The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 44 - She is near me



Maximus tersenyum samar pada Michele yang masih menatapnya tidak bersahabat, meski jantungnya mulai berdebar sedikit kencang. "Tuan Morrone... Aku yakin kita bisa menegosiasikan hal ini..."


Tanpa diduga, tangan Michele menghantamkan sumpitnya dengan kencang ke atas meja. "Kau salah sangka kali ini, Bass! Untuk masalah ini, tidak ada yang namanya negosiasi! Aku bersedia menemuimu hari ini, karena aku menghormati keluargamu!"


Dengan kasar, Michele melemparkan serbet putihnya ke atas meja dan ia berdiri.


Perilaku Michele yang cukup mengagetkan ini membuat Maximus membeku dalam duduknya. Melihat Michele yang sedang berjalan ke arah pintu, pria itu menundukkan kepalanya. Benak Maximus sangat kosong ketika mendengar ultimatum pria itu tadi. Kembali, nama keluarga Berlusconi yang tersemat di belakangnya akan selalu menghalangi jalannya menuju gadis itu!


Sampai di depan pintu, Michele berhenti dan menghela nafasnya dalam. Ia sedikit menoleh ke belakang dan terkejut. Pria di belakangnya tampak menunduk dalam dan bahunya turun. Sama sekali tidak tampak perlawanan darinya. Pria berambut tembaga itu terlihat menyerah. Hal ini bertolak belakang dengan kabar yang santer mengatakan mengenai kesombongannya yang mengalahkan burung merak.


Entah mengapa, tapi naluri Michele tampak mendorongnya untuk sedikit menolong pria itu. Mungkin, mungkin saja pria itu dapat memberikan sedikit warna pada kehidupan sepupunya yang sangat gelap saat ini. Terbiasa untuk berhadapan dengan lingkungan yang keras serta berbahaya, membuat Michele dapat menangkap kalau pria di depannya ini adalah orang baik. Pria berambut tembaga itu tampaknya berbeda dengan kedua saudaranya yang mengerikan itu.


Ingin memberikan kesempatan pada pria yang masih duduk itu, Michele akhirnya bertanya. "Apakah kau tahu siapa pelaku penembakan keluarga Liebel?"


Meski terkejut dengan pertanyaan itu, tapi Maximus meresponnya dengan sikap yang terlihat tenang. Ia menjawabnya tanpa berbalik. "Ya. Aku tahu siapa pelakunya."


"Apa yang akan kau lakukan padanya?"


"Tidak ada. Tapi aku akan berusaha untuk menemukan kebenarannya. Dan kebenaran itulah yang nanti akan menghancurkannya."


Kembali mendengus, pandangan Michele terlihat melecehkan. "Kau ternyata lebih pengecut dibanding saudara-saudaramu yang lain, Bass."


Hinaan itu malah membuat Maximus terkekeh pelan. "Ya. Aku memang pengecut... Aku lebih memilih untuk mengambil jalan belakang dibanding menghadapi Amadeo secara frontal, karena aku tahu apa yang bisa dilakukannya nanti."


Ia memberikan sedikit jeda sebelum melanjutkan kembali. "Aku sama sekali tidak peduli jika dia hanya mau menghancurkan diriku, seperti yang dulu pernah dia lakukan padaku beberapa kali. Tapi masalahnya, aku tidak mau kalau dia sampai menyakiti orang-orang yang ada di sekitarku. Dan Amadeo justru akan mendapatkan kepuasan lebih bila melakukannya melalui cara seperti itu."


Perkataan Maximus membuat kedua alis Michele berkerut dalam. "Apa yang pernah dia lakukan padamu?"


Tampak Maximus meminum tehnya sebelum menjawab. "Dia pernah mencoba memb*nuhku. Beberapa kali. Dengan berbagai macam cara. Dia baru berhenti, ketika aku benar-benar telah tinggal di Amerika dan semakin menjauhi bisnis keluarga Berlusconi di Italia."


Jawaban Maximus yang santai semakin membuat alis Michele berkerut. "Giuseppe tahu hal ini?"


"Giuseppe Berlusconi sangat tahu dari dulu. Karenanya, dia menendangku dari kartu keluarga sejak umurku menyentuh 15 tahun. Ia tidak mau ada perpecahan karena perebutan kekuasaan, terutama karena aku sendiri hanyalah anak dari isterinya yang kedua."


Penjelasan mengenai latar belakang Maximus membuat Michele sangat terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ada masalah seperti ini dalam internal Berlusconi sendiri. Hal ini membuat Michele semakin yakin dengan keputusannya.


"Kenapa kau ingin menemukan anak itu? Selain karena ingin berterima kasih telah menyelamatkanmu?"


Pertanyaan itu membuat tubuh Maximus menegak dan pandangannya mengarah ke depan. Entah kemana.


"Aku hanya ingin tahu intensimu padanya. Kau sampai meminta bertemu denganku, berarti memang kau benar-benar ingin menemuinya. Kalau kau hanya ingin berterima kasih padanya, kau tidak akan mau buang-buang waktu denganku, Bass. Apalagi menerima begitu saja hinaanku tadi."


Pria yang tadinya duduk itu akhirnya mulai berdiri. Mereka saling berhadapan sekarang. "Sebenarnya, apa hubunganmu dengannya, Morrone? Kenapa kau begitu melindunginya?"


Meski samar, Michele dapat mendengar sedikit kemarahan dari nada bicara Maximus. Hal ini membuat pria itu mengulum senyumnya. Ia sangat tahu arti pandangan pria berambut tembaga ini padanya. Pandangan pejantan yang ingin mempertahankan betinanya dari ancaman predator lain.


"Kau suka padanya?"


"Aku mencintainya."


Kata-kata Maximus yang tegas dan lugas membuat Michele menelan ludahnya. Ia tidak menyangka sama sekali jawaban itu. "Sejak kapan?"


"Sejak 4 tahun yang lalu. Sekarang, apakah kau akan memberitahukan sesuatu padaku atau kau hanya ingin menginterogasiku, Morrone? Aku bukannya pria pengangguran, yang punya banyak waktu hanya untuk mendengar hinaanmu atau menjawab pertanyaanmu. Kalau kau memang tidak akan mengatakan apapun padaku, maka aku akan pergi sekarang juga."


Sangat jarang Maximus terlihat jengkel, tapi kali ini ia sama sekali tidak bisa menahan emosinya. Ia merasa kecewa tidak bisa menemukan petunjuk apapun tentang Giovanna. Dan ia juga masih harus menahan kekesalannya mendengar orang lain menyebutnya pria pengecut. Suasana hatinya sangat tidak baik saat ini.


Melihat pria di depannya masih terdiam, Maximus pun akhirnya memegang gagang pintu dan hampir membukanya. Ia berhenti ketika Michele mengucapkan sesuatu.


"Orang yang kau cari, sangat dekat denganmu tapi sekaligus sangat jauh. Kau hanya perlu menemukan petunjuk dari namanya, dan mencarinya di dalam rumahmu sendiri, Bass."


Terkejut, Maximus menoleh dan melihat Michele memandangnya penuh arti. Kali ini, pria gempal itulah yang pada akhirnya membuka pintu tertutup itu. Bibirnya tampak tersenyum simpul. "Kau sudah mendengarnya tadi. Tidak butuh orang jenius untuk memecahkannya, dan aku tahu kalau kau adalah orang pintar. Karena kalau tidak, percuma saja aku memberikan petunjuk apapun padamu."


Pandangan Maximus nanar menatap punggung Michele yang semakin lama semakin menjauh. Kedua mata ungunya berkedip cepat sambil bergumam. "Dekat tapi jauh...? Rumah... ku...?"


Tubuhnya mulai gemetar ketika ia menyadari sesuatu. Langkah-langkah kakinya yang panjang segera keluar dari ruangan itu. Nadanya terburu-buru saat berbicara. "Roberto. Kantor. Sekarang!"


Sepanjang perjalanan ke kantornya, Maximus menghubungi asistennya. "Brasco. Tolong kau kumpulkan semua data karyawan wanita di MBC. Cari yang bernama Giovanna, Donatella atau Liebel. Segera berikan padaku nanti. Aku akan sampai ke kantor sekitar 25 menit lagi!"


Menutup sambungannya, Maximus mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Perkataan dari Michele tadi mengingatkannya, kalau satu-satunya tempat yang bisa ia sebut 'rumah' di Amerika hanyalah kantornya. Jantungnya berdebar sangat keras sekarang ini dan ia menoleh kembali pada supir sekaligus bodyguard-nya yang duduk di depan. "Roberto. Tolong lebih cepat!"


"Akan saya usahakan, Tuan Bass."


Kaki-kaki panjang pria itu menghentak-hentak lantai mobil dengan tidak sabar. Ketika akhirnya kendaraan itu berhenti di parkiran basement khusus direksi 20 menit kemudian, ia segera keluar sambil mengenakan kacamata hitamnya. Tergesa, pria itu menuju ruangan khusus yang langsung memberinya akses untuk ke lantai ruangannya di level 53.


Dan ketika sampai di sana, ia melihat Brasco yang sedang menunggunya. Tampak senyuman di bibir pria bermata hijau itu dan penuh khidmat, ia menyerahkan sebuah dokumen pada Maximus yang menerimanya dengan tangan gemetar. Pria itu merasa telah menerima sebuah hadiah yang sangat tidak ternilai harganya.


"Tuan Bass... Silahkan."