
Muka Maximus yang tampan benar-benar terlihat sangat t*lol sekarang. Pria itu tampak terbengong dan masih belum percaya dengan berita yang didengarnya. "A- Aku punya anak? Darimu?"
Kepala Giovanna mengangguk dan dia terkekeh. "Kenapa kamu sekaget itu?"
"Ta- Tapi... Bagaimana bisa... Aku... Kamu..."
Respon Maximus yang masih terbata-bata perlahan membuat kegembiraan Giovanna dalam menyampaikan berita ini mulai memudar. "Kamu tidak senang dengan berita ini, Tony...?"
Terkejut dengan pertanyaan itu, Maximus langsung memegang kepala Giovanna dan mulai mel*mat bibir mungilnya. Ia juga memberikan kecupan-kecupan kecil ke seluruh wajah wanitanya. Terakhir, ia mencium keningnya baru menatap kembali wanita itu dengan sangat dalam. "Dona baby... Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku saat ini, sayang. Aku memang sangat menginginkan anak darimu! Aku hanya terlalu terkejut... Sama sekali tidak menyangka, kalau malam itu dapat memberikan keajaiban seperti ini..."
Masih tidak percaya, kedua mata Giovanna menelisik wajah Maximus. "Kamu yakin? Karena kalau kamu-"
"Oh Tuhan, Dona baby! Kalau kamu masih tidak percaya, ayo kita buat pabrik anak lagi, sayang! Aku benar-benar harus menunjukkannya padamu, betapa aku sangat bahagia saat ini!"
"Apa...! Tunggu sebentar...!"
Belum juga Giovanna memprotes, Maximus langsung mengangkut tubuh Giovanna dalam pelukan koala dan membawa mereka ke dalam kamar mandi.
Mereka berdua kembali mengulangi kegiatan panas yang menyenangkan tadi, dan Maximus sangat puas telah berhasil membuat wanitanya menjerit berulang kali. Pria itu menjadi terpompa rasa percaya dirinya sebagai lelaki, dan ia bertekad akan selalu membuat wanitanya puas dan bahagia. Ia ingin membayar waktu-waktunya yang telah terbuang selama beberapa tahun ini.
Selesai kegiatan panas itu, keduanya pun langsung mandi. Setelah mengeringkan tubuh wanitanya, Maximus memakaikan jubah mandinya yang besar pada Giovanna. Ia juga merapihkan kerah jubah wanita itu dan setelah memastikan tidak ada yang terbuka, barulah mereka berdua keluar dari ruangan.
Memasuki ruangan kerja Maximus, dua orang yang sedang dimabuk asmara itu baru menyadari kalau kelakuan mereka telah membuat ruangan kerja yang tadinya rapih, menjadi berantakan. Tampak beberapa map terlempar ke bawah, dan bahkan kacamata baca Maximus hanya tinggal nama saja. Beberapa onggok kain yang tadinya merupakan kemeja, terserak dengan menyedihkan.
Keduanya pun langsung berjongkok dan mulai membereskan kekacauan yang ada. Ketika meraih sisa-sisa kemejanya sendiri dari bawah meja, Maximus meraih segumpal kain kecil dari sana. Tampak ia membukanya dan terkekeh pelan, membuat Giovanna yang baru saja meletakkan berkas pria itu di meja menatapnya heran. "Kenapa kamu ter... tawa...?"
Mata cokelat Giovanna melotot lebar, dan wanita itu pun langsung memutari meja. Tampak wajahnya memerah seperti tomat. "Oh! Berikan itu padaku, Maximus...!"
Tangan Maximus langsung terangkat tinggi, membuat Giovanna tidak bisa meraih kedua benda kecil itu meski ia sudah melompat-lompat kecil. "Maximus!? Berikan benda itu padaku, sekarang!"
Sambil terkekeh, Maximus menahan bahu Giovanna dan tersenyum nakal. "Aku akan mengembalikannya padamu, Gia. Asal kamu mengizinkan aku melakukan satu hal."
Terengah dan dengan muka memerah, Giovanna memandang kesal pada pria di depannya. Kelakuan pria ini benar-benar persis seperti kakak lelakinya. Sangat iseng dan menyebalkan!
Menempelkan kedua benda itu pada tubuh Giovanna yang masih terlindungi dengan jubah mandi tebal, Maximus berkata santai. "Aku ingin memakaikannya langsung. Ke tubuhmu. Baru aku akan memberikannya padamu. Bagaimana?"
"Apa!? Tidak mau! Sejak kapan kamu jadi m*sum seperti ini, Anthony...!?"
Sebelum Giovanna menjauh darinya, Maximus meraih tubuh wanitanya dan menciumnya dengan lembut dan dalam. Ia juga memberikan kecupan kecil di hidung mungil wanita itu yang berhasil membuat pipinya merona dengan sangat cantik. "Aku selalu m*sum kalau bersamamu, Dona baby... Kamu saja yang tidak peka selama ini... Jadi, biarkan aku pakaikan benda ini ke tubuhmu. Setelah ini kita makan siang, dan langsung menemui anak kita berdua. Bagaimana?"
Tidak mampu berkata-kata, Giovanna akhirnya mengangguk. Dengan menurut, wanita itu membiarkan Maximus memakaikan pakaian dalamnya dengan sangat pelan. Tubuh wanita itu merinding, saat Maximus dengan sengaja mengelus perut dan kedua lengannya lembut.
Takut untuk menyerang pria ini lagi, Giovanna menutup erat kedua matanya saat merasakan tangan hangat pria itu mengelus lehernya pelan. "Buka matamu, Dona baby..."
Saat matanya terbuka, ia menatap sepasang mata ungu yang memandangnya dengan penuh cinta. Tangan Maximus menggenggam tangan wanita itu dan mengarahkannya ke lehernya sendiri, membuat Giovanna terkejut. Ada seutas kalung yang melingkari lehernya dan dengan tergesa, wanita itu kembali ke kamar mandi untuk melihatnya lebih jelas di cermin.
Bibir pria itu tersenyum dan ia kembali membereskan ruangan kerjanya. Dan tidak lama, Giovanna kembali ke ruangan itu. Tampak wajah wanita itu yang sangat cerah, sekaligus terharu. "Kalung ini! Bagaimana bisa ada padamu, Maximus?"
Melihat ruangan itu sudah rapih, pria itu langsung mengarahkan mereka berdua untuk duduk di sofa. Mereka duduk bersisian dan tangan pria itu menggenggam tangan Giovanna dengan erat. "Michele memberikannya padaku dulu, ketika kamu menyelamatkan aku pertama kali. Sepertinya dia tidak tahu kalau kalau kalung itu memiliki arti begitu penting bagimu, Dona."
Tangan kanan Maximus mengusap rambut Giovanna dan merapihkannya ke belakang. Tampak kedua mata cokelat Giovanna yang berkaca-kaca. "Aku kira, aku telah kehilangan pemberian terakhir dari Giovanni..."
Dan Giovanna langsung jebol pertahannya. Wanita itu menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Maximus. Setelah sekian lama, akhirnya apa yang menjadi miliknya telah kembali. Entah sudah berapa lama, ia menahan kesedihannya sendirian. Selama ini, ia hanya bisa menangis sendiri. Meski memiliki Michele yang selalu membantunya tapi ia tidak mau membebani pria gempal itu terlalu banyak, di saat ia sendiri sudah sangat merepotkan sepupunya itu.
Getaran pelan dari tubuh Giovanna yang ada di pelukannya membuat kedua mata ungu Maximus memerah. Ia kembali diingatkan, kalau keluarganya-lah penyebab kemalangan yang menimpa wanita ini. Perlahan, pria itu mencium kening Giovanna dalam dan suaranya lirih saat berbicara. "Dona baby... Tolong maafkanlah aku... Maafkan keluargaku yang telah sangat bersalah padamu... Tolong maafkan juga Amadeo, baby... Meski perbuatannya tidak termaafkan tapi aku mohon padamu, sayang... Aku mohon..."
Sambil menutup matanya erat, Giovanna sedikit menjauh dan membuka matanya. Terlihat di depannya tampang Maximus yang ingin menangis. Kedua mata ungunya memerah dan sarat dengan kesedihan yang sangat dalam. Menurun mengamati pria di depannya, pandangan Giovanna berhenti pada leher jenjang Maximus. Tampak masih ada bekas-bekas memar di sana, dan perlahan ia mengecupnya.
Wanita yang berambut cokelat itu menarik nafasnya dalam dan ia mengangkat pandangannya pada pria di depannya. Pria yang sangat dicintainya. "Maximus Antonio Berlusconi. Aku telah memaafkan keluargamu. Aku juga memaafkan Amadeo Berlusconi. Aku telah menerima kemalangan yang terjadi pada keluargaku dengan hati yang lebih lapang. Dan kamu tahu, Maximus? Aku bisa melakukan ini adalah karena dirimu. Kamulah satu-satunya pria yang aku cintai dan hatimu yang tulus, membuatku sangat tersentuh..."
Giovanna menelan ludahnya sebelum melanjutkan. "Tanpamu Maximus, tanpamu aku bukanlah apa-apa. Tanpa bantuan dan usahamu selama ini, aku tahu kalau keadilan tidak akan pernah ditegakkan. Tanpa dirmu Maximus Berlusconi, aku Giovanna Liebel hanya akan menjadi seorang pecundang seumur hidupnya."
Tangan Giovanna mer*mas tangan besar Maximus yang ada dalam genggamannya. Dan kali ini, wanita itu berucap dalam bahasa Jerman sambil tersenyum. "Dan karena itu Maximus Antonio Berlusconi, hutang di antara keluarga kita sudah terbayar lunas. Mari kita berdua menata masa depan dan melupakan masa lalu. Kamu mau kan menata masa depan bersamaku? Bersama anak kita?"
Terlihat tetesan air mengalir di sudut mata Maximus dan pria itu tersenyum sangat lembut. "Giovanna Donatella Liebel. Aku memang tidak salah telah mencintaimu selama ini. Karena sifatmu inilah yang telah membuatku jatuh cinta setengah mati. Aku sangat mencintaimu, sayang."