The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 45 - Finally, I found you...!



Sambil menarik nafasnya dalam, Maximus menerima berkas itu. Perlahan, ia membuka kacamata hitamnya dan melemparnya asal ke atas meja kerjanya. Masih sambil membawa berkas itu, ia berjalan ke arah jendela besar di depannya dan mulai membukanya. Jantungnya berdebar-debar penuh antisipasi.


Kedua mata ungunya mengerjap cepat ketika pandangannya menelusuri isi dokumen yang dipegangnya. Dan setelah selesai, bibirnya tersenyum dan kedua matanya menutup erat. Akhirnya...


"Siapa atasannya?"


"Michelle Green, Tuan Bass."


"Bagaimana kinerjanya selama ini?"


Brasco membuka map lain dan mempelajarinya sebentar. "Sangat baik, Tuan Bass. Sama sekali tidak ada cela. Tapi sepertinya Green memang sedikit tidak menyukainya, karena selama hampir 3 tahun ini, ia sama sekali tidak menyetujui usulan promosinya dari bagian HR. Dan tampaknya dari yang bersangkutannya juga tidak menginginkannya, karena dia juga beberapa kali menolak hal ini secara langsung ke HR."


Memandang berkas berharga di tangannya, Maximus mengangguk. "Tetap pertahankan seperti itu, Brasco. Jangan sampai dia menjadi terlalu menonjol nantinya."


Kedua alis Brasco mengernyit. "Kenapa, Tuan Bass? Bukannya kita seharusnya menghargai karyawan yang-"


"Dia sedang dalam persembunyian, Brasco. Lebih baik, tidak ada yang menyadari prestasinya itu kecuali atasannya sendiri. Kita bisa memberikan penghargaan dalam bentuk lain. Naikkan gajinya, tanpa sepengetahuan Green."


Baru tersadar dengan maksud atasannya, Brasco mengangguk paham. "Baik. Saya sendiri yang akan mengaturnya nanti."


"Tiga tahun... Selama tiga tahun ini, dia berada di dekatku dan aku baru menyadarinya sekarang. Bisa kau bayangkan betapa b*dohnya diriku ini, Brasco...?"


"Tidak bisa disalahkan, Tuan Bass. Anda memiliki karyawan lebih dari 800 orang dan Anda sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan atau pun berpergian ke luar negeri, dibanding bersosialisasi dengan karyawan Anda sendiri. Tapi Anda sangat beruntung, masih sempat menemukannya bukan?"


Seperti anak kecil, kali ini Maximus terlihat senyum-senyum sendiri sambil membaca kembali berkas di tangannya. "Kau benar. Hal lain yang sudah kau ketahui tentangnya?"


Tersenyum maklum dengan pertanyaan itu, Brasco menjawab lancar. "Dia masih menyukai roti, Tuan Bass. Dia sering membeli roti dari toko yang ada di seberang apartemennya."


"Cari tahu siapa pemilik toko itu, Brasco. Dan beli unit apartemen yang tepat ada di sebelahnya."


"Baik, Tuan Bass. Kalau begitu, saya permisi sekarang." Dan setelah itu, Brasco meninggalkannya sendirian.


Mata Maximus kembali meneliti foto seorang wanita yang tertempel di berkas yang dipegangnya.


Tampak seraut wajah yang sangat dirindukannya di sana. Kedua mata cokelat terang yang bersinar cerdas, hidung dan bibir mungil yang berwarna merah muda. Hanya kali ini, pandangan wanita itu terlihat keras dan sama sekali tidak ada senyuman di bibirnya. Berbeda jauh ketika terakhir ia bertemu dengannya dulu. Dan gadis yang ada di hadapannya ini pun berambut hitam, tidak cokelat muda seperti dulu.


Mengusap pelan foto itu, Maximus menarik nafasnya dalam.


Giovanna Donatella Liebel.


Akhirnya aku menemukanmu, mungil... Kali ini, aku berjanji untuk melindungimu.


Kali ini aku akan memastikan, kalau kau tidak akan lari lagi dariku. Aku akan menjadi apapun yang kau inginkan, selama kau tetap di sampingku. Jangan pernah pergi lagi, baby...


Kembali ke masa sekarang.


Tampak Anthony mel*mat kasar bibir wanita di bawahnya tanpa ampun. Tangan kirinya pun mer*mas kuat d*da wanita itu dan mencumbunya dengan agresif. Ketika akhirnya pria itu melepaskan cekalannya, kedua tangannya semakin mencengkram kedua aset wanita itu dan menciuminya dengan penuh kerinduan. Kepalanya semakin bergerak ke bawah dan dengan kasar, ia pun melepaskan celana kantor dan pelindung bagian dalam dari tubuh wanita itu.


Kepala Anthony terbenam di area kedua kaki Dona dan ia melakukan sesuatu di sana yang membuat wanita itu menjerit. Dona berusaha untuk melepaskan dirinya, tapi kedua tangan besar pria itu menahan pinggulnya dan mencengkramnya kuat. Nafas Dona semakin terengah dan pandangannya nanar, menatap ke atas ketika tangan-tangan pria itu kembali mengusap d*danya dan mer*masnya kuat.


Tubuh Dona bergetar kuat dan ia melepaskan sesuatu di bawah sana, yang tampaknya langsung ditelan oleh pria itu. Perlahan, kepala berambut gelap itu kembali naik sambil masih tetap menciumi tubuhnya. Ketika akhirnya mereka saling berhadapan, muka Anthony memerah dan pandangannya sayu. "Kamu enak sekali, Dona baby..."


Dan mereka pun kembali berciuman panas. Pria itu sangat rakus menciumi wajahnya dan tampak siap untuk menelannya bulat-bulat. Ia mencumbui lehernya dan juga menggigiti kulit leher Dona yang sensitif. Ketika sampai di telinganya, Anthony berbisik serak dan sangat berat. "Oh... Dona baby... Kali ini, aku akan menjadikanmu milikku, agar kamu tidak pergi lagi..."


Saat ini, Dona sudah tidak mampu berfikir. Pengalaman pertama ini membuatnya hanya pasrah mengikuti permainan pria di atasnya dan hal yang dilakukan oleh Anthony padanya, hanya membuatnya mampu untuk mencengkram tubuh pria itu semakin kuat dan mencakar punggung berototnya.


Barulah saat ia merasakan nyeri di area bawah tubuhnya, Dona menjerit nyaring yang langsung dibungkam oleh mulut merah Anthony. Pria itu mel*mat bibirnya kembali dan mengh*sap lidahnya kencang, membuat Dona melupakan rasa sakitnya karena terjangan yang tiba-tiba di bagian bawahnya yang sensitif.


Dan selama beberapa waktu, Anthony mengulangi perbuatannya berkali-kali pada wanita pujaannya. Pria itu memastikan bahwa benihnya telah diterima dengan sempurna oleh wanita itu dan dalam hatinya ia berdoa, agar benih darinya dapat menghasilkan kehidupan lain sehingga membuat wanita di pelukannya itu tidak jadi pergi dari hadapannya.


Menggerakkan pinggulnya dengan sekuat tenaga, Anthony menembakkan isi senjatanya sedalam mungkin ke dalam rahim Dona dan ia pun akhirnya menengadahkan kepalanya tinggi sambil berteriak serak serta penuh dengan kepuasan, untuk yang kesekian kalinya. "Baby...!?"


Ambruk di atas tubuh Dona, Anthony memeluk badan mungil itu erat masih sambil terengah-engah karena percintaan mereka yang luar biasa. Akhirnya ia bisa menuntaskan h*sratnya selama bertahun-tahun ini, pada wanita yang tepat. Wanita pilihannya. "Dona baby... Jangan pergi... Jangan pernah pergi lagi..."


Dan tidak lama, terdengar deru nafas halus dari mulut pria itu. Anthony telah tertidur karena kelelahan. Pria itu sama sekali tidak menyadari kalau wanita di pelukannya sejak tadi memiliki tatapan yang nanar dan kebingungan. Pria itu hanya peduli kalau Dona akan menerima benih kehidupan darinya, bagaimana pun caranya. Ia tidak peduli, meski harus melakukan tindakan hina seperti yang baru dilakukannya tadi.


Setelah memastikan pria di sampingnya terlelap, perlahan Dona bangkit dari posisinya. Sambil berusaha menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya, ia meraih sesuatu dari dalam kantong celana panjangnya.


Tampak sebuah jarum suntik panjang dan dengan sedikit tekanan, keluarlah cairan dari bagian ujungnya yang sangat tajam. Tanpa ada aba-aba, Dona langsung mencapkan jarum panjang itu ke lengan atas Anthony yang t*lanjang dan pria itu sempat terkesiap kaget. Mata gelapnya membuka dan sebelum matanya kembali menutup, ia sempat berkata lirih. "Don... na... Apa... yang kamu lakukan... padaku..."


Melihat pria itu kembali tidak sadar, kedua mata cokelat Dona perlahan mengeluarkan air. Terlihat rautnya penuh dengan kemarahan saat ini. Dan sambil menggigit bibirnya, ia pun mengambil ponselnya yang tadi sempat terlempar. Tampak puluhan miss call dari Michele yang tertera di sana.


Masih menatap Anthony, Dona melemparkan bekas jarum suntik itu asal ke lantai. Dan ia pun akhirnya menghubungi Michele dari ponselnya.


"Michele? Ya. Aku tidak apa-apa. Maafkan aku, tapi aku akan sedikit terlambat. Mungkin sekitar satu jam lagi, aku akan sampai di sana. Kau masih mau menungguku kan?"


Mengamati tubuhnya yang penuh dengan bekas ciuman dari pria itu, Dona menutup kedua matanya erat. Hidungnya dapat menangkap aroma pria itu yang sekarang menyebar ke seluruh permukaan kulitnya.


"Aku benar-benar tidak apa, Miki. Hanya ada sedikit urusan yang tidak terduga. Aku akan menghubungimu kembali kalau sudah hampir sampai ke sana."


Ia akhirnya membuka matanya dan langsung pergi ke kamar mandi. Ia harus membersihkan dirinya dulu sebelum bertemu Michele nanti. "Baik, Michele. Sampai ketemu nanti."


Dan pintu kamar mandi itu pun perlahan menutup.