
Perkataan si pria tidak ramah adalah suatu pernyataan, dan bukan pertanyaan. Tidak cukup banyak orang yang tahu nama lahirnya, apalagi statusnya di keluarga Berlusconi. Hal yang tadi disampaikannya, menandakan kalau pria di depannya ini bukanlah orang sembarangan.
Waspada, Maximus berdiri perlahan dari duduknya. Nafasnya masih terasa berat dan kepalanya cukup sakit, tapi ia tidak punya waktu untuk bermain-main dengan pria di depannya ini. Ia harus segera mengambil barang yang ditinggalnya di jembatan tadi, sebelum semuanya terlambat.
"Apa maumu?"
Suara serak Maximus terdengar sangat berat dan mengancam. Bila perlu, ia akan menghabisi orang ini jika memang dapat membahayakan rencananya.
Sejenak, pria berambut cokelat itu hanya menatapnya dalam diam. Maximus tidak bisa mengartikan arti tatapannya, dan hanya bersiaga. Menunggu apapun tindakan pria tidak ramah ini.
Tiba-tiba dan tanpa diduga, pria di depannya ini melemparkan suatu benda yang tampak berkilat. Sigap, tangan kiri Maximus langsung menangkapnya. Dengan bertanya-tanya, ia membuka telapakannya. Terlihat seutas kalung emas tipis yang tampak ringkih di tangannya.
Kedua alis Maximus berkerut dalam, tanda tidak mengerti. Ia mendongak dan menatap pria berambut cokelat di depannya. "Apa ini?"
"Milik penyelamatmu."
Kata-kata itu semakin membuat Maximus tidak paham. "Penyelamat? Apa maksudmu?"
Kembali mendengus sinis, pria berambut cokelat itu menyilangkan kedua tangannya di depan d*da bidangnya. Terlihat jelas kalau ia menggertakan giginya dengan penuh kemarahan.
"Kau kira, kau masih hidup karena apa? Seseorang telah menyelamatkanmu, dan membawamu ke sini."
Mata ungu Maximus berkedip cepat dan ia menunduk menatap kalung di tangannya. Ia teringat seseorang di atas speedboat yang tampak menghampirinya saat ia terjatuh dari jembatan. Ia juga samar-samar mulai mengingat sosok seseorang berambut hitam panjang yang ada di atasnya.
"Maksudmu..."
Ia kembali mendongak dan menatap tajam pria tidak ramah di depannya. "Siapa dia? Setidaknya aku harus berterima kasih padanya karena telah menolongku tadi."
Tampak si pria tidak ramah memandang sinis padanya dan kali ini, kedua bahunya naik-turun dengan sedikit cepat. Jelas, orang ini sedang berusaha menahan emosi tingkat tingginya.
"Sebelum aku menjawabnya, aku ingin mendengar sesuatu dulu dari dirimu, BERLUSCONI."
Penekanan pada nama keluarganya membuat Maximus membuang pandangannya ke samping. Betapa ia membenci nama itu. Tapi seumur hidupnya dan sampai m*ti nanti, ia tidak akan pernah bisa lepas dari nama itu. Karena gen yang kuat dalam keluarga, membuatnya akan selalu terikat. Entah sampai kapan.
Perilaku Maximus membuat si pria berambut cokelat mengedipkan matanya. Tiba-tiba, pandangannya menjadi sedikit lebih ramah pada orang yang sedang terluka dan tampak pucat di depannya ini.
"Kau memilih aku memanggilmu apa? Berlusconi? Atau Bass?"
Masih berpaling, Maximus bergumam pelan. "Apa itu penting?"
Adanya ancaman tersirat dalam kata-katanya, akhirnya membuat kepala Maximus kembali menghadap pria berambut cokelat itu. Kedua mata ungunya menyorot tajam dan penuh kemarahan. "Bass."
Sangat samar, terlihat senyum tipis di bibir pria berambut cokelat itu. Pria itu akhirnya mundur dan tampak bergerak ke meja makan kecil yang ada di ruangan itu. Ia pun menarik salah satu kursinya dan duduk dengan posisi yang terbalik. Terlihat kedua tangannya ia tumpukan di kepala kursi. Kakinya yang mengenakan sepatu boots mengangkang. Kedua alis gelap pria itu terangkat singkat dan dagunya mengarah ke tempat tidur. "Duduklah. Aku tidak mau kau sampai pingsan karena masih lemah."
Perlakuan yang lebih ramah ini membuat Maximus mengerjapkan kedua matanya. Ia ingin membantah, tapi tahu kalau kondisi fisiknya memang masih lemah. Kapan saja, ia akan dapat langsung tumbang bila diserang oleh pria berambut cokelat ini.
Dengan pelan, ia akhirnya duduk kembali di tempat tidurnya. Kedua tangannya bertumpu di sampingnya. Posisi ini membuatnya cukup lega. Bila ia masih berdiri tadi, mungkin sebentar lagi ia akan jatuh pingsan.
"Kau kehabisan banyak darah, kau tahu? Penyelamatmu mendonorkan darahnya tadi, karena di sini tidak ada persediaan darah. Untungnya darahmu bergolongan AB+, jadi bisa menerima donor apapun. Kau cukup beruntung tidak lahir seperti keluarga Berlusconi lainnya, yang bergolongan AB-."
Maximus menelan ludahnya keras. Belum apa-apa, tampaknya ia sudah berhutang banyak pada orang yang belum diketahuinya ini. Ia juga mulai gugup karena semakin menyadari, kalau orang di depannya ini tahu terlalu banyak tentang keluarganya.
"Sebenarnya siapa dirimu? Kenapa kau sampai bisa tahu sedetail itu?"
Tampak senyum miring di bibir pria di depannya ini. "Aku dari keluarga Morrone. Namaku Michele."
Keluarga Morrone adalah salah satu keluarga mafia di Italia. Mereka memiliki klan yang cukup besar, hampir menyamai klan keluarga Bianchi dan juga Romano. Hanya saja, karena kekuatan keluarga Bianchi yang cukup besar maka merekalah yang saat ini berkuasa di sana. Wilayah kekuasaan keluarga Bianchi sudah sampai mengarah ke daerah Asia, berbeda dengan keluarga Morrone dan juga Romano, yang lebih banyak mengambil pasar di Italia dan juga Eropa.
Hal ini juga berbeda dengan keluarga Berlusconi yang sebenarnya bukan berasal dari keluarga mafia. Namun karena untungnya menggiurkan, tidak hanya bisnis di pertambangan dan perkapalan yang mereka jalani tapi mereka juga mengambil ranah sebagai salah satu penyedia bahan baku untuk industri persenjataan. Kerjasama yang erat terjalin dengan ketiga keluarga mafia besar tersebut, yang memang berbisnis di pembuatan senjata dan juga sebagai pemasok tetap ke daerah-daerah militer di luar negeri.
Tahu dan sadar mengenai jenis bisnis keluarganya, sejak kecil Maximus sudah bertekad untuk terjun di bidang yang berbeda. Dan hal ini semakin membuatnya menjadi bulan-bulanan dalam keluarganya, yang membuatnya harus meninggalkan tanah lahirnya saat ia baru berusia 15 tahun.
Ia telah dicoret dari hak waris keluarga besar dan dianggap sebagai anak h*ram, meski sebenarnya ibunya merupakan isteri kedua yang sah dari ayahnya. Untungnya sejak kecil Maximus adalah anak yang cerdas, dan ia memiliki mentor yang sudah mengarahkannya untuk melakukan investasi kecil-kecilan di berbagai bidang usaha. Hal ini membuatnya memiliki cukup dana untuk dapat membiayai hidupnya sendiri dari sejak ia remaja, sampai ia dapat mendirikan bisnisnya sendiri.
Barulah ketika ia menginjak usia 24 tahun, saat sudah lulus kuliah dan berhasil mendirikan start-up company-nya yang sekarang, ayahnya memanggilnya kembali dan menyerahkan salah satu cabang CBG di Amerika untuk dikelola. Tapi tetap saja, campur tangan saudara tirinya membuatnya hanya menjabat sebagai seorang Manager. Dan ia tetap harus menjadi seorang kacung k*mpret dalam keluarganya.
Selama ini, Maximus menahan dirinya dan menjalankan tugasnya seperti yang diharapkan. Ia memiliki tujuan lain yang ingin dicapainya dan dalam waktu dekat, sepertinya tujuannya sudah akan tercapai. Ia hanya perlu untuk bersabar sebentar lagi.
Memandang wajah pria berambut cokelat di depannya, Maximus terkekeh pelan. Nama belakang pria ini mengingatkannya akan sesuatu. Kedua mata ungunya tampak mengejek, cenderung geli saat ini. Sama sekali tidak terlihat sorot takut di dalamnya.
"Ya. Aku cukup sering mendengar namamu."
Menangkap sorot mengejek pria berambut tembaga ini, rahang Michele mengeras. "Jangan katakan..."
"Michele Morrone. Namamu sama dengan aktor Michele Morrone. Tapi tampangmu seperti pembantunya. Apakah kau memang sering diejek seperti itu ketika berkenalan dengan seseorang?"
Kalap, Michele langsung berdiri dari duduknya dan melayangkan bogem mentah ke pipi Maximus. Pria yang masih lemah itu pun langsung jatuh tersungkur di tempat tidur. Ia pingsan kembali.