
Malam itu, Dona pulang ke apartemennya dalam keadaan lelah. Karena kejadian tadi pagi, Michelle Green memberikan berbagai tugas tambahan, sebagai pembalasan dendamnya karena dipermalukan. Hal ini memaksa Dona harus mengerjakan berbagai hal sepele yang sebenarnya merupakan tugas Michelle, membuatnya baru bisa pulang di atas jam 9 malam.
Baru saja anak kuncinya mengeluarkan bunyi 'klik' pelan, tiba-tiba pintu apartemen di sampingnya membuka. Tampak Anthony menongolkan kepalanya yang berjenggot tebal di baliknya.
"Dona? Kamu baru pulang?"
Mendengar suara serak yang khas itu, kepala Dona menengadah. Bibirnya tersenyum samar.
"Ya. Aku harus lembur tadi."
Kedua alis tebal Anthony tampak berkerut dalam. Menunjukkan raut tidak suka.
"Kamu sering melakukan ini?"
Pertanyaan yang cukup pribadi itu membuat Dona bungkam. Ia hanya memandang Anthony dingin.
"Apa urusanmu?"
Kata-kata itu dilontarkan Dona terdengar datar, dan terselip nada tidak suka yang kuat di baliknya. Anthony adalah orang asing, yang baru dikenalnya malam tadi. Apa urusan orang ini dengan dirinya?
Sadar dengan kelancangannya, Anthony menggaruk belakang kepalanya canggung. "Maaf. Bukan maksudku ikut campur urusanmu. Hanya saja..."
"Maaf, Tony. Aku sudah cukup lelah malam ini. Kalau kau tidak keberatan, aku akan masuk sekarang."
Dan tanpa menunggu jawaban pria itu, Dona pun menuntup pintunya pelan. Terdengar rentengan kunci yang digerakkan dari balik pintu yang tertutup itu.
Melihat itu, Anthony hanya bisa berdiri terdiam di tempatnya beberapa saat. Mend*sah, ia melirik tangan kirinya yang ternyata sedang memegang secangkir cokelat panas. Tadinya ia ingin memberikannya pada Dona, tapi situasinya menjadi tidak enak seperti ini. Sepertinya, ia sendiri yang harus meminum cairan berkalori tinggi ini.
Dari balik pintu yang tertutup, mata Dona mengintip dari lubang kecil yang ada di pintunya. Tampak tidak ada orang di baliknya dan ia dapat mendengar suara pintu yang ditutup pelan di sebelahnya.
Menjauhi pintu itu perlahan, kedua mata Dona mengerjap cepat. Instingnya mengatakan ada sesuatu dengan pria yang baru menjadi tetangganya itu. Tapi ia juga tidak mengerti apa. Hanya saja, selama berinteraksi dengan Anthony, Dona tidak merasakan sesuatu yang janggal. Pria itu justru memberikan rasa hangat dan tampak ramah padanya. Mungkin ia harus lebih waspada lagi menghadapinya.
Ia akhirnya memutuskan untuk mandi air hangat dan baru setelahnya, Dona tampak duduk di tempat tidurnya. Berbagai berkas tersebar di dekat kakinya. Berkas-berkas yang hampir tiap malam telah dibacanya berulang kali. Selama hampir 5 tahun ini.
Sudah bertahun-tahun ini, ia harus hidup dalam ketakutan. Ketakutan akan sesuatu yang tidak jelas, tapi nyata telah mengancam nyawanya. Hal ini membuatnya harus hidup dengan sikap waspada, yang membuatnya perlahan mulai merasa lelah dan juga marah.
Meraih salah satu berkas, Dona membacanya kembali dengan teliti dan menghela nafasnya. Meletakkan berkas itu, ia mengambil berkas lain dan mempelajari dokumen-dokumen itu selama beberapa saat. Tampak ia juga membuka laptop-nya dan membaca beberapa email terbaru yang pernah dikirimkan oleh Michele.
Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, ketika akhirnya Dona membereskan semuanya dan menyimpannya di lokasi yang tersembunyi dalam lemarinya.
Wanita itu membaringkan tubuhnya di kasurnya yang empuk dan menatap layar ponsel yang masih digenggamnya. Tampak matanya berkaca-kaca ketika melihat sesuatu di sana.
"Papa... Mama... Gio... Aku rindu kalian..."
Lelehan air matanya semakin lama semakin deras, dan ia terisak pelan. Isakannya perlahan berubah menjadi rintihan penuh kepedihan. Dan Dona pun akhirnya tertidur dengan masih mengeluarkan air matanya.
Malam itu, Dona kembali bermimpi buruk.
***
Flashback kejadian 5 tahun yang lalu. Liebel Corp., Italia.
Di area parkiran basement yang cukup sepi, tampak ada 4 orang yang sedang berjalan dengan santai menuju salah satu area. Keempatnya terlihat mengobrol akrab dan sesekali tertawa riang ketika salah satu dari mereka menceritakan kekonyolannya. Mereka baru saja berhenti di depan mobil yang terparkir, saat pria muda yang ada di sana menepuk keningnya keras.
Adik perempuannya tampak menoleh padanya dengan alis berkerut dalam. "Kenapa Gio?"
Tampak raut wajah lelaki itu meminta maaf, dan matanya terlihat memohon.
"Hadiahku untuk Elena tertinggal di meja."
Sambil nyengir kuda, Gio menangkup kedua pipi adiknya yang merah muda dengan gemas. "Adikku yang cantik, tolong ambilkan ya!"
Melepaskan dirinya dengan kesal, gadis itu menggerutu pelan. "Malas! Ambil saja sendiri!"
Tidak menyerah, kakaknya malah semakin gemas dengan kelakuan adiknya dan mencubit pipi yang mulus itu. Kelakuan keduanya mengundang tawa dari orang tua mereka yang hanya menonton kejadian yang sudah sering terjadi ini.
"Sudahlah, Gia. Ambilkan saja. Mungkin ada kejutan di sana."
Perkataan ibunya membuat gadis itu menghentikan pemberontakannya pada kakaknya. Dengan pipi masih berada di tangan kakaknya, Gia menatap Gio. Matanya berbinar.
"Kamu memberikan kejutan untukku?"
Semakin iseng, Gio mencubit pipi adiknya cukup keras.
"Ouch!?"
Perilaku kakaknya yang menjengkelkan ini membuat Gia semakin berang dan mulai menyerang rambut pria itu yang rapih dan klimis, berniat untuk menjambaknya kencang.
Baru saja ia berhasil meraih rambut berwarna hitam itu dalam genggamannya, ketika terdengar suara berat pria yang berwibawa dan membuat keduanya langsung berhenti bertengkar.
"Gia! Gio! Hentikan! Kalian berdua sudah bukan anak kecil! Sudah sepantasnya kalian berperilaku lebih dewasa di depan umum, apalagi kamu Gio. Umurmu sudah 30 tahun. Sudah tidak pantas menjahili adikmu seperti tadi lagi."
Kedua kakak-adik itu hanya menunduk sambil cemberut.
Menahan senyum, sang ayah berkata dengan nada lebih lembut pada anak gadisnya. "Gia. Tolong lakukan saja yang diminta Gio tadi. Lebih cepat, lebih baik karena berarti kita akan lebih cepat untuk pulang, kan"
Tidak mampu menolak permintaan ayahnya, gadis itu hanya mengangguk dan mulai berlari untuk masuk kembali ke dalam gedung tinggi itu.
Di tengah lorong yang cukup sepi dan sedikit gelap, tampak Gia berlari-lari kecil. Sampai di ruangan yang ditujunya, ia langsung membuka pintunya dan bergegas berjalan ke arah meja kerja yang besar itu. Terlihat ada sebuah kado kecil yang tergelak begitu saja di permukaan meja yang licin tersebut.
Dengan malas, gadis itu meraupnya dan baru akan menaruhnya di kantong mantelnya ketika menyadari sesuatu. Tampak ada kartu kecil tersemat di bagian pitanya yang berwarna emas.
Teruntuk Gia.
-Love. Gio-
Jantungnya berdebar lebih kencang ketika tangannya dengan perlahan mulai membuka kotak kecil itu.
Tampak di dalamnya seutas kalung emas tipis dengan untaian rantai yang cukup rumit. Jelas kalau kalung ini dipesan secara khusus, dan ada sebuah liontin kecil berbentuk lingkaran di tengahnya.
'Teruntuk Gia. Love, Gio.'
Senyum gadis itu merekah lebar sampai matanya menyipit. Dengan gembira, ia mengenakan kalung itu di lehernya sendiri dan mengagumi bentuknya yang unik.
Menyelipkan kantong kecil itu di saku mantelnya, Gia keluar dari ruangan dan mulai berlari-lari kecil menuju basement. Hatinya sangat gembira dan bahagia saat ini. Ia harus mengucapkan terima kasih pada kakaknya yang menyebalkan, tapi baik hati itu.