah ini lagi, Dona." Michele tampak menatap ke sekeliling ruangan dan pandangannya menerawang. Pria gempal itu mengingat kenangan yang pernah dialaminya di rumah tua yang hangat ini.
Kepala Giovanna mengangguk dan kedua matanya sedikit terasa panas. "Aku memang harus kembali ke sini, Miki. Setidaknya, dengan tinggal ke sini aku masih bisa menjaga kenangan mereka..."
"Sepertinya tidak ada yang berubah. Orang itu benar-benar hanya merenovasinya untuk mengembalikan kejayaannya, Dona. Ia sama sekali tidak merubah apapun di rumah ini. Bahkan semua furniture-nya masih persis sama dengan yang kuingat belasan tahun lalu..."
Kali ini tenggorokan Giovanna terasa tercekat. Ia masih mengingat dengan jelas perilakunya saat itu pada Maximus. Bukannya berterima kasih dengan upaya pria itu yang telah mengembalikan semua asetnya, ia malah berusaha untuk memb*nuhnya. Dan parahnya, Maximus sama sekali tidak melawannya ketika itu. Hal ini membuat rasa bersalah Giovanna semakin membesar, tapi ia sendiri belum memiliki keberanian untuk mencari lelaki itu dan meminta maaf padanya.
Sama sekali tidak menyadari perubahan rona dari wanita di depannya, Michele malah terdengar terkekeh pelan dan membuat Giovanna sedikit mengernyitkan dahinya. "Apa ada yang lucu, Miki?"
Pertanyaan itu membuat Michele menyenderkan punggungnya di sofa dan ia masih terkekeh. "Kalau kau tahu apa yang mampu dilakukan seorang pria pada wanita yang dicintainya, maka aku yakin kau pun akan menertawakannya juga. Atau bahkan mungkin membalas cintanya?"
Perkataan itu membuat Giovanna menelan ludahnya kasar. Ia seperti mengalami dejavu. Percakapan ini sama persis dengan pembicaraannya dengan Dominic beberapa waktu lalu. Tidak mau terlalu menanggapi, Giovanna berusaha untuk tidak terpengaruh dengan mencoba meminum tehnya tenang. Hal ini membuat mata Michele memandangnya dengan penuh senyuman.
"Kau tidak mau tahu dia sudah melakukan apa saja untukmu?"
Masih menunduk sambil meminum tehnya, Giovanna hanya berkata pelan. "Kalau kau ingin menceritakan tentang bagaimana dia membeli toko roti itu dan juga unit apartemen di sebelahku saat di kota NY, maka aku sudah mengetahuinya, Miki. Kau tidak perlu menjelaskannya lagi..."
Kepala Michele menggeleng. "Tidak. Bukan yang itu, karena menurutku hal itu sudah terlalu biasa untuk dilakukan, apalagi pria itu sama sekali tidak kekurangan materi untuk melakukannya. Menurutku sama sekali tidak ada yang istimewa dari seorang pria yang rela mengeluarkan banyak uang, untuk wanita yang disukainya. Karena aku pun melakukannya untuk para wanitaku, yang aku bahkan tidak mencintai mereka."
Jantung Giovanna berdebar penuh antisipasi. Kembali ia mengingat perkataan Dominic ketika itu mengenai kemungkinan banyak hal tidak waras yang telah dilakukan oleh Maximus untuk dirinya, yang ia belum ketahui. Sambil lalu, wanita itu bertanya. "Memangnya selain itu, apa yang sudah dia lakukan untukku?"
Tubuh Michele sedikit maju dan ia memandang Giovanna intens. "Kau masih mengingat kejadian beberapa tahun lalu? Ketika kau menyelamatkan seorang pria yang tertembak dan mendonorkan darahmu padanya?"
Giovanna mengangguk pelan. Kedua alisnya terangkat heran. "Ya. Aku masih sedikit mengingatnya. Tapi apa hubungannya hal itu-"
Melihat Giovanna yang terdiam sendiri, Michele semakin tersenyum. "Kau sudah bisa mengingatnya? Siapa pria yang kau tolong saat itu, Dona?"
Perlahan ingatan Giovanna melayang kembali pada peristiwa hampir tiga tahun yang lalu. Karena suasana yang gelap ketika itu, ia hanya samar-samar dapat melihat wajah pria yang ditolongnya. Rambutnya yang tertutup topi rajut hitam pun membuatnya tidak dapat megetahui warna rambutnya. Yang dapat diingatnya hanyalah bahwa pria itu memiliki struktur wajah yang kuat dan sama sekali tidak berjenggot. Ia juga memiliki bibir yang merah. Bibir dengan belahan di bagian bawahnya. Bibir pria yang sangat dirindukannya saat ini.
"Dia... Maximus...?"
Informasi itu tampak mengejutkan Giovanna. "Dia tidak termasuk keluarga Berlusconi?"
"Bukan tidak termasuk tapi dia sudah dikeluarkan dari surat warisan keluarga, membuatnya tidak memiliki hak lagi terhadap seluruh kekayaan dan aset dari keluarga Berlusconi. Maximus adalah anak ketiga Giuseppe dari isteri keduanya. Tampaknya ada sedikit perpecahan di antara ketiga anaknya, membuat pria tua itu memilih untuk menendang anak terakhirnya keluar dari akta. Semua orang tampaknya lebih mengenal dirinya dengan sebutan anak h*ram semenjak dia kecil, meski sebenarnya ia adalah keturunan yang sah."
Kedua mata cokelat terang Giovanna bergerak-gerak tapi wanita itu masih terdiam. "Kembali saat kau menemukannya tertembak ketika itu. Setelah aku melakukan penyelidikan lebih dalam, ternyata saat itu Maximus sedang berusaha melindungi data yang telah dicuri oleh seseorang. Dan data itu berisi rekaman CCTV pemb*nuhan keluarga Liebel di basement parkiran Liebel Corp."
Mendengar itu, kedua mata Giovanna mengerjap cepat dan ia berkata marah. "Jadi, dia memiliki rekaman CCTV-nya selama ini! Tapi kenapa-"
"Aku belum selesai, Dona. Memang benar dia memiliki rekaman CCTV-nya, tapi benda itu tidak bisa memiliki pengaruh apapun meski ia menyerahkannya pada polisi. Kau tahu sendiri, kalau saat itu pihak berwajiblah yang memerintahkan kalau rekaman itu harus dihapus sebagai barang bukti. Dan untungnya, pria itu masih sempat untuk menyelamatkannya sebelum semua buktinya hilang."
Kedua tangan Giovanna mengepal di atas pangkuannya. "Lalu, untuk apa dia melindunginya kalau begitu? Tidak ada gunanya bukti itu untuk dipertahankan!"
Seruan Giovanna membuat Michele kembali terkekeh. "Kau ternyata sama sekali tidak mengenal yang namanya keluarga mafia, Dona. Tampaknya paman dan bibi Liebel telah membesarkanmu dengan cara yang lurus-lurus saja. Bahkan aku jadi semakin yakin, kalau Giovanni sama sekali tidak memiliki akal bulus dalam menghadapi lawan-lawan bisnisnya selama ini. Aku jadi heran, dia bisa berteman akrab dengan Maximus."
Penjelasan Michele membuat Giovanna bungkam. "Terus terang, aku tidak mengerti akan ke mana arah pembicaraanmu, Michele. Aku bingung saat ini."
"Maximus menyelamatkan bukti itu untuk melakukan pemerasan pada kakaknya sendiri, Amadeo. Karena saat itu, dia juga sedang mengumpulkan rekam jejak penggelapan pajak yang dilakukan oleh Amadeo selama beberapa tahun. Aku bisa tahu hal ini karena beberapa bulan lalu, aku menghubungi Giuseppe dan dia menceritakan segalanya. Tampaknya, ia butuh wadah untuk bercerita sejak kematian anak tertuanya yang menyedihkan. Apalagi kedua anaknya yang lain juga sangat sibuk dengan bisnis keluarga."
Pria gempal itu mengemut permen yang ia ambil dari atas meja dan melanjutkan ceritanya. "Karena kedua data itu, Maximus akhirnya berhasil mengakses dokumen keluarga Berlusconi yang cukup rahasia dan mencari informasi mengenai perjanjian bisnis antara Liebel-Berlusconi. Pria itu tahu terjadi kecurangan, tapi ia sendiri sulit menemukan buktinya terutama karena semua berkasnya terlihat legit dan resmi."
"Dan tanpa memikirkan resiko apapun, dia telah melibatkan keluarga Bianchi dalam melakukan penyidikan. Yang sayangnya hal itu akhirnya mengarah pada eksekusi mati kakaknya sendiri, Amadeo."
Mata Giovanna menatap nanar Michele. "Apa hubungannya hal ini dengan eksekusi Amadeo, Michele? Bukannya kau mengatakan kalau Amadeo dieksekusi karena ia ingin membuat pabrik persenjataan baru, yang membuatnya melanggar batas dengan keluarga mafia lainnya?"
"Ya. Tapi apakah kau tahu kalau informasi yang diperoleh Maximus dari penyelidikan awalnya itulah, yang membuat keluarga Bianchi akhirnya mengetahui keterlibatan Amadeo dalam bisnis persenjataan itu? Bisa dikatakan, kalau Maximus-lah yang telah menyebabkan kematian kakaknya sendiri, Dona."
Kedua tangan Michele menggenggam tangan mungil Giovanna yang masih terkepal erat di sampingnya. "Dona. Aku tahu saat ini kau masih marah. Kau merasa dendam. Kau ingin membalas kematian keluargamu. Tapi kini, semua keadilan sudah berpihak padamu. Orang yang bertanggung jawab telah menemui ajalnya, bahkan kau memperoleh kembali hakmu sebagai keturunan terakhir keluarga Liebel. Dan itu pun karena peranan Maximus Berlusconi. Tanpa dirinya, kau tidak akan bisa melakukan apapun. Kau harus akui itu."
Dan apa yang dikatakan Michele berikutnya, membuat Giovanna pun meneteskan air matanya.
"Kau juga harus tahu. Hal yang dilakukan Maximus untukmu, bukan hanya membahayakan nyawanya sendiri tapi dia juga telah mengorbankan kakaknya. Selama bertahun-tahun dia berusaha mencari kebenaran untukmu tapi seumur hidupnya, pria itu akan dihantui rasa bersalah pada kakaknya. Dengan mengetahui ini, aku harap kau mau membuka hatimu, Dona. Maafkanlah keluarga Berlusconi. Maafkanlah Maximus Antonio Berlusconi karena sama seperti dirimu, pria itu juga menderita selama ini. Ingatlah itu."