The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 7 - His plan



"Untukmu."


Tampak secangkir kopi panas di dalam cup diletakkan Kate di depan meja Dona. Hal ini membuat wanita yang tadinya menyangga dagu di tangannya dengan malas, mulai menegakkan badannya dan menengadah. Tampak seulas senyum tipis di bibir merah mudahnya.


"Thanks, Kate."


Meminum kopinya pelan, Kate akhirnya menyenderkan p*ntatnya ke meja Dona. "Kau tidak apa?"


Menatap gelas kopi dalam genggamannya, Dona pun mendongak menatap Kate. "Kenapa memangnya?"


Kate menipiskan bibirnya. Hati-hati ia menjawab pertanyaan temannya. "Kau terlihat kurang sehat hari ini. Apakah kau tidur cukup tadi malam?"


Pertanyaan itu membuat Dona mengerjapkan matanya. Ia kurang hati-hati.


Memaksakan senyum, Dona mengangguk pelan. "Aku memang tidur sedikit malam. Mungkin karena terlalu lelah karena pekerjaan yang diberikan si medusa Green kemarin."


Pandangan Kate masih terlihat menyelidik. "Kau yakin? Tidak ada yang lain?"


Kali ini anggukan Dona terlihat lebih mantap. "Ya. Memangnya kau berfikir apa?"


Temannya akhirnya menegakkan tubuh dan mengangkat kedua bahunya. Tatapannya dari bola matanya yang berwarna biru masih mengarah pada temannya.


"Entahlah. Tapi aku merasa kau banyak merahasiakan sesuatu dariku, Don."


"Sepertinya kau terlalu banyak membaca novel di w*ttpad, Kate." Sambil tertawa, Dona meminum kopinya untuk meredakan rasa mengganjal di tenggorokannya.


Menghela nafasnya, Kate kembali memandang Dona dengan tatapan yang lebih intens.


"Aku serius, Don. Kalau kau membutuhkan seseorang, aku bersedia untuk membantu kalau aku bisa."


Kata-kata itu membuat Dona terharu. Ia menelan ludahnya dan menepuk tangan Kate dengan pelan. Sangat berterima kasih pada temannya.


"Terima kasih, Kate. Aku akan mengingatnya."


Keduanya saling bertukar senyuman.


Malamnya, Dona pulang lebih cepat ke apartemen. Saat akan membuka pintunya, matanya mau tidak mau melirik pintu di sebelahnya. Setengah berharap munculnya sosok pria berjenggot tebal.


Benaknya berputar dengan kejadian tadi malam. Ia sedikit merasa bersalah pada Anthony. Mungkin pria itu hanya bermaksud baik dan tidak ada intensi apapun ketika menanyakan mengenai aktivitasnya. Mungkin ia yang memang terlalu sensitif dan selalu berfikiran buruk pada sekitarnya.


Menelan ludahnya, Dona berfikir untuk meminta maaf pada Anthony. Besok, ia akan mampir ke toko kue. Meski besok sabtu, mungkin pria itu tetap akan masuk kerja di sana.


Setelah hampir 5 menit menatap pintu yang masih tertutup itu, akhirnya Dona memutuskan untuk masuk ke apartemennya dan akan menemui tetangganya besok.


***


Dalam perusahaan CBG (Cesare-Berlusconi Group). Jam 23.00.


Tampak ada sosok seorang pria jangkung yang sedang mengepel lantai di lorong yang mulai terlihat gelap itu. Ia baru saja akan melangkah memasuki salah satu ruangan di sana, ketika terdengar suara kasar seorang pria di belakangnya.


"Siapa kau?"


Ketika berbalik, tampak seorang pria cukup tinggi yang berambut hitam sedang memandangnya intens. Pria itu tampan, tapi tampangnya sangat dingin. Tampak bakal janggut dan kumisnya yang gelap menghiasi dagunya yang tegas. Bibirnya tipis, hidungnya mancung dan memiliki cuping yang lebar. Ciri khas pria Italia.


Hal yang menakutkan adalah kedua matanya yang berwarna ungu keemasan. Mata khas keluarga Berlusconi. Tidak ada satu pun lensa kontak yang dijual, dapat membuat warna mata seperti itu.


Pria bertopi baseball itu semakin menundukkan kepalanya. Tampak ketakutan.


Suaranya yang serak teredam membuat kedua alis hitam pria di depannya berkerut dalam. Tampak ia mundur ke belakang, apalagi saat menyadari pria di depannya memakai masker yang cukup tebal.


"Kau sakit?"


Salah satu tangan pria bertopi itu bergerak-gerak panik. "Ti- Tidak... Hanya sedikit masalah di tenggorokan..."


Mengernyit jijik, pria berambut hitam itu semakin mundur. Matanya yang berwarna ungu akhirnya memperhatikan ember berisi air disinfektan, dan juga tongkat pel yang sedang dipegang pria di depannya. Sudah jelas kalau pria ini adalah seorang cleaning service. Ia juga memakai seragam dari satu vendor.


"Kemana Mikey? Biasanya dia yang akan membersihkan lantai ini."


Lantai 61 adalah lantai khusus direksi. Sebagian besar ruangan yang ada di lantai tersebut, diisi oleh para petinggi perusahaan termasuk dari keluarga Berlusconi dan juga Cesare. Ada beberapa ruangan meeting tertutup di sana, yang hanya boleh digunakan untuk rapat-rapat khusus saja. Tepat di bawah lantai ini, terletak ruangan server yang dijaga oleh beberapa petugas security secara bergantian. Dan untuk dapat masuk secara langsung ke sana, akses hanya diberikan khusus untuk lift dari lantai direksi ini.


"Mikey sakit... Saya menggantikannya. Khusus untuk hari ini saja..." Pria bertopi baseball itu menjelaskan terbata-bata dan lirih. Tampaknya sakit tenggorokannya membuat suaranya mulai menghilang.


Pria berambut hitam itu memicingkan matanya. Meski tidak suka, tapi ia cukup lega karena orang ini hanya menggantikan Mikey hari ini saja. Ia tidak suka ada orang asing memasuki area terlarang ini sembarangan. Mungkin ia akan menegur salah satu bos di bagian housekeeping besok.


"Seharusnya atasanmu sudah menjelaskan mengenai aturan di lantai ini. Kau hanya boleh membersihkan area luar dan tidak boleh memasuki ruanganku. Kau paham itu?"


Tergesa, pria bertopi itu mengganggukkan kepalanya. "Ya. Pak George sudah menjelaskannya dengan detail tadi... Saya hanya boleh memasuki area luar saja..."


Terganggu dengan suara pria itu yang terdengar semakin serak, pria Berlusconi mengibaskan tangannya dan langsung pergi dari sana. Ia ingin secepat mungkin menjauhi yang namanya orang bervirus itu. Masih sambil menatap tajam, ia memasuki lift dan masih sempat melihat pria bertopi itu menundukkan kepalanya dalam.


Setelah memastikan pintu lift menutup dan mengarah ke bawah, pria bertopi itu berdehem pelan. Sepertinya ia harus bersyukur telah meminum es tadi siang, membuat amandelnya langsung kambuh. Meski sempat mengeluarkan sumpah-serapah karena alergi br*ngsek ini, namun ia cukup lega pria tadi tidak jadi mengenalinya karena suaranya yang sangat serak.


Pria itu melanjutkan mengepel lantai di bawahnya selama beberapa waktu dan mulai memasuki salah satu ruangan di sana dengan menggunakan kunci khusus yang telah dipersiapkannya.


Selama beberapa menit, tampak pria itu keluar kembali dari ruangan dan membawa peralatan pelnya. Mendorong keduanya menuju lift, ia menekan angka 60 di sana.


***


AM Bakery. Jam 07.00 pagi.


"Anthony tidak masuk hari ini?"


Tampak Dona terkejut dengan informasi yang diterimanya barusan. Pria yang bernama Thomas pun mengangkat kedua bahunya pelan.


"Ya. Tadi pagi dia mengabari saya. Sepertinya dia sedang sakit."


Melihat sosok wanita di depannya yang tampak khawatir, terlihat mata Thomas berbinar senang. Dengan sumringah, ia menyerahkan pesanan wanita itu sekaligus memberikan satu cup tambahan.


Mengernyit melihat barang yang bukan pesanannya, Dona menatap Thomas. "Apa ini?"


"Teh herbal. Kesukaan Anthony. Dia pernah bilang kalau kalian bertetangga. Apakah bisa kau memberikan teh ini padanya?"


"Tapi kenapa mesti saya-"


Sebelum Dona dapat melanjutkan protesnya, ia merasa bahunya dicolek dari belakang. Menoleh, tampak ibu-ibu muda dengan seorang anak kecil memandang tajam padanya.


"Bisakah kau lebih cepat? Sepertinya kau sudah membayar tadi."


Tidak enak karena teguran itu, Dona pun segera mengemasi pesanannya dan berlalu dari sana. Ia masih sempat mendengar teriakan Thomas sebelum keluar dari toko itu.


"Tolong antarkan padanya ya! Grazie!"