
Di kota TX. Amerika.
"Anna, kau sibuk?"
Terlihat sosok kepala seorang wanita yang menongol di pintu. Tampak wanita itu memegang beberapa berkas di tangannya.
"Penny, masuklah. Aku tidak terlalu sibuk. Apa yang bisa kubantu?"
Wanita yang bernama Penny pun memasuki ruangan dan duduk di depan Anna. Di menyerahkan berkas yang dibawa pada wanita di depannya, yang menerimanya dengan pandangan bertanya-tanya. "Apa ini?"
"Hmm... Itu penawaran seseorang untuk membeli property-ku. Aku ingin meminta bantuanmu untuk sedikit mereviewnya. Apakah kau mau?"
Membuka lembarannya, kepala Anna menunduk dan membaca isinya sekilas. "Aku bukan orang yang ahli untuk bidang hukum, tapi temanku mungkin bisa membantu. Paling tidak, mungkin dia bisa memastikan kalau orang yang mau membeli property-mu nanti bukanlah orang yang ingin menipu nantinya."
Raut Penny sumringah. "Kau punya teman seperti itu?"
Kali ini, Anna mendongak dan tersenyum lembut. "Ya. Aku akan menghubunginya nanti."
Kepala Anna kembali menunduk dan tampak tertarik membaca dokumen yang ada di tangannya. "Kau ingin menjual property yang mana?"
Punggung Penny menyender ke kursi di belakangnya. "Property milik mendiang ayahku. Dia memiliki sebuah toko kelontong, letaknya tidak jauh dari sini sebenarnya. Dulu, aku masih sempat mengurusnya tapi sejak memiliki restoran ini, aku sudah tidak bisa memegangnya lagi. Daripada jadi terbengkalai, mungkin lebih baik aku menjualnya. Sekalian untuk menambah modal usaha untuk restoran ini."
"Siapa yang ingin membelinya?"
Penny meminta berkas itu dari Anna dan kemudian membolak-balik halamannya, mencari-cari sesuatu. Ketika menemukannya, matanya terlihat cerah. "Seseorang dari kota. Kalau dari namanya, sepertinya orang Perancis. Aku juga belum pernah bertemu langsung dan hanya menerima penawaran itu lewat email. Sepertinya dia mengetahuinya lewat iklan yang aku buat beberapa minggu lalu."
Kembali kepala Anna mengangguk-angguk. "Baiklah. Aku mungkin akan memerlukan berkas-berkasmu itu dan menunjukkannya pada temanku nanti. Lebih amannya, sebaiknya kau memberikan salinannya saja padaku. Aku akan memberitahumu kalau sudah ada hasilnya."
Sangat terlihat Penny senang dengan kabar baik ini. Kedua tangannya bertepuk keras. "Wahhh! Terima kasih, Anna! Aku janji, kalau sudah ada transaksi nanti kau akan mendapatkan presentase dariku!"
Terkekeh, Anna menggeleng. "Tidak perlu. Aku sendiri sangat berterima kasih kau sudah mau menerimaku untuk kerja di sini, padahal aku sedang mengandung seperti ini."
Wanita yang duduk di depannya tersenyum sangat lebar dan pandangannya melembut. "Tidak. Akulah yang terbantu dengan kehadiranmu. Kau tahu? Aku mungkin punya beberapa property, tapi terlalu b*doh untuk mengelolanya sendirian. Hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan, kau sudah membereskan kekacauan keuangan restoran ini dan membuatnya stabil lagi. Kalau tidak ada dirimu, mungkin restoran ini tidak akan bertahan lebih dari 2 bulan lagi."
Membalas senyumannya, Anna berkata lembut. "Kalau begitu, kita saling membantu di sini. Tidak ada lagi hutang budi di antara teman. Bagaimana?"
"Baiklah. Aku setuju!"
Kedua mata Penny tampak mengamati Anna lebih lekat. "Kapan rencana lahirnya?"
Senyuman lembut Anna terlihat lagi di bibir mungilnya. "Sekitar 3 bulan lagi. Pertengahan desember."
"Kau sudah menentukan mau lahiran di rumah sakit mana?"
"Hum... Belum. Tapi dr. Powell kemarin sudah memberikan beberapa rekomendasi rumah sakit yang cukup bagus, tapi terjangkau. Mungkin aku akan mulai survey besok."
Tampak Penny mend*sah mendengar informasi dari Anna. "Aku tidak mengerti kenapa kau lebih memilih untuk datang ke dr. Powell. Cukup banyak dokter kandungan yang lebih bagus di rumah sakit lain, Anna. Lagipula, dokter itu cuma memiliki tempat praktek kecil di rumahnya. Sama sekali tidak meyakinkan. Dan bukannya dulu kau sempat ke dr. Frost?"
Kekehan pelan terdengar dari mulut wanita yang sedang mengandung itu. "Aku lebih nyaman diperiksa di rumah, Penny. Rumah sakit tempat dr. Frost praktek terlalu bising dan juga, harganya lebih mahal. Lagipula Emily Powell itu adalah tetanggaku sendiri dan dia wanita. Aku tinggal jalan kaki ke rumahnya dan tidak harus mengeluarkan bensin lagi, kan? Praktis, dan juga hemat."
Kedua alis Penny terangkat tinggi dan ia sedikit membanting berkas di tangannya ke atas meja. "Kau dan sifat pelitmu itu. Pantas saja, kau adalah seorang accountant yang handal."
Perkataan kesal Penny ditanggapi Anna dengan tertawa. "Bukan pelit. Hanya hemat saja."
Sambil merapihkan barang-barangnya dan mulai menyimpannya dalam tas, Anna mengangguk. "Ya. Aku mau pulang tepat waktu hari ini. Kebetulan temanku yang dari luar kota akan mampir untuk makan malam. Oh ya. Sebaiknya, kamu membuat salinannya sekarang karena dialah yang akan aku minta bantuan untuk menyelidiki calon pembelimu tadi."
"Oh! Baiklah. Tunggu sebentar ya." Setelah itu, Penny pun langsung keluar dari ruangan kecil itu.
Memastikan tidak ada barangnya yang tertinggal, Anna meletakkan tasnya di atas meja dan mengeluarkan ponselnya. Ia baru saja akan menghubungi seseorang, ketika orang tersebut ternyata memiliki pemikiran yang sama. Tersenyum, Anna menjawab ponselnya. "Halo, Michele. Nanti malam, kau jadi datang?"
Anna mendengarkan perkataan orang di seberangnya sambil tersenyum kecil. "Aku akan memasak makanan yang sederhana saja, ya. Soalnya belum gajian."
Entah apa yang dikatakan orang di telepon, tapi Anna terkekeh. "Miki, aku tidak mau menerima uangmu lagi. Kau sudah terlalu banyak membantuku. Tolong biarkan aku mencoba mandiri sedikit tapi aku janji, aku akan memberitahumu kalau memang butuh bantuan."
Terdengar sedikit omelan dari orang itu dan kembali Anna terkekeh. "Ya. Ya. Kau boleh puas memarahiku nanti di rumah. Oh ya. Ada temanku yang butuh bantuan untuk menyelidiki seseorang. Apa kau mau?"
Mata Anna yang cokelat terang tampak bergerak-gerak mengamati ruangan di sekelilingnya. "Hanya orang biasa sepertinya, yang mau membeli property-nya. Temanku cukup khawatir kalau dia ditipu. Aku akan membawa salinan berkasnya agar bisa kau lihat nanti."
Wajah Anna sumringah. "Terima kasih, Miki. Oke. Sampai jumpa di rumah ya."
Baru saja Anna menutup sambungan teleponnya, Penny kembali lagi ke ruangan sambil membawa dokumen lain dalam map. Melihat itu, Anna pun bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya. Ia menerima uluran berkas itu dari tangan Penny dan menyimpannya di tas tangannya.
"Temanku bilang, dia bersedia untuk membantu. Aku akan mengabarimu lagi kalau sudah ada hasilnya ya."
Keduanya pun berpamitan dan Anna langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya. Setelah beberapa saat, ia pun memarkirkan mobil mungilnya di halaman depan sebuah rumah kecil di sebuah kawasan peruamahan. Dengan santai, Anna keluar dari kendaraannya dan masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam, wanita itu langsung mempersiapkan sejumlah masakan untuk menyambut tamunya, dan tepat jam 19.00 pintu depannya diketuk pelan.
"Michele. Masuklah."
"Selamat malam."
Dua sepupu itu berpelukan singkat dan langsung menuju ruang makan. Keduanya tampak menikmati hidangan yang dimasak sambil mengobrol santai dan beberapa saat kemudian, Anna meletakkan serbetnya dan mengulurkan berkas yang diterima tadi dari Penny.
"Ini yang tadi sore aku ceritakan. Apa kau bisa membantu?"
Pria gempal di depannya pun menaruh serbet putih di sampingnya dan meraih dokumen itu. Matanya yang cokelat tampak mempelajarinya dan alisnya sedikit berkerut. Akhirnya ia mendongak.
"Kau menerima berkas ini dari temanmu?"
"Ya. Apakah menurutmu ada yang aneh?" Anna yang penasaran bertanya karena melihat raut pria di depannya yang sepertinya cukup skeptis.
"Kau sudah membacanya?"
"Sedikit. Tapi belum semuanya tadi, karena aku ingin segera pulang dan memasak."
Michele meletakkan berkas itu di meja dan tampak mengetuk-ketukkan jarinya di atas benda itu.
"Jadi, kau belum tahu siapa calon pembelinya?"
Kedua alis Anna berkerut dalam dan sedikit tergesa, ia meraih dokumen itu. Tidak sabar, ia membalikkan halamannya langsung ke beberapa lembar di belakang. Saat membacanya, rautnya tampak terkejut. Kepalanya mendongak memandang Michele yang juga sedang menatapnya intens. "Orang ini..."
"Dominic Allard. Dia adalah pemilik toko roti di depan apartemenmu yang di NY. Dan dia dulu adalah owner dari perusahaan raksasa, Allard Corp. tapi tidak semua orang mengetahuinya. Kalau kau mau tahu pendapatku, aku sama sekali tidak menyarankan temanmu untuk menerima tawarannya."