The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 33 - Our destiny



Sekembalinya dari pesta tahun baru, telinga Giovanna sudah memerah karena omelan kakaknya sepanjang perjalanan. Meski masih pusing, tapi gadis itu segera tersadar dari mabuknya karena teriakan pria itu yang menggema dan memarahinya sampai mereka sampai rumah.


Keduanya sedang berjalan cepat saat ini di selasar rumah mereka.


"Giovanna! Giovanna! Berhenti kamu!?"


Melihat adiknya yang bandel sama sekali tidak mau berhenti, lelaki itu dengan gemas menarik lengan atas adiknya dan memaksanya menghentikan langkah-langkahnya yang pendek.


"Au...! Sakit, Gio!"


Wajah Giovanni tampak sangat berang ketika menatap adik perempuannya. "Jelaskan! Kenapa kamu sampai meminum champagne sembarangan tadi! Kamu tahu apa yang bisa terjadi kalau aku tidak menemukanmu tadi? Atau bukan temanku yang menemukanmu!?"


Gadis itu berusaha memberontak sia-sia dari cekalan Giovanni. "Aku kan tadi sudah meminta maaf, Gio! Dan aku cuma meminum dua gelas saja, tidak masalah!"


Sangat marah karena kekeras-kepalaan gadis di depannya ini, Giovanni semakin mengguncang lengan adiknya lebih keras. Ia hanya ingin agar adiknya paham dan mengerti kalau ia sangat panik tadi. Dan betapa berbahayanya lingkungan pesta pebisnis yang mereka hadiri, kalau Giovanna sampai terjatuh ke tangan pria hidung belang. Sangat banyak predator di antara rekanan bisnis Liebel yang berkedok seorang elite.


"Gia!? Kalau bukan Max tadi yang menemukanmu, kamu tahu apa yang bisa terjadi!? Kamu beruntung Max bukanlah pria yang suka menyentuh perempuan sembarangan! Kamu harus tahu kalau aku benar-benar khawatir tadi! Tidak bisakah kamu menanggapi hal ini dengan lebih serius!?"


Perkataan itu membuat Giovanna tambah meradang. "Serius? Aku sangat serius saat ini!? Dan kalau kamu atau papa lebih serius menanggapi perasaanku, maka kalian tidak akan seenaknya ingin menikahkan aku dengan seorang Berlusconi!?"


Jeritan Giovanna menggema di lorong yang luas itu, membuat salah satu pintu terbuka. Tampak sepasang suami-isteri paruh baya yang langsung melangkah mendekati mereka.


"Gia! Gio! Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar malam-malam begini?"


Tampaknya kata-kata Giovanna membuat Giovanni shock, yang akhirnya memudahkan adik perempuannya untuk melepaskan cekalan tangannya.


"Gia... Apa maksudmu tadi?"


Sorot mata Giovanna yang sangat marah tampak mengarah pada pria baya yang masih berdiri di sana. Sambil menggertakan giginya, gadis itu berkata sangat dingin. "Kamu tanya sendiri pada papa. Dia yang telah mengatur hal ini!"


Setelah itu gadis itu mempercepat langkahnya dan langsung membanting pintu kamarnya kencang saat ia sudah berada di dalamnya, meninggalkan ketiga orang yang masih membeku di tempatnya masing-masing.


Perlahan, Gio menoleh pada ayahnya dan suaranya bergetar ketika bertanya. "Papa. Apa maksud Giovanna tadi? Tolong jelaskan padaku, sekarang juga!"


Tampak ayahnya berwajah tegang. Pria baya itu akhirnya menatap pada isterinya dan mengecup keningnya pelan. "Sayang. Aku harus berbicara serius dengan anak kita dulu. Kamu tidurlah duluan."


Mengangguk singkat, akhirnya isteri dari pria itu pun masuk ke dalam setelah sebelumnya berpesan pada mereka berdua. "Kalian jangan sampai bertengkar. Semua masalah pasti ada penyelesaiannya."


Kedua pria yang berbeda generasi itu pun akhirnya ditinggal berdua. Mereka saling memandang tajam dan akhirnya pria yang jauh lebih tua dan bijaksana menunjuk ruang kerja mereka. "Lebih baik, kita berbicara di dalam saja. Hal ini memang seharusnya papa bicarakan denganmu, sebelum Giovanna mengetahuinya."


Sementara itu di dalam kamar yang tertutup, tampak Giovanna menelentang di tempat tidurnya dan memandang langit-langit kamarnya dengan nyalang. Karena pertengkaran dengan Giovanni tadi, mabuknya benar-benar sudah menghilang.


Gadis itu menutup kedua matanya. Ia merasa lelah karena bertengkar dengan kakak dan juga ayahnya hari ini. Ia sama sekali tidak suka jika harus berselisih dengan keluarganya, karena biasanya hubungan mereka sangat akrab dan penuh kasih sayang. Tapi entah kerasukan apa, ayahnya yang biasanya bijaksana tiba-tiba saja mengatakan hal yang sangat g*la dan tidak masuk akal tadi.


Sampai m*ti pun, ia tidak akan pernah mau menikah dengan seorang Berlusconi!?


Apalagi dengan duo-mafioso. Entah ide g*la dari mana, ayahnya justru ingin membicarakan kemungkinan perjodohan antara dirinya dengan salah satu dari duo-mafioso.


Papa gila, apa? Mana mau aku menikah dengan salah satu dari mereka!


Kesal, Giovanna menggulingkan badannya ke samping. Ia masih malas untuk mengganti baju pestanya.


Masih dengan menutup matanya, jari-jari gadis itu memainkan bibirnya. Benaknya berputar untuk mencari celah agar rencana perjodohan itu dapat digagalkan. Mungkin besok saat janji makan siang, dia harus menampilkan diri sebagai gadis yang b*doh dan menyebalkan, agar pria itu jengkel padanya.


Sambil mengusap bibirnya, tiba-tiba indera gadis mungil itu diingatkan oleh sesuatu. Rasa hangat yang mengusap bibirnya, dan bau perment mint yang wangi serta menyegarkan terasa memasuki otaknya.


Kedua matanya perlahan membuka ketika ingatannya membawa pada seraut wajah tegas dalam kegelapan, dengan bibir yang berwarna merah.


Kening Giovanna berkerut dalam, saat samar-samar ia mengingat bentuk bibir seseorang yang tampak seksi. Bibirnya tidak tipis, tidak juga tebal. Tampak ada sedikit belahan dari bibir bawah yang merah itu. Kedua ujung mulutnya pun secara alami tertarik ke atas, membuat rautnya yang selalu tampak tersenyum.


Siapa orang itu?


Ia sama sekali tidak mengingat pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki bentuk mulut seperti itu. Tapi pertengkarannya tadi dengan Giovanni membuatnya teringat sesuatu. Dan bibir mungil Giovanna pun secara otomatis berkata pelan tanpa disadarinya.


"Max...?"


***


Keesokan harinya. Di salah satu restoran Italia kelas atas. Jam makan siang.


Tampak Giovanna sedang memandangi dirinya sendiri di cermin toilet.


Bayangan yang ada di depannya menampilkan seorang gadis mungil yang sangat cantik. Kedua mata cokelatnya bersinar cerdas, dan pipinya merona sehat. Bibirnya yang imut berwarna merah muda. Dan untuk pertemuan kali ini, ia menggerai rambutnya dan memberikan pita kecil di salah satu sisi kepalanya. Bajunya cantik tapi lebih pantas dikenakan untuk gadis yang masih berusia 18 tahun.


Penampilannya terlihat seperti masih kanak-kanak saat ini, padahal usianya sudah menyentuh 24 tahun.


Giovanna bukannya sengaja berpenampilan seperti ini, tapi justru kedua orang tuanya-lah yang ingin dia berpenampilan seperti ini. Titah ini membuat gadis itu bingung. Jika orang tuanya tidak ingin menerima perjodohan ini, kenapa mereka tidak langsung menolaknya saja. Mengapa mesti repot-repot seperti ini?


Menekankan kedua tangannya di sisi wastafel, ia mend*sah lelah. Sambil menyemangati dirinya sendiri, ia pun segera keluar dari ruangan toilet. Semakin cepat janji makan siang ini selesai, maka semakin cepat pula ia kabur dari restoran ini.


Terlalu terburu-buru keluar dari toilet, tanpa sengaja gadis itu bertabrakan dengan seseorang cukup keras. Giovanna hampir saja terjengkang ke belakang, bila orang tersebut tidak segera menariknya ke pelukannya. Kedua tangannya mencengkram kedua lengan atas orang di depannya.


Jantung Giovanna berdegup keras. Ia sangat kaget dengan peristiwa yang barusan terjadi.


Setelah sedikit menenangkan diri, gadis mungil itu segera menarik dirinya. Ia menundukkan badannya dengan sopan tanpa memandang orang di depannya. "Maafkan saya. Saya tadi tidak melihat Anda. Terima kasih telah menolong saya."


Setelah mengucapkan permisi, gadis itu pun berlalu dari hadapan orang tersebut. Ia sama sekali tidak menyadari kalau orang itu masih terpaku dalam berdirinya, dan masih menatap kepergiannya. Kedua mata ungu itu tampak melebar dan bersinar dengan gembira.


"Giovanna...?"