
Sosok suaminya yang masih tidak bergerak, membuat mata cokelat Giovanna mulai berair. Kedua tangannya yang mencengkram bantal kompres bergetar kuat. Dengan tercekat, ia kembali memanggil suaminya dengan nada sedikit tinggi. "An... Tony...!"
Tampak panggilan itu berhasil dan kedua mata ungu Maximus terbuka. Kepalanya sedikit berpaling dan pria itu tersenyum pada isterinya. "Giovanna...?"
Giovanna menggigit bibirnya kuat dan ia langsung memeluk tubuh suaminya. Wanita itu menekankan kedua matanya di bahu Maximus yang berjubah tidur dan pria itu bisa merasakan tangisan isterinya, membuatnya membalas pelukan itu dengan sama eratnya. "Gia? Kamu tidak apa-apa?"
Pertanyaan itu hanya mampu dijawab Giovanna dengan gelengan dan ia semakin memeluk suaminya erat. Barulah setelah puas merasakan kalau tubuh Maximus hangat dan pria itu hidup, wanita itu melepaskan pelukannya. Tangannya mencengkram jubah tidur lelaki itu.
"Dona baby, kamu tidak apa-apa?"
"Maafkan aku... Aku... Aku hanya teringat dirimu yang telah... Telah meninggal waktu itu...!"
Suara Giovanna yang sangat tercekat membuat Maximus kembali menarik isterinya untuk ia peluk lagi. "Dona baby... Aku tidak apa-apa. Aku benar-benar tidak apa-apa. Sekarang sakitnya sudah mereda dan aku tertidur tadi. Jangan khawatir, sayang..."
"Maafkan aku, Tony... Maafkan aku yang telah melukaimu saat itu... Aku benar-benar dikuasai oleh amarah, membuatku tidak sadar telah menyerangmu dan membuatmu terluka. Maafkan aku...!"
"Sstt... Dona... Bukannya kita berjanji untuk menata masa depan? Semua itu adalah masa lalu, dan kita telah saling berjanji untuk melupakannya bukan? Yang penting sekarang, aku sudah sehat. Leherku pun sudah tidak apa-apa. Bahuku memang terkadang masih sakit tapi dokter bilang sudah ada kemajuan apalagi aku juga rutin melakukan terapi. Ah! Aku baru ingat. Aku kehilangan benda berhargaku dan tidak tahu di mana benda itu sekarang ini."
Mengusap punggung Maximus, Giovanna akhirnya memundurkan tubuhnya untuk menatap suaminya lebih jelas. "Benda berharga? Memangnya benda apa?"
"Dua bola besiku. Aku tidak pernah meninggalkannya tapi terakhir kali aku menggunakannya, aku lupa entah kapan dan di mana meninggalkannya. Benda itu sangat berharga, karena itu pemberian kakakmu, Dona."
"Giovanni?"
"Ya. Saat aku terluka karena jatuh dari kuda, Gio yang memberikan benda itu padaku sebagai salah satu cara terapi. Aku selalu memakainya sejak bertahun-tahun yang lalu." Suara pria itu terdengar muram.
Kali ini bibir Giovanna tersenyum. Tampak wanita itu sangat lega saat ini. "Aku menyimpannya, Tony. Kalau kamu lupa, kamu menjatuhkannya ketika aku berkunjung ke RS Liebel saat menjengukmu. Aku memungutnya waktu itu tapi lupa mengembalikannya padamu."
Kedua mata ungu Maximus terlihat cerah dan bersinar, membuat wajah pria itu semakin tampan. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Terima kasih Dona."
Terpesona dengan kedua mata pria itu yang indah, Giovanna mengusap-usap kepala suaminya penuh sayang. Bibirnya tersenyum kembali saat mengingat kenangannya dulu.
"Melihat matamu, aku jadi teringat Gabe. Kamu tahu? Saat aku pertama melihat Gabriele, aku sempat benci padanya karena dia adalah seorang Berlusconi. Tapi ternyata aku tidak bisa lama-lama membencinya. Justru karena dia sangat mirip denganmu, aku jadi mencintainya dan semakin mencintainya setiap hari. Kamu membuatku benci, tapi kamu juga yang telah membuatku jatuh cinta setengah mati. Kamu benar-benar luar biasa karena telah membuat duniaku jungkir-balik, Maximus Antonio Berlusconi."
Kata-kata cinta itu membuat kedua pipi Maximus merona. "Wow... Baru kali ini aku mendapat pernyataan cinta seindah itu. Aku tidak menyangka, kalau gombalan ternyata tidak hanya harus datang dari mulut seorang lelaki. Kalian para wanita pun, bisa menggombali para pria."
Bukan Maximus namanya kalau ia tidak menghancurkan suasana. Sedikit sebal, Giovanna menampar paha pria itu keras dan membuatnya meringis. "Kamu masih butuh kompres ini?"
Sambil mengusap-usap pahanya yang sedikit pedih, Maximus menggeleng. "Sudah tidak perlu. Aku lebih butuh champagne saat ini, baby. Karena sebentar lagi, pergantian tahun akan datang."
"Oh, benarkah? Kalau begitu, biar aku yang mengambilnya. Kalian biasanya menyimpan minuman di mana?"
Pertanyaan itu membuat Maximus terkekeh dan ia mengecup kening isterinya. "Tidak usah, baby. Biar aku yang mengambilnya. Kamu pakailah jubah tidur yang lebih hangat, karena aku ingin kita merayakannya di balkon. Biasanya pesta kembang api di taman kota bisa terlihat jelas dari balkon lantai dua ini."
Raut Giovanna terlihat sangat antusias. "Begitukah! Oh, aku sudah tidak bisa mengingat kapan terakhir kalinya menikmati pesta kembang api."
Kembali Maximus mencium isterinya, kali ini di bibir. "Segeralah ganti jubah tidurmu. Aku akan menunggumu di balkon nanti."
Setelah itu, wanita mungil itu langsung meninggalkan suaminya yang masih membeku di duduknya. Terasa sesuatu yang nakal telah mulai bangun dari tidur ayamnya di sela-sela pahanya. Pria itu terlihat malu dan ia menepuk pipinya sendiri. "Oh Tuhan, Maximus... Kau benar-benar telah menjadi pria murahan...! Baru saja disentuh seperti itu, kau sudah sangat ter*ngsang...!"
Sambil geleng-geleng kepala, pria itu mulai turun ke lantai satu dan mengambil dua gelas tinggi champagne dari dapur, sisa perayaan mereka saat makan malam tadi. Setelah sampai di lantai dua, ia menyempatkan diri melihat ke kamar anaknya dan tersenyum saat melihat bocah kecil itu sedang tertidur sangat pulas.
Sementara itu, Giovanna di dalam kamar mereka segera bergegas membuka kopernya dan mengambil jubah tidurnya yang lebih tebal. Cuaca memang cukup dingin, terutama karena salju mulai turun. Bulan Desember belum terasa lengkap tanpa kehadiran kapas putih yang berasal dari air itu.
Mengenakan jubah tidurnya dibalik piyamanya, tanpa sengaja matanya menatap ke arah cermin. Wanita itu mendekat dan mengusap bibirnya. Giovanna menjadi sedikit malu ketika mengingat kelakuannya yang menjadi lebih agresif pada suaminya. Sepertinya, ia telah ketularan menjadi m*sum seperti Maximus.
Tersenyum geli, Giovanna meraih tas tangannya dan mengeluarkan sebuah lipstik. Ia pun mengoleskan benda itu cukup tipis di bibirnya yang merah muda. Ia juga menyisir rambutnya dan setelah memastikan penampilannya lebih segar dan lebih rapih, barulah ia keluar dari kamar tidur.
Ketika kakinya menuju ruang keluarga, Maximus ternyata sudah tidak ada di sana. Terlihat gorden yang terbuka pada pintu besar yang mengarah ke balkon dan disanalah suaminya berdiri, memunggunginya. Bibir Giovanna tersenyum dan ia pun membuka pintunya dan menutupnya pelan saat sudah di luar.
Udara malam yang dingin menyambutnya, membuat Giovanna mengetatkan jubahnya. Selain itu, cuaca sepertinya cukup mendung, membuat langit gelap tanpa bintang. Penerangan yang remang-remang pun hanya membuatnya dapat melihat siluet sosok suaminya di sana. Tampak angin malam menerbangkan helaian demi helaian rambut indah lelaki itu. Dua gelas tinggi yang berisi champagne tampak diletakkan di atas pinggiran balkon. Warna kuning emas di dalamnya memantulkan cahaya dari arah lampu-lampu.
Tiba-tiba hidungnya mencium sesuatu yang wangi. Aroma ini mengingatkannya pada kenangan bertahun-tahun yang lalu. Bau menyenangkan, antara campuran parfum mahal dengan permen mint yang segar.
Permen mint?
Kedua alis Giovanna berkerut dalam dan ia semakin mengamati punggung suaminya yang masih belum menyadari kehadirannya. Tampak pria itu sedikit bergeser, menampilkan sebagian siluet wajahnya dari samping. Bibir merah Maximus terlihat tersenyum simpul, entah karena apa.
Karena suasana penerangan yang cukup gelap, Giovanna hanya dapat melihat garis wajah Maximus yang tegas dan juga bibir merahnya. Perlahan, aliran ingatan dan kenangan dari masa lalu pun mulai membanjiri benaknya dan kedua mata Giovanna memanas. Tapi tidak lama, bibirnya tersenyum penuh haru.
Ia mendekati suaminya dan berkata lirih dengan menggunakan bahasa Jerman. "Maaf... Apakah saya boleh meminta permen Anda?"
Pertanyaan itu cukup mengagetkan Maximus dan dengan sangat pelan, pria itu berbalik ke belakang. Kedua mata ungunya terlihat melebar ketika menatap isterinya yang sedang berdiri menatapnya. Wanita itu tampak tersenyum dan semakin mendekatinya. Kali ini, telinganya menangkap Giovanna bertanya dengan menggunakan bahasa Italia. "Boleh saya meminta permen dari Anda?"
Takjub dengan kejadian ini, Maximus mengambil kotak permennya dan mengeluarkan sebutirnya dari sana. Pria itu melangkah mendekat pada isterinya dan sedikit agresif, menarik pinggang wanita mungil itu untuk menempel padanya. Kepalanya menunduk dan suara seraknya sangat berat saat ia berbicara lembut dengan bahasa Inggris di telinga wanita itu. "Buka mulutmu, mungil..."
Menurut, Giovanna membuka mulutnya dan menerima permen dari tangan suaminya. Ia juga mengemut jari-jari Maximus yang berada di dalam mulutnya, membuat pria itu mend*sah.
Baru saja kepala Maximus akan semakin mendekat pada isterinya, tiba-tiba terdengar ledakan warna-warni di atas kepala mereka. Cahaya menyilaukan menyala terang di langit-langit yang gelap. Suara petasan dan kembang api saling silih berganti di angkasa. Sedikit sayup-sayup teriakan orang dan juga terompet dari arah taman kota sedikit terdengar. Suara perayaan telah bergantinya tahun.
Kepala pasangan itu menengadah tinggi ke angkasa melihat pemandangan yang luar biasa itu. Keduanya saling memeluk erat dan akhirnya menatap pada mata masing-masing sambil tersenyum. Tangan mungil Giovanna meraih kepala suaminya dan kali ini, ia mencium bibir merah Maximus dan bukan pipinya. Sedikit menjauhkan bibirnya, wanita itu mengucapkan selamat dalam bahasa Jerman dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat tahun baru, Maximus... I love you, Anthony..."
Mengusap pipi isterinya dengan penuh sayang, Maximus membalas ciuman itu dengan kelembutan yang sama. "Selamat tahun baru, Giovanna... I love you more, Dona baby... Always and forever..."
Setelah itu, sambil tertawa keduanya berpelukan sangat erat dan menikmati pemandangan indah di depan mereka untuk pertama kalinya, yang sebelumnya tidak sempat dinikmati keduanya.
Mereka sangat bersyukur akhirnya dapat dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
Menatap ke isterinya, Maximus mencium ubun-ubun Giovanna dan kedua matanya menutup erat.
Giovanni Domenico Liebel. Terima kasih. Terima kasih, kawan. Aku berjanji padamu, akan selalu menjaga adik kesayanganmu. Karena hanya wanita inilah satu-satunya orang, yang pernah kucintai dalam hidupku.