
Dona baru saja membuka pintu apartemennya, ketika pintu di sebelahnya pun terbuka. Tampak Anthony mengenakan jaket dan menutup kepalanya yang bertopi dengan hoody-nya. Tersampir tas ransel di bahu kanannya. Lagi-lagi, pria itu tampak belum menyadari kehadirannya ketika ia berjalan melewatinya begitu saja tanpa menyapanya seperti biasa.
"Anthony?"
Sapaan itu membuat Anthony berhenti dan menoleh bingung. "Dona?"
Raut Dona tampak khawatir saat ini dan ia mendekati pria itu sampai berhenti tepat di depannya. "Tony? Kamu baik-baik saja?"
Tinggi pria yang di depannya ini sangat menjulang, membuat Dona harus mendongakkan kepalanya tinggi. Sebagian kesadarannya seperti merasa pernah mengalami keadaan seperti ini. Entah kapan.
Pertanyaan Dona membuat raut Anthony berubah cerah dan ia menepuk kepala wanita itu pelan. "Ya. Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
Mengamati kedua mata Anthony yang gelap, Dona cukup sulit untuk menemukan kebohongan di sana meski ia bisa merasakan kalau ada sesuatu yang dipikirkan oleh pria ini. Tapi akhirnya ia hanya menggeleng pelan dan tersenyum samar. "Tidak... Tadinya aku kira kamu ada masalah."
Anthony terkekeh pelan dan membuang pandangannya ke samping sambil menghela nafasnya tanpa ketara. "Memangnya orang seperti aku akan mengalami masalah seperti apa?"
Kedua alis Dona berkerut dalam. Jelas pria ini ada masalah. Dan sangat jelas pula, kalau ia sama sekali tidak mau menceritakannya pada dirinya.
Berusaha untuk meringankan suasana yang mulai terasa berat, Dona meraih lengan pria itu yang bebas dan menganyun-ayunkannya santai. "Malam nanti, apakah kamu ada kencan dengan seseorang?"
Kedua mata Anthony yang gelap bergerak-gerak, mengikuti ayunan tangan mungil Dona. "Entahlah. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu menonton film di rumah. Aku akan membuat popcorn."
Tidak butuh waktu lama, peperangan batin yang terjadi dalam benak Anthony langsung dimenangkan oleh sisi dirinya yang memang mencintai wanita ini. Ia akan melakukan segalanya untuk wanita ini, meski tahu kalau hal itu akan semakin menyakiti dirinya sendiri.
Menggenggam kedua tangan mungil Dona, Anthony tersenyum lembut. "Baiklah. Kamu mau menonton jam berapa nanti malam? Aku akan usahakan datang tepat waktu."
Dona tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan giginya. Baru beberapa hari ini, Anthony dapat melihat senyuman Dona yang tulus dan lepas. Biasanya wanita itu hanya tersenyum samar dan wajahnya penuh kesedihan. Tampaknya ia cukup berhasil membuat Dona bisa kembali sedikit memiliki kehidupan normal.
"Jam 19.00. Aku akan menunggumu di apartemen."
Kepala Anthony mengangguk-anguk. "Sepertinya aku bisa kalau jam segitu."
Tampak pria itu melihat jam yang ada di tangan kanannya dan ia menoleh pada Dona yang masih mengamatinya dengan intens. "Maaf Dona. Tapi aku harus segera pergi sekarang."
Sedikit mer*mas tangan pria itu, Dona mengangguk dan melepasnya enggan. Ia menyukai kehangatan dari tangan Anthony saat menggenggamnya. "Kamu mau ke toko roti sekarang?"
Kekehan pelan terdengar dari tenggorokan pria itu. Ia menggeleng pelan dan kembali menepuk kepala Dona. "Tidak. Hari ini aku harus pergi ke tempat lain. Sampai jumpa nanti malam."
Selesai mengatakan itu, Anthony mencium pipi Dona sekilas dan langsung melangkah menuju lift. Dan tidak lama, Dona melihat pria itu memasuki lift dan melambaikan tangannya sebelum pintunya menutup. Sampai sosok Anthony menghilang dari pandangannya, wanita itu masih terpaku di tempatnya.
Baru kali ini, Anthony menciumnya di pipinya dan g*lenyar aneh itu datang lagi.
Dona memegang d*danya yang masih berdebar-debar keras saat ini. Perasaan ini berbeda jauh ketika Gio mengecup pipinya. Perlahan, Dona mengusap pipinya yang dicium tadi. Degupan itu bertambah kencang saat ia menyadari sesuatu. Apakah ia mulai menyukai pria itu?
Pemikiran ini membuat Dona menelan ludahnya. Dan perasaan takut mulai melingkupinya.
***
Perpustakaan di salah satu rumah utama keluarga Berlusconi. Jam 10.00 pagi.
"Tuan muda Maximus. Silahkan."
Tersenyum samar pada sang kepala rumah tangga, Maximus melangkah mengikuti pria tua itu menuju ruang perpustakaan yang sangat besar itu. Di meja kayu besar yang ada di sana, tampak beberapa tumpuk berkas dan juga map yang tampak sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Tuan besar sudah mempersiapkan berkas yang Anda minta. Silahkan Anda mempelajarinya di ruangan ini. Dan Tuan muda, ini ada titipan dari Tuan besar untuk Anda."
"Papa ada di rumah?"
"Tuan besar dan Tuan muda pertama beserta isterinya, sudah kembali ke Italia tadi pagi, Tuan. Saya masih tinggal untuk melayani Anda hari ini."
"Alessandro?"
"Tuan muda kedua sangat jarang datang ke rumah utama, Tuan. Beliau tampaknya lebih senang bertemu dengan Tuan besar di kantor atau langsung di Italia."
Dalam hati, Maximus bersyukur. Berarti tidak akan ada yang mengganggunya nanti saat ia membaca berkas-berkas tersebut. Tapi Maximus tahu, kalau ia tidak akan bisa berbuat banyak di sana. Beberapa kamera CCTV tampak terpasang di pojokan ruangan, membuat siapapun dapat melihat pergerakannya yang mencurigakan dengan mudah. Sepertinya ia memang tetap harus menggunakan cara yang konvensional.
"Baiklah. Terima kasih, Alfredo. Kau boleh pergi sekarang."
Kepala tua Alfredo menunduk dalam. "Silahkan Anda panggil saya kembali bila sudah selesai, Tuan."
Ketika pintu telah tertutup rapat, barulah Maximus melangkah mendekati meja besar itu. Berhenti di depannya, pria itu sedikit mend*sah. Sepertinya, ia memang akan menghabiskan beberapa jam kemudian untuk menelaah semua berkas itu.
Menarik kursi besar yang ada di sana, Maximus mengeluarkan kotak kacamatanya dari tas ranselnya dan mengenakannya. Setelah menarik nafas panjang beberapa kali, barulah tangan pria itu bergerak mengambil satu demi satu berkas, dan membacanya dengan hati-hati.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, dan Maximus masih belum puas. Meski hampir semua berkas sudah selesai dipelajarinya, namun ia belum menemukan satu petunjuk utama yang dapat mengarahkannya pada kecurigaannya selama ini.
Beberapa hal penting memang sudah dicatat dan difotonya, tapi tetap saja ia masih belum puas. Masih ada sesuatu yang janggal, dan ia belum menemukan penyebabnya.
Semua laporan keuangan dan laporan pergerakan serta distribusi barang yang ada di sana tampak legit, dan tidak ada yang mencurigakan. Dari sisi laporan SDM yang ada di RS Liebel pun tampaknya cukup tidak ada masalah yang berarti. Semua transaksi masuk-keluarnya wajar-wajar saja, tidak ada yang berlebih.
Tapi ketika RS Liebel pada akhirnya dimiliki oleh keluarga Berlusconi, maka disitulah letak keanehannya.
Untuk perjanjian merger di antara kedua keluarga besar tampaknya sudah disetujui oleh kedua belah pihak. Masing-masing mendapatkan keuntungan, dengan perjanjian untuk hal-hal yang bersifat operasional akan tetap ditangani oleh perwakilan dari keluarga Liebel sendiri untuk memastikan semuanya berjalan standar, tanpa ada perubahan yang berarti setelah proses merger tersebut.
Yang menjadi keanehan adalah terdapat beberapa kali revisi dalam surat perjanjian tersebut. Dan setiap keuntungan yang didapat akan dibagi berdasarkan persentasi kesepakatan, dengan keluarga Liebel hanya mendapatkan 40% dari semua laba bersihnya setiap bulan, yang akan ditransfer ke rekening masing-masing. Namun dalam surat perjanjian, jika ada satu kondisi yang menyebabkan salah satu keluarga tidak memenuhi kewajibannya, maka semua keuntungan otomatis akan jatuh ke pihak partner.
Dan hal itulah yang saat ini sedang terjadi.
Semua anggota keluarga Liebel telah dib*ntai beberapa tahun yang lalu, dan tidak ada yang tahu mengenai nasib anggota keluarga yang masih hidup. Hal ini menyebabkan tidak ada yang dapat menjalankan tanggungjawab mengatur operasional RS. Dan karena ketidakjelasan itu maka sesuai dengan isi perjanjian, keluarga Berlusconi-lah yang berhak mengelola semua aset perusahaan termasuk meraup keuntungannya.
Karena itu, meski seandainya anak terakhir dari keluarga Liebel masih hidup maka ia tidak akan pernah bisa menuntut haknya. Keluarga Liebel dianggap sudah melalaikan kewajibannya selama beberapa tahun ini, dan semuanya tertulis dengan jelas dalam surat perjanjian tersebut.
Menatap dokumen tebal tersebut, kedua alis Maximus berkerut dalam. Benaknya bertanya-tanya, apa yang menyebabkan keluarga Liebel menyetujui perjanjian yang hanya menguntungkan satu pihak ini? Apakah seseorang telah memeras mereka?
Melemparkan dokumen itu kasar ke atas meja, Maximus mend*sah. Meski tahu siapa pelakunya, tapi akan percuma kalau ia tidak memiliki bukti konkrit saat ini. Semua berkas yang ada di sini tampaknya tidak ada yang bisa digunakan sama sekali.
Dengan lelah, pria itu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan. Sampai di ruangan depan, ia bertemu kembali dengan sang kepala rumah tangga.
"Tuan muda Maximus? Anda sudah selesai?"
"Ya Alfredo. Aku sudah selesai. Aku akan pulang sekarang. Terima kasih sudah membantu."
Kembali kepala tua itu menunduk dalam. "Tidak masalah, Tuan muda. Hati-hati di jalan."
Sambil melambai, Maximus masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas. Lebih baik, ia melakukan kegiatan refreshing saja saat ini. Untuk masalah keluarga Liebel, ia akan mencoba mencari cara lain. Jika perlu, ia akan langsung menggunakan data yang ada di external hard drive-nya, meski tahu resiko yang akan ditanggungnya nanti karena orang itu tidak akan tinggal diam.
Wanita itu berhak untuk mendapatkan haknya, setelah kehilangan yang begitu banyak selama ini.
Dan Maximus berkewajiban untuk memberikan keadilan itu padanya, meski nyawanya adalah taruhannya.