The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 14 - Stranger man



Malam itu, Dona tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Melihat jam di samping tempat tidurnya, kedua alisnya berkerut. Jarum menunjukkan di angka 02.00. Masih dini hari.


Mend*sah, wanita itu beringsut dan menyender pada kepala tempat tidurnya. Adanya orang lain dalam aprtemennya, membuatnya kurang merasa nyaman. Meski Kate berada di kamar sebelahnya, tapi tetap saja ia sedikit merasa terganggu terutama karena terkadang mimpi buruknya pun cukup sering menjumpainya selama hampir 5 tahun ini.


Merasa ia sulit untuk menutup matanya lagi, dengan pelan Dona mulai melangkah keluar dari kamarnya. Saat mimpi buruknya menghantuinya, ia biasanya akan menyeduh cokelat panas dan meminumnya di pantry dapur. Dan hal itulah yang saat ini sedang dilakukannya.


Baru saja ia menyesap beberapa kali cokelat panasnya, telinganya tiba-tiba mendengar suara-suara pelan dari arah lorong. Terdengar ada benda seperti roda yang digesek pelan di lantai dan percakapan berbisik-bisik beberapa orang di luar kamarnya.


Penasaran, ia menghampiri lubang pintunya dengan langkah yang mengendap-endap. Jantungnya berdebar kencang, karena ia juga cukup khawatir dengan hal yang akan dilihatnya nanti.


Dalam lorong sempit itu, terlihat beberapa pria besar yang berjalan pergi meninggalkan seseorang yang saat ini sedang membelakangi pintunya. Orang itu sangat tinggi. Tubuhnya besar dan berbalut jas berwarna gelap. Kaki jenjangnya mengenakan sepatu pantofel. Ia memakai topi baseball di kepalanya.


Kedua alis Dona berkerut. Sepertinya, ia belum pernah melihat pria ini. Siapa orang ini?


Tiba-tiba orang tersebut berbalik dan melihat ke arahnya. Jantung Dona semakin bertalu-talu di d*danya. Apakah orang ini menyadari keberadaannya?


Beberapa saat, Dona hanya bisa terpaku di tempatnya. Terlalu takut untuk bergerak dan menimbulkan suara. Matanya nyalang memandang pria di depannya. Ternyata orang itu mengenakan masker dan kaca mata hitam, membuat mukanya sama sekali tidak tampak jelas. Keduanya terlihat seperti saling bertatapan, yang hanya dibatasi oleh daun pintu.


Tidak lama, pria itu bergerak ke samping dan menghilang dari pandangannya. Terdengar suara pintu dibuka dan tertutup pelan dari area di sebelahnya.


Menelan ludahnya, Dona mundur dari pintunya. Orang itu masuk ke apartemen Anthony? Siapa orang itu?


Nafasnya masih terasa memburu saat ia kembali duduk dengan pelan di kursinya. Jari-jemarinya bergetar ketika ia menggenggam cangkirnya erat di meja.


Apa itu Anthony? Tapi pria itu tidak seperti Anthony. Siapa orang itu?


Masih dengan gemetar, Dona kembali ke kamarnya dan mengunci pintunya. Ketakutannya membuatnya baru bisa tertidur hampir dua jam kemudian.


***


AM Bakery, jam 09.00 pagi keesokannya.


Tampak Kate dan Dona sedang menikmati sarapan pagi mereka di salah satu pojokan meja di toko. Kate bahkan menambah beberapa roti dan memesan minuman lain. Melihat kelakuan temannya, Dona tertawa.


"Kau lapar?"


Kate tersenyum lebar. "Kau curang, Don. Kalau tahu tempat ini di seberang apartemenmu, aku akan sering-sering main ke tempatmu."


Mendengar itu, Dona hanya terkekeh pelan. Kedua matanya pelan mengamati situasi toko yang mulai ramai, tapi ia belum menemukan batang hidung seseorang. Padahal hari sudah mulai siang.


"Kau mencari seseorang?"


Pertanyaan itu langsung membuat Dona menoleh ke arah Kate. Ia berusaha menampilkan raut polos di depan temannya itu. "Tidak. Memangnya kenapa?"


Kedua bahu Kate terangkat santai. "Kau seperti sedikit gelisah. Apa ada kenalanmu yang kerja di sini?"


Mendongak menatap temannya, Dona baru saja akan membuka mulut ketika terdengar suara familiar.


"Dona...?"


Suara serak yang berat itu membuat Dona menoleh ke samping dan terlihatlah sosok Anthony di depannya. Pria itu sedang memegang sebuah poster di tangannya.


Hal yang cukup mengejutkan adalah penampilannya yang jauh lebih rapih dari biasanya. Pria itu mengenakan kaos lengan panjang yang digulung hingga siku, menampilkan lengannya yang berurat. Ia juga memakai topi baseball yang dipasang terbalik, sehingga dahinya terpampang. Dan yang paling membuatnya tampil beda adalah ia tidak memakai kacamata dan jenggotnya rapih serta tidak setebal biasanya, membuat bentuk mulutnya terlihat jelas. Bibirnya berwarna merah sehat dan berbelah di bagian bawahnya.


Penampilan pria ini yang mengagetkan, membuat Dona mengerjapkan matanya beberapa kali.


"An... thony...?"


Tampang pria itu terlihat sumringah tapi kemudian berubah muram dengan cepat. Agaknya ia masih teringat kejadian terakhir kali mereka bertemu. Hal ini membuatnya menjadi ragu-ragu untuk langsung menghampiri wanita di depannya ini. Dan perhatiannya pun teralih, ketika ada salah satu pelanggan di sampingnya menanyakan sesuatu padanya. Situasi cukup ramai saat ini.


Menelan ludahnya, Dona menatap Kate yang ternyata sedang memandanginya juga. Mulutnya masih penuh berisi roti yang belum habis dimakannya. Tapi hal ini tidak membuatnya berhenti untuk bergosip dengan suara berbisik. "Siapa itu, Don? Ganteng!"


Menepuk tangan Kate yang ada di atas meja, Dona balas berbisik. "Aku harus berbicara dengannya sebentar. Kalau kau sudah selesai, tunggulah di sini atau kau bisa kembali dulu ke apartemen. Aku tidak akan lama."


Sebelum temannya dapat menjawab apapun, Dona menyerahkan kartu akses apartemennya ke tangan Kate yang terbengong. Ia pun segera berdiri dan langsung menghampiri Anthony yang berdiri membelakanginya.


Tangan Dona terulur untuk menepuk punggung Anthony ketika tiba-tiba ia terdorong ke depan. Hal ini membuatnya menubruk punggung Anthony cukup kencang, dan kedua tangannya otomatis memegang perut pria itu yang terasa keras.


Dua kakak-adik yang sedang saling dorong-mendorong di belakangnya membuat situasi sedikit kacau. Toko yang mulai ramai pun membuat tubuh Dona berbenturan dengan beberapa orang karena kejadian itu, ketika ia berusaha melepaskan diri dari Anthony.


Ia sudah pasrah ketika tubuhnya tiba-tiba terasa hangat dan terlindungi. Anthony ternyata memeluknya kuat di d*danya. Pipinya terasa panas karena d*sah nafas pria di atasnya yang sedang berbisik padanya. "Lebih baik, kita ke kantorku saja..."


Masih sambil merangkulnya erat, Anthony menyeret mereka berdua untuk berjalan ke arah belakang toko. Pria itu masih sempat berteriak pada Thomas yang tampak cukup sibuk di counter. "Thomas! Aku ke belakang dulu. Kau bisa cari aku di kantor."


Pria pembuat kopi itu hanya mengacungkan jempolnya singkat, sebelum langsung melayani pelanggan yang mengantri dengan antusias di depannya. Meski situasi sangat ramai, tapi tampaknya para pekerja di sana sangat gesit dan cekatan melayani pengunjungnya. Tidak terlihat wajah stress atau tertekan dari mereka.


Barulah ketika mereka berdua berada di ruangan kantor yang tenang, pria itu melepaskan pelukannya yang hangat. Anthony pun langsung mundur menjauhi Dona. Tampangnya canggung.


"Maaf... Tadi aku terpaksa melakukannya. Aku harap kamu tidak marah..."


Suaranya yang pelan membuat Dona menggelengkan kepalanya cepat. Ia merasa bersalah pada pria ini, karena situasi tidak enak yang dibuatnya terakhir kali mereka bertemu.


"Anthony-" Baru saja Dona mau mulai meminta maaf, pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya yang kuat padanya. Telapak tangannya terbuka ke atas, membuat Dona mendongak dengan pandangan bertanya.


Kedua mata gelap pria itu berkedip cepat dan jakunnya terlihat naik-turun dengan gugup. "Dona, aku ingin minta maaf. Dari awal, kita memang tidak berkenalan dengan seharusnya. Terus terang, kejadian kemarin membuatku sangat tidak enak. Aku ingin memperbaiki hubungan kita berdua."


Pria itu menarik nafas dalam sebelum akhirnya berkata. "Dona, kenalkan namaku Anthony Bass. Aku adalah tetangga barumu, dan pemilik AM Bakery. Pekerjaanku adalah pembuat roti. Umurku 37 tahun, masih single dan pernah tinggal di Italia. Hobiku memasak dan menonton film. Aku harap, kamu mau menjadi temanku."