
Di kantor pusat CBG di kota RM, Italia.
"Tu- Tuan Berlusconi..."
Panggilan itu ditujukan untuk seorang pria yang sedang berdiri membelakangi. Tampak tubuhnya yang tinggi dibalut dengan jas mahal berwarna hitam pekat. Rambutnya yang berwarna tembaga bercahaya ketika diterpa sinar matahari sore dari jendela besar di sana. Kedua tangannya berada di kantong celananya.
Di belakangnya, terlihat dua orang berbadan besar dan juga satu ajudannya yang berambut hitam. Mereka semua tampak membisu, menunggu instruksi bos besarnya.
Dengan perlahan, pria yang dipanggil 'Berlusconi' itu membalik badannya. Terlihatlah sosok seorang pria bermata ungu keemasan. Pria itu sangat tampan, dengan pandangan yang terlihat dingin. Tampak bakal jenggot menghiasi pipi dan menaungi bibirnya yang berwarna merah. Ia tampak tersenyum samar saat ini.
Tangan kiri yang ada di kantongnya mengeluarkan dua bola besi yang saat ini dimainkan di tangannya dengan lincah. Santai, pria itu menyenderkan p*ntatnya di ujung meja kerja yang besar dan memandang pria botak yang sedang berdiri dengan gemetar di depannya.
"Capriati... Apa kau tahu kesalahanmu kali ini?"
"A- Apa, Tuan...? Saya sama sekali tidak mengerti kesalahan saya..."
Menghentakkan dua bola besi di tangannya kasar, pria berambut tembaga itu memasukkan kembali benda kesayangannya ke dalam kantong. Dengan santai, tangan kirinya meraih pinggang salah satu bodyguard-nya dan mengeluarkan senjata berperedam.
Mengacungkan senjata itu pada pria botak yang masih berdiri dengan gemetar, lelaki itu kembali bertanya. "Aku tanya sekali lagi Capriati... Apakah kau tahu kesalahanmu padaku?"
Gemetar, pria botak itu menggeleng keras meski keringatnya mulai bercucuran deras. "Ti- Tidak..."
Sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara desingan peluru dalam ruangan itu.
Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya pria botak itu terduduk lemas di lantai. Tampak segores luka memanjang di pipi kanannya yang mulai mengeluarkan darah.
"Satu. Kau telah salah memanggil namaku... Kedua..."
Kembali desingan peluru terdengar lagi, dan kali ini sasarannya adalah daerah di s*langkangan pria botak itu. Tampak asap putih yang mengepul dari lantai yang bolong karena tembakan tadi. Hal ini membuat si botak semakin gemetar, dan ceceran air mulai terlihat di antara kedua pahanya.
"Kau telah tidur dengan tunanganku dulu. Dan terakhir..."
Kali ini peluru itu menyerempet di paha kanan pria malang itu, membuatnya menjerit keras. Meski hanya segaris sayatan, tapi lukanya terasa sangat sakit dan mulai mengeluarkan darah berwarna merah.
"Kau telah berdiri di antara dua kaki, Capriati... Mungkin kau lupa, kalau kau bekerja untuk Berlusconi dan bukan Cesare..."
Akhirnya, pria berambut tembaga itu berdiri dari duduknya dan mulai melangkah mendekati si botak. Tampak ia berhenti di depannya dan mengarahkan moncong senjatanya pada kepala plontos itu.
"Untuk kesalahan pertama dan kedua, aku masih bisa memaafkannya. Terbukti, karena aku pun baru mengungkitnya sekarang ini. Tapi sepertinya kau menjadi terlalu serakah, Capriati... Kau kira aku tidak tahu kalau kau akan bermain belakang seperti ini? Apalagi sampai melibatkan orang itu? Apa kau sudah lupa, siapa yang membuatmu menjadi seperti sekarang ini...?"
Pria plontos itu sekarang menangis tersedu-sedu. Ia bersimpuh di kaki pria di depannya, yang mulai mundur dengan jijik untuk menjauhinya.
"Tu- Tuan... Maafkan saya... Tapi untuk tunangan Anda, saya memang hanya disuruh, Tuan... Tolong maafkan saya... Saya hanya disuruh...."
"Disuruh... Oleh orang itu?"
Kepala pria yang masih bersimpuh itu hanya menggeleng-geleng keras. Ia menangis menyayat hati saat ini. "Saya akan dib*nuh, Tuan... Tolong maafkan saya... Tolong..."
Masih mengarahkan moncong senjatanya ke kepala pria plontos itu, lelaki berambut tembaga itu kembali bertanya pelan. "Ini kesempatan terakhirmu. Kau memilih aku atau dia, Capriati? Jawab sekarang juga."
Pria plontos itu perlahan mengangkat kepalanya. Ia melihat sosok yang berdiri di depannya dan menghapus air matanya. Sudah terlalu banyak hutangnya pada orang ini sekaligus, banyak pula pengkhiatan yang sudah dilakukannya. Dan pria di depannya ini, selalu mau memaafkannya. Ia seharusnya pantas untuk m*ti.
"Anda, Tuan Bass... Saya memilih Anda..."
Jawaban ini membuat Maximus tersenyum samar. Ia menyerahkan senjata itu pada salah satu bodyguard-nya. Masih dengan mengenakan sarung tangan kulitnya, pria itu merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan suatu alat kecil. Perlahan, ia berjongkok di hadapan pria plontos itu.
Gemetar, pria plontos itu meraih alat yang disodorkan. Ia sangat paham risiko yang ditanggungnya, tapi juga sangat tahu kalau ia telah mengambil banyak kesempatan dalam memperpanjang nyawanya. Mungkin sudah saatnya ia berhenti dan melakukan yang memang seharusnya dilakukan sejak dulu.
"Keluarga saya..."
Tangan kiri Maximus menepuk bahu Capriati pelan. "Kau tahu, kalau aku selalu menjaga mereka yang setia padaku... Selama kau melakukannya dengan benar, maka aku akan menjamin hidup keluargamu."
Ketika akhirnya kepala botak itu mengangguk, barulah Maximus berdiri dari jongkoknya. Pria itu menoleh pada salah satu bodyguard-nya.
"Roberto. Tolong antarkan Tuan Capriati ke rumah sakit. Pastikan ia mendapatkan perawatan terbaik."
Pria besar itu mengganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan Bass."
Setelah kedua orang itu pergi dari ruangannya, barulah Maximus menghempaskan dirinya ke kursi besar yang ada di sana. Ia menyilangkan kaki panjangnya dan menyangga dagunya dengan jari-jemarinya yang panjang dan kuat. Tampak hidung mancungnya mengernyit jijik. Matanya yang berwarna ungu mengerling pada Brasco yang terihat masih berdiri kaku.
"Maaf, Brasco. Tapi sepertinya akan sulit untuk membereskan kekacuan yang sekarang."
Brasco mengusap keningnya yang terasa sedikit pusing karena kelakuan atasannya ini. "Seharusnya Anda sudah memikirkan hal itu, sebelum membuatnya terkencing di ruangan ini, Tuan..."
Terkekeh pelan, Maximus berdiri dari duduknya dan melangkah kembali untuk berhenti ke depan jendela yang besar tadi. Tampak tatapannya menerawang jauh ke depan. Tanpa sadar, ia memainkan kedua bola besinya yang ada di kantong kiri celana panjangnya.
Terdengar pertanyaan pelan dari ajudannya. Pertanyaan sama yang selalu diajukan oleh pria itu dalam situasi-situasi yang seperti ini. "Tuan Bass... Apakah Anda yakin akan melakukan hal ini?"
Hanya terdengar suara tawa pelan dari pria berambut tembaga yang berdiri membelakanginya itu. "Sampai kapan baru kau akan puas mendengar jawabanku, Brasco?"
Pria berambut hitam itu memandang sedih punggung atasannya. "Sampai saya merasa yakin, kalau Anda memang akan melakukannya sampai selesai, Tuan..."
Maximus akhirnya membalik badannya dan sedikit menyender pada kaca di belakang punggungnya. Wajahnya telihat sangat dingin saat ini. "Kau masih meragukanku? Setelah selama ini?"
Pandangan Brasco menatap atasannya dengan nanar. "Tuan... Dia tetaplah-"
"Hentikan."
Maximus sangat tahu apa yang akan dikatakan oleh Brasco, dan ia sama sekali tidak mau mendengarnya sekarang. Tidak saat ini. Tidak juga nanti. Tapi mungkin dulu, ia sangat ingin mendengarnya. Hal itu telah lewat. Percuma untuk diingatnya lagi.
Kepala pria itu meneleng ke samping, dan perlahan ia membalikkan badannya kembali. Memunggungi ajudannya. Ia hanya bergumam pelan. "Kalau kau masih akan membahasnya maka lebih baik kau keluar, Brasco. Aku ingin sendiri dulu sekarang."
Sadar kalau pria di depannya ini sangat marah, Brasco menundukkan kepalanya dalam.
"Saya mengerti... Maafkan saya yang lancang, Tuan Bass."
Dengan gerakan tangannya, Brasco dan sang bodyguard pun keluar dari ruangan. Mereka meninggalkan pria itu yang masih berdiri kaku menatap keluar jendela.
Setelah mendengar suara pintu yang ditutup pelan, Maximus akhirnya membuka sarung tangan di tangan kirinya. Dengan perlahan, ia merogoh saku jas dalamnya dan mengeluarkan sesuatu.
Tampak untaian rantai emas yang tergantung di tangan kirinya. Untaian itu memantulkan cahaya matahari sore dengan sangat indah. Rantainya yang unik, memberikan keindahan yang luar biasa pada benda yang tampak tipis dan rapuh itu.
Jempolnya mengusap kata-kata yang terukir di liontin bundarnya.
"Gia..."
Ingatan Maximus melayang pada kejadian satu tahun yang lalu. Kejadian yang mempertemukannya dengan penyelamatnya yang sampai saat ini, masih belum bisa ditemuinya. Dalam momen ini, dirinya mulai tenggelam dalam perasaan putus asa dan juga rasa bersalah.