The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 46 - I love you, but goodbye...



Setelah puas membersihkan dirinya, dengan tertatih Dona masuk kembali ke kamar tidur. Ia sedikit kesulitan menemukan pakaian dalamnya dan memunguti sisa-sisa kemejanya yang telah disobek oleh Anthony. Mengamati kain sifon yang sudah compang-camping di depannya, Dona merasa tidak bisa mengenakan kemejanya lagi. Untungnya pakaian dalam dan celana panjangnya masih aman.


Memandang ke sekeliling kamarnya, dengan muram Dona teringat kalau ia telah mengemasi semua barangnya. Tidak ada yang tersisa lagi di apartemen ini, meski ia sebenarnya masih memiliki sisa uang sewa sampai akhir bulan nanti.


Sambil mend*sah sebal, ia mengamati lagi Anthony yang masih tampak anteng di tempat tidur. Badan besarnya tergeletak begitu saja dan lengan kekarnya terbuka ke samping. Kakinya terlihat meng*ngkang dan area pribadinya hanya tertutupi sedikit oleh selimut tipis.


Masih berpakaian dalam, Dona menghampiri pria yang tidak sadar di depannya. Menatap wajah yang tenang di bawahnya, kemarahan Dona perlahan menyurut. Ia memang sangat marah pada Anthony karena telah memaksakan kehendaknya tapi sebagai wanita, ia juga ternyata menikmatinya tadi.


Menelisik wajah tampan pria itu, tangan Dona terangkat dan dengan perlahan ia mengusap leher jenjang Anthony. Ia pun mendudukkan dirinya di samping Anthony dan membungkuk. Jari-jarinya mengusap bibir merah di balik jenggot itu dan tanpa mampu ditahannya, Dona menciumnya pelan dan semakin lama, ciumannya menjadi semakin dalam dan bern*fsu.


Ketika mengangkat wajahnya, Dona terheran saat memperhatikan rona merah yang ada di kedua tulang pipi Anthony. Cuping hidung pria itu tampak sedikit mengembang dan rautnya jelas menunjukkan adanya h*srat di sana. Pria ini telah ter*ngsang saat ia tidak sadar!


Tersenyum licik, Dona pun akhirnya menduduki perut pria di bawahnya. Kepala Anthony masih meneleng ke samping ketika dengan perlahan, wanita itu mengusapkan kedua telapak tangannya di area depan pria itu. Dan ketika sampai di d*da penuhnya yang sedikit berbulu, tangan Dona pun mer*mas keduanya dan mencubit ujungnya gemas. Tampak yang dilakukan oleh Dona membuat nafas Anthony memberat dan mukanya semakin memerah. Kedua alis pria itu sedikit berkerut.


"Kamu rasakan sekarang, Tony. Bagaimana rasanya tidak berdaya. Aku akan membalas perlakuanmu yang tadi, Anthony Bass!"


Semakin berani, Dona mulai menciumi seluruh tubuh pria itu dan menikmati rasa serta wanginya yang memabukkan. Ia sedikit menghentikan kegiatannya, ketika merasakan aset pria itu yang ada di belakangnya kembali mulai menegang dan mengeras. Pria itu telah siap sekarang.


Dona sedikit mengangkat tubuhnya dan perlahan, ia pun menyatukan dirinya dengan pria itu. Melenguh pelan, Dona menggerakkan pinggulnya. Semakin lama semakin cepat, dan semakin kasar sampai pada akhirnya ia mendapatkan pelepasannya dan juga merasakan benih pria itu yang hangat menyirami rahimnya.


Keduanya mendapatkan kepuasan yang kesekian kalinya, hari ini.


Masih berada di atas Anthony, Dona mengusap bahu kanan pria itu dan sedikit mengernyitkan alisnya ketika melihat bekas luka di sana. Ia pun mengecupnya dan semakin beringsut ke atas pria itu.


Jari-jemari Dona kembali mengusap bibir merah Anthony dan menciumnya mesra. Kali ini, ciuman itu disertai dengan aliran air di pipi Dona ketika ia akhirnya bangkit dari posisinya dan melepaskan pelukannya pada pria itu. Ia pun menutupi tubuh besar Anthony dengan selimut. Sambil memandang pria di tempat tidur, Dona bergumam pelan. Suaranya lirih ketika ia berucap dalam bahasa Jerman.


"Anthony Bass... Selamat tinggal... Aku mencintaimu..."


Selesai mengucapkannya, Dona masuk ke kamar mandi dan tidak lama, ia kembali dengan mengenakan celana panjang kantornya. Ia pun meraup sisa-sisa kemejanya tadi dan langsung keluar dari kamar tidur tanpa memandang lagi pria yang masih tertidur itu.


Dona sama sekali tidak tahu, bahwa pria yang tidak sadar itu sedang meneteskan air mata dalam tidurnya.


Wanita itu sama sekali tidak tahu, kalau obat bius yang diberikan oleh Michele hanya membuat korbannya lumpuh sementara tapi otak dan pikirannya masih sadar. Dona sama sekali tidak tahu kalau yang telah diperbuatnya tadi dirasakan oleh Anthony dengan sangat-sangat sadar. Dan Dona sama sekali tidak tahu, kalau pernyataan cintanya tadi membuat pria itu sangat bahagia sekaligus sangat sedih.


Giovanna Donatella Liebel sama sekali tidak menyadari kalau ia telah membuat Maximus Antonio Berlusconi sangat patah hati saat ini. Pria itu patah hati, karena tahu kalau ia akan kembali kehilangan wanitanya.


Entah sampai kapan takdir akan mempermainkannya seperti ini!


***


Dermaga XYZ, jam 22.00.


Tampak Michele yang sedang berada di atas dek dan melambaikan tangannya pada Giovanna yang sedang mendekati yacht-nya dengan menggunakan speedboat.


Michele membantu Giovanna naik ke kapalnya dan menatapnya dari atas ke bawah, pandangan pria itu terlihat skeptis. "Kau baru berkencan?"


Muka Giovanna memerah seperti tomat dan ia menghindari tatapan menyelidik dari sepupunya. "Tidak. Aku hanya ada sedikit urusan tadi."


Giovanna pun langsung melambai pada pengemudi speedboat-nya tadi yang terlihat meninggalkan lokasi. Ia juga mengangkat kedua kopernya ke dek, yang langsung dibantu oleh kru kapal Michele yang kemudian membawa kedua barang itu ke dalam.


Melihat wanita di depannya, Michele cukup bisa membayangkan apa yang terjadi ketika bekas cumbuan yang masih memerah terlihat sedikit menyembul dari sweater turtle neck Giovanna. Pria gempal itu terkekeh pelan. "Aku harap, kau tidak membuatnya terlalu patah hati, Dona."


Pernyataan itu membuat Giovanna terdiam, tapi ia kemudian menjawab. "Lebih baik ia kehilangan diriku, daripada kehilangan nyawanya, Michele..."


"Aku tidak yakin kalau itu berlaku untuk Anthony Bass, Dona. Setahuku, dia adalah pria paling keras kepala yang pernah kutemui. Apalagi sekarang kau telah menjadi miliknya. Dia akan terus-menerus mengejarmu."


Perkataan itu membuat kedua alis Giovanna berkerut dalam. "Kau tahu kalau namanya Anthony Bass?"


Pria itu menoleh padanya dan mendengus pelan. "Giovanna Donatella Liebel. Kau kira aku tidak tahu siapa saja circle pergaulanmu selama ini? Kau tahu kalau aku harus menyelidiki semuanya, untuk dapat melindungimu dari si Berlusconi itu."


Kepala Giovanna menunduk. "Maafkan aku sudah merepotkanmu selama ini, Michele."


Sedikit menjitak kepala Giovanna, Michele menggerutu pelan. "Apalagi yang kau katakan? Sudah kubilang, anggap saja aku ini kakak lelakimu. Kalau kau mau, anggap aku sebagai pengganti Giovanni untuk melindungimu. Dan berjalanlah dengan benar sekarang, Dona! Cara jalanmu sangat menggangguku tahu!"


Mengusap-usap kepalanya yang sedikit sakit, Giovanna cemberut tapi hatinya sangat hangat. "Jalanku sudah benar. Cuma hanya sedikit sakit."


"Ya. Ya. Aku tahu kalau asetnya memang luar biasa, sampai membuatmu kesulitan berjalan seperti ini. Kau lebih baik beristirahat sekarang. Oh, dan ini surat-suratmu."


Tampak Michele menyerahkan sejumlah dokumen yang diterima Giovanna dengan senang hati, meski mukanya kembali memerah saat ini. Ia sangat malu kalau Michele dengan cepat dapat mengetahui perbuatannya tadi bersama Anthony.


"Aku sudah membuka rekening atas namamu, jadi transaksi keuanganmu nanti akan aman. Aku juga sudah mempersiapkan tempat tinggal untukmu di sana, jadi kau bisa hidup tenang."


"Terima kasih banyak, Michele..."


Kali ini, tangan besar Michele mengusap kepala Giovanna dengan penuh sayang. "Aku harap, ini adalah terakhir kalinya kau melakukannya, Dona. Bukan karena aku merasa direpotkan, tapi karena aku ingin kau bisa hidup dengan normal. Kau tahu itu, bukan?"


Kedua mata cokelat Giovanna berkaca-kaca dan kepalanya menunduk. "Ya... Aku tahu, Miki..."


Menepuk kepala wanita itu pelan, Michele pun mengusirnya halus. "Sekarang tidurlah. Perjalanan kita masih akan panjang. Dan kau pun pasti lelah setelah kegiatan panas tadi."


Mengangguk pelan, Giovanna pun melangkah masuk ke ruangan dalam yacht dan menghilang dari pandangan Michele. Setelah itu, pria itu menarik nafasnya dan memandang ke arah lautan yang sangat luas itu. Sambil mend*sah, ia bergumam pelan.


"Maximus Bass, aku sangat kasihan padamu, kawan. Baru kali ini, aku bertemu dengan pria yang ses*al dirimu. Meski kau memiliki segalanya, tapi kau memang s*al untuk urusan wanita. Dan kali ini maaf, aku sepertinya tidak akan bisa untuk membantumu lagi..."