The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 43 - Necklace



Setelah kejadian penembakan keluarga Liebel, seminggu setelahnya Maximus terbang ke Amerika. Bisnisnya di sana sedang mengalami guncangan, karena ada salah satu investor yang ternyata terlibat dengan money laundry dan juga pengedaran obat-obatan terlarang. Hal ini membuat Maximus harus langsung turun tangan menangani dan bolak-balik mengurus permasalahan ini dengan tim pengacara dari MB Company. Ia dan Aiden Brasco juga harus berhubungan dengan pihak kepolisan yang melakukan penyidikan.


Kesibukannya ini membuat Maximus benar-benar melupakan hal yang terjadi di Italia dan baru satu bulan setelahnya akhirnya ia kembali ke sana, ketika melihat berita yang menayangkan mengenai kejatuhan salah satu keluarga kaya dari Jerman. Keluarga Liebel.


Saat akhirnya sampai ke rumah utama keluarga Liebel, Maximus hanya dapat menemukan sisa-sisa kejayaan keluarga Jerman itu di sana. Hanya dalam waktu satu bulan, seluruh kekayaan keluarga Liebel telah berganti kepemilikan dan hanya rumah inilah yang masih tercatat dalam nama mereka.


Sambil mengamati rumah di depannya, Maximus hanya dapat menelan ludahnya. Benak pria itu menyadari, bahwa semua yang terjadi pada keluarga Liebel adalah ulah dari Amadeo Berlusconi. Sangat jelas terlihat, kalau siapa pun yang melakukan ini pada keluarga Jerman itu, telah sangat dendam pada mereka.


Maximus tahu pasti, kalau ia tidak dapat bertindak ceroboh sekarang. Satu-satunya yang tersisa dari keluarga Liebel hanyalah Giovanna Donatella Liebel. Dan bila tindakan Maximus dalam membantu gadis itu sampai membuat Amadeo marah, maka bisa dipastikan nasib Giovanna nantinya.


Ketika akhirnya rumah itu dilelang oleh negara karena telah ditelantarkan selama beberapa waktu, Maximus pun langsung membelinya dengan menggunakan nama Anthony Bass. Dan dalam waktu singkat, rumah yang telah terbengkalai itu dikembalikan kembali ke masa jayanya dan Maximus pun menggunakan rumah itu sebagai rumah amannya di Italia.


Ia menghapus semua sejarah yang mengaitkan rumah itu dengan keluarga Liebel dan membuatnya hanya sebagai property baru, dan dengan fungsi yang baru.


Dan selama itu pulalah, ia telah kehilangan jejak Giovanna Liebel. Meski ia telah berusaha mati-matian untuk mencarinya, tapi wanita itu seolah hilang di telan bumi.


Dalam rasa putus asanya, Maximus terkadang berfikir kalau wanita itu telah menyusul semua keluarganya. Entah dengan cara apa. Karena sepertinya terlalu mustahil untuk dapat menemukannya lagi, setelah selama empat tahun ini tidak menemukan petunjuk sama sekali.


Tidak ada data yang mengatakan kalau wanita itu telah berpergian kemana pun. Tidak ada catatan apapun mengenai transaksi keuangannya. Bahkan nomor ponselnya pun telah tidak aktif. Tidak ada apapun yang bisa ditemukan oleh Maximus, meski ia telah mengerahkan diri dan timnya untuk meretas semua sistem keamanan di area transportasi, perbankan bahkan kepolisian.


Maximus tidak bisa menemukan apapun, bahkan catatan kematiannya!


Pria itu pada akhirnya berusaha untuk menerima kenyataan ini, dan mencoba menerimanya dengan lapang d*da. Bahwa satu-satunya wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta, kini telah tiada. Ia hampir saja menerima nasibnya itu, sampai peristiwa penembakan di malam itu terjadi.


***


Flashback hampir dua tahun yang lalu. Di MB Company, kota NY. Amerika.


"Bagaimana? Apa yang kau temukan, Brasco?"


Baru kali ini, Brasco melihat atasannya sangat tidak sabar. Berusaha tidak terpengaruh, pria itu menyerahkan sebuah berkas pada Maximus yang menerimanya dengan kasar. Pria bermata ungu itu langsung membaca dokumen itu dan matanya nyalang.


"Kalung itu memang sangat istimewa, Tuan Bass. Satu-satunya di dunia. Giovanni Liebel telah secara khusus memesannya pada pengrajin perhiasan ternama di Jerman, dan bahkan men-design-nya sendiri. Kualitas emasnya pun sangat tinggi, meski benda itu tampak rapuh dan tipis."


Kedua tangan Maximus yang memegang berkas itu terlihat sedikit gemetar, dan nafasnya tercekat. "Jadi benar... Benda itu memang milik dia..."


Kepala Brasco mengangguk. "Jika yang Anda maksud adalah adik dari Giovanni, Giovanna Liebel maka Anda benar, Tuan Bass. Sang pembuat perhiasan sendiri yang mengatakannya, bahwa Tuan Liebel ingin memberikan kado ulang tahun yang istimewa untuk adiknya sebelum akhirnya ia menikah nanti. Karena sepertinya dua bulan setelah ulang tahun Nona Liebel, Tuan Liebel akan melepas masa lajangnya."


Mata Maximus masih menatap nanar berkas yang ada di tangannya dan ia mulai menggertakan giginya, untuk mengurangi getaran dari tubuhnya. Hampir saja ia tidak bisa menguasai dirinya, ketika mengetahui kenyataan bahwa Giovanna Donatella Liebel ternyata masih hidup! Ia masih hidup!


Berusaha untuk mengontrol emosinya yang membuncah, pria itu menarik nafasnya dalam. "Brasco. Cari tahu dimana dan bagaimana aku bisa menghubungi Michele Morrone, dari keluarga Morrone. Secepatnya!"


Beberapa hari kemudian, barulah Maximus dapat membuat janji temu dengan Michele Morrone di salah satu restoran Jepang yang mewah di kota itu. Pria gempal itu ternyata telah memesan suatu ruangan VVIP untuk mereka, sehingga pembicaraan keduanya tidak akan dapat terganggu oleh kehadiran orang lain.


Ketika Maximus sampai ke lokasi, ternyata pintu menuju ruangan itu telah dijaga oleh dua orang pria berbadan besar. Tampak tampang keduanya mirip, dengan pria yang saat ini berada di belakangnya sendiri. Sambil tersenyum, Maximus sedikit menoleh ke belakang. "Roberto, kau tunggulah di luar."


Kepala Roberto yang berambut cepak mengangguk satu kali. "Baik, Tuan Bass."


Dengan santai, Maximus melangkah mendekati kedua orang yang bertampang sangar di depannya. Bibirnya tersenyum sangat manis. "Tuan-tuan. Nama saya Maximus Bass. Saya punya janji temu dengan atasan kalian, Michele Morrone. Apakah saya bisa masuk sekarang?"


Salah satu dari mereka mendekati Maximus dan mulai melakukan penggeledahan singkat, memastikan bahwa pria itu tidak membawa senjata apapun ke dalam. Setelah yakin, pria besar itu pun membuka pintunya dan mempersilahkan Maximus untuk masuk ke ruangan.


Sambil merapihkan kerah jasnya, Maximus melangkah ke dalam dan langsung bertatapan dengan Michele Morrone yang saat ini sedang duduk di salah satu kursinya. Kepalanya mengangguk. "Maximus Bass. Silahkan duduk di depanku."


Tersenyum sopan, Maximus membalas anggukannya dan ia pun duduk di kursi yang ditunjuk. "Terima kasih."


Tampak Michele Morrone memanggil pelayan dan tidak lama hidangan makanan yang menggiurkan pun sudah tersaji di depan mereka. Pria gempal itu kemudian berkata pada pelayan yang terakhir datang ke ruangan itu. "Aku tidak mau diganggu. Jangan ada yang datang lagi ke sini, sampai aku menyuruhnya."


Pelayan yang mengenakan kimono itu bersujud di depannya dan berkata pelan. "Baik, Tuan Morrone. Dan silahkan menikmati hidangannya."


Kepala Michele kemudian menoleh pada Maximus. Sama sekali tidak ada senyum di bibirnya, tapi ia berkata sopan. "Silahkan dinikmati hidangannya."


Mengamati sekelilingnya, senyum Maximus terbit di bibirnya. "Ini salah satu restoranmu?"


Michele mendengus. "Aku yakin, tanpa aku jelaskan pun kau sudah tahu itu, Bass."


Komentar itu membuat Maximus terkekeh. Melihat pria di depannya mulai makan, sesuai etiket maka ia pun mengikutinya. Kedua pria itu pun makan dalam keheningan selama beberapa saat. Hidangan yang sangat enak, membuat Maximus sedikit lupa dengan tujuannya sampai kemudian ia meletakkan sumpitnya pelan.


Kedua mata ungunya terangkat untuk menatap Michele, yang ternyata sedang memandangnya juga.


"Tuan Morrone... Kau tentu sangat tahu, kenapa aku ingin bertemu denganmu hari ini."


"Aku sangat tahu, Bass. Tapi aku minta maaf kalau harus mengecewakanmu, karena aku tidak akan pernah menjawab pertanyaanmu terkait hal itu."


Belum apa-apa, tapi rasa kecewa yang besar sudah mulai menghantam d*da Maximus yang tadinya bergemuruh gembira. Kedua tangannya terkepal dengan erat di bawah meja. Sudah sejauh ini, dan ia tidak akan mundur sebelum mendapat petunjuk apapun!


Ia bertekad untuk menemukan petunjuk mengenai keberadaan Giovanna Liebel! Bagaimanapun caranya!