
Malam itu, untuk pertama kalinya akhirnya Isabelle meminum whiskey. Selama ini, Isabelle termasuk wanita yang polos meski ia tomboy. Jalan hidupnya lurus-lurus saja, karena ia juga berasal dari kalangan bawah dan bisa sampai ke posisinya saat ini adalah dengan merangkak naik, secara perlahan-lahan. Tidak ada yang instan dalam hidupnya, membuat Isabelle tidak pernah bersenang-senang dalam hidupnya.
Rasa frustasinya dengan kehidupan pernikahannya, membuat Isabelle ingin merasakan yang namanya minuman keras dalam hidupnya. Dan ia saat ini sedang merasakannya, sambil duduk di salah satu sofa yang ada di ruang perpustakaan.
Cairan memabukkan yang mengaliri darahnya itu akhirnya mempengaruhi akal sehatnya. Adrenalinnya terpompa, membuat keberaniannya yang tadinya sebesar kelereng mulai mengembang menjadi seperti balon. Hal ini membuat Isabelle bangkit dari duduknya dan langsung menuju ruang kerja Alessandro.
Wanita itu membuka dengan kasar pintu ruang kerja suaminya. Alessandro yang sedang duduk di mejanya tampak kaget melihat isterinya tiba-tiba masuk dan melihat kondisi wanita itu, pria itu cepat-cepat mendekatinya dan langsung menutup pintu ruang kerjanya. Ia tidak mau sampai ada pelayan yang melihat kondisi isterinya yang tidak baik.
"Isabelle! Kau minum barusan?" Suara kasar Alessandro bertanya dengan nada sedikit tinggi.
Marah dengan nada suaminya, Isabelle mendorong d*da Alessandro dan mulai menantangnya. "Ya! Ya! Aku minum tadi! Kenapa? Kau mau marah padaku?"
Memegang lengan atas isterinya, Alessandro berusaha menghela tubuh wanita itu menuju kamar tidurnya. "Ayolah Isabelle, lebih baik kau ke kamar sekarang. Aku masih harus bekerja."
"Kerja? Kerja? Yang ada di otakmu hanyalah kerja dan kerja saja!?"
Tanpa sadar Isabelle menjerit dan memasuki kamar tidur di depannya. Sama sekali tidak memperhatikan kalau ia memasuki kamar suaminya dan bukan kamarnya sendiri.
Semakin bingung dengan tingkah isterinya, Alessandro menyusul wanita itu ke dalam dan menutup pintunya. "Isabelle, ini kamarku, sayang. Lebih baik, kau ke kamar tidurmu agar bisa istirahat di sana..."
Dengan lembut, Alessandro kembali berusaha mengarahkan isterinya ke kamarnya sendiri. Tapi wanita itu malah menahan tubuhnya dan mendongak memandang Alessandro. "Sayang...? Kau menyebutku sayang?"
Kedua mata gelap wanita itu seolah menghipnotis Alessandro. Kepala pria itu mengangguk pelan. Tangannya mengusap pipi Isabelle lembut. "Kamu itu selalu menjadi sayangku, Isabelle..."
Mata Isabelle berkaca-kaca dan tanpa aba-aba, wanita itu mencium suaminya sambil menangis. Kedua tangannya menahan kepala Alessandro dan ia memperdalam ciuman mereka.
Sentuhan yang memabukkan itu membuat Alessandro lupa daratan. Pria yang hidupnya selama ini menjadi patung sekarang semua inderanya seolah hidup. Tubuh sintal isterinya yang menempel di tubuhnya sendiri, membuat Alessandro menjadi panas-dingin.
Sekarang, pria itulah yang menjadi liar dan lepas kontrol. Dengan kasar, ia merobek pakaian isterinya dan ia juga merobek pakaiannya sendiri. Alessandro memangku Isabelle di gendongannya dan membanting tubuh mereka berdua ke tempat tidur besarnya. Bibirnya tanpa mampu ditahan menjelajahi seluruh tubuh wanita di bawahnya, dan menghisap serta menjilat semua yang disentuhnya.
Kedua tangannya yang ada di d*da wanita itu yang penuh mer*mas kuat dan penuh kerinduan. Mulutnya yang menggantikan tangannya pun mel*mat semua bagian tubuh wanita itu dan membuat isterinya menjerit berkali-kali. "Oh, sayang... Kamu membuatku gila, Isabelle... Isabelle..."
Mengangkat kedua kaki isterinya ke bahunya, Alessandro pun memegang pinggul isterinya dan akhirnya menyatukan tubuh mereka. Wanita itu kembali menjerit. Kali ini jeritan kesakitan, yang membuat Alessandro langsung menghentikan gerakannya. "Oh, Isabelle! Isabelle! Maafkan aku!"
Hampir saja Alessandro melepaskan tautan tubuh mereka, ketika kepalanya dipegang kencang oleh isterinya. Tampak wajah wanita itu memerah dan giginya bergemeretak. "Kalau kau melepaskan diri, maka aku akan benar-benar membencimu, Alessandro. Selesaikan ini sampai tuntas!"
Wajah Alessandro tampak nanar menatap isterinya. "Apa kamu yakin?"
Isabelle menarik kepala Alessandro dan mencium bibirnya ganas. Wanita itu berbisik di telinga pria itu dengan penuh n*fsu. "Gerakan tubuhmu, Alessandro! Dengan kuat. Jangan seperti banci!?"
Akhirnya kata-kata itulah yang mendorong Alessandro untuk meng*gahi isterinya dengan keras dan kuat. Keduanya berkali-kali mengeluarkan pelepasan yang bertubi-tubi malam itu dan teriakan keduanya yang kencang, menandakan kalau pasangan itu mendapatkan kepuasan yang sangat hebat karena percintaan itu.
Alessandro baru berhenti ketika hari sudah beranjak dini dan akhirnya pria itu ambruk di atas tubuh isterinya.
Perlahan, pria itu menghela tubuhnya dan mengusap badan wanitanya yang tampak memerah, dan penuh dengan tanda cintanya. Tampak wajah isterinya yang bersemu dan terlihat puas sedang tersenyum padanya. Alessandro mengelus pipi Isabelle dengan penuh sayang. Kedua mata ungunya terlihat memerah. "Isabelle... Aku mencintaimu... Jangan pernah meninggalkanku, sayang..."
Bibir Alessandro kembali mencium isterinya dengan ciuman yang putus asa. Isabelle dapat merasakan basah yang turun dari pipi suaminya. "Sayang... Aku selalu mencintaimu... Dari dulu..."
Pernyataan cinta yang sama sekali tidak pernah diharapkannya itu membuat bibir Isabelle tersenyum bahagia. Ia mengusap air dari pipi suaminya dan mengecup hidung Alessandro yang bangir. "Oh Alessandro kalau kamu tahu, aku juga mencintaimu suamiku... Aku juga mencintaimu, sejak dulu..."
Tampak tatapan Alessandro yang masih belum percaya. Selama ini, ia merasa kalau isterinya menikahinya hanya karena terpaksa karena tidak berani menolaknya sebagai atasannya di CBG. "Benarkah? Kamu tidak bohong kan? Kamu mencintaiku?"
Kali ini, Isabelle terkekeh. Sambil memeluk leher suaminya ia mengelus tubuh polos Alessandro di atasnya, dan memegang aset pria itu di bawah. "Oh Tuhan... Ternyata kamu ini sangat menggemaskan. Akan aku tunjukkan Alex, kalau kamu ini memang cintaku."
Dan malam itu, mereka kembali mengulangi kegiatan panas mereka dengan Isabelle yang memimpinnya.
Keesokannya, pertama kalinya sejak Alessandro memimpin CBG Amerika, pria itu akhirnya mengajukan cuti selama sebulan. Dan dua hari kemudian, keduanya terbang ke Italia menemui Giuseppe Berlusconi.
Pasangan itu saat ini sedang duduk di hadapan sang kepala keluarga yang tampak mengangkat kedua alisnya tinggi. Tangannya menyilang di d*danya dan terdengar dengusan dari hidungnya.
"Apa kalian ini sedang main rumah-rumahan? Yang dengan seenaknya menikah dan kalau tidak cocok, akhirnya memutuskan untuk berpisah? Dan setelah itu, kalian memutuskan kembali bersama? Kalian ini sudah tua, tahu! Sudah seharusnya berfikir dewasa! Bukan seperti anak kecil lagi yang kalau tidak suka sesuatu, langsung dibuang tapi kemudian menyesal dan memintanya kembali!"
Kedua orang yang ada di hadapannya menundukkan kepalanya dalam. Tampak Alessandro mengambil tangan isterinya dan menggenggamnya erat.
"Alessandro!?"
Panggilan kencang itu membuat Alessandro terlonjak dan mendongak menatap ayahnya.
"Apa keputusan finalmu sebenarnya?"
Kedua mata ungu Alessandro mengerjap cepat. "Aku mencintainya, papa. Aku tetap akan bersama Isabelle dan berusaha memperbaiki hubungan kami."
Mata ungu Giuseppe mendelik ke arah menantunya. "Kalau kau, Isabelle? Apa kau tetap akan mengajukan perpisahan dari Alessandro!?"
Pertanyaan itu semakin membuat Alessandro memegang tangan isterinya erat. Ia sedikit khawatir kalau Isabelle tetap memutuskan untuk meninggalkannya. Pria itu lega, ketika tangan isterinya berada di atas tangannya dan mer*masnya lembut.
"Aku juga mencintai Alessandro, papa. Aku masih ingin bersamanya."
Tampak Giuseppe mengangkat kedua alisnya dan menutup matanya erat. Salah satu tangannya mengusap-usap pelipisnya. "Oh, kenapa tidak ada anakku yang normal? Setidaknya satu saja, aku ingin memiliki seorang anak yang normal dan tidak bertingkah!"
Dengan geram, Giuseppe berdiri dan langsung mengusir kedua orang di depannya. "Keluarlah sekarang juga! Temui Alfredo, dia punya sesuatu untuk kalian! Sebaiknya kalian berdua liburan dulu ke luar negeri, untuk mengobati otak kalian berdua yang selama ini korslet! Sekarang, keluar dari ruanganku!"
Meski bingung tapi kedua orang itu dengan bergandengan tangan, terbirit-birit keluar dari ruangan kerja Giuseppe dan menemui Alfredo. Keduanya langsung sumringah ketika menerima hadiah itu dan tanpa basa-basi pasangan itu berciuman, dan langsung tancap gas menuju bandara.
Setelah 8 tahun, mereka akhirnya bisa pergi berbulan madu ke salah satu negara paling romantis di dunia.
Sementara itu di dalam ruangan, Giuseppe tampak menghubungi seseorang. Pria tua itu masih mengusap keningnya dan menggelengkan kepalanya. "Halo, Brambilla? Keduanya memutuskan untuk tetap bersama. Kau tidak perlu khawatir lagi, mereka hanya kurang komunikasi. Setelah ini aku akan memastikan kalau Alessandro mulai memproduksi pabrik untuk anak, supaya hal ini tidak terjadi lagi."