
Acara pernikahan antara Maximus Antonio Berlusconi dan Giovanna Donatella Liebel sore itu berlangsung dengan lancar. Setelah mengucapkan sumpah, keduanya saling bertukar cincin yang entah kapan telah disiapkan oleh Maximus. Ketika membuka cadar sederhana dari wajah wanita yang telah menjadi isterinya, kedua mata ungu Maximus berkaca-kaca dan ia tersenyum. Salah satu tangannya mengusap pelan pipi Giovanna dan mencium bibirnya lama, juga sangat lembut.
Betapa pria itu sangat bahagia saat ini. Akhirnya setelah penantian bertahun-tahun, ia dapat memiliki wanita ini. Setelah perjuangannya selama ini, hasil yang diperolehnya sangatlah sepadan dengan pengorbanannya.
Setelah itu, keduanya pun langsung menandatangani beberapa dokumen yang telah dipersiapkan oleh pengacara mereka. Dan sejak hari ini, anak mereka telah memiliki nama belakang Berlusconi secara resmi.
Meski pernikahan keduanya sangat sederhana dan hanya dilangsungkan di dalam ruangan kantor Maximus, tapi keduanya terlihat sangatlah bahagia. Acara ini pun hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat mereka, membuat suasana terasa lebih akrab. Selesai prosesi, para tamu undangan yang jumlahnya cuma beberapa orang pun langsung menuju ruang depan untuk santap sore.
"Maximus, selamat atas pernikahanmu. Meski awalnya aku tidak menyetujuinya, tapi tampaknya kau memang hanya mau bertekuk lutut di depan isterimu saja. Aku salut pada wanita itu!"
Komentar dari Alessandro membuat Maximus terkekeh. Keduanya saling mendentingkan gelas champagne mereka dan menyesapnya pelan. "Terima kasih, Alessandro. Aku senang kau bisa datang hari ini."
Kedua alis Alessandro terlihat berkerut dalam dan pria itu mengusap keningnya pelan. "Jangan ingatkan aku lagi, Max! Karena dirimu, aku harus merayu Isabelle sepanjang perjalanan! Dan itu tidak mudah tahu!"
Tersenyum jahil, kedua alis Maximus terangkat tinggi. "Apakah dia sudah membuatmu kelelahan selama di pesawat, brother...? Aku tidak menyangka, kalau kakakku ternyata seorang pria yang lemah..."
Hinaan itu membuat muka Alessandro memerah dengan cepat. Tampak jelas pria itu merasa marah dan sangat terhina, karena telah diragukan keperkasaannya. Dan baru kali ini Alessandro benar-benar tersulut emosinya karena perkataan adiknya, membuatnya nyaris berteriak. "Asal kau tahu, Maximus! Aku sudah membuat Isabelle menjerit berkali-kali di dalam pesawat! Aku juga sudah membuatnya mengalami kepuasaan yang sangat luar biasa selama hampir 12 jam kami di udara! Jadi kau- hmmph..!"
Hampir saja Alessandro terjungkal karena mulutnya tiba-tiba telah dibekap oleh Isabelle yang berdiri di belakangnya. Tampak wajah cantik wanita itu yang memerah sampai ke lehernya. Suara isterinya terdengar mendesis marah di telinga suaminya. "Apa yang kamu lakukan, Alex! Kamu mempermalukanku!"
Tangan Alessandro melepas bekapan isterinya. Pria itu terlihat sangat cemberut tapi akhirnya memilih untuk diam. Ia sama sekali tidak mau bertengkar dengan isterinya, karena tahu tidak akan memenangkannya. Hanya terdengar gerutuan pelan dari mulut tipisnya. "Dia duluan yang mulai, sayang. Aku hanya memberi tahu kenyataan yang sebenarnya terjadi!"
Dengan mulut yang terkatup rapat, Isabelle mencubit pinggang Alessandro dan membuat pria itu spontan menjerit nyaring. Beberapa kepala menoleh pada keduanya, dan akhirnya mendengus pelan. Semuanya kembali pada kesibukan masing-masing karena sudah terbiasa dengan percekcokan di antara suami-isteri yang sebenarnya sudah mulai karatan itu.
Masih mengerang kesakitan, Alessandro mengusap-usap pinggangnya yang sudah pasti memerah saat ini. "Sayang...! Kenapa kamu ini suka sekali mencubitku...?"
Kepala Isabelle menggeleng pelan. "Aku sama sekali tidak mengerti dengan kalian berdua. Kalian ini punya karakter yang sangat berbeda tapi entah kenapa, kelakuan kalian ini sangat mirip dan membuat orang lain menjadi sangat jengkel. Aku juga yakin Maximus, kalau isterimu pun sudah cukup sering mengeluh dengan kelakuanmu selama ini?"
Pertanyaan itu hanya dijawab Maximus dengan menelengkan kepalanya malas. "Dia cukup sering mengeluh, tapi aku lebih pintar dari Alessandro dalam merayu wanita, Isabelle. Mungkin suamimu ini harus banyak belajar dariku dulu agar dia bisa meredakan kemarahanmu nanti."
Isabelle memutar matanya kesal mendengar jawaban arogan Maximus. Kepalanya menoleh pada suaminya dan mengecup pipinya. "Alex, menurutku lebih baik kita langsung pulang ke rumah utama sekarang. Alana tampaknya sudah cukup kelelahan dalam pesawat dan dia mulai sedikit rewel. Kasihan papa yang dari tadi memangkunya. Bagaimana?"
Tatapan Alessandro menyapu ruangan dan berhenti pada Giuseppe yang duduk sedikit di pojokan. Tampak pria tua itu memangku cucu perempuannya dan mengusap-usapnya dengan penuh kasih. Bayi yang baru berusia lima bulan itu saat ini masih terlihat tenang, tapi siapa yang tahu apa yang ada di otak seorang bayi?
Alessandro berpaling pada adiknya. "Maximus, aku dan Isabelle akan pulang sekarang. Kau dan isterimu datanglah ke rumah utama. Aku yakin, papa pasti akan mau menerimanya dengan tangan terbuka."
Mendengar kata-kata itu, Maximus tersenyum penuh terima kasih dan ia memeluk kakaknya dengan sangat erat. "Terima kasih, Alessandro. Aku dan Gia pasti akan datang nanti, sebelum kalian pulang ke Amerika."
Menepuk punggung Maximus, Alessandro mengurai pelukan mereka dan balas tersenyum. "Kau jangan khawatir. Aku dan Isabelle memutuskan untuk merayakan tahun baru di Italia. Sudah lama kami tidak pergi ke sini saat perayaan pergantian tahun. Kau datanglah ke rumah saat situasi sudah lebih memungkinkan."
Kembali Maximus memeluk Alessandro dengan cepat. "Aku akan memikirkannya. Thank you, brother."
Pasangan itu pun langsung menghampiri Giuseppe dan Alessandro memangku anaknya dengan hati-hati. Tampak ketiganya bercakap-cakap sebentar sebelum akhirnya Alessandro mengangguk singkat. Pria itu dan isterinya pun akhirnya pamit pada beberapa orang dan langsung meninggalkan ruangan Maximus.
Giovanna yang sedang memangku Gabriele menghampiri Maximus dan memandang kepergian para iparnya. "Tampaknya kakakmu cukup menyenangkan, Max. Aku tadinya membayangkan duo-mafioso sebagai orang yang mengerikan."
Terdengar dengusan dari hidung Maximus, dan pria itu langsung mengambil Gabriele yang ada di pangkuan isterinya. "Kamu bisa bilang begitu karena baru melihatnya sekarang, Gia. Dulu Alessandro seperti patung, sama sekali tidak terlihat ada emosi dalam dirinya. Sepertinya isterinya berhasil sedikit merubahnya. Di CBG, dia mungkin tidak seekstrim Amadeo dalam bertindak, tapi dia jauh lebih agresif dalam berbisnis. Otaknya juga sangat tajam, dan dia bisa menghancurkan sebuah perusahaan besar hanya dalam hitungan minggu."
Kedua alis Giovanna terangkat sangat tinggi. "Oh? Dia melakukan itu? Ternyata, dia memang pantas diberi julukan salah satu dari duo-mafioso."
"Yep. Julukan itu memang pantas diberikan pada mereka berdua. Amadeo akan menghancurkan seseorang dengan menggunakan kekerasan dan bahkan tindakan yang lebih ekstrim, yang sebenarnya sama sekali tidak disetujui papa. Dan Alessandro akan menghancurkan melalui bisnisnya. Entah siapa yang lebih kejam di sini. Karena meski metode keduanya berbeda, tapi bisa dikatakan mereka melakukan hal yang sama. Dari dulu, aku sama sekali tidak setuju dengan tindakan mereka."
"Hem. Aku hanya bisa bilang, kalau aku bersyukur menikahi dirimu Tony, dan bukan salah satu dari mereka."
Tersenyum, Maximus mengecup bibir isterinya dengan penuh sayang. "Terima kasih, Dona baby."
Saat ini, pengantin baru itu saling tersenyum. Dan suasana itu sedikit terganggu dengan deheman pelan dari seseorang. "Hmm... Maaf kalau aku menggangu kalian."
Suami-isteri yang baru melontarkan sumpah beberapa waktu lalu menoleh pada pria tua yang saat ini sedang memandang mereka berdua. Terlihat Giuseppe sedikit gugup tapi akhirnya kalimat itu pun terlontar dari bibirnya. "Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada kalian berdua. Dan jika kau tidak keberatan, aku juga sebenarnya ingin berbicara sebentar dengan isterimu, Maximus."
Permintaan itu membuat Giovanna tersenyum dan ia mendongak menatap suaminya. "Kamu keberatan?"
Tampak Maximus menggeleng pelan dan mengusap pipi isterinya. "Tidak akan pernah, baby. Selama kamu yang memang mau melakukannya."
Akhirnya Giovanna berpaling lagi pada Giuseppe dan setelah menarik nafasnya dalam, wanita itu berkata lirih. "Saya juga sebenarnya ingin bicara dengan Anda, Tuan Berlusconi. Dan saya rasa, memang sekarang adalah saat yang tepat."