
"...Na..."
"Do... Na..."
Suara serak yang sayup-sayup itu membuat Dona terpaksa membuka matanya yang terasa sangat berat. Ketika akhirnya kedua matanya terbuka, ia langsung menangkap sosok pria yang sangat dirindukannya. Sudah seminggu lebih sejak pertemuan terakhir mereka, ia tidak bertemu dengan pria ini lagi. "An... Tony..."
Dengan lemah, ia berusaha bangkit dari posisinya tapi langsung ditahan oleh pria itu.
"Tidak, Dona. Jangan dulu. Berbaringlah dulu."
"Hmmh..." Ia pun menurut. Karena kepalanya masih sangat pusing, ia menutup matanya lagi.
Dona merasa tangan besar Anthony yang hangat mengusap-usap kepalanya. Usapan itu menghilang dan kemudian digantikan oleh sentuhan yang lembut dan kenyal di keningnya.
Setelah beberapa saat, Dona membuka matanya lagi dan langsung berhadapan dengan d*da bidang seorang pria. Anthony tampak mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan beberapa kancingnya terbuka. Terlihat bulu-bulu halus berwarna gelap yang mengintip dari dalam kemejanya, membuat Dona gemas melihatnya. Tanpa sadar, jari-jarinya menarik bulu-bulu d*da yang nakal itu.
"Ouch!"
Tangan Anthony menangkap pergelangan Dona yang mer*mas bulu d*danya yang sama sekali tidak bersalah saat ini. Suaranya terdengar merengek. "Dona... Sakit..."
Perkataan itu langsung membuat Dona tersadar dan menarik tangannya cepat. Menelan ludahnya, wanita itu langsung berusaha untuk duduk dari posisi berbaringnya. Matanya tampak nyalang saat ini, ketika perlahan ingatannya sebelum ia tidak sadar mulai kembali.
"Di mana, ini?"
Dapat merasakan kepanikan dari wanita itu, Anthony pun langsung memeluknya erat. Suaranya yang serak terdengar lembut. "Hey, hey... Tenanglah... Kamu tidak apa-apa sekarang... Kita ada di apartemenku..."
Refleks, tangan Dona terangkat dan memeluk lengan atas Anthony yang keras. Ia menempelkan pipinya di bahu pria itu dan menghirup wanginya yang memabukkan. Dona tahu kalau lebih baik ia menghindar dari pria ini, tapi sekarang ia sangat memerlukannya. Kedua matanya menutup dan ia semakin mencengkram lengan pria itu. "Anthony..."
"Tenanglah... Tidak apa-apa..." Tangan besar pria itu terasa mengusap-usap punggungnya dan menyebarkan kehangatan di seluruh tubuhnya.
Setelah puas memeluk Anthony, Dona pun menjauhkan tubuhnya. Kepalanya sedikit menunduk. Matanya yang cukup jeli dapat melihat pakaian pria itu yang lebih rapih. Ia seperti mengenakan pakaian formal saat ini. Ingatannya pun melayang pada sosok seseorang yang sempat ditemuinya sebelum ia pingsan tadi.
Kedua alis Dona mengeryit dalam ketika ia mendongak, menatap pria itu. "Anthony? Kamu tadi datang ke MB Company?"
Mata gelap pria itu tampak menatapnya dalam sebelum ia malah balik bertanya. "Dona? Apa yang kamu ingat tadi sebelum pingsan? Dan kenapa kamu bisa sampai pingsan tadi?"
Tampak Dona terdiam. Ia menyadari kalau pria ini menghindari pertanyaannya.
Tidak mau bertengkar, Dona pun mencoba mengikuti kemauan pria ini. "Aku hanya mengingat seseorang memanggilku, dan setelah itu langsung tidak sadar."
Anthony yang terduduk di sisi tempat tidurnya, kembali mengusap kepalanya pelan. "Dona? Kenapa kamu sampai bisa pingsan tadi?"
Menelan ludahnya, Dona mengangkat kepalanya naik dan bertatapan langsung dengan Anthony. Tampak kedua mata gelap pria itu melebar saat ini. Pandangannya terlihat takjub. "Dona...?"
Sangat membutuhkan sesuatu yang bisa membuatnya tenang, Dona langsung menarik kepala Anthony dan menciumnya buas. Bibirnya mel*mat mulut pria itu dengan membabi-buta. Ia sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Anthony untuk bereaksi dan langsung meng*lum lidah pria itu kasar. Kedua tangan Dona mer*mas rambut Anthony yang halus dan tebal. Ia benar-benar butuh pelampiasan sekarang.
Dengan memaksa, Dona mendorong Anthony ke tempat tidur dan membuka kemeja pria itu kencang hingga membuat kancing-kancingnya berhamburan. Tangan-tangannya mengelus dan mer*mas dada lelaki itu yang bidang dan liat di bawahnya. Ia juga menciumi leher Anthony yang wangi dan bergerak menuju tulang selangka, ke d*da serta menuruni perut berototnya. Tubuh pria ini ternyata sangat indah.
Terdengar suara d*sahan dan lenguhan dari keduanya. Sangat jelas, dua orang itu mulai terbuai n*fsu. Ketika tangan Dona meraih ikat pinggang lelaki itu, tangan Anthony mendadak menghentikannya. "Dona!"
Terhentinya kegiatan itu tiba-tiba, membuat kesadaran Dona langsung kembali. Apa yang dilakukannya!?
Tampak tatapan Anthony terlihat meminta maaf padanya. "Dona. Kamu tahu kalau aku juga menginginkan ini, tapi aku tidak mau kalau-"
Belum selesai Anthony berbicara, Dona langsung menepiskan tangan pria itu kasar dan beranjak dari tempat tidur. Tindakannya ini membuat Anthony kaget dan membuatnya terpaku beberapa saat.
Pria itu tersadar dari keterkejutannya saat Dona membuka pintu kamar dengan kasar, dan langsung menuju ke arah pintu keluar. Terburu-buru, Anthony berdiri dari posisinya dan langsung menyusulnya. Ia masih sempat mencekal pergelangan Dona sebelum wanita itu membuka pintu depan.
"Dona! Tunggu dulu, jangan pergi seperti ini. Aku minta maaf kalau kamu-"
Dona kembali mengibaskan tangan lelaki itu kencang dan menundukkan wajahnya. Ia merasa sangat malu saat ini. Baru kali ini ia melakukan tindakan agresif pada seorang pria, dan langsung ditolak. Tapi, ia juga tidak mau memperlihatkan perasaannya sesungguhnya pada Anthony.
Menguatkan hatinya, Dona memandang Anthony dan ekspresinya menantang. "Hentikan, Tony. Tidak usah merasa tidak enak, karena aku memang wanita seperti ini. Karena itulah aku memintamu untuk menjadi kakakku, karena aku adalah wanita yang tidak mampu menahan n*fsunya saat menatap seorang pria. Sekarang kamu paham kan, kenapa sampai sekarang aku belum menjawab harapanmu saat itu?"
Perkataan itu tampaknya telak mengenai sasaran. Raut Anthony perlahan memucat dan matanya nanar menatap Dona. Suara seraknya terdengar bergetar saat ia akhirnya mampu berbicara lagi. "Dona..."
"Aku akan menjawab pertanyaanmu saat itu, Tony."
Tanpa ketara, Dona menelan ludahnya keras. Hatinya menjerit, tapi ia harus menyakiti pria ini. Dan harus sangat menyakitinya, baru pria ini akan berhenti untuk mengejarnya.
Kedua mata cokelatnya menatap tajam mata pria itu yang gelap. Bibirnya tersenyum sinis. "Aku sama sekali tidak menyukaimu, Tony. Kamu pria yang terlalu baik bagiku. Aku lebih membutuhkan seorang pria yang liar dan kasar. Pria yang dapat memuaskan h*srat terdalamku saat berse*nggama! Tapi, tentu lain ceritanya kalau kamu memang mampu untuk melakukannya..."
Tatapan Dona turun dan dengan berani mer*mas kencang aset pria itu, membuat Anthony sedikit terlonjak dalam berdirinya. Tapi pria itu akhirnya hanya diam dan tidak bergerak ketika Dona mengusap dan mer*mas aset pribadinya kembali. Kedua matanya hanya memandang wanita itu dengan intens.
Melihat tidak adanya reaksi yang diharapkan dari pria itu, tangan Dona perlahan menjauh tapi justru ditahan oleh tangan Anthony di bawah. Tampak pria itu mulai membuka reslitingnya dan memaksa tangan Dona untuk merogoh masuk ke dalam celana panjangnya.
Tanpa mampu dicegahnya, tangan wanita itu menyentuh sesuatu yang keras dan terasa panas, dibalik bahan kain yang cukup tipis di telapakannya. "Ayolah Dona... Teruskanlah... Sampai kamu puas..."
Menggeram rendah, Anthony mendekatkan d*da telanjangnya ke wajah wanita itu. D*sahan pria itu terasa panas di atasnya, dan suaranya pun terdengar semakin berat. "Cium aku... R*mas tubuhku... Sentuhlah aku sesukamu sampai kamu puas, Dona... Aku rela... Aku sangat rela, kalau itu kamu..."
Kata-kata yang menyatakan kepasrahan tapi sangat m*sum itu justru membuat kedua mata Dona mulai memanas. Ia merasa sangat terhina saat ini. Dengan sekuat tenaga, ia menarik tangannya dan menampar pipi pria itu kencang. "Kurang ajar!?"