The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 52 - Negotiation with The Butcher



Sebulan setelah pertemuan terakhir Maximus dengan Damian, pria berambut tembaga itu mendapatkan telepon dari seseorang. Saat itu, ia sedang memimpin sebuah rapat penting sehingga baru bisa menjawab teleponnya sekitar 20 menit setelah rapat dengan para programmer muda MBC selesai.


"Baik. Kalau begitu, pertemuan kita sampai di sini saja. Silahkan kalian semua mencerna kembali hasil rapat hari ini dan ajukanlah proposal sesuai dengan yang kita bicarakan tadi."


Terdengar suara kerumuman seperti lebah di ruang rapat itu dan dengan santai, Maximus menuju pintu ruangan itu. Ia berhenti ketika salah satu dari mereka berseru.


"Tuan Bass! Segila apapun ide kita, Anda berjanji akan menerimanya kan?"


Pria bermata ungu itu berbalik dan tersenyum ceria. "Aku tidak akan pernah menyebut sebuah ide itu gila, Colt. Sebelum aku sendiri yang melihatnya dan menyatakannya sebagai ide gila. Rangkum semua ide kalian dan serahkan pada Brasco. Aku akan melihatnya nanti. Arrivederci!"


Maximus pun meninggalkan ruangan dan langsung menuju lantainya. Sampai di sana, ia bergegas untuk menghubungi kembali nomor asing yang telah meneleponnya tadi. Tampaknya nomor itu berasal dari Italia. Ketika tersambung, terdengar suara yang berat dari ujung sana dan tidak ramah. Suara yang berbicara bahasa Inggris itu sangat berlogat Italia yang kental.


"Halo?"


"Selamat siang. Tadi nomor ini menghubungi saya, apakah-"


"Siapa ini?" Orang di seberang sana sama sekali tidak ramah, dan langsung memotongnya.


"Maximus Bass. Apakah-"


"Ah. Ya. Maximus Bass. Tuan Bale mengatakan kalau kau ingin bertemu langsung denganku. Kebetulan aku sedang berada di Amerika saat ini, kota NY. Apakah kita bisa bertemu?" Nada bicara orang itu sedikit berubah lebih ramah. Tapi ia tetap to the point dan tidak bertele-tele. Ia terdengar sangat sibuk.


Mencoba untuk mengikuti alur percakapan orang ini, Maximus menjawab ramah. "Ya. Tentu saja, Tuan Bianchi. Apakah Anda menyukai makanan Jepang?"


Orang di seberang tiba-tiba terkekeh pelan. "Kau sudah mengerjakan PR-mu, Maximus Bass. Kirimkan alamatnya saat kau sudah memutuskan. Kita akan langsung bertemu di sana."


Segera memutuskan tempat pertemuan mereka, Maximus pun memberitahukan alamat restoran Jepang mewah, tempat terakhir kali ia bertemu dengan Michele Morrone. Siapa tahu keberuntungan masih bersama dengan dirinya, dan ia dapat bertemu juga dengan pria gempal itu di sana.


"Baik, Tuan Bianchi. Kalau begitu kita akan bertemu di sana jam 12.00 tepat nanti. Arrivederci."


"Hmm. Aku jadi penasaran denganmu, Bass. Logatmu kali ini seperti logat orang Italia. Arrivederci." Dan pria di seberang pun memutuskan sambungan teleponnya.


Kali ini, Maximus-lah yang terkekeh. Ia segera menghubungi asistennya dan meminta pria bermata hijau itu untuk me-reschedule semua meeting-nya di hari itu. Meski semua pekerjaannya penting, tapi pertemuannya dengan pria Italia itu jauh lebih penting. Sangat susah mendapatkan akses untuk menemui Timothy Bianchi dan dengan pria itu yang langsung menghubunginya tadi, membuktikan kalau Damian Bale telah berhasil mempersuasi pengacaranya itu untuk mau menemuinya.


Tersenyum, Maximus memandang pemandangan dari jendela besarnya. Entah mengapa tapi ia sangat yakin kalau dengan keterlibatan Timothy Bianchi dalam penyelidikannya nanti, maka tidak lama lagi ia akan mendapatkan titik terang. Pemikiran ini membuat Maximus menjadi lebih bersemangat sehingga hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan setelah pertemuannya dengan Damian Bale, kondisinya telah kembali sehat seperti sedia kala.


Di luar, fisiknya mungkin bisa kembali sehat dan bugar tapi di dalam, pikirannya masih tetap penuh dengan kesedihan. Hal ini terkadang membuat Maximus terlihat seperti mayat hidup. Otaknya mungkin tetap tajam dalam melihat permasalahan perusahaan, namun seringkali ia tampak melamun dan memandang ke luar jendela tanpa tatapan yang jelas dan menerawang.


Dan Maximus juga tidak tahu, sampai kapan ia dapat mempertahankan kewarasannya lagi.


Siang itu tepat jam 12.00, Maximus telah berada di restoran yang dituju dan duduk manis di kursinya. Ia sudah selesai memesan menu yang diketahuinya disukai oleh Timothy Bianchi dan baru saja meletakkan buku menunya, saat pintu menuju ruangan VVIP itu terbuka lebar.


Di depan pintu, berdiri seseorang yang tinggi besar. Pria itu memiliki tinggi yang sebanding dengan Damian Bale, tapi perawakannya lebih besar. Ketika masuk ke dalam ruangan, tampak ia mengenakan jas formal berwarna hitam tiga potong. Pakaiannya terlihat mahal dan sangat berkelas. Hal yang menonjol dari orang itu adalah kedua matanya yang bergaris tajam, ciri khas mata orang Asia dan berbibir merah.


Maximus pun langsung berdiri dari duduknya dan mendekati pria asing itu. Meski telah sekilas melihat Timothy Bianchi, tapi Maximus tetap terkesan ketika bertemu langsung dengan orang itu. Ia mengulurkan tangan kanannya yang langsung dibalas oleh pria itu dengan kuat dan hangat.


"Maximus Antonio Berlusconi. Aku anak ketiga, dari isteri kedua Giuseppe Berlusconi."


Sambil mengangguk kecil, Tim berjalan menuju kursinya. "Ah ya. Si anak h*ram, bukan?"


Sudah terbiasa dengan hinaan itu, Maximus hanya tersenyum kecil. "Kau benar sekali. Silahkan."


Tidak lama, beberapa pelayan membawakan pesanan mereka dan menyajikannya di atas meja. Salah satu pelayan duduk di sebelah Maximus dan pria itu baru akan berkata ketika ucapannya dipotong oleh Tim.


"Jangan masuk ke ruangan ini kalau tidak dipanggil. Kau mengerti?" Tim mengucapkan pernyataan itu dengan menggunakan bahasa Jepang, dan membuat Maximus sedikit bingung. Ia hanya dapat menangkap beberapa kata di sana, namun cukup memahami kalau pria itu tidak mau diganggu.


"Baik, Tuan Bianchi. Saya permisi dulu." Pelayan itu berkata sambil bersujud. Tapi sebelum pelayan itu dapat pergi secara sempurna, Tim tiba-tiba menghentikannya lagi.


"Di mana Michele?"


Kembali bersujud, pelayan itu menjelaskan. "Tuan Morrone sedang dalam perjalanan saat ini, Tuan Bianchi. Sudah beberapa bulan ini, beliau tidak pernah datang lagi ke sini."


Pembicaraan yang tidak dipahaminya itu hanya bisa membuat Maximus terdiam dalam duduknya. Ia sangat ingin tahu isinya, tapi sepertinya tidak sopan untuk menanyakannya secara langsung. Tapi ia benar-benar sangat penasaran, karena sekilas mendengar kata 'Michele' dan juga 'Morrone'.


Saat melihat kepala Tim mengangguk singkat dan tangannya sedikit mengibas, barulah pelayan itu keluar. Tatapan Tim mengarah pada pria berambut tembaga di depannya yang sedikit nanar menatap hidangan di depannya. Kedua tangannya terlihat mengepal di bawah meja, memancing senyum dari Tim.


"Kau ingin tahu apa yang kukatakan tadi?"


Kepala Maximus terangkat dan memandang pria di depannya. Tampak Tim tersenyum miring dan membuat Maximus menelan ludahnya. Sepertinya Damian Bale sudah menceritakan cukup banyak pada pengacaranya ini dan dengan sumber yang tidak terbatas, tidak menutup kemungkinan kalau pria ini juga telah melakukan berbagai macam penyelidikan yang dibutuhkan.


"Kalau aku bertanya, apakah kau akan mengatakannya?"


Menopangkan kedua tangan besarnya ke atas meja, Tim menumpu dagu kuatnya di sana dan menengadah menatap Maximus. Tatapannya terlihat melecehkan dan menantang. "Tergantung. Dari apakah dirimu bisa membuatku terkesan, Bass."


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku ini orang sederhana. Aku akan menantang seorang pria dari kekuatannya. Apakah kau bisa bela diri?"


Perkataan Tim ini sudah diantisipasi oleh Maximus tapi ia sangat sadar, ia bukanlah lawan yang seimbang. Meski bisa bela diri, tapi Maximus bukanlah penggiat olahraga itu seperti Timothy Bianchi ataupun Damian Bale. Kedua orang itu adalah monster dan hampir setiap ada kesempatan, keduanya selalu berkelahi. Untuk hal-hal sepele dan sebenarnya tidak penting. Dan pertarungan itu hampir pasti dimenangkan oleh Damian.


Benak Maximus berputar kencang. Ia tidak mau menjawab tantangan yang sudah jelas-jelas akan menjadi kekalahannya yang cukup memalukan nanti.


"Jadi? Apa kau bisa bela diri, Bass? Atau kau punya sesuatu yang kau anggap sebagai kekuatanmu?"


Otak Maximus yang cerdas langsung menangkap kesempatan itu. "Ya. Sebenarnya aku punya. Karena aku yakin kalau kita bertanding kekuatan maka dirimu akan jauh lebih kuat dariku, Bianchi. Aku lebih banyak melakukan olahraga untuk kesenangan dan bukan untuk pertarungan, seperti dirimu dan atasanmu."


Nada Maximus yang sopan tapi terkesan meremehkan membuat Tim merubah posisinya. Pria itu mundur dan menempelkan punggungnya ke kursi di belakangnya. Kepalanya meneleng penuh antisipasi tapi juga ingin tahu. "Memangnya, apa kekuatanmu?"


"Bahasa."