The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 68 - Band of brothers



Beberapa saat setelah Giovanna pergi, Dominic masih duduk di kursinya. Pandangannya terlihat melamun ketika ia merasakan getaran pada saku celana jins-nya. Mengambil ponselnya, pria itu tersenyum ceria saat membaca nama yang tertera di layarnya.


"Yo, Nathanael! Tumben kamu meneleponku?"


Mendengar gerutuan dari orang yang ada di seberangnya, Dominic terkekeh. "Akhirnya kamu terkena batunya. Rasakan! Kamu akan tahu rasanya dicuekin oleh isteri sendiri, Nate. Apalagi Nathalina sebentar lagi akan masuk sekolah, dan Lin pasti akan jauh lebih sibuk mengurus keperluan Nat nanti. Kamu akan menjadi suami yang terbuang, Nate!"


Kali ini kekehan Dominic berubah menjadi suara tawa yang sangat keras, membuat beberapa karyawannya geleng-geleng kepala melihat kelakuan bosnya. Untung suasana toko masih sepi pagi itu.


Dominic sampai memegang perutnya dan ia beberapa kali menarik nafas, berusaha untuk meredakan rasa gelinya. Agar tidak terganggu, pria itu akhirnya pindah ke kantor kecilnya yang berlokasi di belakang tokonya. "Maaf, maaf. Aku refleks tadi, soalnya baru kali ini aku mendengar dirimu mengomel panjang kali lebar seperti seorang wanita saja. Aku telah mengenalmu terlalu lama, Nate."


Setelah tenang, Dominic bertanya dengan nada biasa saja. "Aku tahu kenapa kamu meneleponku. Kamu bosan dan pasti ingin mengajakku bermain catur kan? Hari ini aku bisa mengunjungi kalian, tapi mungkin sore setelah semua pekerjaanku beres di sini."


Kembali kekehan Dominic terdengar. "Kamu sangat mengenalku. Ya. Ada yang ingin kuceritakan. Tapi tidak apa, aku akan menceritakannya sekarang."


Kedua mata biru Dominic berbinar cerah saat pria itu berbicara. "Aku bertemu dengan salah satu buyutku, Nate. Dan dia sangat mirip denganku."


Kepala Dominic menggeleng ketika mendengar pertanyaan dari orang di seberangnya. "Tidak... Bukan dari garis keturunan Allard, tapi dari Bass. Kamu tentu ingat kan, Dominique dulu menikahi seorang pria dari Skotlandia yang bernama Bass dan memiliki anak kembar? Dan kamu juga tahu kalau Danielle berasal dari garis keturunan cucu perempuanku. Nah, orang ini dari garis keturunan cucu lelakiku, Nate. Aku akhirnya bisa bertemu dengannya setelah sekian lama mencari..."


Tampak mata Dominic berkaca-kaca tapi ia tersenyum sangat lebar. "Dia benar-benar keturunanku sejati, Nathanael. Karena dia menggunakan metode yang sama seperti yang pernah aku lakukan dulu untuk Celine. Kamu tentu masih ingat kan?"


Pria berambut merah itu kali ini menggeleng. "Tidak... Untuk yang satu ini, aku tidak akan mengusiknya, Nathanael. Tidak seperti Danielle dulu, dia tampaknya hidup sudah sangat baik. Dia sangat mandiri dan terlihat sudah berhasil sebagai seorang pria. Dan aku bisa melihat, kalau dia adalah orang baik. Aku tidak akan mengganggunya untuk sesuatu yang sifatnya hanya masa lalu, Nate. Biarlah masa lalu hanya menjadi masa lalu, dan dia hidup untuk masa depannya sendiri."


Terlihat senyuman sangat bangga di bibir Dominic. Badan pria itu membusung dengan kebanggaan yang sangat besar untuk keturunannya. "Namanya? Dia bernama Maximus Bass. Dia adalah pemilik dari MB Company. Salah satu perusahaan IT ternama di kota NY. Dan kau tahu? Dia juga keturunan Berlusconi. Taipan bisnis terbesar dan paling berkuasa di Italia saat ini. Dia juga adalah CEO di CBG pusat Italia. Dan dia memiliki saham di RS Liebel yang cukup besar di sana."


Sambil mend*sah, Dominic melanjutkan perkataannya. "Memiliki keturunan yang sangat hebat seperti itu, apalagi yang bisa aku minta sebagai seorang pria, Nathanael? Sepertinya kali ini, aku benar-benar telah mengalahkanmu dengan telak, kawan. Karena kau baru akan bisa mengalahkanku, mungkin sekitar 20 tahun lagi. Dan itu pun kalau Marcus kembali padamu. Rasakan kekalahanmu ini!"


Dan suara tawa yang sangat kencang pun, terdengar menggema di ruangan kantor yang kecil itu.


NB: percakapannya aneh? Yo, memang aneh. Kalau penasaran, silahkan cekidot karya author di lapak yang judulnya Madness ya (wkwkwk promosi karya sendiri gpp yak). See u ❤️


***


Rumah Sakit Liebel. Italia.


"Kau sudah tidak apa?"


Tampak pria yang masih bersender itu mengangguk pelan. Bibirnya yang berwarna merah sedikit tersenyum mendengar pertanyaan yang sudah dilontarkan beberapa kali, dalam satu hari ini.


"Apa yang kau rasakan?"


Pria itu tampak sabar memberikan gerakan tangan yang menunjuk lehernya yang saat ini sedang disangga, dan tangan kirinya yang sedang dipangku di depan d*danya.


"Kau masih sulit menelan, Maximus?"


Kepala Alessandro menggeleng. Kedua mata ungunya masih tampak khawatir. "Aku akan pergi setelah memastikan kalau kau sudah sehat, Maximus. Bahkan papa pun sangat khawatir padamu. Bagaimana aku bisa pulang kalau keadaanmu masih di rumah sakit seperti ini...?"


Kedua mata Maximus mengerjap dan ia menggeleng tegas. "Pulanglah... Aku sudah tidak apa... Dokter menyarankan... agar seminggu ke depan..., aku masih di rumah sakit... Kau jangan... terlalu khawatir... Aku akan... tetap... menghubungimu..."


Tampak jelas raut Alessandro yang tidak setuju tapi ia juga berada dalam keadaan dilematis. Saat menelepon Isabelle tadi, kerinduannya pada keluarganya sudah tidak bisa dibendung lagi. Sudah hampir satu minggu ini, ia meninggalkan mereka berdua padahal anaknya yang baru berumur 5 bulan, sedang lucu-lucunya.


"Kau yakin...?"


Kali ini senyum Maximus terlihat lebih lebar dan pria itu mengangguk-angguk. "Pulanglah..."


Kakaknya akhirnya mend*sah dan ia pun maju untuk memeluk adik lelakinya erat. Tangannya yang berada di punggung Maximus menepuk bahu pria itu pelan dan hati-hati, agar tidak menyakiti bahu kirinya yang cedera. "Baiklah kalau begitu. Sore ini aku pulang. Tapi segera hubungi aku, kalau ada sesuatu oke?"


Balas menepuk punggung bidang Alessandro, Maximus mengangguk. "Kau tenanglah..."


Pria berambut hitam itu akhirnya melepaskan pelukannya dan kembali berdiri di sisi tempat tidur Maximus. Ia hampir saja mundur untuk melangkah ke pintu depan, saat teringat sesuatu yang penting. Kedua matanya yang identik dengan adiknya terlihat menyorot tajam. "Sebelum aku pergi, Max. Aku minta kau bersikap jujur padaku. Tidak ada yang kau sembunyikan karena kalau tidak, aku sendiri yang akan mencari tahu dan mungkin mengambil tindakan tegas pada orang itu. Kau paham?"


Tampak tubuh Maximus yang menyender di kepala tempat tidur menegang, tapi ia akhirnya mengangguk. Ia sangat tahu apa yang akan ditanyakan kakaknya dan sudah memiliki jawabannya. "Apa yang mau kau tanyakan..., brother...?"


Tubuh Alessandro tegak seperti patung dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Suaranya terdengar sangat kasar ketika ia berbicara. "Aku mendengar dari Roberto, kalau orang yang telah melukaimu seperti ini adalah anak perempuan keluarga Liebel, Giovanna Liebel. Apakah itu benar, Maximus?"


Tidak ada sanggahan sama sekali dari tatapan Maximus ketika ia mengangguk menjawab pertanyaan itu.


Jawaban itu tampak membuat Alessandro sangat marah. Raut pria itu terlihat menjadi bengis dan kedua matanya menyala terang. Bibirnya yang tipis semakin menipis ketika ia menahan emosinya agar tidak meledak. "Kenapa kau membiarkannya? Setahuku, dia hanyalah gadis kecil, Max. Dengan beratmu yang dua kali lipat dari dia, seharusnya kau bisa memukul wanita itu dan bahkan memb*nuhnya dengan sekali tendangan! Apa yang membuatmu begitu pasrah menerima perlakuannya padamu!?"


Melihat Maximus yang tertunduk dan diam, Alessandro semakin berang. "Jangan katakan alasan kalau kau mencintainya, Max!? Aku sama sekali tidak mau mendengarnya! Bahkan Roberto sendiri sudah sangat geram pada wanita itu, dan berniat menghabisinya sendiri kalau sampai ada apa-apa dengan dirimu!"


Kali ini, perkataan Alessandro membuat Maximus mendongakan kepalanya dan tatapannya pun berubah. Terlihat pancaran rasa marah yang besarnya sama dengan yang ada di mata Alessandro.


"Brother... Kalau kau lupa... Keluarga kitalah yang telah menyebabkannya menjadi seperti ini... Apa kau lupa... Karena Amadeo-lah, dia kehilangan segalanya... Jika aku menjadi dirinya... aku pun akan melakukan hal yang sama... Jika aku ini dia... aku bahkan akan menyuruh pemb*nuh bayaran... untuk menghabisi kita semua... Kalau kematianku memang bisa membuat hutang-hutang keluarga kita terbayar... maka aku rela melakukannya, Alessandro... Karena bahkan aku pun... telah sangat bersalah padanya..."


Kata-kata Maximus yang sangat benar membuat Alessandro sejenak terdiam. Kemarahannya menjadi sedikit menyurut ketika akal sehat dan logikanya pun membenarkan ucapan adiknya itu. Berusaha menenangkan dirinya, Alessandro kembali bertanya. "Baiklah. Aku bisa menerima penjelasanmu tadi. Semua memang berpusat pada tindakan Amadeo yang serampangan dan tidak berfikir panjang. Tapi mengenai dirimu sendiri, memangnya apa kesalahanmu padanya? Sampai kau menjadi pasrah seperti itu?"


Pertanyaan itu membuat Maximus berpaling. Alessandro dapat melihat mata adiknya sedikit berkaca-kaca. "Maximus? Memangnya apa yang telah kau lakukan padanya?"


Tangan kanan Maximus terkepal erat dan mer*mas selimutnya kencang. "Sebenarnya..., yang menyebabkan kemarahan Amadeo... adalah bersumber dari aku, Alessandro... Amadeo mendengar sesuatu yang aku katakan pada Gio... dan itulah yang menyebabkannya murka... dan dendam pada keluarga Liebel... Dengan kata lain... Akulah yang sebenarnya... telah memb*nuh seluruh keluarga gadis itu... dan bukan Amadeo..."


Meski tidak menangis, tapi Alessandro dapat melihat sorot kesakitan di kedua mata ungu adiknya. Sorot yang bahkan Alessandro sendiri tertegun dan membungkam rasa marahnya, ketika Maximus melanjutkan perkataannya yang penuh kesedihan.


"Aku... sangat rela, Alessandro... Kalau pun saat itu dia berhasil memb*nuhku... maka aku akan mati dengan rasa lega... Karena setidaknya... aku bisa membayar sebagian hutang nyawaku... pada dirinya..."