The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 22 - Tactical plans



Di salah satu rumah utama keluarga Berlusconi. Keesokannya.


"Tuan besar. Tuan muda ketiga ingin menemui Anda."


Pemberitahuan dari sang kepala rumah tangga, membuat pria yang sedang duduk santai di kursi kerja besarnya sedikit mendongak dari tablet yang dibacanya. Sorot matanya tampak tajam ketika menatap pria muda yang saat ini sedang berdiri di depannya.


"Keluarlah, Alfredo."


Perintah yang dikeluarkan dengan suara berat itu, membuat sang kepala rumah tangga menundukkan badannya, dan perlahan keluar ruangan setelah mengangguk singkat pada pria muda yang masih berdiri itu.


Setelah pintu kantor itu tertutup rapat, pria tua yang masih duduk itu melempar tablet-nya kasar ke meja. Ia mengambil kembali cerutunya yang masih mengepul dari atas asbak dan menghisapnya dalam. Kepalanya mendongak ketika mengeluarkan asap tebal dari mulut dan juga kedua lubang hidungnya. Kedua matanya yang berwarna ungu gelap, tampak masih menatap tajam pria muda di depannya.


"Ternyata, kau masih ingat untuk pulang ke rumah."


Sindiran itu hanya berhasil memancing senyum samar dari bibir Maximus. "Papa."


Menatap Maximus dari atas ke bawah, mata pria itu berhenti sejenak pada benda yang sedang dipegang oleh anak lelaki ketiganya itu. Tatapannya naik kembali ke wajah Maximus dan menyorot dingin.


"Mau apa kau ke sini? Aku tahu kau hanya akan datang ke sini untuk mencari masalah, Maximus."


"Saya hanya ingin berkunjung karena saya dengar, Papa dan Amadeo sedang ada di negara ini."


Pria tua itu mendengus kasar. "Omong kosong. Kau tidak cocok untuk memberikan lip service semacam itu padaku, Maximus."


Pria muda itu terkekeh pelan dan berjalan mendekati meja kerja besar yang memisahkan mereka. Perlahan, ia meletakkan amplop cokelat itu. Kedua mata ungunya terlihat berbinar, saat melihat tatapan pria tua di depannya menjadi lebih menyipit dan tajam.


"Apa ini?"


Maximus sedikit mundur dari depan meja dan kedua tangannya berada di saku celana panjang hitamnya. Bibirnya masih tersenyum samar. "Hadiah untuk papa. Dan juga salah satu anakmu."


Meski tahu anaknya adalah tukang bikin onar keluarga, tapi tidak banyak yang bisa dilakukan Giuseppe pada Maximus. Sejak 20 tahun yang lalu, ia sendiri yang telah menghapus nama anak itu dari silsilah keluarganya sendiri. Hal ini membuat Maximus tidak memiliki hak terhadap warisan keluarga tapi juga sekaligus, membuat Giuseppe kehilangan kekuatan terhadapnya.


Ia tidak akan bisa menekan Maximus sebagai seorang ayah dan harus menggunakan power-nya sebagai seorang Berlusconi bila ia mau melakukannya. Dan selama ini, belum ada satu pun dari tindak-tanduk Maximus yang memaksanya untuk menerapkan itu pada anaknya sendiri.


Pertunangan Maximus dengan Nicolette dulu pun murni karena hubungan bisnis, dan itu berdasarkan keputusan mutlak dari Maximus. Sehingga ketika terdapat cela dari calon isterinya itu, Giuseppe pun tidak bisa melakukan apapun ketika anak ketiganya itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tunangannya, hanya dalam waktu tiga bulan setelah hubungan itu diresmikan.


Untuk mencegah rasa malu keluarga besar Berlusconi dan juga Cesare, Giuseppe terpaksa tetap menerima Nicolette sebagai menantu keluarga dengan menikahi Amadeo Berlusconi karena selain Maximus, hanya dialah yang belum menikah dalam keluarga. Dan Amadeo pun hanya menerimanya dengan senyuman seperti biasa. Tanpa banyak protes. Tanpa banyak bertanya. Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan rumah tangga mereka sebenarnya setelah menikah hampir 5 tahun ini.


Kembali menatap anak ketiga di depannya, Giuseppe menyadari kalau Maximus tidak akan melakukan sesuatu dengan tanpa kalkulasi yang rumit di otaknya itu. Sejak kecil, Giuseppe sering kecolongan dengan pikiran Maximus yang cenderung absurd.


Anak ketiganya ini berbeda jauh dengan sudara-saudaranya yang cenderung lebih penurut dan tunduk pada aturan keluarga. Mungkin karena darah Skotlandia yang mengalir di tubuhnya, membentuknya menjadi pribadi yang lebih liar dan pemberontak. Dan untuk menghindari terjadinya perpecahan dalam keluarga, Giuseppe pun akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan anak itu dari kartu keluarga.


Keputusan yang masih disesalinya. Sampai saat ini. Tapi ia sadar, kalau ia memang harus melakukannya.


Melihat ayahnya masih belum membuka amplop itu dan hanya menatapnya dingin, Maximus tersenyum cukup lebar. "Papa tidak mau membukanya? Tidak penasaran mengenai isinya?"


Tantangan yang menyebalkan itu akhirnya berhasil memancing Giuseppe. Ia adalah pria yang serius dan ditantang seperti itu, tentu akan membuatnya merasa marah.


Dengan kasar, Giuseppe meraih amplop itu dan membukanya. Mengeluarkan isinya, ekspresinya masih tidak berubah banyak ketika menatap foto-foto yang ada di dalamnya. Ia kemudian meletakkan semuanya di atas mejanya dan mendongak menatap anaknya. Kepalanya meneleng sombong.


"Apa maumu dengan foto-foto ini, Maximus?"


Tangan kanan Maximus mengeluarkan kotak permen dari saku jasnya. Ia mengambil satu dan mengemutnya santai. Mulutnya sedikit monyong ke depan ketika ia mengulum permen dalam rongganya. Kedua mata ungunya memandang tajam pada ayahnya.


"Komitmen."


"Lepaskan Aiden Brasco dari jerat hutang keluarganya selama ini."


Pancaran sinar dari kedua mata ungu Giuseppe terlihat mengerikan. Kata-katanya terdengar berat ketika berbicara. "Kau sudah merencanakan ini."


"Aiden Brasco sudah menjadi budak keluarga Berlusconi selama 20 tahun. Ia telah melakukan apapun yang diperintahkan. Sudah saatnya, ia melebarkan sayapnya ke tempat lain."


"Kalau kau lupa, kau telah menariknya sebagai asisten pribadimu selama lebih dari 10 tahun ini, Maximus. Dedikasinya tidak selama itu pada keluarga Berlusconi. Dan hutang karena tindakan ayahnya, tidak akan semudah itu untuk dilunasi oleh anaknya."


Kekehan pelan malah keluar dari mulut Maximus yang masih berdiri di depannya. "Saya sudah tahu kalau papa akan mengatakan ini."


Perkataan itu membuat kedua alis Giuseppe berkerut dalam. Ia mulai tidak suka ini, karena sama sekali tidak bisa membaca ke arah mana anaknya akan membawa pembicaraan ini. "Apa maksudmu?"


"Pertama, hutang Lodovico Brasco sudah ia bayar dengan nyawanya sendiri. Aiden Brasco hanya bertugas untuk membayar bunganya dan selama dedikasinya pada keluarga Berlusconi, ia telah melunasinya. Baik secara material maupun non material. Kalau papa ingat, ia bahkan bersedia untuk hampir m*ti demi melindungi kesalahan Amadeo ketika itu."


Masih sambil tersenyum, Maximus merogoh kembali saku jas dalamnya dan mengeluarkan dua benda. Ia mengulurkan salah satunya lebih dulu pada Giuseppe yang matanya hampir melotot ketika melihatnya. Tangannya sedikit gemetar menahan amarah saat menatap anaknya. "Ini..."


Senyum Maximus semakin lebar ketika ia menyerahkan lembaran kedua pada ayahnya, yang merebutnya dengan cukup kasar.


Gigi-giginya bergemeretak kencang ketika pria tua itu mer*mas kertas yang ada di tangannya kencang. "Dari mana kau mendapatkan ini, Maximus? Capriati?"


Posisi Maximus kembali seperti semula. Ia mundur dan meletakkan kedua tangannya ke kantong celananya. Pandangannya dingin. "Capriati sudah tenang di alam sana, papa. Jangan bawa-bawa pria malang itu lagi untuk urusan mereka yang masih hidup."


Gemetar menahan marah. Kali ini, Giuseppe bertanya serius pada anak ketiganya itu. "Sebenarnya, apa yang kau inginkan, Maximus?"


Tahu kalau negosiasi sudah berjalan, kepala Maximus mendongak sombong. "Saya ingin Aiden Brasco dibebaskan. Dan kedua, saya ingin tahu segala informasi tentang perjanjian bisnis bersama keluarga Liebel."


Menutup kedua matanya, cuping hidung Giuseppe terkembang lebar ketika ia mengeluarkan nafasnya keras. "Apa hubungannya dengan keluarga Liebel? Kerjasama itu sudah lewat lama, Maximus."


"Papa tidak perlu khawatir. Saya tidak akan mengotak-atik hal yang menjadi ranah bisnis Berlusconi, karena saya juga tidak tertarik dengan industri kesehatan dan rumah sakit."


"Kalau begitu, mau apa kau tahu tentang perjanjian bisnis keluarga Jerman itu?" Dengan tenang, Giuseppe mengambil berkas-berkas yang ada di atas mejanya dan menyimpannya dalam laci yang tertutup. Ia akan mengkonfirmasinya nanti. Hal yang dibawa Maximus ini cukup berbahaya bila sampai diketahui pihak luar.


"Hanya penasaran saja. Tidak apa-apa kan?"


Alis Giuseppe turun ketika memandang anaknya. Tampangnya berubah sangat malas, karena ia tahu kalau Maximus sedang bermain kata-kata dengannya dan ia bukanlah orang yang senang bermain-main. Tidak mau lagi meladeni permainan anaknya, ia akhirnya mengibaskan tangannya.


"Terserahlah. Kalau kau mau tahu tentang hal itu, kau sendiri yang harus mencari tahu. Datanglah ke perpustakaan keluarga besok. Aku akan membiarkanmu mempelajarinya sendiri nanti."


Dalam hati, Maximus bersorak gembira. Akhirnya ia mendapatkan akses untuk hal yang sangat ingin diketahuinya. Meski modern, tapi keluarga Berlusconi adalah keluarga yang cukup konvensional. Untuk beberapa hal yang terkait perjanjian besar dan rahasia, mereka lebih memilih menyimpannya secara hardcopy dibanding softcopy. Hal ini membuatnya cukup sulit untuk mendapatkan informasi, meski ia sangat mampu untuk meretas sistem penyimpanan dokumen perusahaan.


"Terima kasih, papa. Saya berjanji, tidak akan turut campur apapun terkait dengan bisnis kelurga besar. Dan papa, saya akan menunggu surat pernyataan Anda mengenai pembebasan hutang atas keluarga Brasco."


Pandangan Giuseppe memancar sangat dingin pada anaknya. "Keluarlah sekarang, Maximus. Tiap kali kau datang, kau hanya membuat darah tinggiku kumat saja."


Tersenyum lebar, Maximus menundukkan kepalanya dan ia pun akhirnya keluar dari sana dengan gembira.


Tinggalah Giuseppe yang masih duduk di kursinya dan matanya tampak merenung. Pikiran pria tua itu tampak bercabang saat ini. Beberapa bulan lagi, ia harus mengumumkan mengenai successor-nya. Apakah sudah saatnya ia mengambil keputusan sekarang?


Di luar, Maximus dengan santai melangkah di selasar dan baru akan berbelok ke arah ruang tamu ketika terdengar suara pelan dari arah belakangnya.


"Max?"