The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 71 - Her s***ction



Mendengar suara Giovanna yang untuk pertama kalinya telah mengucapkan namanya, membuat Maximus mengepalkan kedua tangannya erat. Betapa ia sangat bahagia karena akhirnya wanita itu mau untuk datang dan bahkan menyebutkan nama aslinya. Tapi sayangnya, saat ini Maximus malu. Ia sudah terlalu malu untuk mencintai wanita itu lagi. Reaksi Giovanna ketika terakhir kali ia menemuinya di rumah beberapa minggu lalu menyadarkan pria itu, bahwa ia dan keluarganya sama sekali tidak termaafkan.


Selama ini, Maximus merasa percaya diri dengan rasa cintanya. Dan dengannya, ia pun mengejar dan terus mengejar wanita pujaannya, meski harus melewati beberapa tahun yang penuh lika-liku. Tapi peristiwa kemarin membuat pria itu sadar, kalau rasa cintanya ternyata tidak cukup.


Rasa cintanya tidak akan pernah dapat menggantikan peristiwa berdarah yang telah merenggut kebahagiaan gadis itu. Sampai kapan pun, perasaannya tidak akan pernah cukup untuk membayar kesalahan Amadeo Berlusconi. Kejadian di kota TX itu membuat Maximus terbangun dari mimpinya selama ini. Ia akhirnya benar-benar mengakui, bahwa keluarga Liebel-Berlusconi laksana api dan air. Selamanya tidak akan dapat bersatu. Akan selalu ada noda hitam di antara dua keluarga, yang tidak bisa dihilangkan.


Dan semakin membuat Maximus merasa bersalah, karena ia juga telah melakukan hal yang hina dengan merebut kehormatan gadis itu secara paksa beberapa tahun lalu. Hati Maximus sangat sakit, saat mengingat dirinya yang terlalu percaya diri. Meski tahu kalau Giovanna akhirnya memang mencintainya, tapi sekarang ia sendiri yang harus melepaskannya. Tidak ada keberanian lagi tersisa pada dirinya untuk bisa menerima dan membalas cinta gadis itu. Perbuatannya dan juga keluarganya, sama sekali tidak bisa dimaafkan.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Maximus Antonio Berlusconi harus melepaskan sesuatu. Ia telah memutuskan untuk melepaskan Giovanna Donatella Liebel, dan menyerah untuk mengejarnya.


Kedua mata ungu Maximus yang menatap Giovanna perlahan bersinar ramah. Tampak bibir merahnya yang kali ini terlihat jelas tanpa tertutup kumisnya, tersenyum samar. "Nona Liebel... Sungguh kehormatan, Anda mau mengunjungi saya di rumah sakit..."


Kata-kata Maximus tampak membuat Giovanna terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka respon pria di depannya ini akan begitu formal dan jauh. Tadinya ia mengira Maximus akan menyambutnya hangat dan memeluknya. Seperti dulu.


Tatapan nanar Giovanna dibalas Maximus masih dengan teduh dan ramah. "Nona Liebel. Saya sungguh ingin berbincang-bincang dengan Anda, mengenai rumah sakit ini. Dan hal lainnya yang tentu sudah Anda ketahui sebelumnya. Tapi sayangnya, hari ini saya tidak memiliki waktu karena supir saya sudah menunggu di bawah. Jika berkenan, saya akan menghubungi sekretaris Anda nanti untuk membuat janji temu?"


Sekali lagi, Giovanna tertegun dengan betapa lancarnya Maximus mengucapkan kata-kata yang terasa sangat jauh itu. Pria itu benar-benar menjauhi dirinya, di saat ia baru saja mengumpulkan seluruh keberanian untuk mendekat padanya. Mengerjapkan kedua matanya cepat, Giovanna mendongak. "Anthony..."


Kepala Maximus menggeleng. Tatapannya kali ini terlihat menyesal. "Saya mohon maaf, tapi saya benar-benar telah ditunggu di bawah. Saya harus pergi sekarang, Nona Liebel. Tapi saya akan menghubungi sekretaris Anda nanti untuk membuat janji temu?"


Sekali lagi, Maximus menghindar dari dirinya dan membuat Giovanna perlahan menjadi geram. Baiklah. Ia akan coba mengikuti permainan pria itu. Ia ingin tahu sejauh mana Maximus akan pintar bermain kata-kata.


Dengan kaku, Giovanna menganggukkan kepalanya. "Tentu. Kalau perlu, saya akan menyuruhnya langsung menghubungi Anda. Untuk memastikan, kalau Anda memang bersedia untuk membuat janji temu dengan saya. Anda tidak perlu khawatir, Tuan Maximus Berlusconi. Karena saya akan selalu mengejar, apa yang sudah dijanjikan pada saya."


Perkataan Giovanna yang sarat makna itu, entah kenapa membuat pipi Maximus merona. Salah tingkah, pria itu langsung mengangguk dan bergegas melewati wanita di depannya. Ketika mereka berpapasan, tangan Giovanna mencekal lengan kiri Maximus. Cekalannya kuat tapi tidak sampai menyakiti pria itu yang bahunya memang sedang cedera itu.


Berada di dekat wanita itu lagi membuat Maximus sedikit gemetar. Pria itu dapat merasakan suhu hangat Giovanna yang menembus lengan sweaternya yang cukup tipis. Lelaki itu merinding ketika dengan berani, wanita itu menyelipkan telapak tangan mungilnya ke balik lengan bajunya dan mengusapnya pelan. Kepala Giovanna meneleng ke arahnya dan mendongak. Meski jauh lebih pendek darinya, tapi Maximus bisa merasakan kehangatan dan aroma memabukkan dari mulut wanita itu ketika ia terdengar seperti mend*sah.


"Maximus..."


Tatapan mereka saling terkunci. Kedua mata ungu Maximus menatap nanar wanita di bawahnya. Perlahan, matanya bergerak menelusuri wajah wanita yang sangat dirindukannya dan akhirnya berhenti, di bibirnya yang mungil dan berwarna merah muda. Betapa ia ingin mel*mat bibir yang seksi itu. Bibir yang pertama kali dijamahnya dalam hidupnya, dan telah membuatnya jatuh cinta setengah mati.


"A... Aku..."


Hampir saja kedua benda kenyal itu bersentuhan ketika Maximus terlonjak karena deringan dan getaran yang datang dari saku belakang celana jinsnya. Kepala pria itu mundur, dan Maximus langsung melepaskan diri dari jangkauan Giovanna. Ia berusaha mengalihkan situasi dengan meraih ponselnya.


"Roberto...? Ya... Tidak. Aku tidak apa. Aku akan ke bawah sekarang."


Terdengar suara serak Maximus yang tegang dan tubuhnya berubah kaku. Ia langsung mematikan ponselnya dan menghadap Giovanna, yang terlihat polos dan sama sekali tidak berdosa. Kedua lengan wanita itu terlipat di depan d*danya yang entah kenapa, terlihat lebih membusung dibanding beberapa tahun lalu.


Berusaha meredakan h*sratnya dan juga mengembalikan kewarasannya, Maximus berdehem kecil. "Nona Liebel. Saya benar-benar harus pergi sekarang. Saya berjanji akan menghubungi Anda kembali."


Kali ini, kepala Giovanna mengangguk santai dan wanita itu tersenyum kecil. "Tentu, Tuan Berlusconi. Saya tidak akan menghalangi Anda. Silahkan."


Cukup heran dengan reaksi wanita itu yang tampaknya jauh lebih santai dan seolah tidak terjadi apa-apa, Maximus hanya bisa menganggukkan kepalanya sopan. Akhirnya, ia pun kembali melangkah ke arah pintu dan kembali tertegun saat tangannya sudah memegang pegangannya.


Entah s*tan dari mana, Giovanna dengan berani menepuk dan mer*mas b*kong pria di depannya kencang. Nafas pria itu kembali tercekat dan kedua matanya mengerjap cepat, ketika ia merasakan jari-jari mungil Giovana menelusuri bagian tubuhnya itu dan akhirnya berhenti di punggungnya. Kehangatan menyebar di tubuh Maximus saat wanita itu menempelkan tubuhnya sendiri di sana.


"Tuan Berlusconi... Anda harus bertanggung jawab, dengan apa yang telah Anda lakukan dulu pada saya..."


Kedua tangan Giovanna memeluk tubuh pria itu dari belakang dan jari-jari mungilnya mengarah ke bawah, ke area pribadinya. Maximus hanya mampu tergugu saat Giovanna mulai mengelus dan membuat asetnya langsung mengencang dengan kecepatan turbo.


"Anda harus bertanggung jawab, Maximus... Karena telah membuat saya seperti ini..."


Tangan wanita itu masih bermain-main di sana, ketika ia tiba-tiba melepaskannya. Salah satu telapakannya kembali menepuk b*kong padat Maximus dengan kuat, membuat pria itu terlonjak dan langsung tersadar dari keadaan euforia-nya. Ia telah dil*cehkan oleh wanita ini!


"Sekarang pergilah, Tuan Berlusconi. Anda pasti tidak mau membuat teman Anda menunggu terlalu lama."


Hanya Tuhan yang tahu bagaimana malunya Maximus saat ini. Ia telah dil*cehkan dan dia diam saja, karena dia juga menikmatinya. Belum pernah ia merasa begitu malu, sekaligus sangat ter*ngsang seperti sekarang. Wajahnya sangat merah dan terasa terbakar. Tanpa berkata apapun lagi, pria itu membuka pintunya dan membantingnya kencang. Siapapun bisa melihat, kalau dia sedang kabur dengan terbirit-birit saat ini.


Memandang pintu yang tertutup, bibir mungil Giovanna tampak tersenyum. Ternyata, pria itu masih belum berubah. Ia masih tetap Anthony yang dulu. Anthony yang dengan sukarela mau untuk disentuh dan dij*mahnya. Mata cokelat Giovanna sedikit berair dan ia bergumam dalam bahasa Jerman. "Maximus... Aku berjanji, akan membuatmu mencintaiku. Aku akan membuatmu kembali lagi padaku, Anthony... Kamu pegang janjiku ini... Karena aku sangat mencintaimu..."