
Beberapa bulan kemudian. Pertengahan Desember. Menjelang natal dan tahun baru.
Dalam hembusan angin yang bersalju, tampak kaki seorang pria yang melangkah mendekati sebuah toko kecil di depannya. Terlihat wajahnya yang tampan menatap antusias pemandangan di depannya dan dengan cepat, ia segera mengarahkan dirinya menuju ke bangunan di hadapannya.
Ketika masuk, tampak beberapa pasang mata yang menatapnya sedikit terkejut dan sebelum mereka dapat bereaksi, pria itu langsung menuju ke arah belakang. Menuju satu-satunya ruangan kantor di sana. Dan dengan tidak sabar, pria yang baru datang itu menggebrak pintunya terbuka.
Di dalam, tampak sosok seorang lelaki yang sedang berdiri sambil menatap beraneka pajangan di tembok. Pandangannya terlihat terkejut kala menatap orang yang baru datang.
"Dominic?"
"Maximus! Akhirnya, aku bisa bertemu lagi denganmu!"
Tanpa basa-basi, Dominic memeluk Maximus erat. Ketika melepasnya, kedua tangan pria berambut merah itu mencengkeram lengan atas Maximus yang berotot padat. Ia mer*masnya untuk lebih menekankan maksudnya. "Maximus. Kau sedang mencari seseorang saat ini kan? Aku tahu dimana orang itu sekarang!"
Kedua mata ungu Maximus sekilas terlihat bercahaya, namun meredup kembali. "Aku memang sedang mencari seseorang, Dominic. Tapi aku tidak yakin kalau kau mengetahui siapa orangnya."
"Kau meremehkan aku, kawan! Karena aku tahu pasti, kalau kau sedang mencari seorang wanita saat ini dan dia bernama Donatella Amari. Tebakanku benar kan?"
Pertanyaan Dominic serasa seperti sambaran petir di telinga Maximus. Sejenak ia tertegun dan tidak bisa bereaksi. Dan refleks, kedua tangannya yang gemetar balik mencengkram lengan pria berambut merah itu. "Di mana...? Di mana Dona saat ini, Dom...?"
"Dia ada di kota TX. Sekitar perjalanan satu hari dari sini. Sudah hampir setahun ini aku berusaha mencarimu, Max. Tapi kau tidak pernah datang ke sini lagi. Ketika Thomas mengatakan kalau kau mau mampir hari ini, aku langsung pergi dari sana untuk menemuimu."
Kedua mata ungu Maximus tampak mulai berair dan pandangannya terlihat bingung. Pria itu baru bisa berbicara setelah akhirnya ia berhasil menguasai dirinya. "Tolong... Antarkan aku... ke sana..."
"Aku juga ingin mengajakmu sekarang, Maximus. Karena setahuku, Dona berencana untuk pindah dari sana beberapa hari lagi. Kalau kau terlambat sekarang, ada kemungkinan kau tidak akan dapat menemuinya lagi."
Akhirnya dengan langkah terseret dan terburu-buru, keduanya segera menuju ke pintu keluar dan Maximus yang masih linglung langsung bertabrakan dengan Roberto. "Tuan Berlusconi! Anda tidak apa?"
"Roberto... Tidak. Aku tidak apa. Roberto! Aku harus pergi ke luar kota sekarang. Aku akan menghubungimu lagi kalau sudah sampai di sana, supaya kau bisa menyusul nanti. Tetap stand-by di toko ya!"
"Eh? Ba- Baik, Tuan." Meski kaget, Roberto pun hanya bisa menatap kepergian tuannya yang memasuki mobil jeep yang masih terparkir di depan toko roti milik atasannya itu.
Sesampainya di mobil, Dominic langsung tancap gas. Matanya yang biru elektrik sedikit melirik pria berambut tembaga di sebelahnya, yang terlihat memiliki raut tegang dan penuh antisipasi. "Namamu Berlusconi? Bukannya Bass?"
Tampak Maximus mencengkeram kedua pahanya sendiri, untuk menahan gemetar tubuhnya saat ini. "Nama Berlusconi adalah dari ayahku. Ibuku yang bermarga Bass seperti yang pernah kuceritakan dulu."
Kepala Dominic mengangguk paham. Sambil menyetir, ia kembali bertanya. "Sebenarnya, kau kemana saja selama ini, Maximus? Aku sudah mencarimu sekitar setahun ini, untuk mengatakan keberadaan Dona padamu. Aku juga tidak memiliki nomor kontakmu."
Maximus menggeleng dan memandang Dominic di sebelahnya. Tampak matanya menunjukkan penyesalan. "Maaf Dominic, tapi aku harus mengurus urusanku di Italia sana. Aku tidak bisa kembali selama setahun ini karena cukup banyak yang harus diselesaikan. Baru bulan inilah aku sedikit kosong dan memutuskan mengunjungi toko rotiku itu."
Mengingat sesuatu, kali ini Maximus-lah yang bertanya. "Bagaimana kau tahu kalau aku mencarinya, Dom?"
Pertanyaan itu membuat Dominic terkekeh pelan. Ia pun berhenti sejenak di lampu merah dan berpaling menatap Maximus. "Kau kira aku b*doh, Max? Jelas-jelas nama tokomu itu Amari Bakery. Dan kau pun saat itu sedang mendekati seorang wanita yang tinggal di apartemen seberang toko itu."
Lampu yang sudah berubah hijau, membuat Dominic kembali tancap gas. "Satu-satunya gadis Amari yang kutahu adalah pelanggan tokoku, hanyalah Donatella Amari."
Penjelasan itu membuat Maximus sedikit terkejut. "Kau mengenal dia?"
Tampak kepala merah Dominic menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya pernah melihatnya beberapa kali mampir ke toko, tapi tidak pernah menyapanya. Dia sepertinya tipe wanita yang pendiam, membuatku sulit untuk melakukan pendekatan khusus padanya. Aku tahu namanya Donatella Amari, karena temannya pernah memanggilnya dengan nama lengkapnya."
"Temannya? Siapa?"
"Hmm... Kalau tidak salah namanya Green. Dia pernah menjadi teman kencan satu malamku saat itu."
Menjawab itu Dominic terkekeh. "Oh, jadi nama lengkapnya Michelle Green? Aku baru tahu. Karena yang aku pedulikan saat itu hanyalah wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang ad*hai."
Maximus yang baru tahu kalau Dominic seorang playboy hanya bisa menggeleng-geleng kecil. Sejenak keduanya terdiam dan Maximus kembali bertanya pelan. "Bagaimana kau bisa tahu kalau dia di kota TX, Dom? Dan kau sampai bisa tahu kalau dia akan pindah beberapa hari ini?"
Dominic menggeleng-gelengkan kepalanya dan bibirnya mencebik. "Semua rahasia alam, Max. Kalau kau masih ingat, aku berkeinginan untuk pindah ke kota kecil dan baru sekitar setahun yang lalu, akhirnya aku menemukan property yang aku inginkan ternyata ada di kota TX. Penawaran dan pembelian property berjalan lancar, dan aku pun membuka toko roti di sana. Dan kau tahu? Takdir ternyata sangat lucu."
Pria itu menghidupkan sign ke arah kiri dan langsung memasuki jalan bebas hambatan. "Dia datang ke tokoku dan sejak itu, menjadi pelanggan tetapku. Lagi. Baru kali itulah akhirnya aku mengobrol dengannya dan sekitar dua hari yang lalu, Dona mengatakan kalau dia akan pindah ke kota lain."
Jantung Maximus berdegup kencang saat ini dan ia mengepalkan salah satu tangannya di paha. Ia hampir kehilangan dirinya lagi! "Dia mengatakan akan pindah ke mana?"
"Tidak secara spesifik. Dia hanya bilang akan kembali ke tempat lahirnya. Tapi aku sendiri tidak tahu tempat lahirnya, jadi sepertinya percuma saja dia memberikan informasi itu." Terdengar kekehan dari Dominic.
Benak Maximus berputar sangat cepat. Ia tahu kalau tempat lahir Dona adalah Italia. Apakah wanita itu akhirnya akan kembali tinggal di Italia lagi?
Melihat Dominic keluar dari jalan bebas hambatan dan langsung menuju bandara, alis Maximus berkerut. "Kita akan naik pesawat?"
Terlihat kerlingan dari mata Dominic yang biru. "Kau pikir, aku akan mau menyetir selama itu ke sana? Tentu saja kita ke bandara. Kita akan naik dengan pesawat pribadiku di sana."
Maximus tampak kehilangan kata-kata. "Kau benar-benar penuh misteri, Dominic Allard."
Pria berambut merah itu kembali terkekeh dan fokus untuk menyetir lagi.
Dalam keheningan perjalanan, Maximus mulai berkeringat. Ia sangat gugup tapi juga bersemangat. Jantung dan adrenalinnya terpompa, membuat pria itu berdebar dan nafasnya sedikit tercekat. Hatinya penuh antisipasi saat ini, ketika sebentar lagi ia akan bertemu kembali dengan gadis pujaannya. Gadis yang telah dicarinya selama ini dan sangat dirindukannya.
Tidak lama lagi, Maximus akan menemui gadis yang masih sangat dicintainya. Sampai sekarang.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam di pesawat, mereka pun akhirnya mendarat di bandara kota TX. Tampak Dominic langsung lompat ke mobil jeep-nya dan membawanya memasuki kawasan kota di sana. Mereka pun menelusuri jalan-jalan yang tampak ramah lingkungan dan juga keluarga. Dan ketika mendekati sebuah rumah mungil yang terletak di ujung jalan, Dominic pun menghentikan kendaraannya. Pria berambut merah itu menoleh pada Maximus dan tersenyum.
"Ini rumahnya. Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini, kawan. Selanjutnya tergantung dari usahamu."
Menelan ludahnya, Maximus mengangguk. Tampak di hadapannya sebuah rumah mungil yang terpelihara dengan baik. Terlihat taman bunga yang ada di pekarangannya bermekaran dengan indahnya dan ada mobil kecil yang terparkir di sana. Mobil yang sangat dikenalinya, meski plat nomornya berbeda.
Turun dari kendaraannya, Maximus mengangguk pada Dominic. "Terima kasih, Dominic. Aku berhutang padamu. Aku akan membalasmu nanti."
Mendengar janji itu Dominic malah terkekeh. "Jangan dipikirkan. Kita ini masih satu garis keturunan. Sejauh ini, aku hanya akan menagih janjimu untuk toko rotimu yang di kota NY. Dan selama janjimu terpenuhi, maka aku tidak akan menghitung apa pun yang telah kulakukan padamu sebagai hutang. Sekarang pergilah, Max."
Senyum lebar muncul di bibir Maximus yang merah dan tidak lama, Dominic pun membawa kendaraannya untuk pergi dari sana. Hati Maximus sangat berterima kasih pada yang di Atas karena telah memberikan petunjuk, melalui orang yang sama sekali tidak disangkanya akan pernah ia temui dalam hidupnya.
Sedikit gugup, pria berambut tembaga itu akhirnya mendekati rumah mungil di depannya. Kali ini, Maximus tampil apa adanya. Ia memakai jas kerjanya, dengan rambut dan matanya yang berwarna asli. Tidak ada kepalsuan di sana. Untuk kali terakhir ini, Maximus akan mengambil resiko. Apapun keputusan wanita itu nanti, ia akan tetap menerimanya dengan lapang d*da.
Ia akan menerima keputusannya tapi bukan berarti melepaskannya. Setelah sekian lama akhirnya bisa berjumpa lagi, tentu tidak akan semudah itu Maximus merelakan kepergiannya lagi. Kalau perlu, ia akan merantai wanita itu nantinya.
Berdehem, pria itu mengangkat tangannya dan mulai mengetuk pelan pintu di depannya.
Setelah beberapa kali mengetuk, akhirnya pintu itu menganyun membuka dan menampilkan sosok seorang wanita yang sangat dirindukannya. Dan sama seperti dirinya, penampilan wanita itu apa adanya dan persis seperti saat ia pertama bertemu dengan dirinya dulu di perayaan pesta tahun baru.
Sejenak, keduanya bertatapan dalam diam dan hanya mata mereka yang bergerak-gerak penuh arti. Pada akhirnya, suara serak Maximus yang berat pun memecahkan keheningan itu.
"Dona?"