The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 20 - Surprise...!?



Dua minggu kemudian di kantor MB Company (MBC). Jam 19.00.


"Hai, Dona!"


Bahu Dona ditepuk pelan dari arah belakang, Tampak Kate sedang berdiri sambil menenteng tas tangannya. "Kamu mau lembur hari ini?"


Tersenyum samar, Dona menggeleng. "Tidak. Sebentar lagi aku akan pulang setelah mengecek data-data ini. Kau pulanglah duluan."


Kedua alis Kate terangkat tinggi. "Kau yakin?"


Kate mengangguk tegas. "Ya. Paling sekitar setengah jam lagi aku pulang. Sedikit tanggung kalau tidak diselesaikan sekarang, karena besok sudah week end dan laporan ini dibutuhkan Pak Aiden senin besok."


Temannya akhirnya menganggukkan kepalanya. "Oke. Tapi jangan terlalu malam ya, karena sepertinya banyak karyawan yang sudah pulang malam ini."


Tampak Dona memberikan jempolnya. "Siap. Aku tidak akan lama kok."


Setelah itu pun, Kate langsung meninggalkannya setelah melambaikan tangannya. Tampak sosok temannya menghilang ke arah lorong yang menuju lift.


Setelah itu, selama beberapa menit berikutnya tampak wanita itu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia juga memutuskan mencetak laporan untuk senin besok dan akan memberikannya langsung pada Aiden malam ini. Jika pun pria itu ternyata sudah tidak di tempat, maka ia akan meletakkan saja di ruangan seperti biasa agar orang kepercayaan owner itu dapat langsung mengeceknya senin pagi.


Jadi senin besok, ia akan bisa lebih santai untuk datang ke kantor dan bisa menghindari si medusa Green.


Memikirkan ini membuat Dona lebih bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan ia baru selesai mencetak lembaran terakhir saat jam sudah menunjukkan pukul 20.30.


Segera membereskan mejanya, Dona langsung merapihkan berkas laporan itu dan menyusunnya dalam map. Ia mematikan komputernya dan menuju lift. Dengan sabar, ia menunggu lift yang akan membawanya ke lantai 53. Lantai tempat Aiden dan juga owner dari perusahaan ini berkantor. Selain ruangan mereka berdua, sebagian besar ruangan di lantai itu merupakan ruangan untuk meeting khusus yang tertutup.


Gedung MB Company terdiri dari 55 lantai. Sampai dengan lantai 29, kantor ini menyewakan ruangannya untuk perusahaan lain. Sedangkan MB Company sendiri menempati mulai dari lantai 30, dengan lantai teratas sebagai landasan helipad untuk gedung ini. Beberapa rumor mengatakan kalau Maximus Bass lebih senang menggunakan helicopter saat datang ke kantor, dibanding menggunakan mobil.


Banyak yang mengatakan mengenai gaya hidupnya yang hedon, dan pria itu cukup sombong karena jarang hadir untuk acara-acara perusahaan. Ia hanya akan hadir saat pertemuan itu bersifat tertutup, dan juga bila undangannya dari kalangan khusus.


Ia cukup sulit untuk ditemui dan bahkan beberapa wartawan yang ingin mewawancarainya, hanya bisa menemui Aiden Brasco sebagai juru bicaranya. Dan bila ditanya alasannya, Aiden Brasco hanya mengatakan kalau atasannya terlalu malas untuk bertemu dan berbicara dengan banyak orang. Yang tentunya alasan ini semakin membuat semua orang berfikir betapa sombongnya pria itu.


Tapi semua mulut akan tertutup ketika MB Company selalu menjadi perusahaan pertama yang tercatat menggelontorkan uangnya demi kemanusiaan. Setiap ada kejadian apapun, kegiatan CSR oleh MBC selalu menjadi sorot media karena hal yang dilakukannya tidak main-main. Mereka akan memberikan bantuan pada negara yang sedang berperang bahkan membangun rumah sakit, ketika terjadi peristiwa pandemi.


Kedermawanan Maximus Bass berbanding terbalik dengan sikap sombongnya, menjadikan setiap orang bertanya-tanya mengenai seperti apa sosok pria itu sebenarnya.


Denting suara lift yang pelan, membuyarkan lamunan Dona mengenai si pemilik perusahaan. Dengan lincah, ia langsung memasuki lift dan menekan angka 53. Pintu lift pun tertutup dan kurungan besi itu mulai bergerak naik, mengarah ke lantai yang ditujunya.


***


Ruangan Aiden Brasco, lantai 53.


"Jadi bagaimana, Tuan Bass? Apakah Anda sudah menemukan sesuatu dari data-data yang saya berikan?"


Tampak Maximus memainkan bola-bola besi di tangan kirinya. Sosok pria itu menghadap jendela besar yang ada di sana, memandang kegelapan malam dan pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang jendelanya mulai menggelap satu demi satu.


"Tidak seperti yang diharapkan, Brasco..."


Kedua alis gelas Brasco berkerut. "Maksud Tuan, data-data itu sama sekali tidak berguna?"


Mendengar hal itu, Brasco menelan ludahnya. "Tuan... Jika Anda mempergunakan data itu, maka itu bisa membahayakan nyawa Anda. Dia akan langsung mengincar Anda, karena hanya Andalah yang tahu mengenai hal itu. Apakah tidak ada cara lain?"


Terdengar dentingan besi yang saling beradu keras. Tampak tangan kiri Maximus terkepal erat di sisi tubuhnya. Jari-jari yang menggenggam bola-bola besinya terlihat gemetar. Ia mengeluarkan aura marah saat ini, ketika berbalik dan menghadap asistennya.


"Jadi... Menurutmu, apa yang harus aku lakukan, Brasco? Apakah aku harus tetap diam saja, menyaksikan dia menghancurkan orang lain? Sampai kapan aku harus bersabar? Peristiwa lima tahun lalu adalah puncaknya. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Tidak lagi, selama aku masih bernafas di dunia ini! Dan kau bisa memegang janjiku itu!"


Suara Maximus terdengar sangat rendah dan sarat kemarahan, juga kesedihan. Kata-katanya memang diucapkan pelan, namun terasa menusuk di telinga Brasco.


"Tuan Bass, Anda harus ingat. Yang Anda pertaruhkan saat ini bukanlah diri Anda sendiri, tapi juga perusahaan dan karyawan Anda. Anda tentu tahu apa yang akan dilakukan orang ini, kalau Anda sampai menyerangnya secara frontal seperti itu."


Kata-kata Brasco membuat Maximus terkekeh pelan, dan ia kembali memainkan bola-bola besinya. "Memangnya, siapa yang mau menyerangnya secara frontal...?"


Kembali, alis Brasco berkerut dalam. Meski ia sudah lama bekerja untuk pria di depannya ini, tapi seringkali ia kurang bisa memahami jalan pikirannya. Maximus memiliki jalan pikiran yang berliku dan bercabang, membuat orang lain seringkali tidak mengerti maksudnya. Selama ini, hanya ada satu orang yang cukup bisa mengikuti alur berfikirnya dan saat ini, orang tersebut telah tiada.


Masih sambil memainkan kedua bola besinya, Maximus mendekati Brasco yang masih berdiri di depannya. "Mana hasil cetak kamera yang pernah kuberikan padamu dulu?"


Pertanyaan itu sempat membuat Brasco tertegun karena perpindahan topik yang cepat, tapi dengan sigap pria itu menghampiri salah satu rak buku dan menekan satu buku tebal yang ada di sana. Tampak laci rahasia yang terbuka pelan, menampilkan beberapa benda yang tersimpan aman di sana.


Mengambil salah satu amplop tersegel, pria itu kembali menutup rapat rak rahasia tersebut dan posisinya pun langsung seperti semula. Sampai ke dekat atasannya, Brasco menyerahkan dokumen itu pada Maximus yang tampak menyambutnya dengan gembira.


Dengan santai, ia menyimpan kedua bolanya di saku celana kirinya dan mulai membuka amplop tertutup tersebut. Pandangannya terlihat puas ketika melihat foto-foto yang terpampang di sana. Meski foto itu diambil dengan menggunakan night mode, namun terlihat jelas wajah seseorang yang sedang menghabisi nyawa korbannya yang tidak berdaya.


"Negatifnya aman?" Pria itu bertanya sambil menelaah foto-foto di tangannya.


Brasco mengangguk. "Semuanya tersimpan aman dalam tempat terpisah."


Puas dengan apa yang dilihatnya, Maximus mengembalikan semuanya dalam amplop tersebut. "Aku akan membawa yang ini sekarang. Aku akan mempergunakan yang lain di saat yang lebih tepat nanti."


Terlihat Maximus melemparkan dengan santai amplop itu ke meja kopi yang ada di depannya. Ia belum memberikan penjelasan apapun pada ajudannya yang masih penasaran ini.


"Kalau saya boleh tahu, apa yang akan Anda lakukan dengan foto-foto itu?"


Kekehan pelan kembali terdengar dari mulut Maximus. Ia mengeluarkan bola besinya dan memainkannya lagi di tangan kirinya dengan malas.


"Setelah selama hampir 20 tahun ini, kau masih bertanya?"


Kepala Maximus meneleng pada asistennya dan tersenyum. "Aku akan melakukannya sesuai dengan cara Berlusconi, Brasco. Tentu saja, aku harus melakukan segala sesuatunya sesuai dengan tradisi keluarga."


Aiden Brasco merasa sangat sulit menelan ludahnya saat ini. Baru saja ia akan kembali bertanya, ketika terdengar suara ketukan pelan di pintu. Otomatis pria itu menjawabnya. Ia lupa dengan kehadiran atasannya yang masih berdiri di tengah ruangan itu. "Masuk."


Tubuh Maximus berubah kaku saat terdengar ucapan salam dari orang yang baru masuk di belakangnya.


"Selamat malam, Pak Aiden. Maaf mengganggu, tapi saya ingin menyerahkan laporan untuk senin besok malam ini. Siapa tahu Anda ingin mengeceknya langsung."


Tanpa disadarinya, tangan kiri Maximus bergetar pelan dan bola-bola besinya bergulir jatuh dari genggamannya. Kedua bola besi itu saling bertumbukan cukup kencang sebelum akhirnya menggelinding di lantai, dan terhenti ketika membentur sepasang kaki wanita.