The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 6 - Her past



Gia baru saja menyentuh area basement ketika terdengar teriakan yang memilukan dari arah parkiran. Suara itu membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan dengan jantung berdegub keras, ia berusaha mengintip dari area lift yang sudah cukup gelap saat itu.


Dari kejauhan, tampak seseorang sedang berlutut dan menundukkan kepalanya. Di belakangnya, terlihat orang bermantel panjang yang sedang memegang sesuatu seperti senjata, dan mengarahkan moncongnya pada belakang kepala orang yang sedang berlutut itu.


Samar-samar, Gia dapat menangkap suara orang berbicara dalam keheningan malam itu.


"Apa keinginan terakhirmu?"


Menggeram, orang yang ditanya menjawab dengan nada rendah dan marah. "Pergilah ke neraka!"


Terkekeh pelan, orang di belakangnya berbisik. "Tentu. Tapi setelah dirimu nanti. Arrivederci."


Dan setelah itu, terdengar suara letupan pelan dan orang yang berlutut tersebut jatuh tersungkur dan tidak bergerak lagi.


Melihat situasi di sekelilingnya sebentar, akhirnya orang bermantel panjang itu menyimpan kembali senjatanya di saku mantelnya. Dengan tenang dan santai, orang itu masuk ke dalam salah satu mobil yang telah menunggunya dan tidak lama, mobil itu pun pergi meninggalkan lokasi.


Gia masih terduduk dengan gemetar di tempatnya, ketika ia merasakan ponsel di sakunya bergetar pelan. Meraih sakunya, tampak ada pesan chat tertunda dari kakaknya.


'Jangan ke sini. Panggil polisi.'


Menutup mulutnya, Gia tahu telah terjadi sesuatu pada keluarganya. Sesuatu yang sangat buruk.


Telah diajarkan seumur hidupnya untuk bersikap tenang dalam menghadapi situasi genting, gadis itu dengan gemetar menekan beberapa nomor di ponselnya. Ketika mendengar jawaban dari seberangnya, Gia menelan ludahnya kasar untuk menghalau air matanya. Suaranya lirih ketika ia mulai berbicara.


"Saya ingin melaporkan terjadinya penembakan..."


Selama beberapa saat, Gia masih menggenggam ponselnya erat di tangan. Kedua kaki gadis itu masih gemetar hebat ketika akhirnya ia mulai bangkit dari posisinya. Bersandar pada dinding, ia mulai memaksa dirinya mendekati lokasi kejadian yang tadi sempat disaksikannya.


Dari tempatnya berdiri, tampak jelas di matanya telah tergeletak tiga tubuh yang tidak bergerak sama sekali. Posisi ketiganya berdekatan. Bahkan salah satu dari mereka tampak menggenggam erat tangan pria yang dalam posisi tersungkur itu. Ibunya memegang tangan ayahnya dengan sangat erat.


Wajah kakaknya yang tampan mengarah menghadapnya. Kulitnya terlihat bersih dan ia seperti sedang tertidur pulas. Kedua matanya menutup erat dan Gia tahu, bahwa kakaknya sudah tidak bernyawa lagi.


Pemandangan mengerikan ini terpatri di otaknya dan selama beberapa saat, ia tidak bisa berfikir lagi. Nafasnya mulai terasa berat. Telinganya samar-samar masih mendengar dengingan sirine polisi dan ambulan yang semakin lama semakin mendekati, sebelum akhirnya kegelapan mulai melingkupinya.


Gia jatuh pingsan dengan masih memegang ponsel di tangannya.


***


Kembali ke masa sekarang.


Dari balik kaca, Anthony tampak menghela nafasnya kecewa. Ia baru saja melihat mobil mungil Dona yang mengarah ke jalanan, menandakan kalau wanita itu tidak akan mampir ke tokonya pagi ini.


Tidak semangat, ia mulai membuka celemeknya dan melemparnya asal ke meja counter.


Tampak beberapa pelanggan yang mulai mengantri di area kasir untuk membayar makanannya. Salah satu dari mereka yang tampak tidak sabar mengantri, memanggil pria itu.


"Hei, kau!"


Memasang senyum ramah, Anthony menghampiri pria perlente yang tampak menyebalkan itu.


"Ya? Ada yang bisa dibantu?"


Si pria perlente membuka dompetnya dan menyerahkan beberapa lembaran uang. Tampangnya terlihat sombong saat menatap Anthony. "Pelayanannya lama! Saya mau bayar sekarang."


"Hey... Kau dengar tidak? Apa kau tuli...? Saya bilang, saya mau bayar sekarang!"


Bukannya menjawab, pria besar itu malah memasukkan kedua tangannya ke saku celana jinsnya. Tampak jelas, kalau ia tidak mau menerima uang itu sama sekali.


Kelakuan pelayan di depannya ini membuat pria perlente itu semakin marah. Ia hampir saja menarik kerah kemeja Anthony ketika ada tangan berotot yang mencengkeram pergelangan tangannya.


"Jangan sentuh dia!"


Tampak muka pria perlente itu memucat ketika menatap pria berotot di depannya. Meski tangannya berlumur tepung, tapi jelas kalau orang itu lebih kuat dari dirinya. Cengkeramannya seperti besi dan membuatnya tidak bisa menggerakkan tangannya.


Dengan senyuman dingin, Anthony melirik pria berotot di sebelahnya. Ia menggunakan bahasa asing yang tidak dimengerti oleh pelanggan pria di depannya. "Lepaskan dia, Ben. Kau kembalilah ke dapur. Masih banyak roti yang harus dipanggang hari ini."


Enggan, pria berotot yang dipanggil 'Ben' mengangguk kaku. Ia pun melepaskan pegangannya dan mundur. Tampak tubuhnya perlahan menghilang ke bagian belakang dari toko itu.


Kembali menatap pria perlente di depannya, Anthony tersenyum manis. Ibu jari tangan kanannya menunjuk tulisan yang cukup besar tertera di papan menu, yang berada di atas kasir.


'BUDAYAKAN MENGANTRI. TIDAK ADA YANG SALING MENDAHULUI.'


"Apakah Anda tidak bisa membaca? Semua pelanggan diperlakukan sama di sini, dan antrian ini tidak akan lebih dari 2 menit. Semuanya orang sibuk. Tapi bukan berarti, ada yang diistimewakan. Kalau Anda tidak puas dengan pelayanan kami, maka silahkan mencari toko lain."


Salah satu pria di sana yang juga sedang mengantri mendengus kesal dan memandang pria perlente tadi. "Benar! Bukan kau saja yang sibuk di sini, bung! Kami semua selalu membeli roti tiap pagi di sini, dan selalu mengantri untuk membayarnya. Baru kali ini, kami mendengar ada keluhan di sini."


Wanita yang berada di belakang pria tadi pun mengangguk kesal. "Benar. Kau benar-benar membuat mood-ku menjadi buruk pagi ini."


Tersenyum sumringah, Anthony berpaling pada salah satu petugas yang ada di counter penjual minuman.


"Thomas! Siapkan sejumlah kopi gratis untuk para pelanggan di sini. Hanya sampai jam 8 nanti."


Pria yang dipanggil Thomas mengancungkan jempol besarnya. "Siap, bos! Kopi gratis untuk semuanya!"


Pengumuman itu membuat para pelanggan yang ada di toko kue tersebut berseru gembira. Selain rotinya yang memang terkenal enak, kopi yang ada di AM Bakery pun cukup terkenal dengan kenikmatannya.


Kejadian ini membuat pelanggan pria tadi merasa malu. Setelah membayar tagihannya dan menerima kopi gratis dengan sukarela, ia langsung melipir dan keluar dari toko tanpa berkomentar lagi.


Pelanggan wanita yang tadi sedang kesal pun tersenyum lebih lebar pada Anthony. Tampak jari-jari lentiknya merapihkan rambut panjangnya ke belakang telinga. Ketika berbicara, suaranya menjadi halus dan merdu. Suara yang diperuntukan untuk merayu.


"Apakah kau bos di sini?"


Terkekeh, kembali jempol Anthony menunjuk ke belakang ruangan, tempat Ben tadi menghilang.


"Tidak. Pria besar tadilah bos-nya. Saya hanyalah salah satu kacung k*mpret di sini."


Selesai mengatakan itu, Anthony langsung keluar dari toko roti tersebut. Berjalan santai ke arah basement apartemen, pria itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana jinsnya. Ia menekan beberapa nomor dan berhenti berjalan, ketika sudah berada di depan sebuah mobil jeep yang terparkir.


"Selamat pagi, bos. Ternyata saya bisa menggantikan Mikey hari ini. Apakah masih ada lowongannya?"


Sambil tersenyum, pria itu memasang topi baseball-nya. Ia mulai memasuki mobilnya dan memasukkan anak kunci untuk menghidupkan mobilnya.


"Tentu saja, bos. Sekitar 10 menit lagi, saya akan segera sampai di sana."


Mematikan ponselnya, Anthony mulai mengarahkan mobilnya keluar dari area parkiran basement itu.