
Pesta pernikahan keluarga Bianchi dan Romano, di salah satu gedung terbesar di Italia.
Beberapa waktu yang lalu, telah diucapkanlah sumpah setia yang telah mengikat pasangan suami-isteri yang saat ini sedang berdansa di area depan. Tampak Timothy Bianchi memeluk erat dan tersenyum lembut pada seorang wanita mungil bergaun pengantin di pelukannya. Kedua terlihat sangat bahagia saat ini.
Kebahagiaan mereka itu sayangnya, sama sekali tidak menular pada seseorang yang saat ini sedang menatap mereka dengan nelangsa.
Kedua mata ungu yang dari tadi memperhatikan prosesi pernikahan dan menatap mereka dari kejauhan, hanya dapat menelan pil pahit di tenggorokannya dan ia pun menyesap champagne-nya. Pria itu belum menyadari kehadiran orang lain di dekatnya, sampai orang itu menepuk bahunya pelan.
"Kau kenapa, Bass?"
Tidak menoleh, Maximus hanya kembali menelan minumannya seteguk. "Dia sama sekali tidak mau lepas dari isterinya, Bale. Bagaimana aku bisa mendekatinya kalau begitu?"
Damian terkekeh pelan. Pria berambut hitam itu pun meminum cairan dari gelas tinggi yang dipegangnya. "Kalau kau ingin membicarakan bisnis, sepertinya sekarang waktu yang tidak tepat, Bass. Tim sedang dalam masa bahagia dan mereka akan langsung berbulan madu."
"Apa!" Hati Maximus mencelos mendengarnya. Kalau begitu, akan sampai kapan ia harus menunggu pria itu sampai ia akhirnya mau bertemu dengannya.
Melihat raut temannya yang sangat tidak baik, Damian merasa kasihan padanya. Ia baru menyadari kalau pria ini sakit ketika melihat lingkaran hitam di bawah matanya. Tubuhnya pun jauh lebih kurus dibanding saat Damian terakhir kali bertemu dengannya, beberapa tahun yang lalu.
"Max. Sebenarnya kau ini kenapa?" Akhirnya Damian mempergunakan nada akrab pada temannya. Nada yang cukup jarang diberikan pada seseorang, terkecuali orang-orang terdekatnya.
Kepala Maximus menunduk dalam dan tampak jari-jari tangan kirinya menekan kedua matanya. Tubuhnya sedikit bergoyang, membuat Damian khawatir dengan kondisi pria itu. Refleks Damian memegang kedua lengan atas Maximus, mencoba mencegahnya agar tidak sampai terjatuh.
"Max! Lebih baik kita duduk dulu di sana. Aku tidak mau kau sampai pingsan di sini."
Tampak Maximus mengangguk pelan dan membiarkan Damian sedikit menopangnya untuk duduk ke salah satu kursi di meja tamu yang ada di sana. Setelah itu, pria berambut hitam itu memanggil pelayan dan meminta untuk dibawakan segelas air putih hangat.
Ketika melihat Maximus akan menyesap champagne-nya lagi, tangan Damian langsung mencegahnya. Pria itu mengganti gelas tinggi itu dengan gelas lain yang berisi air hangat, yang barusan diterimanya dari salah satu pelayan. "Lebih baik kau meminum air putih saja, Max. Kondisimu sangat tidak baik untuk meminum minuman beralkohol sekarang. Meski itu cuma champagne."
Menuruti perkataan temannya, Maximus meminum air itu dan kedua matanya memejam, menikmati aliran air hangat di tenggorokannya. Mungkin memang sebaiknya ia menghindari alkohol dulu sementara waktu.
Setelah beberapa saat, barulah Damian bertanya. "Sudah lebih baik?"
Pria yang terlihat layu itu mengangguk. "Terima kasih, Damian..."
"Max. Apa yang mengganggu pikiranmu, sampai kau jadi seperti ini? Selama mengenalmu, aku tidak pernah melihatmu sakit. Bahkan aku tidak pernah melihatmu kuyu seperti ini. Apa yang telah terjadi?"
Menarik nafasnya dalam, Maximus akhirnya memandang Damian dan kali ini tatapannya terlihat lebih mantap. "Sebenarnya tujuanku menemuimu adalah untuk meminta tolong padamu, Damian. Dan juga Timothy Bianchi. Ada hal penting yang aku yakin, hanya kalian berdualah yang dapat membantuku."
Kedua alis hitam Damian berkerut dalam. "Memangnya, apa yang ingin kau minta dariku?"
Belum juga Maximus sempat berkata-kata, ketika terdengar sapaan yang sangat ramah di belakang mereka. "Tuan Damian Bale? Maaf mengganggu Anda."
Mengangkat wajahnya, Maximus melihat Amadeo dan Alessandro sedang berdiri di belakang Damian Bale. Tampak kedua pria itu sumringah ketika Damian akhirnya berbalik dan berdiri dari duduknya. Pria Inggris itu terlihat ramah menyambut uluran tangan keduanya dan mereka pun saling bertukar kartu nama. Namun ketika kedua kakak-adik itu mulai mengarahkan pembicaraan ke bisnis, Damian langsung menghentikannya.
Paham kalau mereka telah mengganggu waktu dari Damian, keduanya pun akhirnya berpamitan sebelum pria Inggris itu semakin tersinggung. Tampak Amadeo mengerling tajam pada Maximus yang sedang terlihat menundukkan kepalanya, dan memegang gelas berisi air putih di mejanya dengan erat.
Saat Maximus pingsan dan dibawa ke rumah sakit tadi malam, Amadeo belum puas menuntaskan perasaan marahnya pada adiknya itu. Dalam hatinya, ia akan mencari waktu yang tepat untuk dapat menghukum adik lelakinya ini, yang sejak kecil memang selalu membuatnya kesal.
Saat Damian duduk kembali di sebelah Maximus, pria itu kali ini berbicara dengan menggunakan bahasa Jerman sambil menyesap champagne-nya santai. "Apa yang sebenarnya terjadi, Maximus? Karena aku yakin yang akan kau katakan nanti, ada hubungannya dengan duo-mafioso. Apakah aku salah?"
Pria berambut tembaga itu tidak menatapnya tapi ia mengangguk. "Lebih tepatnya dengan Amadeo. Dan ini erat kaitannya dengan keluarga Liebel."
Kembali, alis hitam Damian berkerut dalam. "Keluarga Liebel? Satu keluarga yang telah terb*nuh beberapa tahun yang lalu itu? Dan kalau tidak salah, anak perempuan mereka selamat karena tidak ada di tempat. Sampai kini pun, keberadaan gadis itu masih belum diketahui secara pasti."
"Benar. Dan aku ingin meminta bantuan kalian, untuk mendapatkan kebenarannya."
Damian kembali menyesap minumannya dan ia menatap Maximus di sebelahnya. "Kebenaran? Maksudmu untuk menemukan pelaku pemb*nuhan itu?"
Kali ini, kepala Maximus menggeleng pelan. "Tidak. Bukan kebenaran yang itu, karena aku sudah sangat tahu siapa pelakunya dan juga apa motifnya."
Informasi ini membuat Damian sedikit terkejut. Dan alisnya tambah berkerut. "Kau sudah tahu pelakunya? Kalau begitu, kebenaran seperti apa yang kau inginkan, Maximus? Jika kau menginginkan keadilan, maka yang tepat adalah melaporkan orang tersebut pada polisi untuk dapat diproses."
Terdengar kekehan pelan dan juga ironis keluar dari mulut Maximus. "Tidak ada keadilan yang akan pernah didapat, kalau pelakunya adalah Amadeo Berlusconi, Damian."
Tatapan Damian kali ini mengarah ke depan, pada pasangan pengantin yang sedang menikmati dansa mereka untuk yang kesekian kalinya. Pasangan egois itu sama sekali tidak mau bertukar pasangan dengan para tamunya. "Kau yakin, Maximus? Tuduhanmu ini sangat serius bukan?"
"Tentu saja aku tidak akan mengatakan ini, kalau aku tidak yakin, Damian. Bahkan Amadeo sendirilah yang telah turun tangan untuk menghabisi satu keluarga itu. Dan aku memiliki bukti CCTV-nya."
"Kalau begitu, kau tinggal melaporkannya saja pada pihak yang berwajib dan-"
"Damian. Kau mengenal keluarga Berlusconi bukan? Dalam dunia bisnis, bisa dikatakan keluarga Berlusconi setara dengan keluarga Bianchi untuk klan mafia. Aku tidak mungkin menyerahkan hanya satu hal itu saja untuk membuktikan kejahatan kakakku, karena pihak polisi sendiri yang memutuskan untuk menghapuskan bukti-bukti itu tidak sampai 24 jam semenjak kejadian!"
Memayunkan bibirnya, kedua alis Damian terangkat tinggi dan ia mend*sah keras. "Entah kenapa, tapi aku mulai merasa s*al karena telah mengenalmu dengan baik, Max. Kalau tahu akan begini, seharusnya aku tidak menerima usulan pertemanan darimu ketika itu."
Perkataan itu membuat Maximus menoleh pada Damian. Mukanya terlihat sedikit cerah saat ini. "Kau mau membantuku? Untuk hal ini?"
Kepala berambut hitam itu berpaling dan menatap Maximus dengan intens. "Kau benar-benar sedang sakit, kawan. Biasanya kau akan bersilat lidah denganku dan akan mengatakan kalau kau telah membantuku beberapa bulan yang lalu dengan keahlian IT-mu bla-bla-bla. Tidak biasanya kau memohon seperti ini."
Senyuman biasa yang perlahan muncul di bibir merah itu, membuat Damian cukup merasa lega. Temannya ini masih waras ternyata, terutama karena ia mulai mengeluarkan kata-kata menyebalkan lagi. "Aku baru saja akan bilang kalau kau berhutang padaku, Damian Bale. Aku telah membantumu memviralkan beberapa berita tanpa terdeteksi, dan bisa menghindari kejaran dari pihak yang berwajib."
Damian mendengus dan tertawa. "Jadi. Apa yang ingin kau ketahui?"
"Semuanya. Semuanya yang terkait dengan perjanjian Liebel-Berlusconi. Sampai bagaimana perjanjian itu bisa dimodifikasi sedemikian rupa sehingga hanya menguntungkan satu pihak saja. Dan juga, bukti keterlibatan Amadeo dalam semua pemb*nuhan yang dilakukannya pada circle terdekat keluarga itu."
Maximus sedikit menarik nafasnya dalam dan melanjutkan lagi. "Aku membutuhkan semuanya, Damian. Aku membutuhkan semua informasi yang dapat menjatuhkan seorang Amadeo Berlusconi dari singgasananya. Sudah saatnya, kejahatannya dihentikan. Meski dia saudaraku, tapi memb*nuh orang tidak bersalah bukan perkara ringan, Damian. Bahkan Giuseppe sendiri tidak akan pernah menyetujuinya jika ia mengetahuinya."