The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 17 - Memory



Kembali ke pesta, kedua mata ungu Maximus tampak tersenyum ketika seorang pria memanggilnya dari kerumunan kecil yang ada di sana. "Maximus!"


Pria yang memanggilnya berambut hitam dan memiliki paras yang tampan. Kedua matanya berwarna cokelat gelap dan bibirnya menyunggingkan senyum ramah. Saat sudah berada di depan pria itu, Maximus berjabat tangan erat dan keduanya berpelukan ala lelaki.


"Giovanni Liebel! Aku tidak menyangka kau akan datang ke pesta seperti ini!"


Keduanya langsung berbahasa Jerman, yang merupakan bahasa ayah dari pria yang bernama Giovanni.


Giovanni terkekeh riang. Kedua matanya bersinar, membuat Maximus curiga.


"Kau mengajak seorang wanita ke sini?"


Sambil menenggak champagne-nya, kepala Giovanni mengangguk pelan. "Ya. Aku mengajak adikku."


Mendengar itu, Maximus hanya menggeleng. Pria itu pun meraih gelas champagne dari salah satu pelayan dan langsung menenggaknya. "Kau memang unik, Gio. Para pria biasanya akan mengajak teman kencannya ke pesta semacam ini, tapi kau malah mengajak adikmu."


Giovanni malah semakin tertawa lebar. "Kau tahu sendiri, kalau aku tidak bisa lepas dari Elena, Maximus. Adanya adikku membuat pikiranku dapat tetap waras dalam situasi yang liar."


Kedua alis Maximus terangkat malas. "Kau benar-benar kakak kurang ajar yang berani memanfaatkan adiknya. Seharusnya kau membiarkan adikmu bebas, dan bukannya mengekangnya seperti ini."


Terdengar dengusan pelan dari pria di sebelahnya. "Dia itu masih terlalu kecil, Maximus. Aku tidak akan membiarkannya untuk jatuh ke tangan sembarang orang."


Kedua mata cokelat Giovanni memandang Maximus dengan lebih sinis. "Salah satunya adalah pria seperti kau ini. Seorang hidung belang, yang memacari wanita hanya untuk memberikan service padanya."


Kata-kata itu bukannya membuat Maximus tersinggung. Pria itu malah tertawa terpingkal-pingkal, membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh karena sedikit terganggu. Kedua mata ungu pria itu menyipit saat memandang temannya kembali. "Kau seharusnya bersyukur, Gio. Karena itu berarti kalau adikmu akan menjadi wanita istimewa yang mendapatkan keperjakaanku nantinya."


Kembali kepala Giovanni menggeleng-geleng. "Kau itu gila! Aku tidak habis fikir, bagaimana bisa kau selalu melakukan hal itu, Max. Kau benar-benar melakukannya seperti itu selama hidupmu?"


Pertanyaan itu akhirnya membuat Maximus sedikit terdiam. Tampangnya serius saat ia meminum kembali champagne-nya. "Ya. Dan aku menikmatinya."


"Apa kau tidak ingin mencobanya dengan seseorang? Bukannya kau telah bertunangan sekarang?"


Maximus terkekeh pelan. "Apa kau kira aku mau menyentuh seorang wanita yang bekas pakai orang lain?"


Kedua alis Giovanni berkerut dalam. "Apa maksudmu dengan 'bekas'? Bukannya Nicolette-"


Perkataan Giovanni terhenti ketika Maximus mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya, membuat mata pria itu melotot dan hampir keluar. Dengan cepat, ia menoleh pada pria di sampingnya. "Kau yakin? Apakah kau benar-benar yakin mengenai hal ini?"


Alis Maximus yang melengkung sempurna terangkat naik ke atas, menandakan jawabannya.


Mata Giovanni mengerjap cepat. "Kalau begitu, kenapa kau bersedia untuk bertunangan dengannya?"


"Bisnis." Sambil tersenyum miring, Maximus meletakkan gelas kosongnya di nampan salah satu pelayan.


Melihat Maximus membalikkan badan menjauhinya, Giovanni berseru. "Kau mau kemana?"


Tangan Maximus hanya melambai malas sambil tetap berjalan. Pria itu menjawab tanpa membalikkan badannya. "Panggilan alam."


Setelah puas telah mengeluarkan beban alaminya, bukannya masuk ke dalam kerumunan pesta, Maximus malah melangkah keluar menuju balkon di lantai dua tersebut. Udara malam yang dingin menyambutnya, membuatnya merasa tenang dan nyaman.


Mengingat pembicaraannya dengan Giovanni tadi, Maximus tersenyum ironis. Untungnya pria itu cepat tersadar dari keb*dohannya. Tadinya ia berharap cukup banyak dari pertunangannya dengan Nicolette tapi nyatanya, wanita itu ternyata sama saja dengan wanita lain yang ada di lingkarannya. Tidak banyak yang tahu, tapi Nicolette telah menjadi para pemuas para rekan bisnisnya jauh sebelum berkenalan dengannya. Dan itu dilakukannya hanya demi mempelancar transaksi bisnis keluarga Cesare.


Untungnya, Maximus memiliki nama belakang lain yang membuat banyak pihak tidak mengetahui latar belakangnya sebagai seorang Berlusconi. Dan sangat suatu kebetulan, saat ia sedang membicarakan kemungkinan kerja sama dengan salah satu anak perusahaan Cesare, perwakilan mereka menawarkan 'pelicin' yang ternyata melibatkan Nicolette yang saat itu sudah menjadi tunangannya.


Setelah itu, Maximus langsung mengajak Nicolette bertemu secara pribadi. Baru kali inilah pria itu mengajak tunangannya bertemu di salah satu kamar hotel CBG. Biasanya ia akan mengajak wanita itu ke restoran kelas atas dan mereka akan makan malam, serta mengobrol dengan penuh tata krama. Meski semakin menyadari kalau kecerdasan wanita itu terbatas yang terselubungi dengan fisiknya yang sangat sempurna, namun Maximus berusaha untuk menerima bahwa wanita itu tunangannya dan mencoba bersikap baik padanya.


Namun informasi baru itu, membuat pandangan Maximus berubah jauh. Ia tidak marah, hanya kecewa. Ia sekarang melihat Nicolette sebagai wanita murahan dan sebagai tunangannya, sudah seharusnya ia mendapatkan service lebih. Terutama karena ia juga sudah berinvestasi banyak untuk bisnis bersama Cesare.


Nicolette datang ke kamar hotel dengan pakaian yang sangat berkelas. Wanita itu terlihat sangat cantik dan seksi dalam cara yang anggun. Tipikal kalangan wanita kelas atas


"Max." Entah mengapa Nicolette selalu kesulitan menyebut nama lengkapnya, tapi hal ini tidak menjadi masalah. Yang dibutuhkan pria itu hanya service wanita itu melalui mulutnya dan bukan kecerdasan otaknya.


"Nicolette." Setelah menenggak habis whiskey-nya, Maximus berjalan mendekati tunangannya yang cantik. Kedua tangan lelaki itu di kantong celananya dan senyumnya tampak samar di bibirnya yang merah.


Kedua mata Nicolette berbinar cerah. Jelas, wanita itu tampak gembira ketika Maximus akhirnya mau untuk lebih berdekatan secara fisik padanya, setelah dua bulan ini mereka resmi bertunangan. Selama ini, Maximus sangat sopan padanya. Pria itu tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Jantungnya berdegup lebih kencang, mengantisipasi hal yang akan dilakukan oleh pria itu.


Setelah berjarak sekitar selengan, akhirnya Maximus menghentikan langkahnya. Senyum miring timbul di bibirnya, dan kedua mata ungunya tidak berekspresi.


Tampak Maximus menelengkan kepalanya dan mengamati dengan lekat wanita di depannya ini. "Nicolette, aku sudah tahu apa yang telah kau lakukan di belakangku selama ini. Demi hubungan baik bisnis yang telah terjalin selama ini dengan keluarga Berlusconi, apa yang akan kau lakukan sebagai perwakilan Cesare?"


Kata-kata itu membuat wajah cantik Nicolette memucat dengan cepat. Meski tidak tahu secara pasti maksud dari pria itu, tapi yang jelas ancamannya nyata dan Nicolette tahu kalau Maximus mengetahui mengenai skandal keluarganya selama ini. Kedua mata indahnya mengerjap cepat dan bibirnya bergetar. "Max..."


Kepala pria itu semakin terdongak angkuh, dan ia berkata dingin. "Jika kau tidak mau hal ini terbongkar dan menjadi aib dua keluarga, yang aku yakin kalau kau pun tahu apa yang akan terjadi jika Alessandro atau Amadeo mengetahuinya... Segeralah berlutut. Sekarang!"


Dua nama itu membuat Nicolette semakin gemetar. Meski hal yang dilakukannya untuk keluarga, tapi tidak akan ada yang mau melindunginya kalau hal ini sudah melibatkan duo-mafioso. Kedua lututnya terasa lemas seperti jelly, ketika ia akhirnya berlutut di depan pria itu. Kedua matanya tepat berhadapan dengan resliting celana Maximus yang saat ini mulai tampak menggembung.


"Buka..."


Suara pria itu terdengar sangat serak dan berat saat ini. Kemarahan adalah salah satu faktor yang dapat membuat h*sratnya meroket dengan sangat cepat. Tapi ketersinggungan karena dipermalukan, baru kali ini Maximus merasakannya. Sebagai bagian dari Berlusconi, ia merasa telah dilempar oleh lumpur di mukanya. Meski sebagai seorang pria, rasa kecewanya lebih besar dibanding rasa marahnya.


Menurut, jari-jari lentik Nicolette mulai menurunkan resliting celana pria itu. Ia juga membuka sabuk ikat pinggangnya dan hati-hati, menurunkan pakaian dalamnya. Apa yang ada di hadapan Nicolette membuat wanita itu menahan nafas dan menelan ludahnya. Mendongak menatap Maximus, wanita itu sepertinya tidak akan merasa menyesal telah diperlakukan seperti p*lacur saat ini. Aset pria itu sangat luar biasa.


Tangan Maximus yang saat ini berada dalam kantong celananya terkepal erat. Ekspresi wanita di bawahnya semakin membuatnya merasa marah. Ia tidak menyangka kalau tunangannya ternyata adalah wanita serendah itu. Hal ini membuat rasa hormatnya pada Nicolette semakin berada di titik negatif.


"Mulai detik ini kau harus ingat, Nicolette. Aku tidak suka disentuh. Kau hanya boleh menyentuhku, saat aku menginginkannya. Dan hal itu tidak lebih dari memberikan kenikmatan melalui mulut indahmu. Jika kau ingin memprotes caraku, maka kau boleh mencari kepuasan di tempat lain. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menyentuh tubuhmu. Kau mengerti?"


Ultimatum yang diucapkan dengan dingin itu membuat bola mata Nicolette membelalak lebar. Ia tidak menyangka kalau Maximus akan mengambil tindakan seekstrim itu untuk menghukumnya. "Max..."


"Buka mulutmu. Sekarang!"


Tanpa memberikan kesempatan pada Nicolette untuk berbicara lagi, Maximus langsung mendorong asetnya kencang dan menghentakkan tubuhnya sangat kasar. Ia akan menghukum wanita itu, dan akan terus menghukumnya sampai wanita itu tidak tahan sendiri. Pria itu tidak akan pernah memutuskan pertunangan mereka. Ia akan terus menyiksa wanita itu, sampai mereka sendirilah yang memutuskannya atau ada skandal yang membuat nama baik Cesare menjadi buruk.


Tidak ada yang bisa menghina keluarga Berlusconi tanpa mendapatkan hukumannya.


Lamuan pria itu terputus saat terdengar suara merdu berbahasa Jerman dari belakangnya.


"Maaf... Apakah saya boleh meminta permen Anda?"