
"Tuan Berlusconi! Maafkan saya! Tapi Nona Liebel memaksa untuk masuk. Biar saya-"
Berusaha untuk tenang, Maximus mengangkat tangan kirinya. "Kau keluarlah sekarang Raffaele. Biar aku yang bicara dengan Nona Liebel. Dan jangan biarkan seorang pun masuk ke ruangan ini, selama aku masih berbicara dengannya. Kau paham?"
Tampak Raffaele memandang sebal wanita di depannya. Pria itu akhirnya mengangguk dan langsung keluar serta menutup pintunya erat, meninggalkan kedua orang itu di depannya.
Sambil tersenyum, tangan Giovanna melipat di depan d*danya dan kembali Maximus menelan ludahnya kasar. Kemeja katun Giovanna sedikit tertarik, membuat cetakan aset yang ada di baliknya cukup terlihat jelas. Setidaknya jelas bagi otak pria yang memang sedang sedikit korslet itu.
"Ruangan kantormu sangat menyenangkan, Tuan Berlusconi. Sangat luas, sangat besar, sangat mewah, sangat nyaman... Dan sangat..."
Kedua mata Giovanna yang cokelat terang memandang intens mata ungu di depannya, yang jelas terlihat penuh n*fsu menatapnya. Tulang pipi pria itu yang tinggi tanpa jambang, tampak sedikit merona. Wanita itu tersenyum malas dan ia mengeluarkan lidahnya, mengusap bibirnya sendiri. "Dan sangat... hangat..."
Kata-kata itu membuat Maximus mengepalkan kedua tangannya erat di balik meja. Ia tahu kalau Giovanna sedang merayunya saat ini. Entah apa intensi wanita ini padanya. Tapi sedapat mungkin, ia tidak akan terjerat dalam jebakannya. Maximus berusaha untuk melindungi hatinya yang saat ini sudah sangat terluka.
Membuka kacamata bacanya, pria itu melemparkan benda rapuh itu ke atas mejanya. "Apa maumu, Nona Liebel? Terus terang, saya tidak mengerti kenapa Anda sampai berkeras menemui saya seperti ini?"
Masih tersenyum manis, Giovanna mendekati meja Maximus dan mengusapkan jari-jari lentiknya ke atas permukaan meja yang mengkilat itu. Wanita itu akhirnya berhenti tepat di dapannya dan ia menempelkan b*kongnya ke belakang, menyender pada meja.
Melihat intensi agresif dari wanita di depannya, Maximus berusaha untuk berdiri tapi dengan cepat, tangan Giovanna mendorongnya keras dan membuat tubuhnya kembali terhempas di kursinya. Terlihat jakun pria itu yang naik-turun dengan cepat dan kedua tangannya mencengkram erat pegangan kursinya. Mata ungunya tampak nanar dan sedikit panik. "Apa yang kau inginkan, Nona Liebel? Anda telah melecehkan saya kemarin. Apakah Anda berniat melakukannya lagi sekarang pada saya?"
Sebagai jawaban, salah satu tangan Giovanna mengusap d*da pria itu yang keras dan mencubit ujungnya, membuat Maximus mend*sah dan langsung mencengkram pergelangan tangan wanita itu. Kepala pria itu menengadah tinggi ketika melihat sosok wanita di depannya. Tatapan matanya mulai sayu dan penuh n*fsu, yang berusaha untuk ditekannya. "Dona... Please, jangan memancingku sekarang..."
Kepala Giovanna meneleng ke samping dan bibirnya semakin tersenyum manis. "Kalau aku memang mau memancingmu? Kalau aku memang mau melecehkanmu lagi, apa yang akan kamu lakukan, Anthony?"
"Dona... Please... Jangan..."
Tangan Giovanna yang bebas mulai mengusap aset pria itu dan membuatnya membengkak dengan sangat cepat. Nafas Maximus menjadi lebih berat dan pria itu mengerang lirih, saat wanita itu menggenggam asetnya erat dan mulai memberikan stimulasi konstan melalui jari-jarinya. "Hem...? Apa yang akan kamu lakukan, Tony...? Bukannya kamu pernah berkata, kalau aku boleh melakukan apa saja pada tubuhmu? Kenapa kamu sekarang malah mau menolaknya? Di mana komitmenmu sebagai seorang pria, hem...?"
Sebagai tekanan terhadap kata-katanya, Giovanna mer*mas benda di tangannya lebih kencang, membuat Maximus sedikit terlonjak dan tubuh besarnya terasa bergetar. Kepala pria itu menyender di kursinya dan Giovanna dapat melihat pria itu kesulitan untuk menelan ludahnya.
"Sepertinya kamu kesulitan menelan, biar aku membantumu, Tony..." Dengan santai, jari-jari Giovanna melepaskan dasi Maximus dan membuka empat kancing kemejanya, memperlihatkan sebidang d*da yang penuh dan dihiasi oleh bulu-bulu tipis yang berwarna gelap.
Kedua mata Giovanna yang terang perlahan menggelap dan wanita itu menyusupkan kedua tangannya ke balik kemeja Maximus dan mengusap kulit yang sangat dirindukannya ini. Wanita itu maju dan duduk meng*ngkangi pria di depannya yang otomatis, langsung menyangga b*kong wanita itu dengan kedua tangan besarnya. Mencegahnya untuk jatuh ke belakang. "Dona... Hentikan... Please..."
"Sstt... Diamlah, Anthony... Biarkan aku melayanimu, hem...?"
Dengan penuh kerinduan, Giovanna menjilati kulit leher pria itu dan menciumi permukaan d*danya. Betapa rindunya ia dengan wangi pria ini. Setiap malam, ia selalu merindukan sentuhannya dan kali ini, Giovanna dapat langsung merasakannya. Mulutnya bergerak rakus di permukaan wajah Maximus yang terasa pasrah di bawahnya dan ketika akhirnya bibir mereka bertemu, keduanya dengan buas saling mencium dan mel*mat isi mulut masing-masing. Tampak kerinduan yang sangat besar di antara mereka.
Menopang tubuh Giovanna, Maximus meletakkan tubuh wanita itu ke atas permukaan meja dan mulai merobek pakaian wanita itu dengan kasar. Ia juga menurunkan rok kerja wanitanya dan juga pakaian dalamnya dan tidak lama, tubuh keduanya pun menyatu dalam pusaran yang kuat.
Pinggul Maximus memompa dengan cepat dan semakin cepat. Ia benar-benar sangat di luar kontrol karena kerinduan dan rasa cintanya yang sangat besar, membuat pria itu sangat ingin membenamkan diri sedalam-dalamnya di tubuh wanita yang dicintainya ini. Kedua tangan dan mulutnya pun aktif bekerja di atas, dan beberapa kali berhasil membuat Giovanna menjerit dalam kenikmatan.
Masih belum puas, pria itu menggendong tubuh wanitanya dan mereka melanjutkannya lagi di sofa. Meletakkan posisi Giovanna untuk menungganginya, kedua orang yang sedang penuh n*fsu itu kembali bergerak dengan liar dan semakin liar. Dan kali ini, Giovanna-lah yang dengan buas menciumi wajah pria di bawahnya dan menggigiti telinganya dengan agresif, membuat Maximus menggeram rendah.
Entah berapa lama kegiatan itu berlangsung, sampai akhirnya kepala Maximus mendongak sangat tinggi dan ia meluncurkan isi senjatanya dengan penuh kepuasan ke dalam rahim wanitanya sebanyak mungkin. Beberapa kali ia menembaknya sampai pada akhirnya pria itu menggeram panjang dan tubuhnya melemas.
Selama beberapa saat, keduanya masih memeluk dengan sangat erat. Tampak Maximus membenamkan kepalanya di leher Giovanna dan ia berkata dengan pelan. "Dona baby... please... jangan tinggalkan aku lagi, baby... Kamu tidak akan meninggalkan aku lagi kan...?"
Mendengar itu, Giovanna mengeratkan pelukannya pada pria di depannya ini. "Katakan alasannya kenapa, Tony? Kenapa aku tidak boleh meninggalkanmu lagi?"
Terdengar isakan pelan dari pria di pelukannya dan membuat mata Giovanna mengerjap cepat. Ia tidak menyangka kalau pria ini akan menangis seperti ini "Baby... aku sangat mencintaimu... Kalau kamu kembali meninggalkan aku, maka lebih baik kamu memb*nuhku saja, Dona... Aku tidak akan bisa bertahan kalau kamu pergi lagi..."
Menutup kedua matanya, Giovanna mengusap lembut kepala pria yang menunduk itu. Tubuh pria itu terasa bergetar pelan dalam pelukannya. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Tony. Aku berjanji."
Jawaban itu membuat Maximus merasa lega, tapi ia baru akan sangat lega kalau ada sesuatu yang telah mengikat mereka. "Kalau begitu, menikahlah denganku, Dona. Sekarang juga. Atau paling tidak, punyalah anak dariku, sehingga ada sesuatu yang akan selalu mengikat kita berdua, baby... Kamu mau kan?"
Perkataan Maximus yang sangat ngaco membuat Giovanna tertawa keras dan ia pun sedikit melepaskan pelukannya. Kedua tangan wanita itu memegang sisi kepala Maximus dan ia mengecup bibir merah itu cepat. "Tony, kamu memang pria yang gila. Pria gila yang sangat aku cintai. Tentu saja aku bersedia untuk menikah denganmu. Dan tanpa kamu memintanya pun, aku sudah memberikan keinginanmu itu. Hari ini tujuan aku datang adalah untuk membicarakan mengenai hal itu."
Tampak Maximus menatap Giovanna dengan pandangan tidak mengerti. Ia membiarkan jari-jari wanita itu yang mengusap-usap rambutnya pelan. "Memangnya, kamu mau membicarakan apa, Dona?"
Giovanna terlihat menarik nafasnya dalam sebelum berkata. "Maximus Antonio Berlusconi. Hari ini aku datang untuk meminta pertanggungjawabanmu. Kamu harus bertanggungjawab, karena hasil perbuatanmu malam itu telah membuatku melahirkan seorang putera untukmu. Kamu paham?"
Mata ungu Maximus membelalak lebar dan pelukannya mengerat. "A- Apa yang kamu bilang, baby...?"
Tangan Giovanna yang masih berada di kepala Maximus sedikit menarik rambut pria itu dengan kencang. "Aku bilang, kamu telah punya anak dariku, Maximus! Dan kamu harus bertanggungjawab padaku!"