
"Bagaimana dia, dokter?"
Dengan cemas, Michele bertanya pada dokter kepercayaannya. Ia sama sekali tidak berani membawa Giovanna ke rumah sakit besar, tahu kalau terlalu banyak mata dan telinga yang akan dapat menangkap pergerakannya nanti.
Kepala sang dokter menggeleng pelan. "Cukup buruk, Morrone. Tubuhnya kekurangan cairan dan juga gizi. Tampaknya ia juga mengalami depresi jika dilihat dari penampilannya yang tidak terurus."
Dokter itu menatap Michele intens. "Siapa gadis ini? Apa yang terjadi padanya?"
Kedua mata cokelat Michele hanya memandang sang dokter tajam dan bibirnya tersenyum. "Dia salah satu g*ndikku. Aku kemarin menendangnya karena dia ingin agar aku menikahinya. Joel, ini aibku. Kau mau menyimpan rahasiaku ini kan?"
Penjelasan itu membuat dr. Joel memutar matanya malas. Sudah berkali-kali hal ini terjadi. Michele akan membawa wanitanya yang lemah dan ingin b*nuh diri karena ditinggalkan oleh pria itu. Tapi setelahnya, para wanita itu pun pergi dengan riang gembira setelah mendapatkan uang banyak. Semua yang dikencani oleh Michele memiliki tipikal yang sama. Dan pola ini terjadi berulang.
Kadang, dr. Joel tidak habis pikir dengan apa yang dilihat para wanita dari pria di depannya ini.
Secara fisik, Michele tidak bisa dikatakan tampan tapi dia juga tidak jelek. Tinggi badannya sedang, dan tubuhnya pun sedikit gempal meski ia tidak gemuk. Secara umum, ia terlihat seperti tukang pukul dibanding sebagai salah satu pewaris bisnis keluarga Morrone. Dan bisnis yang ditangani Michele tidak main-main. Ia adalah salah satu pemasok g*nja terbesar di seluruh Eropa. Dan dari pemasukannya yang sangat besar, ia membangun kerajaan bisnis pribadi lain seperti restoran dan berbagai tempat resort di seluruh dunia.
Mengingat hal itu, dr. Joel akhirnya tahu kenapa para wanita ingin lengket pada pria ini seperti gurita. Meski tampang pria ini tidak seperti Michele Morrone, sang aktor tapi Michele Morrone yang ini adalah lelaki dengan banyak uang. Dan uang, terbukti dapat membeli segalanya di dunia.
"Aku sarankan agar kau mengurusnya dengan baik. Jika kau tidak segera membawanya tadi, entah apa yang akan terjadi padanya. Kondisinya sudah cukup parah."
Mengangguk-angguk mengerti, Michele berkata pelan. "Aku ingin merawatnya di yacht-ku. Kau bersedia untuk datang reguler ke sini kan? Sekalian kita bermain kartu?"
Awalnya dr. Joel ingin menolak permintaan itu. Ia sebenarnya merupakan dokter di salah satu rumah sakit terbesar di Italia tapi demi pertemanan masa lalu, ia seringkali bersedia memenuhi panggilan Michele dan menjadikannya sebagai semi dokter pribadi pria gempal itu.
Hal yang membuat dr. Joel mau melakukan pekerjaan tambahan ini, apa lagi kalau bukan uang. Tapi tentu saja, berteman dengan Michele tidak ada ruginya. Beberapa kali ia bisa mendapatkan teman kencan yang luar biasa, karena pergaulan pria itu yang luas dan tidak terbatas. Dr. Joel juga bisa mendapatkan beberapa pemasok alat kesehatan dan obat-obatan secara lebih mudah, setelah sebelumnya cukup dipersulit oleh aturan dari pemerintah. Intinya hubungan mereka terbentuk karena simbiosme mutualisme.
Dan ia juga menyukai saat Michele mengajaknya bermain kartu, karena pria itu bukanlah orang yang pelit jika ia kalah. Mungkin kali ini, ia akan meminta taruhan yang lebih besar lagi.
"Baiklah. Mungkin aku akan meminta yacht-mu sebagai taruhannya."
Mendengar hal itu, terbit senyum miring di bibir Michele. "Apakah kau yakin? Karena kalau kau meminta yacht ini, maka aku pun akan meminta hal yang cukup berharga bagimu, Joel."
Dokter Joel mendongak sombong. Ia tahu apa saja yang dimilikinya dan meski tidak sekaya Michele, ia yakin apa yang diminta oleh pria itu akan dapat dipenuhinya nanti. "Memangnya apa yang akan kau minta?"
Kekehan licik terdengar dari mulut Michele. "Kalau begitu saat aku menang nanti, aku ingin tidur dengan isteri dan juga puteri remajamu. Bagaimana? Apa kau sanggup memenuhinya?"
Perkataan Michele yang kurang ajar membuat amarah dr. Joel langsung menyentuh titik tertinggi. Tanpa bisa ditahannya lagi, dokter itu langsung menyerang Michele yang masih duduk tenang di depannya. Dan tanpa kesulitan, Michele langsung menangkis serangan dadakan itu dan mendorong tubuh dr. Joel kuat ke belakang, dan membuat pria itu terduduk kembali dengan suara keras di bangkunya.
Tampak dr. Joel yang masih terengah di kursinya menatap pria itu dengan pandangan sangat marah dan ingin memb*nuhnya. Meski ia bukanlah suami yang setia, tapi ia sangat mencintai isteri dan juga anaknya. Ia akan melakukan segalanya untuk mereka dan hal inilah yang menyebabkannya tidak akan pernah menceraikan wanita itu, meski ia sudah seringkali selingkuh di belakangnya.
Dokter itu menggertakan giginya kencang. "Keluargaku bukanlah urusanmu, Morrone!"
"Dan yacht-ku ini bukanlah barang yang bisa aku berikan begitu saja pada orang lain! Kau pun tahu betapa berartinya kapal itu untukku. Dan kau telah menghinaku tadi, dengan memintanya!?"
Kata-kata bernada tinggi itu menyadarkan dr. Joel, dan dengan cara yang cukup keras. Kepala sang dokter akhirnya menunduk. "Maafkan aku."
Michele mengangangguk singkat. "Aku menerimanya, tapi jangan pernah lakukan itu lagi."
Melirik pada sang dokter yang masih menunduk, Michele berkata lebih pelan. "Dan aku serius dengan ucapanku tadi, Joel. Lebih baik kau hentikan kebiasaanmu bermain wanita, jika kau tidak ingin isterimu meninggalkanmu nantinya. Sebagai teman, aku sama sekali tidak mau melihatmu hancur, kawan."
Sejenak kedua pria sebaya itu terdiam, dan tampak benak mereka berfikir kencang dalam keheningan.
Dan beberapa hari kemudian, Giovanna pun akhirnya tersadar. Hal yang pertama kali dilakukannya adalah mencekal kedua lengan atas Michele dengan sangat kencang. Pandangan matanya tampak nanar dan terlihat sedikit g*la.
"Michele! Tolong aku!"
Kaget dengan reaksi gadis mungil itu, kedua tangan Michele memegang pinggangnya lembut. "Gia... Gia... Tenanglah dulu..."
Gadis malang itu menggelengkan kepalanya kencang. Kedua matanya mulai mengeluarkan air yang deras, turun mengaliri pipinya yang tirus.
"Gia sudah m*ti, Michele! Giovanna Liebel sudah m*ti! Aku tidak ingin mengingat nama itu lagi!?"
Selama beberapa waktu, gadis itu hanya bisa menangis di pelukan sepupu jauhnya. Pria itu hanya bisa mendekapnya erat dan hatinya sakit. Ia tidak bisa melakukan apapun untuk gadis ini. Tapi bukan berarti, ia tidak bisa membantunya untuk tetap menjalankan kehidupannya.
Melepaskan pelukannya, kedua tangan Michele meraup pipi gadis itu yang masih basah karena air mata. "Gia. Aku sangat ingin membantu. Aku benar-benar sangat ingin membantumu. Meski aku mungkin tidak bisa membalaskan keluarga Berlusconi, tapi apakah kau mau menerima bantuanku?"
Kedua mata cokelat muda Giovanna yang tadinya memiliki sinar kehidupan yang terang tampak redup dan m*ti saat ini. Tapi gadis itu akhirnya mengangguk pelan mendengar pertanyaan Michele.
Lega dengan keputusan gadis mungil itu, Michele memeluk kembali tubuh ringkih itu dengan erat. "Terima kasih, Gia. Terima kasih..."
Sejak saat itu, nama Giovanna Donatella Liebel seolah hilang ditelan bumi. Dan munculah Donatella Amari. Gadis yang tadinya telah kehilangan segalanya itu akhirnya memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan keduanya kembali. Ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan lagi kehidupan yang cukup normal.
Sampai kemudian ia bertemu dengan pria yang bernama Anthony Bass.
Pria itu dengan perlahan mulai menghancurkan dunia kaca yang dengan hati-hati dibangunnya. Anthony Bass telah berusaha untuk menerobos dinding pertahanan diri yang selama ini dibuatnya.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Dona selain kabur. Ia sudah terlalu takut untuk dapat dekat dengan orang lain kecuali Michele. Dan Dona pun sudah terlalu takut untuk mencobanya lagi.