
***Song of the day: Imagine Dragons - Nothing left to say***
Seminggu kemudian. Rumah sakit Liebel. Italia.
Tampak Maximus sedang berdiri di depan jendela besar yang ada di kamar rawatnya. Di tangannya, ia memegang sebuah benda yang terlihat halus dan tipis. Pria berambut tembaga itu tidak berbalik saat terdengar seseorang memanggilnya dari belakang.
"Tuan Berlusconi, semua sudah siap. Anda bisa langsung keluar dari rumah sakit sekarang."
Masih belum menjawab, kedua alis Maximus berkerut dalam dan ia menatap benda di tangannya dengan lebih intens. Jari-jarinya yang panjang mengusapnya pelan, cenderung berhati-hati.
"Tuan Berlusconi, apakah-"
"Apakah benar kau mengatakan akan menghabisinya, Roberto?"
Kedua mata cokelat gelap Roberto mengerjap cepat. Pria besar itu tampak menunduk dalam.
Belum mendengarkan jawaban apapun dari bodyguard-nya, Maximus bertanya kembali. "Alessandro pernah mengatakan, kalau kau sangat marah dan akan menghabisi Giovanna Liebel jika sampai terjadi apa-apa padaku. Benar kau mengatakan itu, Roberto?"
Masih menunduk, Roberto mengangguk singkat. "Benar, Tuan. Saya memang mengatakannya."
"Seingatku aku berpesan padamu saat itu, kalau kau jangan mengambil tindakan apapun kalau sampai terjadi sesuatu padaku di rumah itu. Meski aku mati di sana. Apakah kau lupa?"
"Tidak. Saya masih ingat, Tuan." Kedua tangan Roberto mengepal kuat. Tapi pria itu kembali terdiam seribu bahasa. Pria besar itu masih menunduk ketika terdengar suara atasannya kembali.
"Kalau kau ingat, kenapa kau mengatakan hal itu pada Alessandro? Aku bahkan yakin, kalau kau pun telah mengancam Giovanna saat menemukan tubuhku di rumah itu. Apakah aku benar?"
Akhirnya Maximus mengantongkan benda itu ke saku celananya dan berbalik. Kedua matanya menyorot dingin saat ini. "Jawab aku. Apakah benar kau telah mengancam Giovanna Liebel?"
Melihat kepala Roberto yang mengangguk, amarah Maximus naik dengan sangat cepat. Tiba-tiba pria itu melangkah mendekati pengawalnya dan tangan kanannya dengan sangat kencang menghantam pipi kiri pria yang berdiri di depannya, membuat Roberto langsung terdorong ke belakang dan menabrak dinding di belakangnya cukup keras. Tampak bibir pria besar itu robek dan mengeluarkan darah segar. Pipinya merah dan bakal menjadi memar beberapa saat lagi.
Tangan yang barusan menghajar Roberto terlihat bergetar. Bibir merah Maximus gemetar. "Roberto. Aku sangat menyayangimu seperti saudara selama ini. Aku juga berterima kasih kau selalu melindungiku dan membelaku. Tapi untuk kali ini, kau telah melampaui batas, saudaraku. Apa yang kau katakan pada Giovanna Liebel, sama saja dengan kau menorehkan luka pada diriku. Dan kau tahu kenapa?"
Pandangan Roberto tampak nanar pada tuannya. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa Maximus sangat marah sekarang. Yang ia tahu, atasannya ini sangat mencintai wanita itu. Tapi tampang pria berambut tembaga itu terlihat sangat gusar dan juga penuh kesedihan saat ini.
"Roberto. Kau telah mengancam orang yang telah menyelamatkanku. Pertama, dia menyelamatkan aku ketika dulu aku tertembak. Dia bahkan memberikan darahnya untukku saat itu. Dan terakhir, kejadian saat di rumah itu sebenarnya aku telah mati. Tapi dia kembali membawaku ke dunia ini. Tiga kali, Roberto... Tiga kali Giovanna Liebel telah menyelamatkan hidupku. Dan aku bahkan belum mampu membalas satu pun kebaikannya dan rasa bersalahku ini, karena telah menyebabkan kehancuran pada keluarganya..."
Belum mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Maximus kembali bertanya dengan sedikit berteriak. "Kau paham sekarang, Roberto!? Jawab aku!?"
Menelan ludahnya kasar, Roberto mengangguk dan menundukkan kepalanya dalam. "Saya mengerti, Tuan Berlusconi. Maafkan kelalaian saya."
"Berjanjilah kau tidak akan pernah melakukannya lagi! Apapun yang terjadi nanti, Giovanna Liebel adalah orang yang aku hormati. Orang yang aku hormati, berarti harus kau hormati juga. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menyakitinya, Roberto. Karena aku akan melindunginya dengan nyawaku sendiri, selagi aku masih bisa melakukannya!"
Kembali Roberto mengangguk. "Saya berjanji, Tuan Berlusconi. Saya tidak akan pernah melakukannya lagi."
Sejenak, Maximus memandang pria besar di hadapannya dan sambil menghela nafasnya berat, pria itu membalikkan tubuhnya. "Pergilah sekarang, Roberto. Tinggalkan aku dulu. Beri aku waktu sebentar."
Menegakkan tubuhnya, Roberto menatap punggung Maximus yang tampak sedikit membungkuk. Sangat terlihat pria di depannya ini penuh dengan keputus-asaan, membuat Roberto tidak berani membantah. "Baik, Tuan. Saya akan menunggu Anda di parkiran rumah sakit."
Kepala Maximus tertunduk dan kedua matanya menutup erat. Beberapa saat ia hanya diam dalam posisi itu. Barulah setelah mendengar suara pintu yang ditutup pelan, pria itu merogoh saku celana kirinya dan mengeluarkan benda yang telah menemaninya selama ini.
Ia menatap nanar kedua benda yang ada ditangannya. Bola-bola besi itu tampak berkilat memantulkan cahaya matahari sore dari jendela. Tampak grafir namanya bersinar ketika ada cahaya yang mengenainya.
Perlahan, Maximus mulai memainkan dua bola besi itu di tangan kirinya. Awalnya pelan dan lama-kelamaan gerakannya semakin cepat dan semakin lincah. Kedua alisnya yang tebal tampak berkerut dalam dan kulit mukanya sedikit berkeringat. Entah kenapa, tapi pembicaraannya dengan Roberto tadi membuat Maximus ingin menyakiti dirinya sendiri. Dan saat ini, pria itu sedang melakukannya.
Karena cederanya beberapa minggu lalu, dokter melarangnya melakukan kegiatan apapun pada lengan kirinya untuk sementara, bahkan untuk sekedar menulis. Bahunya memang tidak mengalami luka serius karena tendangan Giovanna, tapi jelas menimbulkan memar di tulangnya meski tidak sampai membuatnya retak kembali. Belum juga bahu kirinya sembuh dengan sempurna, bagian tubuhnya itu sudah terluka lagi. Hal inilah yang membuat Maximus berteriak kesakitan saat itu ketika Giovanna menekan bagian itu.
Pria itu memaksa dirinya untuk terus-menerus memutar bola-bola besi itu di tangan kirinya sampai pada suatu ketika, rasa sakitnya yang tajam terasa menusuk bahu kirinya sehingga membuatnya sedikit berteriak. Ia pun langsung memegang lengan kiri atasnya dan menekannya sangat kuat, untuk meredakan sakitnya.
Berusaha menahan rasa tusukan yang hampir membuatnya hilang kesadaran, Maximus menutup erat kedua matanya. Nafasnya sedikit berat dan mukanya berkeringat. Dan tanpa sadar, tangannya yang terjulur ke bawah melepas kedua bola besinya yang langsung meluncur di lantai. Terdengar bola-bola itu menggelinding di lantai ubin yang berwarna putih dan baru berhenti saat seseorang membuka pintu kamarnya.
Kepala Maximus sedikit meneleng ke belakang. Suara seraknya terdengar terengah dan tersirat rasa sakit di dalamnya. "Roberto? Kau kembali lagi? Aku terlalu lama?"
Hanya keheningan yang menyambutnya. Hal ini membuat Maximus meningkatkan kewaspadaannya. Penuh antisipasi, pria itu perlahan berbalik menghadap lawannya dan tubuhnya membeku.
Di depannya, berdiri sosok seorang wanita yang bermata cokelat terang, berhidung mungil dan bermulut merah muda. Tampak rambut cokelat mudanya diikat ke belakang dan poni pendeknya yang menutupi kening, membuat wanita itu jauh lebih muda dari usianya saat ini. Kemeja putih dan celana jins pun melengkapi penampilannya, sehingga ia terlihat seperti seorang mahasiswa dibanding wanita dewasa.
Masih tertegun, pria itu hanya bisa diam saat melihat wanita itu berjongkok dan meraup kedua bola besinya. Pandangan wanita itu yang tadinya terarah pada dua benda di tangannya, perlahan naik dan menatap pria di depannya dengan pandangan intens.
Terdengar suara lirih wanita itu ketika berkata. "Maximus..."