The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 67 - Her regret



Melihat sosok Maximus yang kembali diam tidak bergerak, Giovanna panik. Berulang kali ia menepuk keras pipi pria itu dan menggoyangkan tubuh besarnya, tapi mata Maximus tetap terpejam erat. Meski bernafas, tapi ketidaksadaran pria itu membuat Giovanna sangat takut. Ia juga melihat rona wajah Maximus yang pucat dan bibirnya yang sedikit berwarna ungu.


"Anthony...! Bangunlah, Tony...! Tony...!"


Untungnya dalam situasi genting seperti ini, akal sehat Giovanna masih ada dan wanita itu langsung berlari ke kamar tidurnya. Tampak ia keluar kembali sambil memegang ponsel di tangannya. Ia menghubungi seseorang saat ini. Baru saja, ada sahutan dari seberangnya, tiba-tiba terdengar deringan dari arah lain.


Sambil berusaha menjelaskan situasinya pada seseorang di seberang, Giovanna merogoh-rogoh kantong jas pria di bawahnya dan berhasil menemukan ponsel pria itu. Tampak ada deringan yang tidak berhenti dari seseorang yang bernama Roberto di layar.


Setelah berhasil melaporkan hal yang terjadi dengan terbata-bata, Giovanna akhirnya mengangkat panggilan yang baru itu. Suaranya sedikit terisak. "Halo...?"


"Siapa ini!? Di mana Tuan Berlusconi!?"


Perkataan yang sama sekali tidak ramah itu mengejutkan Giovanna yang semakin ketakutan. Terutama saat ia melihat belum ada perubahan dari pria yang masih terbaring itu. "I... Ini... Di- Dia..."


"Kau Giovanna Liebel kan!? Aku sekarang ada di depan rumahmu. Buka pintumu sekarang Nona Liebel, atau aku akan mendobraknya!"


Terbirit-birit, Giovanna bangkit dari duduknya dan langsung membuka pintu yang tadi dikunci oleh Maximus. Belum juga ia membuka pintunya dengan sempurna, tampak seorang pria besar menerobos masuk dan dengan mata nyalang, segera menghampiri sosok Maximus ketika ia melihatnya.


Tampak pria besar itu memeriksa dengan teliti kondisi pria yang tidak sadar itu. Kedua mata cokelat gelapnya terlihat liar ketika ia menoleh pada Giovanna. Gigi-giginya pun mengatup keras dan pria itu bertanya dengan nada yang sangat dingin dan mematikan. "Kau...! Apa yang telah kau lakukan padanya...!?"


"A- Aku... Kami bertengkar... Aku menendangnya, dan dia tidak sadar..." Wanita itu menjelaskan dengan terbata-bata. Kedua mata cokelat terangnya berlumuran air mata.


Tangan besar pria itu mengusap pelan leher Maximus yang terlihat mulai membiru. Sangat jelas kalau ia mengalami cedera saat ini di lehernya. Tampak Roberto mengepalkan kedua tangannya erat di tubuhnya. Urat-uratnya yang besar bertonjolan di tangan dan juga wajahnya yang mulai memerah. Pria itu sangat murka dan siap untuk memb*nuh wanita di depannya ini!


"Kau berusaha memb*nuhnya tadi, b*jingan kecil...!? Kalau aku tidak ingat pesan Tuan Berlusconi, aku pasti akan mencekikmu hingga mati sekarang ini, j*lang!?"


Selesai meneriakkan hal itu, Roberto pun langsung memangku tubuh lemah Maximus di punggungnya. Memastikan kalau tuannya telah aman di belakangnya, Roberto segera melangkahkan kakinya ke pintu depan yang langsung ditahan oleh Giovanna.


"Tunggu...! Aku telah memanggil ambulan, tadi. Lebih aman kalau dia dibawa-"


Belum selesai Giovanna berbicara, salah satu tangan besar Roberto mendorong tubuh mungil itu kencang ke belakang, membuatnya langsung menabrak tembok dengan cukup keras.


Kembali Roberto memandang Giovanna dengan tatapan yang bengis dan sangat marah. "Giovanna Liebel! Ternyata kau hanyalah wanita yang memang membawa kehancuran bagi Tuan Berlusconi. Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa dia sangat mencintaimu selama ini. Tuan Berlusconi telah mengorbankan segalanya untukmu! Kau wanita yang tidak tahu berterima kasih! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan dirinya, aku Roberto berjanji akan datang dan menghabisimu dengan tanganku sendiri! Kau ingat itu!?"


Kata-kata itu membuat Giovanna yang jatuh terduduk, hanya dapat menatap nanar kepergian Roberto bersama Maximus di gendongannya. Penyesalan luar biasa terbentuk di hati wanita itu, membuatnya hanya bisa membeku dan menangis tergugu-gugu di tempatnya.


"Anthony... Anthony... Maafkan aku... Maafkan aku, Tony..."


Di luar, Roberto berlari-lari kecil menuju mobilnya dan dengan hati-hati membaringkan tubuh Maximus ke bangku belakang. Pria besar itu mengeluarkan ponselnya sambil tergesa memasuki kursi pengemudi. Dan dengan tidak sabar, kakinya mulai menginjak pedal gas dalam untuk langsung melesat menuju bandara.


"Sisco! Ini Roberto. Pengisian bahan bakar untuk jet sudah selesai? Kita harus segera kembali ke Italia. Saat ini. Sekarang juga! Tuan Berlusconi sedang dalam kondisi bahaya! Dan sediakan tim dokter dan perawat untuk di pesawat nanti! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama dalam perjalanan. Keadaan Tuan sangat tidak baik saat ini."


Dari kejauhan, kedua mata cokelat terang Giovanna hanya dapat menatap kepergian mobil sedan yang saat ini tengah membawa pria yang sangat dicintainya. Mobil itu membawa pergi lelaki yang juga dicelakainya tadi, dan ia tidak tahu apakah lelaki itu akan baik-baik saja.


Menutup mulutnya, Giovanna menunduk dalam dan kembali menangis pilu. "Tony... Maafkan aku..."


Beberapa belas jam kemudian, pesawat jet yang membawa Maximus mendarat di bandara Italia. Tampak rombongan polisi dan juga ambulan mengamankan lokasi, dan segera mengevakuasi tubuh Maximus yang terlihat masih lemah dan belum tersadar.


Dan dengan segera, RS Liebel yang tadinya cukup normal mulai disibukkan dengan rombongan dokter dan juga perawat yang wara-wiri dengan kedatangan pasien yang sangat penting. Belum lagi luka-luka yang didapatnya terlihat cukup serius, membuat semua wajah terlihat tegang dan juga panik. Jika sampai terjadi sesuatu pada pewaris CBG Italia, bisa dipastikan nasib mereka yang akan menjadi pengangguran di jalan.


Di belahan dunia yang lain, Alessandro yang mendengar berita itu terlihat memucat dan ia langsung keluar dari ruangan meeting yang sedang dipimpinnya. Untuk kali ini, tampak Alessandro Berlusconi menelantarkan pekerjaannya dan memilih keluarganya. Pertama kalinya, pria yang dijuluki patung itu akhirnya meletakkan keluarganya di atas kepentingan perusahaan. Dan ini karena ia tidak mau kehilangan saudaranya lagi.


***


Kota TX, Amerika. Dua hari kemudian.


Bunyi dentingan bel di tokonya, membuat Dominic mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Pria berambut merah itu meletakkan lapnya di atas meja dan menyambut seseorang yang baru datang itu.


"Dona. Kau datang?"


Terlihat Giovanna memasuki ruangan dan membalas senyuman Dominic. "Aku ingin berpamitan, Dom."


Kepala Dominic mengangguk singkat. "Kau jadi pergi hari ini?"


"Ya. Sebentar lagi Michele akan menjemputku."


Kembali Dominic mengangguk. Sejenak keduanya terdiam sebelum akhirnya Dominic kembali bertanya. "Kau ada waktu sebentar? Aku ingin mengobrol dulu denganmu."


Gembira, Dominic mengarahkan mereka untuk duduk di meja yang tadi sedang dibersihkannya. Pria itu menyingkirkan lapnya dan mengambil tempat di seberang Giovanna. Kedua mata biru Dominic intens memperhatikan raut wanita itu yang tampak muram dan sedih.


"Kau sudah bertemu dengannya?"


Pertanyaan tidak diduga itu membuat Giovanna terkejut. Ia yang tadinya tertunduk langsung mendongak dan menatap Dominic dengan pandangan bertanya. "Kau... Apa maksudmu, Dom?"


"Maximus Bass. Dia sudah menemuimu? Ah, aku sekarang tidak yakin dengan namanya lagi. Mungkin kau mengenalnya dengan nama Maximus Berlusconi."


Tampak Giovanna menelan ludahnya. "Kau... mengenalnya?"


Dominic menyenderkan punggungnya dan pria itu tampak tersenyum. "Aku mengaguminya. Terus terang, dia mengingatkanku pada diriku sendiri dulu. Jadi, kalian sudah bertemu?"


Kedua alis Giovanna berkerut dalam dan ia kembali tertunduk. Ingatannya melayang ke peristiwa dua hari yang lalu, membuatnya semakin merasa bersalah. "Ya... Kami sudah bertemu."


Melihat kalau pertemuan keduanya sepertinya tidak berjalan baik, Dominic sedikit menarik nafasnya dalam. "Sepertinya, kurang lancar ya...?"


Kedua tangan Giovanna yang ada di atas meja mengepal erat. Matanya menunduk ke bawah dan suaranya lirih saat berbicara. "Aku menyakitinya, Dom..."


Pria di depannya hanya menatapnya diam sebentar sebelum akhirnya ia berkata. "Aku tidak tahu apa yang telah terjadi di antara kalian, Dona. Tapi aku hanya bisa mengatakan satu hal padamu, yang aku yakin kau pun pasti telah mengetahuinya."


Akhirnya Giovanna mendongakkan kepalanya dan menatap Dominic. "Apa itu?"


Mata Dominic yang berwarna biru elektrik memancar tajam dan jernih. Pandangan pria itu mengingatkan Giovanna pada tatapan seseorang yang saat ini jauh, entah di mana. "Maximus sangat mencintaimu. Pria itu bersedia melakukan segalanya, hanya untukmu. Dan apakah kau tahu? Dia sampai rela untuk membeli toko rotiku beberapa tahun lalu, hanya untuk mendekatimu."


Perkataan itu membuat Giovanna menatap nanar pria di seberangnya.


"Hal g*la lain yang aku tahu dia lakukan untukmu adalah membeli apartemen di sebelahmu. Hanya untuk menjadi tetanggamu. Terus terang Dona, aku sangat yakin kalau banyak hal tidak waras lainnya yang telah dia lakukan untukmu. Aku hanya bisa bilang kalau kau adalah wanita yang sangat beruntung. Tidak semua pria yang ada di dunia ini mampu memberikan rasa cintanya yang begitu besar hanya untuk satu wanita saja. Dan dia telah sukarela menyerahkannya padamu, sejak bertahun-tahun yang lalu."