The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 64 - Try to let go



"Maximus..."


Terdengar rintihan pelan dari mulut Giuseppe Berlusconi. Sosok pria yang saat ini sedang terbaring di tempat tidur, sangat berbeda jauh dengan setahun yang lalu. Saat ini, pria tua itu tampak ringkih dan lemah. Pria yang berusia 70 tahun di depannya sama sekali tidak memiliki energi kehidupan, yang dulu memancar sangat kuat dari tubuhnya yang tinggi dan bugar.


"Papa..." Tangan Maximus menggenggam erat tangan ayahnya yang terlihat kurus dan menonjolkan keriput di kulit tuanya. Dulu, ia terlihat awet muda tapi rasa stress dan kesedihan berkepanjangan, membuat pria tua itu menjadi ringkih dan penyakit jantungnya pun semakin parah.


"Maximus... Alessandro...?"


Mengusap kepala ayahnya yang renta, bibir Maximus menunjukkan senyum yang lembut. "Alessandro masih harus di Amerika, papa... Isabelle baru melahirkan dua hari lalu. Mungkin mereka akan segera mengunjungi papa kalau kondisi isterinya sudah sehat. Papa bersabarlah dan cepat sehat..."


Kepala Giuseppe tampak menggangguk pelan. "Anaknya... Laki-laki...?"


Tampak Maximus menggeleng pelan dan dia sedikit terkekeh pelan. "Perempuan, papa. Kali ini, kedua matanya pun mengikuti ibunya. Alessandro masih harus berusaha keras untuk memberikan keturunan lelaki sepertinya, papa. Karena gen Isabelle yang cukup kuat untuk keturunan wanita. Kasihan sekali kakakku itu."


Meski sakit, tapi raut Giuseppe menampilkan ekspresi sebal pada anak bungsunya itu. "Sepertinya aku harus membuatmu cepat menikah, Maximus... Usiamu sudah tidak muda lagi... Sudah saatnya memiliki isteri dan memberikan cucu-cucu lelaki padaku..."


Mendengar itu, Maximus hanya tertunduk dalam dan perlahan, ia mencium dahi ayahnya dengan penuh sayang. "Jangan pikirkan itu dulu, papa. Pikirkan kesehatanmu dulu. Aku juga sudah mengikuti keinginanmu untuk menggantikan Amadeo di CBG Italia, dan semuanya telah berjalan lancar. Urusan lain bisa ditunda dulu sampai dirimu pulih seperti sedia kala."


Menelan ludahnya, Giuseppe memandang mata ungu anaknya yang telah terlihat meredup sejak beberapa waktu yang lalu. "Kau telah mencintai seseorang, Maximus...?"


Tubuh Maximus menegak dan ia menyenderkan tubuhnya ke belakang. Tampak anaknya tersenyum manis, menyembunyikan kesedihan yang tidak bisa terlewat dari pandangan Giuseppe yang sangat berpengalaman. "Ada wanita yang memang aku cintai, papa. Jika beruntung, aku akan membawanya pada dirimu nanti."


"Kapan...?"


"Saat aku sudah berhasil meyakinkannya untuk menikahiku. Sekarang istirahatlah, papa. Aku juga harus segera kembali ke kantor."


Tidak lama, tampak Maximus keluar dari kamar Giuseppe dan langsung berhadapan dengan Alfredo. Pria berambut tembaga itu tersenyum dan menepuk bahu sang kepala rumah tangga. "Alfredo. Aku harus kembali ke kantor sekarang. Hubungi aku lagi kalau papa kambuh seperti tadi."


Kepala tua itu mengangguk. Tampak rasa bersalah terpancar dari kedua mata tuanya. "Maafkan saya, Tuan muda... Sepertinya, saya memang hanya merepotkan Tuan saja, padahal Anda sedang sangat sibuk..."


Bibir merah Maximus menipis dan ia menekan tangannya pada bahu renta di depannya. "Jangan pernah kau katakan itu, Alfredo. Aku adalah anaknya. Sudah kewajibanku untuk mengurusnya, seperti dia yang telah membesarkanku sejak aku dilahirkan. Telepon aku segera kalau ada apa-apa. Aku akan langsung pulang."


Kembali kepala Alfredo mengangguk dan tatapan tuanya terpaku pada punggung Maximus yang semakin lama semakin menghilang. Kedua mata tua itu berkaca-kaca dan tertutup erat. "Tuan Amadeo... Kalau saja kau sedikit bersabar dan menurunkan egomu... maka kemalangan ini tidak akan pernah terjadi... Dan Tuan muda ketiga tidak akan menderita seperti ini..."


Di dalam mobilnya, Maximus mengambil sesuatu dari kantongnya dan mulai memainkan bola besinya di tangan kirinya. Meski ia sudah tidak membutuhkannya lagi, tapi kenangan benda itu masih melekat erat di benaknya. "Roberto. Kita langsung ke kantor sekarang."


"Baik, Tuan Berlusconi."


Kendaraan itu pun membawa Maximus Antonio Berlusconi menuju kantor CBG di Italia.


Selama setahun ini, dirinya kembali sebagai seorang Berlusconi. Pria berambut tembaga itu sudah mulai melupakan nama Maximus Bass. Pria itu sedang berusaha untuk meninggalkan kehidupan yang dulu pernah membawanya bertemu dengan wanita yang dicintainya. Kesibukannya sebagai seorang Berlusconi sedikit banyak membantunya untuk dapat tetap waras, membuatnya semakin tenggelam dalam pekerjaannya.


Hal ini membuat Maximus perlahan meninggalkan idealisme dan impiannya dulu. Ia mulai meninggalkan hal-hal yang pernah dibangunnya dulu untuk masa depannya sendiri. Saat ini yang ada di hadapan Maximus adalah bagaimana agar ia bisa mempertahankan kerajaan Berlusconi, sebagai warisan untuk keturunannya kelak. Meski ia sendiri tidak tahu, kepada siapa ia akan mewariskannya nanti.


***


Kantor MBC di kota NY. Amerika.


"Baik, Tuan Bass. Saya mengerti." Tampak Brasco yang menghela nafasnya dalam. Pria bermata hijau itu masih menatap ponselnya dengan tatapan sedih.


"Bagaimana Pak Aiden? Apakah Tuan Bass bisa datang saat launching prototype program software kita?" Salah satu programmer bernama Colt bertanya antusias. Ia sangat ingin memperlihatkan kemampuannya di hadapan bos besar yang sangat dikaguminya itu, terutama karena ia merasa bahwa ia sudah berhasil membuat karya yang spektakuler semenjak bergabung dengan perusahaan 4 tahun yang lalu.


Menanggapi pertanyaan itu, Brasco menepuk bahu Colt yang pandangannya langsung layu. Ia tahu kalau bosnya tidak akan menghadiri peluncuran perdana untuk percobaannya. "Dia tidak akan datang?"


"Dia sangat sibuk, Colt. Tolong pahami, kalau dia juga pemegang perusahaan keluarga di Italia sana. Yang dapat kita lakukan untuk membantunya adalah dengan tidak semakin membebaninya. Kau fokus saja pada prototype-mu dan pastikan, jangan sampai ada bug yang masih muncul saat peluncuran perdananya nanti. Dan pastikan kalau timmu juga dapat memahami posisi Tuan Bass saat ini. Kau mengerti?"


Dengan lesu, Colt mengangguk. "Saya mengerti, Pak Aiden. Kalau begitu, saya permisi dulu."


Brasco menatap kepergiaan Colt yang meninggalkan ruangannya. Benak pria itu berkelana ke peristiwa beberapa bulan lalu ketika atasannya memintanya menggantikan dirinya sebagai CEO.


"Saya tidak bisa, Tuan Bass. Saya tidak memiliki keahlian seperti yang Anda miliki. Apa yang akan terjadi kalau para investor menjadi tidak mempercayai perusahaan-"


"Dan itu adalah tugasmu, Brasco. Kau mungkin tidak memiliki latar belakang teknis seperti aku, tapi bukan berarti kau juga lemah dalam manajemen perusahaan dan juga manajemen sumber daya. Kau telah membuktikan diri selama beberapa tahun ini padaku."


Maximus terlihat memainkan bola-bola besi di tangan kirinya dengan lincah dan tampak memandang ke luar jendela. "Saat ini, pikiranku tidak bisa bercabang, Brasco. Kau tentu tahu sendiri, kalau banyak masalah yang ditinggalkan oleh Amadeo dan harus aku selesaikan. Tidak mungkin aku bisa dengan leluasa bergerak seperti dulu lagi, ketika posisiku sekarang adalah pimpinan tertinggi di CBG Italia."


"Tapi, Tuan-"


"Aku sudah tidak memiliki waktu luang lagi, Brasco. Bahkan aku juga terpaksa menghentikan pencarianku untuk Giovanna... Saat ini, aku sangat membutuhkan support darimu, dan juga teman-teman programmer lainnya. Meski aku harus melepaskan posisiku di sini, tapi aku masih belum mau melepaskan perusahaan. Karena tempat ini adalah impian yang aku bangun sendiri, dari awal. Tempat ini adalah ambisiku, impian dan juga idealisme-ku untuk melepaskan diri dari Berlusconi dulu."


Kedua mata ungu Maximus bercahaya terang. "Kau jangan remehkan para programmer muda kita Brasco, terutama Colt. Dia memiliki potensi dan juga ambisi yang besar dalam dirinya. Dia mengingatkanku pada diriku sendiri sewaktu masih seusianya. Tolong bantu dia untuk berkembang Brasco, karena dia juga yang akan membantumu nanti untuk menjalankan bisnis MBC agar tetap bersinar nantinya. Jauhi dia dari ancaman politik para direksi yang saling berebut kekuasaan saat ini. Kau paham maksudku kan?"


Tentu saja Brasco sangat paham. Kepalanya mengangguk. "Saya mengerti, Tuan Bass."


Keduanya sejenak terdiam, sampai Brasco bertanya hati-hati. "Bagaimana dengan toko roti Anda?"


Pertanyaan itu membuat Maximus menghentikan gerakannya. Perlahan, ia menyimpan kedua benda itu dalam kantong celana panjangnya. Pria berambut tembaga itu berbalik dan tersenyum samar pada Brasco.


"Tokoku masih tetap ada, Brasco. Benicio dan Thomas telah sangat lihai mengelolanya secara mandiri, tanpa kehadiranku. Dan ia masih tetap akan berdiri meski aku sudah tidak akan ada lagi di sana. Karena aku sendiri yang telah berjanji pada pemiliknya terdahulu, untuk dapat menjaganya. Dan sekarang aku juga memintamu untuk menjaga MBC, seperti saat aku masih ada dulu."


AM Bakery telah memberikan kenangan indah saat pertemuannya dengan wanitanya dulu. Dan MBC adalah manifestasi dari idealismenya ketika ia masih berusia muda. Keduanya adalah kenangan yang akan selalu tersimpan di otaknya, sampai ia m*ti nanti.