The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 61 - Verdict



Rumah utama keluarga Berlusconi. Italia.


Baru saja Giuseppe menurunkan ponselnya, tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk pelan dari luar. Ketika pintu terbuka, tampak sang kepala rumah tangga Alfredo memasuki ruangan dengan wajah yang pucat pasi. Di belakangnya mengikuti seorang pria tinggi besar yang berwajah dingin.


"Tu- Tuan besar... Maaf mengganggu Anda, tapi Tuan Bianchi meminta untuk bertemu..."


Kedua mata ungu gelap Giuseppe menatap nanar Alfredo tapi ia kemudian mengangguk, dan menyuruh pria tua itu untuk keluar. "Aku mengerti, Alfredo. Tinggalkan kami."


Ketika di ruangan hanya tinggal mereka berdua, pria dingin itu langsung berbicara tanpa basa-basi. "Giuseppe Berlusconi. Aku yakin kau sudah tahu maksud kedatanganku, karena Theodore pun pasti sudah menghubungimu barusan jadi aku akan langsung saja. Anakmu, Amadeo Berlusconi telah melanggar beberapa kesepakatan di antara keluarga besar. Berdasarkan hasil pertemuan, keputusan bulat menyatakan bahwa Amadeo Berlusconi harus segera dieksekusi karena perbuatannya."


Kepala Giuseppe menunduk dalam. Ia tahu tidak ada gunanya menentang keluarga besar, terutama karena ia sangat sadar kesalahan fatal anaknya. "Aku mengerti. Kalau boleh tahu, kapan kau akan melakukannya?"


"Saat ini juga. Theodore sudah berada di CBG sekarang dan dia sedang menungguku. Sebagai ketua klan keluarga Bianchi, aku mewakili keluarga lainnya untuk mengeksekusinya sendiri. Apakah ada yang ingin kau sampaikan padaku, Giuseppe?"


Tampak mata Giuseppe berkaca-kaca dan pandangannya terlihat sangat memohon. "Apakah aku tidak bisa menggantikannya? Dia anakku, Timothy... Aku ayah yang membesarkannya... Dan aku juga memiliki tanggung jawab terhadap kelakuannya. Aku mohon... demi hubungan baik kita, biarkan aku menggantikan dia untuk menerima hukumannya..."


Pandangan Tim masih tidak berubah. Kedua mata gelapnya memancar dingin dan tanpa ekspresi. "Giuseppe. Kalau kau lupa, tanggung jawabmu padanya sudah kau lepaskan sejak dia kau percayai memegang CBG Italia ini. Kau memberinya wewenang untuk bergerak dan mengambil keputusan. Sayangnya, ia mengambil keputusan yang salah dan fatal. Aku cukup menghormatimu Giuseppe, untuk secara pribadi datang ke sini dan memberitahukan mengenai hal ini. Tolong, jangan meminta sesuatu yang melebihi kapasitasmu."


Setelah mengatakan itu, Tim langsung berbalik dan meninggalkan ruangan kerja Giuseppe. Pria dingin itu meninggalkan seorang ayah yang tampak putus asa dan tahu, ia tidak bisa melakukan apapun untuk anaknya.


Kaki Giuseppe yang gemetar sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Tangan kanannya memegang erat d*da kirinya, dan pandangannya terlihat pias. Masih sambil mengeluarkan air di kedua mata ungunya, Giuseppe Berlusconi tersungkur di lantai dalam keheningan. Ia terkena serangan jantung.


***


Kantor CBG Italia. Lima belas menit sebelum kedatangan Theodore Bianchi.


Di dalam ruangan, terlihat Amadeo dan Nicolette yang duduk saling berhadapan. Amadeo menyorongkan sebuah dokumen yang terbuka di atas meja pada isterinya itu.


"Aku sudah meminta pengacara untuk menghitung pembagian harta di antara kita, selama kita menikah. Aku berusaha bersikap adil, Nicolette. Kau bacalah, tanda tangani surat itu dan dalam waktu dekat, kita sudah bukan suami-isteri lagi. Kau bisa bebas untuk meniduri siapa pun pria yang kau inginkan. Demikian juga aku. Jadi, kita sama-sama diuntungkan di sini."


Menelan ludahnya, Nicolette mengambil berkas itu. Sudah beberapa bulan lewat sejak Amadeo mengajukan pertanyaan mengenai perceraian dan topik itu tidak pernah dibahas lagi. Sampai sekarang. Hal ini cukup mengejutkan wanita itu, karena ia mengira Amadeo membatalkan rencananya dan memutuskan untuk tetap hidup bersamanya. Tapi ia salah ternyata.


Saat membacanya, tidak ada satupun kata yang dipahami oleh Nicolette. Terlalu banyak istilah hukum dan kalimat yang terlalu kompleks bagi otak terbatas wanita itu. Apalagi, ia juga tidak pernah mengasah dan mempergunakannya secara optimal selama ini. Nicolette sebenarnya bukanlah wanita yang terlalu b*doh, tapi kenyamanan dan kemalasan yang didapatnya sebagai seorang wanita kelas atas, membuatnya tidak mau berfikir rumit yang akhirnya membuat kemampuan otaknya pun berhenti untuk berkembang.


Mulai merasa pusing dengan gaya bahasa hukum yang sangat rumit itu, akhirnya membuat Nicolette memutuskan untuk langsung menandatanganinya saja. Ia tidak peduli berapa persen bagian yang diberikan oleh Amadeo, karena ia pun sebenarnya tidak terlalu membutuhkannya. Keluarganya cukup kaya dan masih mampu menopang gaya hidupnya tanpa adanya harta dari Amadeo. Meski harta itu mungkin dapat membuatnya benar-benar bisa hidup ongkang-ongkang kaki nantinya sampai ia m*ti nanti.


Baru saja Nicolette akan membubuhkan tanda tangannya sambil memegang berkas di tangannya, ketika terdengar suara ribut-ribut dari luar. Dan tidak lama, keheningan itu dipecahkan dengan suara pintu yang dibuka dari luar. Tampaklah sosok seorang pria tampan bertampang sangat Asia. Ia seperti orang Jepang, tapi tubuhnya besar seperti orang Italia. Penampilannya rapih dan necis. Pria asing itu langsung menutup pintu di belakangnya dengan suara pelan.


Saat melihatnya, kedua mata ungu Amadeo melotot dan ia langsung terlompat dari kursinya. "Kau...!"


Tampak kata-kata itu membuat Amadeo marah. "Memangnya siapa kau berani untuk mengatur-ngaturku!? Keluar kau dari sini! Sekarang juga!? Sebelum aku meminta penjagaku untuk menembak kepalamu nanti!?"


Bibir merah pria itu hanya tersenyum tipis dan dengan sebelah tangannya, ia sedikit membuka pintu yang tadinya tertutup itu dan memperlihatkan pemandangan di baliknya.


Pemandangan mengerikan di depannya, membuat Nicolette langsung berdiri dan menjauhi meja. Ia mundur dan memepet tembok. Sama sekali tidak sadar, kalau ia masih memegang dokumen perceraian dari Amadeo. Tubuhnya bergetar hebat dan ia tidak sanggup menjerit karena terlalu shock, dan juga takut.


Amadeo sendiri yang melihat tampilan ruang tunggunya sudah penuh dengan warna merah hanya dapat menatap orang asing itu dengan pias. Lima bodyguard yang bertugas menjaganya sudah tidak bernyawa. Dan gantinya, terlihat delapan orang berbadan besar dan berjas hitam berdiri di sana, dengan senjata di masing-masing tangan mereka. Semuanya berdiri diam seperti patung.


Pintu mengerikan itu kembali tertutup dan kali ini, suara Amadeo terdengar gemetar. "Si... Siapa kau..."


"Theodore Bianchi."


Nama itu langsung membuat Amadeo panas-dingin. Ia sudah tahu hal ini akan mengarah ke mana.


Theodore Bianchi adalah kakak dari Timothy Bianchi. Awalnya pria itu selama ini menjadi bayangan adiknya, selama pria itu tidak ada di Italia. Theodore memiliki bisnis sendiri dan ia menjalankannya bersama dengan isterinya, sehingga ia cukup jarang tampil. Awalnya, ia juga tidak terlalu tertarik untuk memegang jabatan sebagai ketua klan tapi darah Bianchi terlalu kuat mengalir dalam tubuhnya. Dan ketika Tim memutuskan pensiun dini, dengan sukarela ia mengajukan diri untuk menggantikannya.


Setelah eksekusi hari ini, maka ia akan menjalankan prosesi pengangkatannya sebagai ketua klan di Italia dan juga Jepang, untuk secara resmi menggantikan adiknya.


"Apa kesalahanku...?" Suara Amadeo yang halus semakin terdengar mencicit ketika ia bertanya takut.


"Kau dan keluarga Russo telah melanggar batas kesepakatan keluarga."


Kepala Amadeo menggeleng keras. Ia tidak akan pernah mengakui kesalahannya. Tidak mungkin ada sesuatu yang bisa membuktikan keterlibatannya selama ini, karena pabrik persenjataan itu didaftarkan secara resmi atas nama Luca Russo dan bukan dirinya. "Kau salah! Aku sama sekali tidak terlibat dalam hal ini...!"


Sambil tersenyum tipis, Theodore melemparkan sebuah laporan tipis ke atas meja Amadeo. Sama sekali tidak menghiraukan adanya seseorang yang saat ini sedang menempel ke tembok seperti cicak.


"Tim masih cukup baik untuk memberikan ini padamu, Berlusconi. Karena kalau itu aku, maka aku akan langsung mengeksekusimu tanpa membuatmu berkesempatan untuk bertobat dari kesalahanmu."


Tangan Amadeo langsung menyambar dokumen itu dan membacanya dengan mata nyalang. Tubuhnya bergetar ketika menyadari kalau ia sama sekali sudah tidak bisa lolos. Apa yang tertera di sana, adalah apa yang sebenarnya terjadi. Ia akhirnya tahu, kalau ajalnya memang hari ini.


Suara pintu yang terbuka dari luar membuat dua orang yang ada di dalam terlonjak kaget. Dan di sana, tampaklah sosok sang algojo yang akan mengeksekusi korbannya.


"Ti... mothy... Bianchi..."


"Tim. Akhirnya kau datang juga. Segeralah selesaikan urusan ini."