The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 81 - Her forgiveness



Setelah mengundurkan diri dari para tamu, akhirnya Giuseppe dan Giovanna memutuskan untuk berbicara dalam salah satu ruangan meeting yang ada di lantai itu. Tampak Giovanna duduk dengan anggun menghadap pria tua yang tetap duduk di kursi rodanya itu. Keduanya saling menatap dalam.


Giuseppe akhirnya memutuskan untuk bicara pertama kali, setelah keduanya terdiam selama beberapa saat yang sedikit terasa tegang. Pria tua itu berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris yang terdengar canggung. "Giovanna Liebel... Benarkah kau Giovanna Liebel, adik dari Giovanni Liebel?"


Giovanna pun tersenyum. Ia sudah menduga pertanyaan itu. "Benar. Saya adalah adik kandung dari Giovanni Domenico Liebel. CEO dari Liebel Corp. sebelum akhirnya... Akhirnya dia meninggal..."


Meski telah mempersiapkan dirinya namun tetap saja mengungkapkan kematian kakak lelakinya ternyata masih menimbulkan kesedihan mendalam di diri Giovanna, membuatnya sedikit tercekat saat berbicara. Ia mengepalkan kedua tangannya erat, ketika mengingat janjinya pada dirinya sendiri, Michele dan juga Maximus yang kini telah menjadi suaminya.


Tahu kalau topik ini sensitif, Giuseppe menundukkan kepalanya dan kedua alisnya berkerut dalam. Tampak ia menarik nafasnya sebelum mulai berbicara lagi. "Saya tahu, kalau saya tidak dalam kapasitas untuk membicarakan hal ini terutama karena apa yang telah dilakukan oleh putera tertua saya, Amadeo Berlusconi pada keluargamu. Tapi saya harap, kau mau sedikit mendengarkan cerita saya sebelum saya menyerahkan semua keputusannya padamu. Apakah kau bersedia?"


Kepala Giovanna mengangguk dan ia menjawab pelan dengan bahasa Italia. "Ya. Tentu saja. Hal ini karena saya juga telah berjanji pada suami saya sebelumnya, dan Anda adalah ayah dari Maximus sendiri."


Mendengar jawaban Giovanna, muka Giuseppe berubah sedikit cerah. "Terima kasih..."


"Saya hanya ingin menegaskan kalau Maximus suamimu, sama sekali tidak terlibat dengan peristiwa penembakan keluarga Liebel. Ia bahkan tidak ada urusan sama sekali dengan bisnis Berlusconi selama ini karena kalau kau tahu, anak itu sudah memiliki bisnis sendiri di Amerika."


Kembali kepala Giovanna mengangguk, tapi ia belum berkomentar apapun yang membuat Giuseppe memutuskan untuk melanjutkan dulu ceritanya.


"Saya ingin meminta maaf, atas perbuatan Amadeo terhadap seluruh keluargamu. Saya tahu kalau perbuatannya sama sekali tidak termaafkan. Bahkan meski ia telah tidak ada di dunia ini pun, saya yahin kalau perbuatannya akan tetap mendapatkan hukuman di alam sana."


Mata GIuseppe berkaca-kaca saat ini. "Alasan Amadeo melakukan itu, saya yakin karena dia hanya ingin menunjukkan eksistensinya pada saya. Seumur hidupnya, ia dibesarkan dengan cara yang kaku dan keras. Jiwa kompetitifnya sangat besar. Hanya pada Alessandro dia mau mengalah. Bahkan pada Maximus sendiri, Amadeo tidak mau terlihat lemah. Dan saya tahu, ia telah melakukan beberapa hal yang membahayakan nyawa adiknya itu sejak Maximus kecil hingga ia dewasa..."


Kata-kata Giuseppe mengagetkan Giovanna. "Membahayakan Maximus? Maksud Anda, Amadeo pernah mau mencelakai Maximus sejak ia kecil?"


Tampak Giuseppe mengangguk. "Saya sudah menyadari kebencian Amadeo pada Maximus, terutama karena perbedaan fisik mereka yang cukup mencolok. Tanpa harus berusaha terlalu keras, Maximus dapat menarik orang-orang di sekitarnya. Hal ini karena ia ramah dan supel, selain karena penampilannya yang memang berbeda dibanding para saudaranya, yang membuatnya dapat terlihat lebih menonjol."


Mengenang peristiwa itu, Giuseppe menggigit bibir bawahnya. Tampak kejadian itu sangat membekas di hatinya. "Tidak ada orang tua yang mau memisahkan anaknya sendiri, apalagi sampai mencoretnya dari surat warisan. Tapi saya harus melakukannya. Usia anak itu baru 15 tahun ketika saya memintanya untuk keluar dari rumah dan menitipkannya pada bawahan saya untuk menjaganya. Dan saya pun baru berani memanggilnya kembali ketika anak itu sudah bisa berdiri di kakinya sendiri dan menjaga dirinya."


"Pertama kalinya Maximus memasuki rumah keluarga Berlusconi kembali, saya tidak melihat indikasi apapun yang membahayakan. Tapi ternyata perasaan Amadeo masih belum berubah. Ia masih iri pada adiknya, membuat Maximus pun tidak bisa menunjukkan kemampuannya secara maksimal dalam perusahaan. Dan peristiwa sekitar 9 tahun yang lalu semakin menyadarkan saya, kalau Amadeo dan Maximus memang tidak bisa berada dalam satu circle yang sama. Mereka akan selalu saling bertentangan."


Menelan ludahnya, Giovanna kembali bertanya. "Peristiwa 9 tahun yang lalu? Apa yang terjadi?"


"Anak itu terjatuh dari kudanya ketika bermain polo, membuat tulang bahu kirinya sedikit bergeser dan juga retak karena injakan kuda jagoannya. Maximus tidak tahu, kalau sebenarnya saya melihat sendiri Amadeo melakukan sesuatu pada kudanya. Itu adalah pertama kalinya saya murka pada Amadeo, yang ternyata membuatnya semakin bertambah benci pada adiknya itu."


Kali ini, terlihat lelehan air dari sudut mata Giuseppe. "Meski memang tidak ada yang tahu nasib seseorang, tapi takdir kembali membawa mereka untuk saling bergesekan. Dan kali ini melibatkan keluargamu, keluarga Liebel dan menyebabkan kematian mereka."


Bahu tua Giuseppe sedikit bergetar ketika ia menatap Giovanna. "Giovanna Donatella Liebel. Saya memang tidak tahu alasan yang jelas mengapa Amadeo sampai mengambil tindakan ekstrim pada keluargamu. Yang bisa saya katakan adalah kalau itu kemungkinan berhubungan dengan Maximus, meski anak itu bisa saja tidak menyadarinya. Saya hanya bisa memohon ampunanmu. Karena keluarga Berlusconi, keluargamu yang sama sekali tidak bersalah menjadi hancur..."


Pria tua itu semakin menunduk dan mulai tersedu. "Kau mungkin mendengar berita kalau kami keluarga yang kejam dan sadis... Meski memang benar, tapi tidak pernah sekalipun aku mengizinkan anak-anakku untuk menyakiti seseorang, kecuali mereka memang pantas mendapatkannya... Kejadian dengan keluarga Liebel benar-benar di luar bayanganku, kalau Amadeo akan sanggup melakukan hal seperti itu..."


"Bertahun-tahun saya mencarimu, untuk meminta maaf... Hari ini, tolong maafkanlah kesalahan dari anakku Amadeo Berlusconi. Tolong ampuni dia... Dan tolong jangan membenci suamimu karena hal ini, karena Maximus sama sekali tidak terlibat dengan apa yang dilakukan oleh Amadeo... Kalau kau mencari orang yang bertanggung jawab, maka hukum saja aku... Aku ayahnya... Akulah yang tidak bisa mendidiknya dengan baik... Hukum aku saja, Giovanna..."


Mendengar hal itu dan melihat sendiri kesedihan dari orang tua di depannya, hanya bisa membuat Giovanna tertegun dalam duduknya. Kedua matanya mengeluarkan air yang mengaliri pipinya. Perlahan, tangannya terulur dan menggenggam kedua tangan tua Giuseppe.


"Tuan Berlusconi. Saya sudah memaafkan Amadeo. Saya sudah menerima kejadian ini dengan lebih lapang. Saya tidak mau ada dendam lagi, karena saya mencintai anak Anda. Dan kalau Anda ingin tahu kenapa saya bisa melakukannya, hal ini adalah karena Maximus sendiri. Saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan keadilan bagi keluarga saya, tanpa dirinya. Dan saya telah mendapatkannya saat ini. Karena itu, saya tidak akan meminta yang lain lagi kecuali kebahagian kami nanti..."


Perkataan Giovanna membuat Giuseppe semakin menangis tersedu-sedu. Akhirnya Tuhan memberikan jalan ampunan padanya dan keluarganya. Dan jalan itu adalah melalui anaknya sendiri. Perbuatan dosa yang telah diperbuat oleh anak tertuanya, akhirnya dapat diperbaiki melalui anak bungsunya.